RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
HUJAN



EPISODE 139


Yuna yang selesai menyiapkan makan siang dibantu Ayumi pun memanggil dua prianya.


"Sayang! Kemarilah! Makanan sudah siap!"


Ken dan Suya menoleh bersamaan kemudian bertatapan, "Ayo makan dulu."


Tanpa menunggu panggilan yang ke dua, mereka segera menghampiri para wanita.


"Hmm, aromanya sangat lezat," Ken mencondongkan kepalanya ke depan untuk menghirup aroma lezat Unagi panggang.


"Nah, ini untukmu Suya," kata Yuna menyodorkan semangkuk nasi yang cukup banyak.


"Ini banyak sekali,,,"


"Kau masih perlu tumbuh, jadi makanlah yang banyak," ucap Ken seraya meraih mangkuknya.


"Benar, Suya. Kau bisa tumbuh lebih tinggi dari ayahmu kalau makan banyak dan rajin olahraga," Ayumi ikut bicara.


"Apa aku harus lebih tinggi dari ayah?" Suya menoleh pada Ken dan memperhatikan seberapa tinggi ayahnya itu.


"Apa.." Ken mengangkat alisnya.


"Sepertinya ayah sudah sangat tinggi, apa aku harus melebihinya?"


"Ayahmu baru 1,78cm. Kau bisa melebihinya sepuluh atau lima belas cm lagi," Ayumi lagi-lagi menyela.


"Tidak. Tidak perlu, Suya. Dengan tinggi yang tinggi menjulang, kau akan kesulitan mencari pasangan di negara kita."


"Benarkah? Memangnya kenapa?"


"Mereka tidak suka bicara pada jerapah."


"Ahahaha, ayah. Benar juga."


Saat asyik duduk bercengkerama bersama sambil menatap indahnya pemandangan alam, tiba-tiba saja hujan turun disertai petir. Alhasil, mereka semua buru-buru menyelamatkan meja dan kursi tempat duduk mereka.


Mereka pun terpaksa berkumpul menjadi satu di dalam tenda. Berhadap-hadapan dengan kaki yang ditekuk di depan dada.


"Wah, kenapa cuacanya mendadak berubah?"


"Apa seharusnya ramalan hari ini cerah?" tanya Yuna.


"Ya. Seharusnya begitu. Itulah mengapa aku mengajakmu berkemah. Tapi sepertinya kita harus bermalam dengan cuaca dingin serta hujan begini," kata Ken.


"Sudah, tidak apa. Justru pengalaman seperti ini akan memberiku kenangan indah tentang tempat ini," jawab Yuna seraya merangkul lengan Ken.


Suasana hening sesaat.


"Apa itu! Ada apa dengan tatapan kalian?" tanya Ken menyadari bahwa Suya dan Ayumi sedang menatap dirinya dan Yuna.


"Hihihi,, ayah dan mama sangat romantis. Benar kan, bibi Ayumi .." jawab Suya.


"Eh? I iya," Ayumi langsung setuju.


"Aah.. terima kasih atas pujiannya."


"Tidak. Ini bukan hanya pujian. Di mataku, ayah dan mama benar-benar pasangan yang serasi," Suya tersenyum.


SRET


Ken mengalihkan pembicaraan dengan mengintip ke pintu tenda. Hujan masih saja deras.


"Baiklah. Kalian bisa tidur sambil menunggu hujan berhenti," katanya.


"Tapi ini masih jam tujuh, aku belum mengantuk," kata Yuna sambil menguap.


"Benarkah?"


"Uppps!" Yuna buru-buru menutup mulutnya karena ketahuan menguap.


Ken meraih tas besar berisi kasur lipat dan bantal. Kemudian ia menatakan tempat untuk Yuna tidur.


"Kau bisa tidur bersama Yuna. Aku dan Suya akan tidur di mobil," ucapnya pada Ayumi.


"Oh, iya baiklah."


"Aku ke mobil dulu, ya. Jika ada sesuatu yang dibutuhkan, panggil saja aku," Ken mengecup kening Yuna sebelum keluar menuju mobil.


"Hmm. Selamat tidur, Ken."


Diusapnya rambut Yuna sebentar, kemudian ia mengajak Suya keluar.


Malam itu udara begitu dingin menusuk kulit. Bahkan tulang-tulang pun dapat merasakan hingga bergemeretak bersamaan.


"Apa kau kesulitan tidur karena kedinginan?" tanya Ken saat melihat Suya belum juga tidur.


"Hmm. Udaranya dingin sekali. Seandainya aku pergi tanpa mengenakan mantel ini mungkin aku akan membeku," kata Suya.


"Ini. Pakailah selimut agar tubuhmu hangat."


Ken membungkus tubuh Suya dengan selimut. Kemudian duduk di sebelahnya dan meladeni obrolan Suya tentang liga sepak bola sebelum akhirnya putranya itu mengantuk dan tidur.


Hujan yang deras tak kunjung berhenti. Sesekali suara petir menyambar langit di atas tempat mereka. Ken tidak bisa tidur. Matanya tetap terbuka dan mengawasi keluarganya sepanjang malam.


•••••


SRAK SRAK


Yuna membuka mata ketika mendengar suara dari luar tendanya. Ia pun merapikan rambutnya dan menjulurkan kepalanya dari dalam tenda. Dilihatnya Ken sedang merapikan barang-barang yang kemarin mereka gunakan untuk memanggang ikan.


"Kau sudah bangun? Di mana Suya?"


"Hmm. Dia masih tidur. Udara di luar masih sangat dingin, kau bisa lanjutkan tidurmu."


TRAK


Yuna keluar dari tenda dan menghampiri suaminya yang sedang berbenah. Kemudian dipeluknya pria itu dari samping. Mendapat pelukan dari sang istri, Ken menghentikan pekerjaannya sejenak dan membalas pelukan hangat itu.


"Apa tidurmu nyenyak semalam?" tanya wanita itu seraya menatap wajah Ken.


"Aku tidak bisa tidur."


"Tidak apa. Sudah tanggung jawabku sebagai suami dan ayah."


Karena Ken mengatakan itu, Yuna tersenyum dan meraih pipi suaminya. Dikecupnya bibir dingin Ken sebanyak tiga kali. Muach,, muach,, muach,,


"Bibirmu dingin sekali. Kau pasti kedinginan?"


"Lumayan. Tapi aku bisa menahannya," jawabnya bohong. Padahal ia merasa tubuhnya menggigil.


Sekali lagi Yuna mengecup bibir Ken. Namun kali ini ia iseng menggigitnya hingga Ken pun terkejut.


"Aaah!!" pekik Ken.


Begitu menggigit bibir suaminya, Yuna berlari menjauh dan meminta untuk dikejar.


"Aiih,, apa aku perlu mengejarmu? Aku rasa, ini sedikit kekanakan..."


Yuna terus memancing Ken agar mengejarnya dengan berlenggak lenggok menampilkan sisi tubuhnya yang menawan.


"Aisshh..." Ken membuang muka sambil tersenyum senang.


Tanpa membuang waktu, Ken berlari mengejar dan berusaha mendapatkan Yuna. Dan di sudut dinding pembatas antara danau dengan taman bunga, Ken berhasil mendapatkan istrinya.


"Kau tertangkap! Menyerahlah.." ucap Ken sambil merengkuh tubuh Yuna dari belakang.


"Ahaha, sayang. Tunggu. Tunggu sebentar. Aku kebelet pipis!"


Yuna membungkuk kegelian saat kepala Ken bersandar di pundaknya. Bahkan Yuna sengaja menjatuhkan dirinya ke atas rerumputan basah dan membiarkan suaminya ikut jatuh bersamanya.


Ken buru-buru melepaskan pelukannya dan ikut panik, "Serius?"


Melihat wajah Ken panik dan kebingungan sambil celingak-celinguk mencari toilet umum, Yuna justru tertawa geli. Sepertinya ia berhasil mengerjai suaminya itu.


"Sayangnya, barusan aku cuma bohong...hihihi," cekikik Yuna.


"Apa? Kau mengerjaiku?"


Yuna mengangguk senang.


"Lihat, Ken. Bukankah di sini cukup sepi."


"Lalu kenapa?"


"Cium aku..." Yuna mendorong punggung Ken ke dinding lalu menyodorkan bibirnya.


Karena merasa kelakuan Yuna saat itu begitu menggemaskan, maka diperhatikannya bibir yang seksi tanpa pewarna itu sambil tersenyum.



"Apa kau sedang menggodaku?"


"Tentu saja.." lagi-lagi Yuna memancing Ken dengan memonyongkan bibirnya beberapa kali.


Tidak mau menganggurkan istrinya terlalu lama, Ken pun meraih tubuh Yuna dan mendekapnya perlahan.


"Menggemaskan sekali," ucapnya.


"Siapa?"


"Tentu saja, kau. Istriku yang cantik," diraihnya pipi Yuna dengan kedua tangannya.


"Kalau begitu?"


"Kalau begitu...."


Ken mendekat dan mencium bibir Yuna dengan pelan dan hangat. Keduanya saling membalas dan memberikan ciuman yang terbaik. Bahkan udara dingin di sekitar mereka pun luluh. Yang mereka rasakan saat itu hanyalah kehangatan.


Ketika ciuman itu mulai memanas dengan sentuhan tangannya yang mulai nakal, Ken buru-buru menghentikannya.


"Em, aku rasa Suya dan Ayumi sudah bangun. Sebaiknya kita kembali dan melanjutkan berkemas," ucap Ken seraya merapikan baju Yuna.


"Benar juga. Baiklah, ayo kembali."


Melihat pasangan itu hendak kembali ke tenda, Ayumi pun berlari terburu-buru mendahului keduanya.


Ternyata, ia tidak sengaja melihat Ken dan Yuna yang sedang berciuman saat ia mencari mereka. Begitu ia sampai di tenda, Suya sudah bangun dan duduk menguap.


"Bibi! Dari mana saja, kau? Apa kau melihat ayah dan mama?"


"Eh, Suya? Itu,, Bibi baru berolahraga di sekitar sini. Sejuk sekali udaranya. Sepertinya ayah dan mamamu juga sedang berolahraga tak jauh dari sini."


"Begitu, ya?"


"Hmm. Sekarang, bagaimana kalau kita berbenah. Bibi harus pergi ke kantor hari ini."


"Benar juga. Aku juga harus sekolah."


Sebelum Ken dan Yuna kembali, Ayumi dan Suya berbenah. Sementara Suya melipat selimut yang semalam ia gunakan, Ayumi sendiri berusaha bersikap senatural mungkin dalam membereskan selimut dan bantal tidurnya.


"Kalian berdua sudah bangun?"


"Ayah? Dari mana saja kalian?"


"Ehhmm.. kami berjalan-jalan sebentar di sekitar sini," jawab Ken seraya melepas tenda dan dibantu oleh Yuna.


SREK SREK


"Bagaimana dengan sarapan?" tanya Ayumi membantu memasukkan barang-barang ke mobil.


"Kita menyarap di rumah saja nanti."


"Baiklah."


.


.


.


BERSAMBUNG....