RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
BERKABUNG



EPISODE 146


Ayah Yuna datang tergopoh-gopoh ditemani tiga kawan Ken. Saat mereka datang, Yuna sudah dipindahkan ke ruang berkabung. Ken sendiri tengah duduk di lantai pojok ruangan. Ia terus manatap peti mati Yuna dengan pandangan kosong dan tampak sangat sedih.


Bahkan saat beberapa tamu perusahaan datang, kedua orang tuanya lah yang menemuinya. Orang-orang itu pun dapat memaklumi keadaan Ken. Bahkan banyak yang menaruh simpati kepadanya.


Berjam-jam lamanya, Ken duduk di sana. Tidak makan maupun minum. Sekali-kali matanya mengedip perlahan seraya mengenang sosok Yuna.


Impiannya memiliki tiga orang putri kembar nan cantik dari Yuna hancur begitu saja.


"Jelaskan padaku apa yang terjadi."


Suara ayah Yuna membuat lamunan Ken buyar. Ia mengangkat pandangannya dan perlahan mengubah posisi duduknya menjadi bersimpuh dengan kedua kaki yang diduduki. Satu menit kemudian, kepalanya terus menunduk namun ia hanya diam.


Cukup lama tuan Tanaka menunggu Ken memberikan jawaban.


"Aku membunuh Yuna," jawab Ken kemudian seraya mengangkat kembali kepalanya menatap ayah mertuanya.


Pada saat Ken mengangkat kepalanya seperti itu, tuan Tanaka baru tahu kalau sejak tadi itu rupanya Ken tengah beruraian air mata.


Ayumi dan Suya yang saat itu berada di dekat Ken segera mendekat.


"Tidak, tuan. Ayah tidak membunuh mama," ucap Suya sambil memeluk ayahnya. "Ayah sudah berusaha menyelamatkannya," lanjutnya.


"Benar. Tuan Kogoro menyaksikan semuanya. Anda bisa bertanya padanya langsung," sahut Ayumi.


Karena masih syok, tuan Tanaka menjatuhkan dirinya di lantai. Dipegangi Ichigo dan Kurosaki.


Kebetulan tuan Kogoro datang menghampiri sehingga Ayumi memanggilnya untuk memberikan kesaksian. Ia pun duduk menghadapi mertua dari bosnya itu dengan tenang. Diceritakannya seluruh kejadian saat itu dengan urut dan detile tanpa dibuat-buat.


Selain itu, ia juga mengatakan bahwa luka perban di pergelangan tangan Ken itu adalah luka sayat saat berusaha menyelamatkan sang istri.


Meski sudah dijelaskan oleh tuan Kogoro, tatapan Ken tetap kosong. Ia terus saja mengatakan bahwa dirinya membunuh Yuna. Tentu saja sebagai kawan, Ichigo, Takeda dan Kurosaki merasa ikut sedih melihat kondisi psikis Ken tersebut.


Rasa bersalah yang besar membuatnya meyakini bahwa dirinya lah penyebab kematian Yuna. Bagaimanapun, Ken tidak bisa melupakan detik-detik di mana dirinya menghantarkan Yuna pada kematian.


Tuan Tanaka hanya bisa bersedih. Ia menyesal karena tidak mau bertemu Yuna ataupun merestui pernikahan putrinya. Ego yang besar dan kekeras kepalaannya beberapa tahun ini membuatnya amat kehilangan.


Namun seperti cerita tuan Kogoro, ia pun tidak bisa menyalahkan siapapun. Apalagi Ken. Ia tahu betul, menantunya itu merasakan kehilangan lebih dari siapapun. Siapapun bisa melihatnya dengan jelas.


Bahkan, selama upacara berkabung diselenggarakan, Ken terus saja diam melamun. Untuk memberikan salam penghormatan terakhir saja ia dituntun oleh Suya dan keluarganya.


•••••••


Sudah tiga hari berlalu sejak Yuna di makamkan. Namun kesedihan Ken belum juga hilang. Ia masih mengurung diri di kamarnya dan belum makan sedikitpun sejak hari itu.


TOK TOK TOK


Suya mengetuk pintu kamar Ken sambil membawa nampan berisi makanan. Ia benar-benar menjadi seorang anak yang baik karena mengkhawatirkan kesehatan ayahnya.


"Ayah, apa aku boleh masuk?"


Tidak ada jawaban.


Akhirnya, Suya memutuskan untuk masuk meski ayahnya belum memberi jawaban. Begitu masuk, ia melihat ayahnya duduk terpuruk di lantai dengan bersandar pada kayu tempat tidur.


Wajahnya sangat pucat dengan mata yang bengkak.


"Ayah...aku membawakan makanan untukmu.."


Suya meletakkan nampan di dekat Ken. Namun ia juga melihat sebuah nampan lain yang berisi makanan, belum disentuh ayahnya sedikitpun.


"Ayah tidak mau makan, lagi?"


Ken menoleh sesaat lalu kembali pada lamunanya.


"Bagaimana kalau aku suapi?" usul Suya.


Ken menggelengkan kepalanya, "Ayah tidak lapar, Suya. Bagaimana ayah bisa makan, jika melihat mamamu terus menangis seperti itu."


"Mama??" Suya celingak-celinguk mencari sesuatu yang disebutkan Ken.


GLEK


Suya merasa ayahnya telah berhalusinasi melihat mama Yuna sedang menangis. Bagaimana itu bisa terjadi? Apakah karena syok yang hebat membuatnya terus merasa bersalah dan akhirnya terbayang sosok sang istri?


Sepertinya begitu. Bukankah itu pernah terjadi saat Ken kehilangan Suzy?


TAP TAP TAP


Suya turun dan membawa keluar makanan yang sebelumnya ada di kamar ayahnya.


"Ayahmu belum mau makan?" tanya Ayumi cemas.


Suya mengangguk, "Ini sarapan tadi pagi. Sepertinya belum disentuh sedikitpun."


Suya maupun Ayumi menghela nafas sama-sama. Mereka tidak tahu lagi bagaimana caranya menghibur Ken.


"Ya sudah. Jika nanti lapar, ayahmu pasti turun dan mencari makanan sendiri," Ayumi mencoba menenangkan Suya.


••••


Jika saat itu Ken tengah terpuruk dalam kesedihan, Kazuki yang berada di penjara tengah terpuruk karena hukuman berat yang diterimanya.


Setahun yang lalu, ia kembali melakukan percobaan untuk melarikan diri bahkan membunuh beberapa sipir penjara yang berjaga. Sebab kelakuannya itu, hukuman tujuh tahunnya itu pun diperberat. Menjadi hukuman mati.


Yoshi menjadi takut melakukan apapun. Ia selalu terbayang kematian yang semakin mendekat.


Suatu hari, di sel tempatnya mendekam, ia memikirkan sesuatu yang tidak pernah sama sekali ia pikirkan. Malam itu, tiba-tiba saja ia memikirkan Kenzhi.


Jika dipikir-pikir, orang yang benar-benar pernah menyelamatkan dirinya dari kejahatan hanyalah Ken. Di mana dirinya dulu sering dibully anak-anak lain di sekolahnya, cuma Ken yang maju untuk membela.


"Aku rasa, aku sudah kalah darimu. Sejak dulu, aku berusaha menjatuhkan dan menghancurkan hidupmu. Namun apa yang ku dapatkan. Penjara dan hukuman. Sama sepertimu."


"Lima tahun di sini, rasanya begitu lama dan menyiksa. Semua penghuni lapas di sini juga sangat menyebalkan dan terus melakukan sesuatu yang buruk padaku. Entah bagaimana dirimu menjalani masa delapan belas tahun pertama dan sepuluh tahun berikutnya. Meski benci mengakuinya, aku merasa kau seseorang yang cukup mengangumkan. Bahkan kau mampu mengumpulkan pendukung di sini."


Kemudian ia juga mengingat Linzhi, "Aih. Wanita itu juga di mana sekarang? Beraninya dia menggugat perceraian ketika aku masuk penjara. Bahkan tidak pernah sekalipun dia menjengukku di sini. Apakah dia tidak pernah menganggapku sebagai suami?"


Rupanya, Yoshi merasa kesepian. Pada sidang yang berjalan beberapa hari yang lalu, ia mengetahui bahwa hukuman mati untuknya datang sebulan lagi.


SRET


Dipandanginya kaki yang terikat rantai. Dengan bola beton besi yang memiliki berat hampir seratus kilo, ia tidak bisa bergerak bebas ke sana kemari.


Ketika seorang sipir datang membawakan sup miso sebagai makanan hari itu, Yoshi bertanya tentang Kazuki.


"Tuan, apa kau tahu kapan hukuman mati untuk Kazuki?"


"Kenapa kau bertanya soal itu!"


"Aku hanya ingin tahu.."


"Akhir minggu ini."


DEG


"Apa? B benarkah?"


"Semalam dia membunuh sipir pengantar makanannya saat berusaha kabur lagi. Jadi pagi ini kepala penjara memohon pada hakim dan polisi untuk memajukan hukuman matinya. Dan itu disetujui."


Yoshi menunduk takut.


"Bersikaplah baik sebelum masa hukumanmu datang," ucap sipir pengantar makanan itu sebelum beranjak pergi.


••••••


Tap Tap Tap


Suara langkah kaki Ken yang sedang menuruni anak tangga. Malam itu ia berjalan turun menuju dapur tanpa diketahui seorang pun meski ia sendiri tidak sedang mengendap-endap. Begitu sampai di depan lemari pendingin itu, dibukanya pintunya dan diambilnya beberapa kaleng bir.


Ia duduk di kursi ruang makan sendirian. Untuk kedua kalinya, ia mengalami masa-masa sulit dan terpuruk karena kehilangan seseorang yang dicintai.


Bahkan kini dalam halusinasinya, dua wanita kecintaannya itu tengah duduk di hadapannya dengan wajah sedih.


"Kenapa kalian pergi meninggalkanku seperti ini? Apa kalian ingin menguji perasaanku? Hikk!" ucap Ken sambil cegukan karena sudah mulai mabuk dengan mata yang seperti orang mengantuk.


"Aku, tidak mengerti dengan takdir yang ku hadapi. Apakah semua itu campur tangan Tuhan? Atau itu sebuah hukuman darinya untukku?" Ken tersenyum menyeringai.


"Lalu Tuhan yang seperti apa yang menghukumku?" ucapnya sambil menggoyangkan kaleng birnya.


HIK!


Ken masih cegukan. Mabuknya semakin berat saja, "Aku ingin tahu, sebesar apa kesalahanku hingga pantas mendapatkan hukuman seperti ini?"


Selesai berucap, Ken diam dan menatap tangan kanannya. Luka sayatnya yang semula sudah benar dibalut perban itu ia buka dan tidak pernah ia obati hingga tidak kunjung sembuh.


Lalu tiba-tiba saja ia menangis dan terisak tanpa suara. Bir yang berusaha ia telan pun mengalir keluar dari mulutnya. Bahkan saat dirinya kembali meneguk bir dalam kaleng, bir itu tumpah-tumpah di luar.


Pada saat yang kebetulan, Ayumi turun hendak mengambil minum. Ia terkejut melihat Ken tengah duduk di ruang makan dengan beberapa kaleng bir.


Maka, ia pun segera menghampirinya dan duduk di kursi sebelahnya, "Ken, hentikan. Kau sudah terlalu mabuk."


Ayumi mengambil kaleng bir yang ada di tangan Ken dengan pelan lalu meletakkannya di atas meja. Ia mengusap lengan kanan Ken dan berusaha membujuknya untuk berhenti minum.


"Ken.."


Ken yang masih menangis sedih itu menoleh pada Ayumi dan memperhatikannya sebentar. Dengan perlahan, tangan Ken bergerak mengusap pipi Ayumi dan membelainya penuh kasih.


Perlakuan yang mendebarkan bagi Ayumi itu cukup lama terjadi. Bahkan saat Ken mendekatkan mukanya dengan perlahan, Ayumi pun berpikir macam-macam. Ia pun memejamkan mata bersiap menerima ciuman dari Ken.


Namun saat bibir mereka hampir bersentuhan, Ken mendorong muka Ayumi dengan pelan.


"Sedang apa kau di sini? Apa kau mencoba mengelabuiku dan berpura-pura menjadi Yuna untuk mendapatkanku?" kata Ken sudah benar-benar mabuk dan tak sadar dengan ucapannya.


Ayumi menatap Ken sedih, sesaat kemudian ia melihat kondisi tangan Ken.


"Hentikan, Ken.. kau sudah mabuk. Oh? Di mana perbanmu? Dan apa ini? Lukamu masih terbuka? Kau tidak mengolesinya obat?"


Karena cemas, Ayumi meraih pergelangan tangan Ken yang terluka dan mengusapnya perlahan. Untuk beberapa saat Ken merasa Ayumi hanya mengambil kesempatan darinya. Maka dengan cepat Ken menepis tangan gadis itu lalu berdiri dan bergegas pergi dengan sempoyongan.


.


.


.


.


BERSAMBUNG...