
EPISODE 114
Kazuki ikut duduk di ruang istirahat dan mengobrol seru dengan Yuna. Rupanya, Kazuki adalah teman akrab Yuna yang kebetulan adalah seorang anak dari teman ayahnya.
"Bagaimana kabar Arai? Apa dia masih sering menghubungimu?" tanya Kazuki.
"Hmm. Aku dengar, sekarang dia sedang di Amerika," jawab Yuna.
"Wah, begitu ya?"
"Em, apa kau mau minum kopi?"
"Boleh."
Karena makanan mereka sudah habis, Ken dan yang lain melanjutkan pekerjaan mereka kembali.
"Apa kau akan diam saja melihat Yuna bersama Kazuki?"
"Apa?"
"Kau menyukai Yuna, kan?"
"Aah.. Itu tidak benar."
Ken diam dan berpikir sejenak. Pantaskah dirinya menyimpan seseorang di dalam hatinya ketika Suzy tidak lagi berada di sisinya?
Memang benar, ia melihat keceriaan masa muda Suzy di dalam diri Yuna. Seorang teman sekolah yang tomboi dan suka marah-marah padanya. Yang begitu ceria dan tidak mudah putus asa.
"Bukankah kau juga sudah pernah bercinta dengannya? Apa itu hanya iseng?" Ichigo bertanya ragu sambil melirik Ken.
"Uhuk! Uhuk! Aku melepas plakat selipnya, tolong singkirkan dongkraknya," Ken salah tingkah dan terbatuk-batuk saat Ichigo menanyakan soal itu.
"Hey, jawab aku dulu," Ichigo ingin tahu.
"Tidak."
"Kau bisa ceritakan itu padaku,,"
"Tidak ada yang perlu diceritakan," Ken keluar dari bawah mobil dan melepas dongkrak yang ia pakai dengan perlahan.
Ichigo yang sudah keluar juga itu menghampiri Ken kembali, "Kau pria yang beruntung. Sekali melempar kail, kau langsung dapat ikan segar. Kurosaki dan Takeda yang selama ini berusaha mendekati Yuna bahkan tidak mampu menggerakkan hatinya."
Mendengar penjelasan dari Ichigo, Ken berhenti dan berbalik menghadap kawannya itu.
"Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan padamu karena terlalu banyak mengetahui rahasiaku," ucap Ken seraya menggaruk alis mata kirinya dengan tatapan mata ke samping.
Kemudian perlahan tatapannya itu naik dan menatap Ichigo dengan tajam seakan ingin menelannya bulat-bulat.
"Apa?" Ichigo terkejut karena mendapat tatapan seperti itu dari Ken. Ia jadi sedikit takut ketika melihat ekspresi Ken yang berbeda.
Melihat kawannya jadi diam tak berkata-kata, Ken menepuk pundak Ichigo dengan ramah.
"Mari lupakan pembicaraan kita. Aku harap, kau tidak gegabah dan mengatakan apa yang kau ketahui pada yang lain. Terutama Kazuki," ucapnya seraya tersenyum.
"I iya."
Ken melepas sarung tangannya dan melirik jam dinding yang terpasang di atas meja kasir. Sudah satu jam Yuna berbincang dengan Kazuki di ruang istirahat dan sepertinya betah berlama-lama.
••••••••
Di tempat lain, Suya yang sedang tidur tiba-tiba mendengar percakapan antara kakek dan neneknya.
Kakeknya yang sedang menjaga toko tampak buru-buru pulang ke rumah untuk mengabarkan sesuatu.
"Sayang, tadi aku bertemu dengan nona Kiyoshi, dia perawat yang mengurus cangkok hati Suzy. Kami mengobrol cukup lama dan saling bertukar kabar. Dan karena itu, aku juga mendapatkan sebuah informasi yang mengejutkan darinya," cerita kakek Hiro.
"Informasi?"
"Yah. Rupanya,,," kakek Hiro sulit berkata-kata.
"Kau kenapa? Apa harus sampai bersedih untuk informasi itu?" tanya nenek Tama.
"Pendonor hati untuk putri kita,, rupanya dia,," kakek Hiro terlalu sedih untuk mengatakannya.
"Siapa memangnya?"
"Menantu kita,,"
DEG
Nenek Tama terkejut mendengarnya. Seperti disambar petir, ia sedikit terpukul dengan kabar tersebut. Ia hampir saja merasa terharu, namun hatinya yang sudah beku tidak dapat diubah lagi.
"Apa yang kau katakan? Benarkah orang itu mendonorkan hatinya untuk Suzy?"
"Yaa..." kakek Hiro menyentuh kedua pundak istrinya dan menatapnya dengan rasa haru.
Nenek Tama merasa bahwa apa yang Ken lakukan hanya sia-sia belaka. Perbuatannya yang menyeret Suzy dan keluarganya ke dalam kehancuran, tidak dapat dimaafkan olehnya. Meski ia mendonorkan hati atau menyerahkan nyawanya sekalipun.
"Ah! Aku tidak peduli! Aku yakin. Apa yang dia lakukan mempunyai maksud tertentu!"
"Sayang, apa kau masih membenci menantu Ken?"
"Ya. Aku sangat membencinya! Karena dia, hidup putri kita jadi sengsara. Begitu juga Suya! Putranya!"
JEDHERRR!!
Mata Suya membelalak ketika mendengar bahwa paman Ken adalah menantu nenek dan suami dari Suzy, ibunya.
"S siapa menantu nenek? Benarkah itu paman Ken? Benarkah dia juga ayahku?" Suya bicara dalam hati sambil bersedih.
Ia bersembunyi di pojokan gelap dalam ruangan. Sehingga nenek maupun kakeknya tidak melihat keberadaannya.
Begitu mendengar semuanya, Suya kembali ke kasur lipatnya dan berpura-pura tidur. Di dalam selimutnya, ia menangis sedih.
"Jika paman Ken adalah ayahku, mengapa dia tidak mengenaliku?"
"Apa dia tidak tahu kalau aku putranya?"
"Apa dia berpura-pura tidak mengenaliku karena tidak ingin hidup bersamaku?"
Suya terus berasumsi. Ia mengingat kembali pertemuannya dengan paman Ken di taman kala itu. Dan bagaimana pertemuan selanjutnya serta kebersamaan mereka di pentas hari ayah.
"Huhuhu... Jadi, apa saat itu aku benar-benar tampil di panggung bersama ayahku?" Suya terisak sedih.
"Paman Ken......"
"Benarkah dia.."
"Ayahku..."
•••••••
CRASS
"Sshhh!"
Tanpa sengaja, Ken tergores pisau pemotong besi yang sedang ia gunakan. Telapak tangannya terluka dan mengeluarkan banyak darah.
Karena malam itu semuanya sudah pulang, Ken mengambil kain perban yang ada di lemari P3K tanpa ada yang melihat.
Ketika ia tengah melingkarkan kain perban ke tangannya, Yuna datang dan panik.
"Apa yang terjadi? Mengapa tanganmu terluka?"
Ken menoleh karena terkejut. Bukankah tadi Yuna pergi makan malam dengan Kazuki? Mengapa ia kembali lagi?
"Kau tidak mau mengatakannya padaku?" tanya Yuna sambil memelototi Ken.
Ken menghela nafas pelan, "Aku tidak apa-apa. Hanya luka kecil."
Yuna segera meraih tangan kanan Ken yang terluka. Kain putih itu menjadi merah karena rembesan darah.
"Bukan seperti ini caranya. Kau harus mencuci lukamu terlebih dahulu, lalu oleskan salep luka. Baru bisa kau balut dengan perban."
Yuna melepas balutan perban yang baru saja dibuat Ken. Kemudian ia melihat luka dengan sayatan panjang yang lumayan dalam.
"Kau bilang ini luka kecil?"
Ken hanya diam merenung.
"Cepat berdiri! Ikuti aku," perintah Yuna.
Namun, karena Ken hanya diam dan melamun, Yuna menariknya paksa ke kamar mandi dan membawa Ken untuk mencuci tangannya di washtafle.
"Apa malam ini kau lembur lagi?"
"Hmm."
"Kenapa tidak berhati-hati?"
"Aku sudah biasa dengan luka kecil seperti ini," jawab Ken datar.
Yuna melirik Ken. Memang benar katanya. Bahwa ia sudah biasa dengan luka kecil seperti itu. Mengingat banyak bekas luka di punggung, pundak, lengan dan dadanya, Yuna merasa kasihan padanya.
Saat sedang mencucikan tangan Ken, Yuna melihat ada luka gores semacam luka bakar di tangan Ken. Ia pun menanyakan itu pada Ken.
"Apa itu luka bakar?"
Ken memperhatikan bekas luka bakar di tangan kanannya, "Ya."
"Apa terkena api?"
"Bukan. Wajan panas."
Yuna melongo. Pria di depannya itu benar-benar menyimpan banyak kejutan. Sepertinya luka fisik dan batinnya benar-benar luar biasa.
Kemudian, saat mereka kembali duduk dan memberikan obat serta melakukan pembalutan pada luka Ken, Yuna kembali bertanya.
"Apa dulu kau satu sel dengan Kazuki?"
"Ya. Dia bersamaku."
"Kau tahu kasusnya?"
"Aku dengar, dia memperkosa dan membunuh seorang gadis?"
"Sebenarnya bukan seperti itu. Mereka berpacaran. Waktu itu, kami berempat sedang berpesta sabu di apartemen Kazuki. Kemudian karena pengaruh obat terlarang itu, kami berpisah di kamar masing-masing."
Ken mendengarkan dengan seksama.
"Begitu pagi hari kami semua bangun, pacarnya sudah tidak bernyawa. Dengan keadaan yang kebetulan menunjukkan bahwa mereka baru saja bercinta."
"Benarkah? Lalu siapa yang melapor pada polisi?"
"Herannya, polisi datang tanpa kami melaporkan kejadian yang telah terjadi. Saat itu, kami semua ditahan karena perkara obat terlarang. Kecuali Kazuki yang mendapat tiga kasus. Perkosaan, pembunuhan dan obat terlarang. Aku sendiri bahkan ditahan selama dua tahun penjara meski kadar heroin di dalam tubuhku hanya sedikit."
"Kau pernah dipenjara?"
"Ya. Aku dan Arai. Sekitar sebelas tahun yang lalu."
"Lalu apa sekarang kau masih mengkonsumsi obat seperti itu?"
"Tidak lagi."
"Baguslah. Ah, sepertinya sudah selesai. Terima kasih," kata Ken menarik kembali tangannya.
Setelah melihat Yuna mengangguk, Ken berdiri dan pergi berkemas. Ia mengambil tasnya yang ada di dalam loker.
"Apa kau mau pulang sekarang?"
"Ya. Kau sendiri?"
"Aku juga."
"Apakah butuh tumpangan?"
"Kalau tidak merepotkan, hehe" jawab Yuna sambil menatap punggung Ken.
"Tentu saja tidak."
•••••••
Ken menurunkan Yuna di depan rumahnya. Ia tidak menyadari bahwa tuan Tanaka memperhatikan mereka dari balik tirai jendela.
"Aku pergi dulu," ucap Ken.
"Tunggu."
"Ada apa?"
"Jangan lupa memberi salep luka dengan benar, lalu-"
"Aku sudah tahu."
"Heh? Benarkah?"
"Sudah ya. Aku pulang dulu," Ken menepuk pundak Yuna.
SRET
Yuna menahan tangan Ken dan berjinjit seraya mencondongkan kepalanya ke depan.
"Ada apa? Apa masih ada yang ingin kau kat,-" ucapan Ken terpotong.
CUP!
Tanpa basa basi, Yuna mengecup bibir Ken. Kemudian ia tersenyum kepadanya.
"Sampai jumpa besok."
.
.
.
.
BERSAMBUNG.....