
Hai pembaca setia,,,
Makasih sudah mampir,,
Dukung dan kasih semangat buatku dan jangan lupa like-nya ya,,, π
Please!
Jangan tinggalkan daku tanpa jejak jempolmu,,,πππ»
......................
EPISODE 126
Jari telunjuk Ken bergerak. Sebentar terangkat sebentar tidak. Kemudian mata yang sudah berhari-hari terpejam itu pun perlahan terbuka.
"Suya?" panggilnya lirih.
Yuna yang tengah tidur bersandar di tepian ranjang itu pun terbangun karena mendengar suara seseorang.
"Ken? Kau sudah bangun?" Yuna mengusap air liurnya dan berdiri memeriksa kondisi Ken.
Yuna teramat senang ketika akhirnya Ken membuka mata dan kembali menatapnya. Namun, pandangan kosong mata pria itu membuatnya heran.
"Ada apa? Apa kau merasakan sakit di salah satu bagian lukamu? Atau.. kau merasa lapar? Aku bisa memesankanmu makanan jika kau mau makan," Yuna terus mengajak bicara Ken.
Namun, yang diajak bicara hanya melongo dan menatap ke arah berbeda dengan sikap yang seolah panik.
"Ada apa Ken? Katakan padaku?" Yuna jadi khawatir.
Semakin banyak Yuna bicara, hal itu justru membuat Ken semakin takut. Bagaimana tidak? Telinganya berdengung sama seperti lima tahun lalu. Suara sirine yang memekakkan telinga membuatnya menutup rapat-rapat kedua telinganya.
Sejak mendengar dengungan "Ngung" seperti suara sirine itu, ia tidak bisa mendengar apapun yang dikatakan Yuna. Bahkan ia tidak mendengar suara sekecil apapun di tempat itu.
Bibir Ken bergerak-gerak menahan rasa ketakutannya. Nafasnya mulai tersengal membuat dadanya naik turun.
"Yuna! Jangan bermain-main denganku!"
"Apa maksudmu, Ken?" Yuna memegangi kedua lengan pria tersebut.
Namun, semakin Yuna bertanya apa yang terjadi pada dirinya, Ken semakin tersiksa. Ada apa dengan telinganya? Mengapa ia tidak dapat mendengar satu suara pun?
"Yuna! Tolong katakan sesuatu! Aku mohon!" suara Ken bergetar.
"Apa yang terjadi? Mengapa kau memintaku berkata,-"
Ken yang hanya melihat mulut Yuna terus bicara tanpa adanya suara pun semakin gundah dan gelisah. Kemudian, ia pun berteriak kencang dan membuat terkejut orang-orang yang berada di dekatnya.
"Yuna! Apa yang terjadi padaku? Mengapa aku tidak dapat mendengar sesuatu? Tolong berteriaklah kepadaku!!"
"A apa maksudmu? Kau tidak mendengarku bicara?" Yuna syok.
"Haaaaarrhh!!" Ken menjadi gusar dan menarik-narik telinganya.
"Jangan Ken! Jangan begitu," Yuna berusaha menenangkan Ken dengan cara memeluknya.
Tanpa menunggu lama lagi, ditekannya tombol panggil yang ada di dekat ranjang untuk memanggil dokter supaya secepat mungkin memeriksa keadaan Ken.
Dokter dan perawat pun berdatangan dan langsung memberi suntikan penenang. Begitu Ken kembali memejamkan mata, mereka membawanya ke ruang CT Scan untuk pemeriksaan lanjutan dengan MRI.
Luka gegar otak yang dulu pernah terjadi padanya rupanya terbuka kembali akibat benturan keras yang ia alami beberapa hari yang lalu. Membuat gangguan pendengaran yang pernah sembuh itu kini meradang kembali.
Untungnya, dokter dapat mengatasinya dan meresepkan obat. Jika pasiennya itu beruntung, gangguan tersebut akan hilang dengan sendirinya setelah lewat tiga hari.
Namun nyatanya, pada hari ke tiga sejak hari itu, pendengaran Ken belum juga kembali. Sejak hari itu pula, ia menjadi seseorang yang benar-benar pendiam. Apalagi sejak ia menjenguk Suya di kamarnya.
Melihat Suya terbaring koma dan tidak juga membuka mata, ia semakin terpuruk dan tidak lagi bicara meski Yuna datang dan mengajaknya mengobrol.
"Hai Ken, bagaimana telingamu? Apakah sudah ada kemajuan?" tanya Yuna sia-sia sebab Ken tidak mendengarnya.
Selain itu, Ken hanya tidur dan tidak mau diajak keluar kamar untuk jalan-jalan. Ia begitu putus asa dan jadi kehilangan selera makannya. Hal itu bisa dilihat dari beberapa makanan yang ia biarkan saja di atas nakas.
"Kau tidak makan lagi?" Yuna mengkhawatirkannya.
Saat Yuna mencoba membujuknya dan mencoba menyuapkan makanan untuknya, Ken justru menarik selimut dan menutupi kepalanya sambil tidur membelakangi Yuna.
Hari ke empat dan ke lima, Yuna masih sama dan berusaha membujuk Ken untuk makan. Namun pria itu tetap tidak mau menerima makanan apapun. Sehingga perawat terpaksa memasang infus.
Hari ke delapan, Yuna sengaja mengundang anak-anak panti untuk menghiburnya. Bertemu anak-anak yang selama ini bermain bersamanya, Ken sedikit terhibur.
Hari demi hari, akhirnya ia mau menelan makanan yang diberikan padanya hingga nafsu makannya pulih. Terkadang, ia juga pergi keluar untuk menghirup udara segar.
Kemudian setiap hari, ia juga selalu menyempatkan diri ke kamar Suya untuk melihat perkembangannya. Namun, meski ia menemani dan menggenggam tangannya salama berjam-jam, Suya tidak juga bangun.
Belum lagi jika kebetulan ia bertemu dengan mertuanya, nenek Tama tetap saja tidak menyukainya. Wanita itu selalu mengusirnya keluar dari kamar Suya jika kebetulan menemukan Ken ada di dalam kamar rawat cucu mereka.
Ken yang dipukuli nenek Tama hanya bisa menerimanya dengan pasrah. Memang karena dirinya lah, keadaan Suya jadi seperti itu. Namun meski begitu, umpatan dari mulut nenek Tama tidak dapat ia dengar. Karena itu, ia tidak memberi jawaban apapun sewaktu berhadapan dengan mertuanya tersebut.
Setelah cukup lama ia menyesuaikan diri dengan keadaannya, tepat pada hari ke enam belas, Ken kembali mendengar suara untuk yang pertama kalinya.
Ketika itu, Ken yang sedang melamun tiba-tiba dapat mendengar suara cuitan burung-burung tersebut. Tentu saja lamunannya menjadi buyar. Ia segera menatap dua burung tersebut sambil melongo tidak percaya.
CUIT CUIT CUIT
"K kalian bersuara?" itulah kata-kata yang pertama keluar dari mulutnya selama enam belas hari.
Ken membuka mulut dan hampir saja menangis. Entah mengapa ia jadi amat terharu ketika mendengar cuitan burung-burung itu.
Setelah mendengar suara burung, Ken juga mulai menangkap suara-suara lain termasuk suara di sekitarnya. Entah itu suara orang mengobrol, jeritan riang pasien anak-anak yang tengah bermain dan saling mengejar, kemudian ia juga mendengar suara mesin pemotong rumput yang sedang digunakan petugas kebunnya.
Bingo!
Pendengarannya sudah kembali sepenuhnya. Ia merasa bersyukur dan diberkati.
"Ken!!" suara Yuna terdengar nyaring di telinganya.
Ken tidak segera menoleh meski ia benar-benar ingin melakukannya. Dibiarkannya wanita itu menghampiri dan memegangi kedua lengannya sambil terus memarahinya karena keluar tanpa menunggunya terlebih dahulu.
"Kau keluar sendiri lagi? Tidak bisakah menungguku datang? Aku akan menemanimu berkeliling rumah sakit. Jangan menghilang seperti ini, aku takut terjadi sesuatu padamu," Yuna bicara terus menerus tanpa menyadari perubahan pada diri Ken.
Ken hanya menatap Yuna dengan datar tanpa menunjukkan ekspresi bahagianya. Wanita itu. Ya! Wanita bernama Yuna itu, masih saja bersedia mengurusnya meski ia dalam kondisi merengek putus asa dan sangat menyedihkan seperti beberapa hari yang lalu.
Dengan tangan kanan yang gemetaran ia melangkah maju dan akhirnya memeluk Yuna. Mendapat pelukan dari Ken, Yuna menjadi bertanya-tanya. Ada apa gerangan?
"Baiklah. Aku tidak akan menghilang lagi dari hadapanmu," kata Ken.
"K kau?" Yuna terkejut.
"Hmmm."
"Benarkah? Kau sudah bisa mendengar apa yang ku katakan?" Yuna memeluk erat tubuh Ken.
"Ya. Aku mendengarkanmu."
Yuna tersenyum haru. Ia merasa bersyukur karena Tuhan mendengarkan doanya.
"Huhuhu.. Aku takut sekali..." kali ini Yuna justru menangis.
"Kenapa kau menangis?"
"Aku takut kau akan selamanya terpuruk dan merengek seperti anak kecil. Jika begitu, aku tidak akan melihat Ken yang berani dan dingin sepertimu lagi."
Ken melepas pelukannya dan menatap Yuna, "Maaf, aku merepotkanmu karena bersikap seperti anak kecil."
"Hmmm, kau tidak mau makan ataupun bicara padaku. Itu membuatku sangat sedih, tahu?"
Ken tersenyum dan memeluk Yuna kembali. Ia memejamkan mata dan meresapi kebersamaan mereka.
"Maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi," Ken bicara seraya mengusap-usap punggung Yuna.
"Janji, ya?"
"Hmmm."
β’β’β’β’β’β’β’β’
Karena pendengarannya sudah kembali, Ken memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Ia menemui Suya terlebih dahulu sebelum pulang.
Karena ia akan kembali ke rumah, ia berencana menjenguk Suya beberapa hari sekali. Namun kali ini nenek Tama benar-benar melarangnya bertemu dengan sang cucu.
"Kali ini jangan ganggu cucuku lagi. Pergi dan jalani hidupmu sendiri! Jangan pernah datang atau menampakkan muka lagi di hadapan kami! Karena kami sudah sangat muak!"
"Tapi, ibu.."
"Tidak ada tapi-tapian! Enyahlah kau! Mau sampai kapan kau menyeret Suya ke dalam tragedi seperti ini? Aku yakin betul, Suzy akan sedih melihat keadaan putranya yang seperti ini. Karena siapa, ha? Semua karena suami dan ayah yang tidak berguna sepertimu!! Sekarang pergilah. Ingat ucapanku. Jangan pernah temui kami lagi!"
Nenek Tama mendorong Ken keluar dari kamar cucunya dengan sangat marah dan langsung menutup pintunya.
Ken berdiri sejenak di depan kamar tersebut. Ia merasa bahwa ucapan ibu mertuanya itu benar adanya. Mau sampai kapan ia akan menyeret Suya ke dalam kehidupan kelam dan menyedihkannya?
Ia juga seorang yang memiliki masa depan suram. Karena memiliki status sebagai mantan pembunuh yang selamanya tidak akan lepas begitu saja dari hidupnya. Kehidupannya pun tidak akan keluar jauh dari lingkaran kegelapan.
"Suya, maafkan ayah. Kali ini, ayah benar-benar akan meninggalakanmu. Mungkin memang sebaiknya begitu sejak awal. Dengan begitu kau akan hidup tenang dan bahagia bersama kakek dan nenek."
Ken mengusap mukanya dengan kasar sebab air mata mulai yang mengalir ke pipinya.
"Mulai sekarang, ayah tidak akan menyeretmu ke dalam kehidupan rumit yang ayah miliki. Lekas sembuh dan berbahagialah, nak. Sekali lagi, tolong maafkan ayah."
Ken berjalan dengan langkah berat meninggalkan ruangan Suya. Ia kembali ke kamarnya dan menemui Yuna. Tanpa menunggu lama lagi, mereka mengemasi barang dan bersiap pulang.
.
.
.
Next episode 127.....