RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
KASIH TAK SAMPAI



EPISODE 86


Sudah satu minggu sejak bertemu dengan Suya, Ken berdiam diri di rumah yang ditinggalkan keluarga Suzy. Meski rumah itu kini berantakan, ia merasa lebih hidup jika tinggal di sana daripada di rumah ibunya. Selain itu, ia dapat merasakan kehadiran Suzy di tengah-tengah kesendiriannya.


Suatu hari, Ken pergi ke panti asuhan Takaoka tempat dulu ia mengirim makanan bersama Keiko. Ia datang ke sana untuk menjadi sukarelawan yang membantu bersih-bersih ataupun pekerjaan lain yang kira-kira dibutuhkan.


Yang namanya sukarelawan, tentu saja tidak meminta bayaran. Ia melakukan itu dengan tujuan membantu secara cuma-cuma. Namun begitu, pihak panti tetap membayarnya. Bukan dengan uang melainkan dengan jatah makanan.


Nyonya Hanami, direktur panti asuhan itu sangatlah baik dan rendah hati. Ia telah mendengar cerita kehidupan Ken dari tuan Ito, si tukang kebun yang kini cukup dekat dengan Ken. Sebab itulah ia memberikan simpatinya.


Menurutnya, Ken sangatlah sopan, baik dan menguasai banyak hal. Pria jangkung yang sekarang sedikit kurus itu pun mengingatkan dirinya akan Deiji, putranya yang sudah meninggal dua puluh lima tahun yang lalu.


Di panti asuhan tersebut, Ken membantu pekerjaan tuan Ito sebagai tukang kebun. Selain itu ia juga melakukan pekerjaan lain yang dilakukan seorang pria seperti memasang kabel, membetulkan keran ataupun genteng yang bocor.


Kebetulan, selama beberapa hari di sana, ia juga amat disukai anak-anak. Setiap anak-anak panti berjumpa dengan Ken, mereka akan menyapa dengan sangat gembira.


Apalagi, para perawat panti yang mengasuh mereka adalah para wanita. Tidak ada pria muda yang menemani hari-hari mereka. Yaahh, walaupun usia Ken tidak lagi muda seperti dulu, namun kehadirannya dapat mengobati hati anak-anak.


••••


Saat malam hari ia hendak pulang, Ken berjalan melewati taman Ueno. Ia berharap melihat gerobak ubi manis ibu mertuanya di tempat terakhir mereka berjumpa. Syukur-syukur ia juga dapat bertemu kembali dengan Suya putranya.


Namun, sudah tiga puluh menit ia berkeliling, gerobak jualan nenek Tama tidak juga ia lihat. Ken pun menyerah dan keluar dari taman.


Ia berjalan di pinggiran jalan raya yang terhubung dengan jalan kampung. Di sana, Ken berhenti dan duduk-duduk di trotoar. Siapa sangka? Tepat di arah jam dua belas, ia melihat gerobak ubi manis yang berhias lampu temaram.


Tanpa menunggu ibu mertuanya melarikan diri lagi, Ken bergegas menghampirinya. Dan benar saja, nenek Tama terkejut dan bersiap pergi.


"Apa ibu begitu membenciku? Sampai kapan ibu akan terus menghindariku seperti ini?" tanyanya.


Nenek Tama mendengus pelan. Ia benar-benar tidak siap dengan pertemuan itu.


"Maaf jika terlambat, tapi aku ingin memberitahu ibu bahwa aku turut berdukacita atas kepergian Suzy dan Yama," ucap Ken dengan mata berkaca-kaca.


"Pergilah."


"Apa?"


"Pergi dan jangan muncul lagi di hadapan kami."


Nenek Tama bergegas menutup jualannya dan mendorong gerobaknya pergi tanpa mempedulikan Ken yang sedang bicara kepadanya.


"Apa dia putraku?"


DEG


Pertanyaan Ken membuat langkah nenek Tama berhenti dan buru-buru bertanya, "Apa maksudmu?"


"Suya. Apa dia putraku?"


Nenek Tama diam mematung. Kedua tangannya gemetaran saat memegang kayu gerobak. Sikap seperti itu menjelaskan bahwa pertanyaan Ken membuatnya gelisah.


"Ibu. Benarkah dia pu,-"


"Jangan ganggu cucuku! Selama ini, ia hidup dengan kakek dan neneknya tanpa mengenal siapa ayahnya. Biarkan dia tetap hidup seperti ini. Dengan begitu, kenyataan tentang masa lalu ayahnya yang buruk tidak akan mengganggu masa depannya."


GLEK


Ken benar-benar tertohok dengan ucapan ibu mertuanya itu. Meski semuanya benar adanya, namun ia begitu sedih. Sebab, itulah pesan terakhir yang ia minta pada Suzy.


"Pergilah. Jangan pernah muncul di hadapan kami lagi," nenek Tama pun pergi membawa gerobaknya.


Sepeninggal nenek Tama, Ken tetap berdiri di tempatnya dan menatap kepergian ibu mertuanya dengan mata yang basah. Sebenarnya, masih banyak hal yang ingin ia tanyakan.



Cukup lama ia berdiri mematung seperti itu. Hingga akhirnya ia menundukkan kepalanya seraya menghela nafas panjang. Kemudian tanpa semangat, ia pun melangkah pulang.


••••••••


Di rumah yang gelap tanpa penerangan itu, Ken terlihat sedang merapikan barang-barang yang ada di lantai satu. Meski tidak semua barang ada di sana, ia mencoba mengembalikan suasana rumah tersebut seperti dulu.


Ketika ia menginjakkan kaki di ruang makan, dilihatnya meja dapur yang masih ada wajan bekas penggorengan. Lalu kamar mandi yang berjamur juga tampak menganga tanpa pintunya.


Bahkan ketika ia berjalan keluar, kondisi awut-awutan di halaman rumah Suzy membuatnya prihatin. Patahan kayu ataupun runtuhan dinding yang berserakan di tanah, ia punguti dan rapikan satu demi satu. Tanpa ia sadari, seseorang tengah memperhatikannya di dalam kegelapan.


Sebenarnya, malam itu Linzhi datang karena belum sekalipun ia bertemu dengan Ken sejak pria itu dibebaskan. Ia mencari informasi tentang dirinya di perusahaan dan mendengar bahwa Ken sudah tidak bekerja di sana.


Dan secara kebetulan, saat ia datang ke panti asuhan dimana ia rutin berdonasi setiap bulannya, ia melihat Ken sedang memotong kayu untuk menyalakan api penghangat ruangan di ruang tengah.


Ia pun bertanya banyak hal tentang Ken kepada nyonya Hanami. Hanya satu yang tidak mereka tahu, yaitu tempat tinggalnya. Maka secara diam-diam, Linzhi mengikuti Ken pulang.


Ia juga melihat dengan jelas pertemuan antara Ken dengan nenek Tama dari dalam mobilnya. Bahkan ketika pria itu pulang dengan hati yang luka, Linzhi masih mengikutinya dengan sangat hati-hati.


Hingga akhirnya, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Ken memasuki rumah Suzy yang ditinggalkan. Cukup lama ia berdiri mondar mandir di depan rumah tersebut karena bimbang dengan keputusannya. Akankah ia menemui pria itu sekarang? Ataukah besok?


Hingga secara kebetulan, Ken keluar dan memunguti patahan kayu di halaman rumah yang kosong itu.


DAG DIG DUG


KREK! Suara kayu lapuk bekas pintu gerbang rumah tanpa sengaja terinjak sepatu Linzhi. Dengan cepat, wanita itu bersembunyi di pagar dinding samping.


Saat suara Krek terdengar, Ken menoleh ke asal suara dengan cepat. Namun ia kalah cepat dari gerakan Linzhi.


"Siapa di sana?" tanyanya sambil melangkah perlahan mendekati dinding luar pagar.


Hening.


Ken berhenti melangkah dan bergerak cepat melihat ke balik dinding. Namun tidak ada siapapun di sana. Bagaimana bisa?


Rupanya Linzhi sempat berlari menjauh dan buru-buru masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari tempat itu.


Dan karena Ken mendengar sebuah mobil yang berusaha dinyalakan mesinnya, ia pun mengejar mobil itu dengan cepat. Bahkan saat mobil itu sudah melaju dengan kencang, Ken mencegatnya dari depan hingga ia tertabrak dan sedikit berguling.


"Berhenti!" teriaknya pada saat itu juga.


Melihat Ken menghamburkan diri di hadapan mobilnya dan tertabrak hingga terguling, Linzhi terkejut dan mengerem mendadak.


CCIITT


Linzhi gugup dan menjadi kaku. Ia tidak menyangka bahwa Ken akan mengejarnya seperti itu. Lebih mengejutkan lagi ketika ia melihat Ken dapat berdiri kembali meski ia menabraknya dengan kencang.


Ken mengetuk jendela mobil Linzhi tanpa mengetahui siapa di dalamnya. Perlahan, kaca jendela itu turun dan memperlihatkan wajah pucat Linzhi.


Ken terkejut melihat wanita itu rupanya yang ada di dalam mobil.


"Kenapa kau di sini? Dan mengapa pula mengendap-endap seperti maling?" tanyanya dengan mata yang terbuka lebar.


"A aku..." jawab Linzhi gugup.


"Keluar."


Dengan sedikit ragu, Linzhi menuruti perintah Ken untuk keluar dari mobil. Begitu wanita itu keluar, Ken menariknya dan mendesaknya ke kap mobil.


"Bagaimana bisa kau menemukanku di sini? Apa kau memata-mataiku selama ini?"


"S sebenarnya,,,,"


Ken diam menatap Linzhi dan tetap mendengarkan ucapannya.


"Aku mencemaskanmu."


"Cemas?" Ken tertawa kecut.


"Bagaimana bisa kau tinggal di tempat gelap seperti itu? Bukankah rumah ibumu lebih nyaman? Di sana juga ada pelayan yang akan melayanimu," Linzhi balas menatap mata Ken.


"Aku ingin di sini. Pulanglah."


Ken berbalik dan melangkah pergi. Namun seperti biasanya, Linzhi menahannnya.


"Ikutlah denganku. Kita bisa menjalani hidup seperti dulu," katanya tanpa malu-malu.


Dan tanpa malu pula, Linzhi memeluk Ken dengan penuh gairah. Ia juga merapatkan tubuhnya pada tubuh Ken. Menghantarkan getaran penuh hasratnya.


"Jangan membohongi dirimu, Ken. Kau butuh kasih yang dari seseorang. Tubuhmu juga membutuhkan kehangatan dan sentuhan cinta. Aku yakin, hanya aku yang bisa memberimu semua itu," Linzhi menyentuh pipi Ken dengan kedua telapak tangannya.


Perlahan, Linzhi mendekatkan bibirnya pada bibir Ken. Lantas, ia pun menciumnya dengan penuh hasrat.


Mata Ken perlahan terpejam. Hembusan nafasnya pun nampak berusaha ia atur sedemikian rupa. Ternyata, Ken tidak membuka bibirnya sedikitpun. Bahkan dengan cepat, disingkirkannya wanita itu dari hadapannya.


"Tinggalkan aku segera."


"Ken... Kau tidak bisa menolakku. Aku tahu kau juga menginginkannya."


"Pergi sebelum aku memukulmu."


Linzhi tidak mendengar ucapan penolakan itu dan bergegas memeluk punggung Ken. Ia menempel bagai benalu pada punggung pria tersebut.


"Kau tahu, mengapa aku membantumu keluar dari penjara?" ucap Linzhi seraya menggerayangi tubuh Ken.


"Ah, soal itu? Seperti yang kau tahu, aku tidak memintamu untuk membebaskanku. Jadi jangan memintaku untuk membalas budi padamu."


"Meski begitu, setidaknya kau menerima tawaran untuk ikut bersamaku," tangan kanan Linzhi merangsek masuk ke dalam kemeja hitam Ken dan memberikan sentuhan nakal pada dadanya.


Ken kembali memejamkan mata dan menghela nafas panjang. Ia berusaha menguasai dirinya yang mudah terpengaruh. Ketika sentuhan tangan Linzhi mulai menyerang bagian utamanya, Ken berbalik dan mencekal tangan wanita itu dan menekannya ke pintu mobil.


BRUK!


"Pergilah selagi naluri membunuhku masih dapat ku redam."


Ken menatap Linzhi dengan serius.


"B baiklah aku akan pergi. Tapi berjanjilah padaku, jika kau membutuhkan seseorang untuk menemani malammu, datang saja kepadaku. Aku akan selalu menerimamu."


Ken tidak memberikan jawaban dan melangkah pergi meninggalkan wanita gila itu tanpa menoleh sedikitpun.


BERSAMBUNG........