RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
SEMBILAN TAHUN



EPISODE 17


Akibat membunuh Saga, Ken mendapat tambahan delapan tahun masa hukuman. Sehingga ia harus mendekam di penjara selama delapan belas tahun lamanya.


Beberapa tahun setelah masa itu lewat, Ken menjadi momok sadis di dalam tahanan. Ke mana pun ia pergi, tahanan lain menjauhi karena takut berurusan dengannya.


Siang itu, Ken sedang mengikuti kelas pembinaan kerajinan kayu. Bersama warga binaan lainnya, ia mengerjakan tugas untuk membuat kursi santai.


Ketika Ken membawa gergaji listrik mendekati seseorang tahanan, reaksi yang muncul pun sedikit berlebihan. Mereka berpikir macam-macam dan langsung merasa takut sebelum di ajak bicara.


"Apa kau punya sisa potongan kayu dengan ukuran panjang seperti ini?" tanyanya pada salah satu tahanan.


"K K Kayu? Ah, coba aku lihat dulu," jawab pria paruh baya itu sambil memeriksa tumpukan sisa kayu di dekatnya.


Sambil menunggu, Ken duduk di meja tempat pria itu bekerja dan melihat-lihat hasil kreasinya.


"Patung naga buatanmu bagus juga," kata Ken menyentuh patung itu.


"Oh, itu? A Aku memanfaatkan sisa potongan kayu yang ada. A Apa kau menginginkannya?"


"Tidak. Aku hanya merasa itu sungguh keren," jawab Ken sambil mengacungkan dua jempolnya.


"Benarkah? Terima kasih sudah memuji hasil karyaku. Tapi menurut pelatih, karyaku itu masih banyak kekurangan..."


"Ah. Siapa bilang? Menurutku ini sangat sempurna. Lihat liuk-liuk tubuhnya. Kaki yang nampak kokoh dan ekspresi wajah yang garang, naga ini persis seperti aslinya."


Ken membolak balik patung naga yang menurutnya begitu keren. Ia tersenyum sambil mengangkat patung naga, tinggi-tinggi di atas kepalanya. Tahanan yang bernama Natsu itu pun menoleh dan memperhatikan wajah Ken yang begitu senang.


Entah mengapa, ia merasa tertarik dengan Ken. Menurutnya, pria yang berhasil membunuh Saga itu cukup ramah. Mungkin, asalkan tidak mengganggu urusan pribadinya, Ken tidak akan melukai seseorang. Apalagi membunuhnya.


"Kalau kau mau, kau boleh mengambilnya," kata Natsu.


"Eh? Tidak. Tidak perlu. Bawa sini saja kayu yang aku minta," Ken melihat Natsu memegang sebuah kayu dan mengulurkan tangannya untuk menerima.


Begitu selesai bicara, Ken pergi sambil memanggul gergaji mesin di pundaknya. Benar-benar sosok yang mengagumkan. Pikir Natsu.


••••••••


Selama beberapa tahun, Ken mempunyai kegiatan yang mengobati kesepiannya. Salah satunya bekerja keras di beberapa kegiatan pembinaan. Entah itu membuat batu bata, membuat gerabah ataupun memahat kayu.


Selama itu pula, otot tubuhnya terbentuk menjadi kuat dan kekar. Terutama pada bagian lengannya. Nampak begitu jelas sebagai lengan seorang pria pekerja keras. Bagian dada dan perutnya pun perlahan mulai berubah. Benar-benar bentuk tubuh yang sempurna dan berotot.


Pada suatu hari yang terik, Ken sedang menonton penghuni lapas bermain bola. Ia duduk dengan siku masing-masing menempel di lututnya sambil memilin-milin batang bambu. Tiba-tiba saja, bola meluncur ke arahnya dan mengenai kepalanya dengan kencang.


DRAAKK!


"Ouh.." Ken terkejut lalu merasa pusing. Darah pun keluar mengalir dari hidungnya.


Ramailah para tahanan dengan bisik-bisikan ketakutan. Mereka benar-benar cari mati jika mengakui kesalahan sendiri di depan Ken. Begitu Ken mengangkat kepalanya dan menampakkan wajah kesal, beberapa yang bermain bola itu pun meneguk ludah dan saling cemas.


Bahkan tahanan lain yang tidak bermain bola pun merasa itu sebagai bom bunuh diri. Mereka mengerumuni area di mana Ken duduk dan para pemain bola yang salah satunya sebagai penendang bola.


"Siapa yang melakukannya?" tanya Ken mengusap darah dari hidungnya.


Semuanya menundukkan kepala dan tidak ada yang menjawab dengan jelas. Karena mereka tidak memberinya jawaban yang memuaskan, Ken mengulangi pertanyaannya sekali lagi sambil memegangi kepalanya.


"Siapa yang menendang bola ini ke arahku?!!" tanyanya sedikit membentak.


Mereka tetap tidak ada yang berani mengaku di hadapannya. Bahkan semakin rendah dalam menundukkan kepala.


"Baiklah. Jika tidak ada satu pun di antara kalian yang mengaku, maka aku tidak punya pilihan lain selain menyincang kalian semua."


Begitu Ken mengatakan akan menyincang mereka semua, beberapa orang mendorong dan menyudutkan seseorang yang tampaknya sebagai pelaku penendang bola.


Ken merasa penasaran dan mendekati mereka semua. Begitu ia berjalan mendekat, mereka para tahanan yang bermain bola perlahan mundur. Ken melotot heran.


Kemudian, ditariknya kerah baju salah satunya dengan cepat. Lalu dicengkeramnya dengan kuat hingga nampak jelas otot tangannya yang bergurat-gurat.


"Apa kau yang melakukannya??!"


Pria yang ditarik kerah bajunya itu menggeleng cepat. Tubuhnya benar-benar berkeringat dan gemetaran.


"B Bukan. Bukan aku," jawabnya tidak mau mengaku karena takut.


"Lalu siapa? Apa kalian benar-benar berencana mati bersama-sama?" Ken berteriak tepat di depan seorang tahanan.


Mendengar Ken berteriak marah dan seakan hendak menelan dirinya, seseorang yang diteriaki Ken tepat di depan wajahnya itu pun terkencing-kencing.


Air seninya merembes di celana dan mengucur ke bawah begitu deras dengan kakinya yang gemetaran.


"Hey!! Kenapa kau mengompol di depanku?" tanya Ken.


"A Anu..."


Ken segera melepaskan cengkeramannya dari kerah baju pria yang mengompol itu. Begitu dilepaskan, pria itu berjongkok ketakutan.


Sebenarnya Ken tidak benar-benar marah. Ia hanya ingin tahu siapa yang menendang bola ke arahnya. Apakah itu disengaja atau hanya ketidak sengajaan belaka.


Pada saat itu, Natsu muncul dan mengakui kesalahan yang tidak ia lakukan. Anak itu seusia Ken, lebih muda lima tahun. Masuk penjara karena tidak sengaja membunuh ayah tirinya yang mabuk. Ia melindungi ibunya saat sedang dihajar habis-habisan oleh ayah tirinya.


"T Tunggu! I Itu aku. Aku yang menendang bola itu," kata Natsu gugup.


Ken menoleh dan langsung menatap Natsu lekat-lekat. Ia tahu bahwa bukan anak itu pelakunya. Tapi mengapa anak itu mengakui perbuatan orang lain?


"Kau??"


Natsu mengangguk dan berlutut meminta maaf pada Ken. Tentu saja pelaku yang sebenarnya menjadi semakin gugup dan berkeringat banyak. Ken dapat melihat dengan jelas semua tanda-tanda kebenaran itu. Meski begitu, Ken hanya diam memperhatikan dan mengikuti alur cerita yang dibuat Natsu.


"Baiklah. Karena kau datang meminta maaf dan berlutut di hadapanku dengan berani, aku akan memaafkanmu. Tapi ingat! Jangan lakukan itu lagi. Jika tidak ingin aku cincang hidup-hidup," Ken berkata sambil menepuk kencang bahu Natsu.


Sambil tangan kiri tetap di dalam saku celananya, Ken menyapukan pandangan matanya ke semua pemain bola itu.


"Dasar payah tidak tahu malu!! Kalian semua kalah dengan anak kecil seperti dia! Yang berani mengakui kesalahan orang lain di depan orang sepertiku."


Umpat Ken dalam hati.


"Begitu takutkah mereka menghadapi pembunuh sepertiku??"


•••••••


Sembilan tahun kemudian.......


Pagi yang cerah dengan sinar matahari yang menyinari bumi, Ken kedatangan tamu lagi. Seperti tahun-tahun yang lalu di setiap bulannya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Suzy.


Ken tersenyum dari balik dinding kaca. Menatap gadis tomboi yang kian manis.


"Seperti yang kau lihat. Mengapa kau masih juga datang? Sudah aku katakan, bukan? Kau tidak perlu mengunjungiku setiap bulan."


"Aku hanya ingin melihat dan memastikan kesehatanmu. Ibuku juga ingin kau menikmati makanan yang sudah dibuatnya. Jadi jangan lupa untuk menghabiskannya," jawab Suzy menatap Ken dan melihat perubahan tubuh yang terus nampak padanya.


"Baiklah, temanku yang baik. Sampaikan pada bibi bahwa aku selalu menerima makanannya dengan senang."


"Hmm. Tentu saja."


Beberapa saat kemudian, suasana menjadi sunyi. Suzy diam dan sesekali melirik pada Ken yang terus menunduk.


"Aku, sedang sibuk membuka restoran kecil. Jadi maaf apabila beberapa bulan kemarin aku jarang datang menjengukmu. Nanti. Saat kau keluar dari penjara, jangan lupa datang menemuiku di sana, ya?" kata Suzy mengulurkan sebuah surat.


Ken mengangkat kepalanya dan menatap surat tersebut.


"Apa itu?"


"Di dalamnya aku sudah mencatatkan alamat restoranku. Kau harus datang, begitu keluar dari sini. Oke?"


"Ah. Baiklah."


"Ohya. Apa ayah dan saudaramu datang kemari? Aku dengar, Yoshi melanjutkan sekolah bisnis dan bekerja di perusahaan ayahmu beberapa tahun belakangan ini."


"Oh, mereka? Tidak. Hanya kau yang setia menjengukku di tempat ini," kata Ken menunduk.


Suzy melihat ekspresi wajah Ken. Ia tahu, sebenarnya Kenzhi merasa sedih.


"Bagaimana bisa, sembilan tahun lamanya mereka tidak menjenguk putra mereka??"


Pikir Suzy dalam hati.


"Oh, ya. Aku menitipkan hadiah untuk ulang tahunmu, bersama makanan dari ibu," kata Suzy malu-malu.


"Hadiah? Ah. Kau masih saja ingat kapan hari ulang tahunku."


"Tentu saja. Aku mempunyai alarm peringatan untuk itu," Suzy tersenyum.


Ken ikut tersenyum. Untuk beberapa alasan, gadis tomboi itu membuat hatinya sedikit merasakan kehangatan.


"Terima kasih banyak, karena sudah bersabar terhadapku selama sembilan tahun ini. Kalau aku boleh jujur, satu-satunya keluarga yang aku miliki adalah kau dan bibi," kata Ken berkaca-kaca dan hampir menangis.


Suzy ikut sedih dan menangis mendengar suara Ken yang bergetar mencurahkan isi hatinya. Ia tahu Ken begitu kesepian. Maka, semakin bertekadlah hatinya untuk menjaga Ken dengan baik.


•••••••••


Setelah Suzy datang, beberapa hari kemudian datang pula seorang wanita cantik menjenguk Ken.


"Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Linzhi.


Ken yang baru saja datang terkejut, "Linzhi?"


"Aku merindukanmu. Mengapa lama sekali bebas? Bahkan kau melewatkan ujian sekolah dan pesta kelulusan."


"Itu,,,,,"


"Saat aku lulus dulu, aku mendapat beasiswa untuk masuk kuliah. Seandainya dulu kau di sana, pasti kau juga akan lulus."


"Tidak. Aku meragukan itu."


"Kenapa?"


"Kau lupa, aku anak dengan banyak masalah?"


"Hmmm itu sudah berakhir....."


Linzhi terdiam. Ken pun diam.


"Ohya. Apa kau ingat saat kita di taman bermain?" tanya Linzhi.


"Taman bermain?"


"Yah. Ciuman pertama kita. Apa kau masih ingat?" Linzhi mencoba membuat Ken agar mengingatnya.


"Aah. Saat itu.." Ken menunduk.


"Jika kau bebas dari sini, datanglah padaku. Aku akan memberitahumu cara berciuman yang sesungguhnya."


"Apa??"


Linzhi menatap Ken sambil tersenyum penuh arti. Rupanya, begitu melihat rupa Ken yang sekarang ini, Linzhi merasa kembali jatuh cinta. Apalagi bentuk tubuh Ken yang semakin proporsional. Membuat Linzhi benar-benar ingin memilikinya.


"Emm, sepertinya di sini kau makan dan olahraga dengan teratur? Aku lihat kau tumbuh baik dan berubah menjadi pria dewasa," ucap Linzhi memecah kesunyian.


Ken tersenyum dan memperhatikan tubuhnya sendiri. Memang benar ia mengalami banyak perubahan. Tapi untuk apa mendapatkan perubahan fisik jika alat kejantanannya tidak dapat ia gunakan dengan semestinya.


.


.


.


.


Bersambung ke Episode 18