
EPISODE 140
BRAKK
Tubuh Ken didorong hingga tersungkur dan kertas yang dibawanya jatuh berhamburan, oleh seorang manager yang tidak menyukai keberadaannya.
"Apa kau tidak punya mata!"
"Maaf,," Ken menunduk minta maaf kemudian memunguti kertas tugasnya yang baru saja ia fotocopy.
Pria itu pergi meninggalkan Ken tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Di lain hari, lagi-lagi Ken bertemu dengan Goma, manager yang tidak suka padanya itu. Mereka berpapasan ketika hendak naik lift. Saat itu, Goma datang bersama beberapa orang sambil menjinjing tasnya dan masuk ke lift, namun ia melihat Ken sudah berada di sana.
Sebenarnya malas baginya untuk berada dalam satu tempat bersama karyawan rendah seperti Ken, namun ia tetap masuk karena sudah terlambat bekerja.
Ketika lift tidak mau bergerak karena terlalu banyak beban, Goma menyuruh Ken untuk keluar.
"Hei, kau. Keluarlah!"
Semuanya menoleh ke arah Goma, termasuk Ken. Karena tatapan itu mengarah padanya, Ken menunjuk dirinya sendiri sambil kebingungan.
"A aku?"
"Ya. Siapa lagi yang pantas? Cepat keluar. Kau akan menghambat pekerjaanku jika terlalu lama berpikir!"
SRET
Ken menuruti ucapan Goma dan keluar dari lift. Secara otomatis, lift pun bisa bergerak karena beban berkurang.
Akhirnya, hanya satu pilihan bagi Ken agar sampai tepat waktu di meja kerjanya. Apalagi selain lewat tangga.
"Hufff... Semangat, Ken!" gumam Ken begitu berdiri di depan anak tangga yang tinggi menjulang dan berkelok-kelok.
Apa yang dilakukan Goma rupanya tidak sampai hanya di situ. Mereka bertemu kembali di kantin. Goma tidak sengaja menubruk Ken dan membuat makanan yang dibawa Ken jatuh berantakan.
Namun lucunya, Goma yang justru marah-marah hingga semua yang ada di sana menonton, "Aiisshh!! Kau lagi! Bisa tidak menjauh dari hadapanku!"
"Maaf. Tapi,-" Ken hendak mengatakan bahwa Goma yang menubruknya lebih dulu namun ucapannya disela.
Ken membereskan makanannya yang acak-acakan di lantai. Pada saat itu, Goma mempunyai ide licik. Ia sengaja menyiramkan kopinya ke sepatu miliknya dan meminta Ken untuk mengelapnya.
"Hey, kau! Bersihkan sepatuku! Kau sengaja menumpahkan kopiku di sana, bukan!"
"Apa?" Ken menoleh ke sekelilingnya yang menonton dirinya. Beberapa yang bertangan jahil justru merekam kejadian itu.
"Cepat bersihkan sepatuku! Kau membuang waktuku yang berharga!"
Setelah menarik nafas panjang, akhirnya Ken berpikir untuk sengaja menuruti keinginan Goma. Ia menggunakan lengan bajunya untuk mengelap sepatu yang terkena kopi. Selama Ken melakukan keinginannya, Goma menyeringai puas.
Dari jauh, Ayumi yang datang untuk makan siang berjalan mendekat. Ia merasa heran dengan karyawan yang berkumpul seolah sedang menonton sesuatu yang lucu.
Ia pun menyela tempat di antara penonton dan melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Ken sedang direndahkan oleh Goma.
"Sudah cukup!" serunya.
Ken dan Goma pun menoleh. Semua yang menonton juga menoleh.
"Kau juga! Berhenti merekam!" perintah Ayumi pada wanita yang sedang merekam kejadian itu.
"B baik."
Ayumi menarik Ken dan menyuruhnya berdiri, "Apa begini caramu menghukum karyawan yang bersalah padamu?"
"Tentu saja. Dia pantas mendapatkannya. Karyawan yang ceroboh dan tidak punya mata sepertinya tidak pantas bekerja di sini."
"Benarkah dia yang melakukan kesalahan?" Ayumi tidak percaya.
"Tentu saja. Hoh? Apa kau meragukan perkataanku?"
"Bisa jadi begitu, kan? Ah, sudahlah. Bagaimana pun dia asisten dari kantorku. Jadi aku yang akan memberinya teguran."
"Ah, yaa. Baiklah. Karena kau yang mamintaku, apa boleh buat," Goma merapikan jasnya dan pergi meninggalkan keramaian.
GREK
Di ruangan Ayumi,
"Yang benar saja, Ken! Kau melakukan itu hanya karena dia menyuruhmu??" Ayumi mengomeli kakaknya.
"Bagaimana lagi? Bukankah dengan begitu kau bisa melihat sifat aslinya?"
"Apa?"
"Aku yakin, orang seperti Goma akan menjilat para petinggi demi kelangsungan karirnya."
"Kau beranggapan begitu?"
"Ya. Dia semena-mena terhadap karyawan rendahan. Tapi dia tidak bisa begitu pada atasannya, bukan? Karena kau sudah melihat bagaimana sikapnya, maka ayah bisa membuat keputusan untuknya."
"Maksudmu memecatnya?"
"Hmm."
"Entahlah. Tapi Goma sudah cukup lama mendedikasikan dirinya di perusahaan kita. Apa ayah akan setuju untuk gagasan itu."
"Jika tidak, kau bisa mengambil cara lain."
"Apa itu?"
"Membuatnya berada di dalam genggamanmu."
"Mungkin itu lebih masuk akal."
•••••
Beberapa hari setelah kejadian itu, unggahan video tentang Ken yang sedang mengelap sepatu Goma pun beredar di kalangan pegawai perusahaan.
Oleh karena itu, tuan Hide pun memanggil Ken. Dengan tuan Kogoro sebagai pendampingnya, Ken dibawa masuk ke dalam mobil tuan Hide dan pergi ke sebuah restoran.
"Kenapa kau membiarkan itu terjadi?" tanya ayah tiri Ken itu setelah duduk di salah satu meja restoran.
"Aah.. soal itu."
"Kapan kau akan menanggapi permintaan ayah? Ambil posisimu dan lakukan perubahan besar."
"Maksud ayah?"
"Apa kau mau terus diinjak-injak oleh orang-orang seperti Goma?"
"Eehh..."
"Ayah harap, beberapa tahun lagi ayah bisa beristirahat dari pekerjaan kantor. Kau tahu sendiri usia ayah yang sudah tua ini. Sebab itulah, kau dan Ayumi harus bekerja sama menjalankan perusahaan."
"Tapi..."
Tanpa mereka sadari, seorang karyawati yang datang untuk bertemu dengan kawannya tidak sengaja melihat mereka di tempat tersebut.
"I itu kan?"
"Bukan. Dia karyawan kantor yang baru-baru ini terkena masalah dengan manager tempatku. Tapi ada apa dengannya?"
Karyawati itu melihat Ken yang bicara dengan ketua perusahaan dengan santai pun menjadi curiga.
"Dia bicara berdua saja dengan ketua?" gumamnya heran sambil mengintip dari pojokan.
"Memangnya kenapa?" bisik temannya.
"Lihat. Menurutmu, apakah itu normal? Karyawan biasa saja bicara santai dengan seorang Presdir?"
"Menurutku sih, agak aneh."
"Benar! Aneh, bukan?"
"Mungkin, dia kenalannya."
"Hiiss! Meskipun dia kenal dengan ketua, tapi sikap santainya itu tidak biasa untuk seorang karyawan rendahan."
"Lalu apa?"
"Entahlah.. Aku juga masih berpikir."
Ketika tuan Hide dan Ken menikmati makan siang mereka, karyawati itu terus memperhatikan dan berusaha mengambil foto keduanya saat bersama.
Ketika akhirnya mereka kembali ke dalam mobil, wanita itu masih membuntuti dan mendengar Ken menyebut tuan Hide sebagai ayah.
DHUAAARRR!!!
"Apa kau dengar itu!"
"Dia memanggil presdir tempat kerjamu itu dengan sebutan ayah."
"Benar bukan!! Aku tidak salah dengar????" karyawati Monjin itu heboh.
"Sepertinya benar begitu."
"Lalu, apa itu artinya. Dia.... dia...."
"Dia putra Presdir!"
"Benar!!!! Ini berita besar!!" serunya sambil melompat.
"Hisss, sesenang itukah dirimu? Memangnya apa yang akan kau lakukan? Menyebarkan berita ke seluruh perusahaan?"
"Eehh?? Itu ide yang bagus.." pekiknya seraya mengepalkan telapak tangan kanannya.
"Hah?? Kau serius akan menyebarkan berita ini??"
Wanita itu tersenyum membayangkan kehebohan yang sebentar lagi terjadi di perusahaan tempatnya bekerja.
Dan....
Benar saja. Begitu kembali ke perusahaan, wanita yang berhasil mengambil foto pun menyebarkan berita yang cukup menggemparkan.
Dari mulut ke mulut, berita itu begitu cepat menyebar ke seluruh perusahaan. Akhirnya, beberapa hari setelah itu, Monjin menjadi amat berisik.
"Apa kau sudah dengar gosip itu?"
"Ya. Aku sudah dengar. Kyaa!! Benarkah itu? Benarkah asisten manager adalah putra ketua??"
"Berrr!! Aku sampai merinding dibuatnya! Jika itu benar, aaaiihh... pantas saja wajah tampannya begitu berbeda..." ucap Kagome.
"Benar!"
Di manapun berada, para karyawan dan karyawati gencar bergosip. Sebagian dari mereka senang dan sebagian lagi ketakutan karena sikap mereka yang tengil terhadap Ken. Salah satunya Goma.
Ia mondar mandir di dalam ruangannya begitu mendengar gosip tersebut.
"Apa-apaan ini? Kenapa itu bisa terjadi? Dia.. benarkah dia putra ketua??"
Goma menjadi amat gelisah. Keringat sebesar jagung berjatuhan dari keningnya.
TOK TOK TOK
"Siang, pak. Ini laporan Minggu ini yang anda minta."
"Baiklah."
Ketika bawahannya hendak keluar, Goma menahannya, "Tunggu! Apa kau dengar gosip itu??"
"Gosip? Ooh, soal karyawan yang ternyata putra ketua?"
"Ya. Apa menurutmu itu benar??"
"Entahlah. Tapi, sepertinya itu benar, bos."
"Heehh?? Kau yakin?"
Bawahan Goma pun mengangguk, "Sebenarnya, pagi ini sedang ada kehebohan di luar."
"Benarkah?"
"Karyawan yang bernama Ken itu, datang bersama ketua dan turun dari mobil yang sama."
"Apa!!"
GLEK
Goma merasa pusing seketika. Apalagi ada perintah tentang adanya rapat dadakan yang digelar di ruang rapat. Goma benar-benar gelisah.
Karena Ken bersedia bergabung dengan posisi yang sudah semestinya, tuan Hide mengumumkan dalam rapat bahwa karyawan yang bekerja sebagai karyawan rendahan adalah putranya yang akan mewakilinya di perusahaan.
Selain itu, tuan Hide juga mengenalkan Ayumi yang juga berstatus sebagai putrinya. Maka gemparlah seluruh perusahaan. Bahwa ternyata, Ayumi dan Ken adalah dua bersaudara.
••••••
Beberapa bulan setelah bergabung di perusahaan, Ken akhirnya menduduki posisinya sebagai wakil ketua. Rupanya, tuan Hide juga tidak ingin berlama-lama menyimpan rahasia tentang putranya.
Kesibukannya benar-benar dimulai. Ken bekerja keras untuk meningkatkan kinerjanya sebagai wakil ketua. Untungnya, tuan Kogoro mendampingi dan melatihnya dengan sabar.
Sebagai istri dari wakil ketua pun, Yuna diberi hadiah oleh ibu mertuanya sebuah salon kecantikan, spa and treathmen.
Tentu saja, hal itu membuatnya memiliki kesibukan baru. Lebih-lebih, salon kecantikannya ramai dikunjungi kalangan muda dan artis ibu kota.
Sayangnya, sebagai menantu Monjin, Yuna yang terjun ke dunia bisnis itu pun menjadi sorotan dan beberapa kali masuk ke kolom majalah popular.
Dan karena itu, Arai yang saat itu baru tiba dari Amerika pun tersenyum begitu melihat mantan kekasihnya terpampang di halaman majalah sebagai inspirasi.
"Jadi. Orang itu pewaris Monjin?" gumam Arai sambil membolak-balik lembaran majalah yang ada di tangannya.
Kemudian dengan bersemangat, Arai bergegas pergi untuk menemui Yuna di tempat usahanya.
.
.
.
BERSAMBUNG......