
EPISODE 20
(21+)
Setelah sebelumnya Ken dan Linzhi mampir ke sebuah restoran untuk menikmati makan siang, kini mereka berdua sampai di sebuah apartemen milik Linzhi.
GREEKKK....
Suara pintu saat dibuka. Linzhi mempersilahkan Ken masuk ke dalam dan menyuruhnya duduk menunggu di sofa. Ia pergi ke dapur dan mengambil minuman.
"Nah. Akhirnya sampai juga di rumahku. Duduklah dulu Ken, akan ku ambilkan minuman," kata Linzhi ramah.
Ken duduk dengan canggung ke sebuah kursi sofa. Diletakkannya tas hitam yang sedari tadi ia bawa. Begitu Linzhi kembali membawa nampan, gelas dan teko berisi air putih dingin, Ken menanyakan kabar ibu Linzhi.
"Apa kau tinggal di sini sendiri? Di mana ibumu?"
"Ibuku tinggal bersama seorang pria yang menjadikannya istri simpanan. Jadi aku memilih tinggal sendiri selepas lulus kuliah," jawab Linzhi jujur.
"Ah. Maaf, aku tidak tahu soal itu."
"Tenang saja. Tentu saja kau tidak tahu. Selama kau berada di penjara, banyak hal yang terjadi di luar sini. Bukankah kau juga melihat bangunan-bangunan baru saat di jalan tadi?"
"Iya benar. Banyak perubahan selama aku mendekam di penjara."
"Sudahlah. Ayo minum dulu. Setelah ini akan ku tunjukkan padamu kamar yang bisa kau tempati."
Linzhi menuangkan air putih ke dalam gelas. Kemudian menyodorkannya pada Ken. Air putih dingin itu cukup menyegarkan. Sehingga terasa sejuk ketika mengalir di dalam tenggorokan.
••••••
Ken baru saja selesai mandi dan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Linzhi memberinya pakaian yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Setelan kaos dan celana joger berwarna hitam sangat pas dikenakan olehnya.
Begitu menjemur handuknya di jemuran, Ken mendengar suara musik yang disetel oleh Linzhi. Wanita itu pun ternyata sudah berada di belakangnya mengenakan rok pendek dan atasan warna-warni tanpa lengan yang hanya melingkari dadanya.
"Bagaimana, apa kau suka lagunya?"
"Hmm. Lagu romantis kesukaanmu."
"Jadi kau masih ingat?" tanya Linzhi berseri-seri.
"Hmm. Ya."
Ken berjalan ke kamarnya dan diikuti Linzhi. Karena menyadari wanita itu mengikutinya, maka ia keluar kembali dan duduk di kursi sofa.
"K Kau tidak pergi bekerja?"
"Tidak. Aku libur hari ini," Linzhi duduk bersila.
Diraihnya buah stroberi merah yang ada di atas meja dan menikmatinya dengan santai. Sambil sesekali melirik ke arah Ken yang memalingkan muka ke arah lain. Ia tahu, Ken menghindari pemandangan indah yang ia ciptakan untuknya
"Kenapa kau terus menghadap ke sana? Apa kau menghindariku?" Linzhi pura-pura tidak tahu.
"Oh? Tidak. Bukan begitu," Ken menoleh ke arah Linzhi namun dengan cepat pula ia palingkan kembali ke arah lain.
Linzhi tersenyum. Ia merasa bahwa pria berbadan kekar itu benar-benar polos. Meski tumbuh dan dicap sebagai seorang pembunuh, namun Ken tidak memiliki pengalaman bercinta dengan seorang wanita.
Dengan pelan, Linzhi menggeser duduknya sehingga begitu dekat dengan Ken. Ken yang polos itu pun menggeser duduknya menjauh. Ketika semakin terpojok, Ken berdiri dan hendak berpindah kursi.
Namun Linzhi menariknya agar duduk kembali. Begitu Ken kembali duduk, dengan cepat Linzhi naik dan duduk ke pangkuan Ken.
"Kenapa kau terus menghindar?" tanya Linzhi sambil menggigit stroberi dan menahan kedua pipi Ken dengan tangannya agar Ken fokus manatap dirinya.
"A Aku......"
Jantung Ken berdegup kencang. Mata Linzhi menatapnya begitu tajam. Entah mengapa Ken menjadi pusing karena mendapat tatapan panas seperti itu.
"Linzhi,, sepertinya aku tidak enak badan. Aku rasa aku harus pergi beristirahat," kata Ken mencoba melarikan diri.
"Benarkah? Baiklah kalau begitu. Tapi sebelum istirahat, bisakah kau makan stroberi ini untukku?"
"Tapi,,,,"
"Aaaakkk.. Buka mulutmu sebentar. Hmm??," bujuk Linzhi.
Sedetik kemudian, Linzhi menyuapkan stroberi ke mulut Ken. Begitu Ken membuka mulut dan menerima buah merah manis itu, ia segera menyesap nikmat bibir Ken.
Perlahan ia memejamkan matanya dan memberikan ciuman lembut. Tangannya yang nakal dan lentik pun merayap mengusap dada, lalu turun dan mulai menyusup masuk ke dalam celana Ken. Perlahan namun pasti, Linzhi mulai memberikan sentuhan liar yang membuat jantung Ken serasa hampir meledak.
Meski merasa gugup, Ken mulai membalas ciuman tersebut. Diiringi alunan musik yang terdengar romantis dan ceria, ruangan itu pun menjadi hangat. Tak berapa lama, suara nafas yang memburu dikala keduanya saling menyesap pun terdengar beriringan dengan alunan musik.
Ketika akhirnya Linzhi tahu bahwa Ken benar-benar membutuhkan siraman cinta darinya, diraihnya baju yang dikenakan Ken dan coba ia lepaskan.
Begitu baju Ken terlepas, Linzhi melihat tato samurai di lengan kiri yang terhubung ke punggungnya Ken. Gambar samurai dengan pedangnya yang panjang tampak garang menantang. Diselingi iringan awan dan rembulan yang berbentuk sabit.
"Peluk aku, Ken,,,,," bisik Linzhi dengan suara mendesah.
Begitu Ken bereaksi dengan meraba pinggangnya, Linzhi kembali memagut bibir Ken dengan gemas sambil memelorotkan Bandeau¹ yang ia kenakan agar Ken dapat meraba bagian atas tubuhnya dengan sempurna tanpa penghalang.
Karena Ken benar-benar sudah terangsang, Linzhi mulai melucuti celana Ken dan melemparnya ke lantai. Diusapnya bagian panjang yang mulai mengeras dengan dua buah telur yang sudah sangat tegang.
Lagi-lagi Linzhi melihat tato indah dengan gambar berbeda yang menghiasi perut bawah sebelah kiri Ken. Sebuah gambar naga yang meliuk-liuk indah seakan terbang di antara awan. Begitu serasi dengan sesuatu yang panjang dan berotot di sampingnya.
Dengan perlahan ia mendorong tubuh Ken ke belakang dan membuatnya berbaring. Linzhi mencondongkan tubuhnya ke arah pisang besar yang berdiri menantang dan membuatnya kalap ingin segera melahapnya.
Namun sebelumnya, ia melakukan hal menarik dengan mengganti posisinya. Yaitu posisi kepala yang saling berkebalikan dengan Ken. Dengan posisi itu, ia dapat dengan leluasa menciumi tato naga di bagian perut bawah Ken sampai pahanya.
Begitu pun Ken. Yang bisa mencium dan melakukan oral pada liangnya. Aih, Linzhi benar-benar pandai memainkan libido Ken. Ia sengaja memancing Ken dengan gerakan pinggul yang erotis di depan matanya. Ken yang semula menjaga batasan pun akhirnya terjerumus juga.
Benar saja. Ken meremas pantat Linzhi dan memainkan lidahnya di sela-sela liang. Keduanya menjadi lupa daratan dan semakin terbawa suasana. Linzhi memekik kenikmatan dan mengunci kepala Ken rapat-rapat. Dengan penuh nafsu ia mulai memasukkan pisang tersebut dalam-dalam ke mulutnya.
Kepalanya bergerak naik naik turun dengan hisapan kuat, membuat Ken melenguh beberapa kali. Bahkan Linzhi juga melahap bulatan telur sebelah kanan dan kiri bergantian, dengan sangat fasih. Membuat urat saraf Ken semakin mengejang.
Ketika akhirnya Linzhi memasuki ******* dan benar-benar tidak bisa lagi menahan, maka ia pun berbalik kembali dan mulai memasukkan pisang besar milik Ken ke dalam liangnya.
Ooh.
Perlahan-lahan, benda panjang berurat keras itu memasuki liang yang sudah sangat basah. Cukup sulit dan terasa sesak menyayat sehingga nampak menggembung dan memerah. Dengan posisi berdiri dan semakin terasa keras, benda itu bergerak keluar masuk menjelajahi ruang dalam kewanitaan Linzhi.
Linzhi menjerit-jerit kenikmatan sambil berpegangan pada pinggul Ken. Ia terus bergerak naik turun seakan sedang berkuda dengan semangatnya yang membara. Ketika Linzhi menggoyang pinggulnya dan sedikit gerakan memutar, pada saat itu ia telah sampai pada puncaknya.
"Oohh,, hmmmpphh..." Linzhi menarik Ken hingga duduk berpelukan.
Linzhi mengangkat kepalanya tinggi-tinggi sambil menjambak kuat rambut Ken saat merasakan kenikmatan tiada tara. Begitu ia sampai puncak, Ken merasakan sesuatu yang hangat telah dimuntahkan dari dalam liang Linzhi.
Ken membalik posisi mereka sehingga Linzhi berada di bawah. Jika sedari tadi Linzhi yang beraksi, maka sekarang dirinyalah yang akan melakukannya. Linzhi berkeringat, kelelahan dan lemas tak berdaya. Ia membiarkan Ken mengangkat kakinya dan melakukan dorongan penuh sehingga membuatnya memekik lebih kencang dari sebelumnya.
Meski tubuh Linzhi sudah menggelinjang, berkeringat dan terus melenguh kencang saat beberapa kali mencapai puncaknya, Ken terus melakukan genjotan. Semakin lama semakin kencang dengan gerakan yang cepat. Ken menunduk dan menyesap bibir Linzhi.
Semua urat sarafnya seakan berkedut kencang, siap memuntahkan lahar panas di dalam liang. Begitu dirinya sampai pada puncaknya, ia menekankan benda miliknya lebih dalam lagi dan memeluk erat wanita yang sedang bercinta dengannya.
•••••••••
Jendela kaca di ruang tersebut menampakkan langit malam yang petang. Tirai jendelanya pun bergoyang-goyang karena tertiup angin. Dua manusia yang baru saja bergumul itu kini duduk berdampingan.
Ken sudah mengenakan kembali pakaiannya. Ia duduk bersandar di sofa sambil menengadahkan kepalanya.
"Sudah kuduga. Kau mempunyai sesuatu yang liar di dalam dirimu," Linzhi membersihkan liangnya yang penuh dengan cairan putih dan bercak darah.
Sebenarnya Linzhi terkejut. Selama bercinta dengan beberapa pria, tidak pernah sekalipun ia mengeluarkan darah. Mengapa dengan Ken berbeda??
"Mengapa kau yakin soal itu, Linzhi? Aku sendiri tidak percaya diri karena bertahun-tahun lamanya, barang ini tidak berguna di dalam penjara," jawab Ken mengatur nafas dengan susah payah.
"Saat melihatmu di penjara waktu itu, aku yakin kau mempunyai sesuatu yang istimewa. Sejak itu aku selalu memikirkanmu. Menunggumu datang dan bersedia bercinta denganku. Dan hari ini, aku sendiri yang membuktikannya. Kau masih bertahan disaat aku benar-benar sudah lemas."
Ken menoleh dengan terkejut, "Jadi, apa kau sudah merencanakan semua ini?"
"Hmmm. Aku selalu merindukanmu. Kau tahu? Sejak ciuman pertama denganmu di taman bermain, aku tidak bisa melupakan hal semanis itu. Aku terus memimpikan saat-saat seperti ini tiba."
"Apa kau begitu menyukaiku?'
"Suka? Bisa dibilang begitu."
"Aku tidak menyangka, begitu keluar dari penjara, aku mendapat kesempatan bercinta dengan seorang wanita cantik sepertimu. Tapi apa kau yakin tidak menyesal karena melepas kesucianmu untukku?" ucap Ken gugup.
Linzhi tertawa mendengar kata-kata lugu yang keluar dari mulut Ken. Sebab bukan pertama kali baginya bercinta seperti itu dengan seorang pria. Namun begitu, ia tahu bahwa aktifitas yang baru saja mereka lakukan adalah pengalaman pertama bagi Ken.
"Aku juga merasa, apa yang kita lakukan baru saja itu tidak benar. Sepertinya akan terlalu berbahaya jika aku tinggal di sini bersamamu," Ken mengusap lengan kirinya.
"Tidak. Itu sama sekali tidak berbahaya. Aku baik-baik saja saat kita melakukannya. Seandainya kau memintaku melakukannya lagi pun aku akan melakukannya," jawab Linzhi buru-buru meraih tangan Ken.
Ken diam. Bukan seperti ini yang ia inginkan. Tapi entah mengapa, saat Linzhi memancingnya seperti tadi, ia mudah sekali jatuh dalam pelukan. Dan ketika semua sudah terjadi seperti sekarang, Ken benar-benar menyesalinya.
Ia berdiri dan mengatakan akan beristirahat lebih awal. Maka, ia pergi ke kamarnya dan mengunci pintunya. Berharap, dengan cara begitulah ia mampu mengurangi resiko Linzhi datang diam-diam dan masuk ke kamarnya.
Ia bertekad tidak akan mudah jatuh seperti malam ini dan bertahan untuk beberapa waktu lagi sampai ia mampu menyewa rumah sendiri.
.
.
.
Bersambung ke Episode 21 🤗
Bandeau¹, baju tanpa lengan berbentuk seperti kemben.