RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
TEMBAKAN



EPISODE 125


Pukul 00.33


Ken bersembunyi di balik pintu sehingga waktu mereka masuk, ia dapat langsung menyerang orang-orang Kazuki.


Dengan tangan kosong, dihantamnya tubuh orang-orang yang datang dan langsung menyerangnya dengan membabi buta itu.


Beberapa putaran pertarungan mampu ia hadapi dan ia menangkan. Namun semakin lama, orang-orang Kazuki semakin berdatangan hingga tak terhitung banyaknya.


Mereka semua mengepung seorang pria yang tidak bersenjatakan apapun. Sebab, senjata api yang sempat Ken ambil dari dua orang yang menyerangnya dekat mobil telah disita oleh mereka.


Serangan kanan, kiri bahkan belakang ia coba hadapi sendiri dengan cekatan. Sesekali ia terkena hantaman besi di bagian perut, sesekali pula ia terkena pukulan keras di kepala hingga darah mengalir.


Ken tidak ingin menyerah. Apalagi ada seseorang yang harus ia lindungi di tempat itu. Sebisa mungkin ia membawa orang-orang itu menjauh dari tempat Suya bersembunyi.


Di tempat persembunyian itu, Suya terus saja mengintip dan mengkhawatirkan ayahnya yang melawan puluhan orang bersenjata.


"Ayaahh...."


Ketika akhirnya ia mampu menghabisi sebagian dari musuh, Ken terus mengandalkan kekuatan fisiknya untuk meninju, menghantam dan apapun itu untuk melindungi diri.


"Hosh Hosh..." Ken mengusap darah dan keringat di wajahnya dengan baju yang dikenakannya sambil terus mengambil nafas, ketika ada kesempatan.


Ketika seseorang dari depannya menendang ke arahnya, ia menangkis dengan gerakan tangan dan mundur beberapa langkah. Tak sampai di situ, beberapa yang lainnya pun berusaha memukulkan kapak dari arah samping.


Ken berlari melompat ke sebuah peti kayu dan memantulkan diri ke dinding kemudian ia mengayunkan tendangannya ke arah kepala pria yang sempat menyerangnya menggunakan kapak itu hingga pria tersebut jatuh menimpa tubuh kawan yang lainnya yang sudah pingsan.


Namun tanpa Ken duga, pria yang baru saja ia tendang kepalanya itu mengayunkan kapaknya hingga mengenai kaki kirinya.


CRASS!


"Aiissshhh,, Sshh hah! Ssh hah! Ssssh hah!" perlahan, Ken mendesis kesakitan saat kaki kirinya terkena sabetan senjata. Suaranya pun terdengar bergetar karena tulang keringnya yang terkena. Siapa yang tahu, luka menganga itu terasa amat menyiksanya?


Tiba-tiba, Kazuki yang baru saja datang berusaha menembakinya. Untuk menghindari tembakan itu, Ken yang tengah mengalami luka serius di kakinya itu pun melompat menerjang kaca jendela hingga pecah berkeping-keping.


PYAARRR!!


Krasak.. Tubuhnya pun jatuh di atas pecahan kaca beling yang tajam.


"Arrggghh!!" lenguhnya kesakitan.


Beberapa bagian pecahan kaca yang berserakan rupanya melukai wajah dan tangan kirinya.


Krasak..


Krasak...


Ken yang sedang tengkurap itu berusaha menggerakkan kaki dan tangannya untuk bangkit, namun sisa tenaganya kali ini tidak cukup untuk membuatnya berdiri. Ia hanya mampu duduk dan mengambil nafas dalam-dalam.


"Sayang sekali, Ken. Aku rasa hidupmu hanya sampai di sini...." Kazuki tertawa menyeringai.


"Hosh... hosh... hosh...." Ken hanya menatap Kazuki sambil terengah. Wajahnya sudah pucat karena hampir saja kehabisan darah.


Kesempatan itu, digunakan Kazuki untuk menghabisi Ken. Jika rivalnya itu tiada, bukankah akan semakin mudah bagi dirinya menikahi Yuna? Haha..! Benar-benar ide yang cemerlang.


Maka, ditodongkannya senjata yang ia gunakan tadi ke arah Ken. Kali ini, ia sengaja mengincar bagian kepala pria yang terus mencoba bangkit itu.


"Mari ucapkan selamat tinggal pada Yuna!!"


Detik berikutnya ketika Kazuki mulai menekan pelatuk, Suya berlari keluar dari tempat persembunyiannya sambil berteriak memanggil ayahnya. Dengan berani, anak itu menjadikan dirinya sebuah perisai yang menghadang tembakan peluru yang diarahkan Kazuki kepada ayahnya.


"Aaayyyyaaaaaahhhhhh!!"


Bersamaan dengan teriakan Suya yang memanggil dirinya, Ken yang pada detik terakhir melihat Suya berlari keluar dari tempat persembunyiannya pun berteriak histeris.


"Suyaa!! Jangaaaaannn!!"


DORRR!!


Sebuah peluru menembus dada Suya dengan cepat. Anak itu berdiri mematung sesaat sebelum akhirnya Ken tergopoh-gopoh menghampiri dan merengkuh tubuhnya.


"Tidak! Tidak Suya! Kenapa kau melakukan ini???" Ken menangis dengan suara tercekat sambil memeluk tubuh putranya dengan erat.


"Ayah... maafkan aku..."


"Tidak! Tidak! Ayah yang seharusnya meminta maaf padamu. Tolong bertahanlah sebentar, ya? Ayah akan membawamu ke rumah sakit,," Ken menangis sesenggukan sambil sesekali menengadahkan kepalanya ke atas.


"Aku sangat senang, karena selama ini ayah berusaha keras melindungiku. Jika aku mati sekarang pun, aku tidak akan menyesal karena berhasil melindungi ayah...."


"Tidak, Suya. Huhu,, hentikan omong kosongmu. Kau tidak akan mati. Kau harus hidup! Bertahanlah demi ayah," Ken tidak sanggup berkata-kata.


Kazuki yang melihat itu pun beranjak pergi dan mencoba melarikan diri. Namun ternyata, polisi sudah datang dan ramai menggerebek pabrik narkotika tersebut.


Bahkan beberapa di antaranya sempat memergoki kelompok Kazuki yang hendak melarikan diri menggunakan mobil.


"Berhenti!!"


DOR


DORR


DORRR


••••••


Di rumah sakit, Ichigo duduk menemani Ken yang tengah tak sadarkan diri. Tampak kaki kirinya terbungkus perban. Begitu pula seluruh dadanya dan kepala.


Pada keheningan itu, datanglah kakek Hiro dan nenek Tama yang mendengar kabar cucu mereka dari polisi. Mereka melihat keadaan Suya yang kritis pasca tertembak peluru di bagian dadanya.


Mereka menangis histeris dan memeluk cucu mereka yang tak sadarkan diri serta di ambang kematian itu. Ketika teringat soal Ken, nenek Tama bertanya pada perawat. Di mana pria yang berjanji akan membawa kembali cucu mereka dengan selamat itu berada?


Begitu diberitahu, nenek Tama langsung merangsek masuk ke kamar rawat Ken dan membuat kegaduhan.


Ia memukuli tubuh Ken yang tengah tak sadarkan diri itu dengan kesal.


"Dasar tak tahu diri! Kau sudah berjanji akan menyelamatkan cucuku! Tapi apa yang sekarang terjadi, ha!!" teriak nenek Tama histeris.


"Maaf, nenek siapa? Pasien ini sedang kritis. Mohon jangan memukulinya seperti ini," kata Ichigo.


"Dasar menantu tidak berguna! Hidupmu selalu membuat kekacauan! Kenapa tidak mati saja dari dulu!!"


"Sayang, sudah hentikan. Menantu Ken juga sedang kritis, jadi jangan membebankan semuanya padanya. Aku yakin, dia juga sudah berusaha dengan keras untuk menyelamatkan Suya," kakek Hiro menenangkan istrinya.


"Tidak. Huhuhu!!"


Nenek Tama terus saja memukuli tubuh Ken hingga kembali terjadi pendarahan. Baru setelah perban putih itu mengeluarkan darah, nenek Tama berhenti dan tercengang.


"A apa yang terjadi?"


"Ooh, tidak. Ken.. Sudah ku katakan, dia juga dalam kondisi kritis. Kenapa kau terus memukulinya?" kakek Hiro merasa bersalah pada menantunya.


Melihat hal itu, Ichigo dengan cepat memanggil perawat untuk mengganti perban yang penuh darah.


••••


Selang dua hari setelah terjadinya kejadian itu, Yuna datang bersama Kurosaki dan Takeda. Jika sebelumnya ia mendapat kabar mengejutkan tentang penggerebekan pabrik narkoba milik grup Minami, kali ini ia baru mendengar soal dirawatnya Ken dan putranya di sebuah rumah sakit pada pagi harinya.


"Apa yang terjadi padanya? Mengapa kalian baru memberi kabar sekarang?" meski ia tidak jadi menikah dengan Kazuki, namun Yuna tetap merasa sedih saat mengetahui keadaan Ken yang tengah tak sadarkan diri.


"Dia berkelahi dengan Kazuki serta orang-orangnya untuk menyelamatkan, putranya."


"Lalu apa yang terjadi? Mengapa seluruh tubuhnya terluka seperti ini?"


"Tenanglah, Yuna. Dia baik-baik saja dan akan segera siuman," jawab Ichigo.


"Aku tidak bisa tenang, Ichi! Katakan yang sejujurnya. Apa yang terjadi padanya."


"Dia dikeroyok. Kepalanya terkena pukulan besi sedang kaki kirinya terkena sabetan senjata tajam."


Yuna syok dan menjatuhkan diri ke lantai. Ia menangis tersedu-sedu karena mengingat kembali ucapan Ken padanya. Bahwa ia akan datang untuk membawanya kembali.


"L lalu, bagaimana keadaan Suya? Apa dia berhasil diselamatkan?"


"Ya. Anak itu ada di kamar sebelah dan sama-sama dalam keadaan kritis."


"Benarkah?"


Yuna melangkah keluar dan menghampiri kamar Suya.


"Kenapa dengannya?"


"Sepertinya dia menghadang peluru yang ditembakkan kepada Ken."


"Apa? Dia tertembak?"


"Hmm."


Yuna menatap Suya lekat-lekat. Kemudian disentuhnya kepala anak itu dengan lembut.


"Kasihan sekali...."


Setelah cukup menjenguk Suya, Yuna kembali menemui Ken. Ia terus menggenggam tangan Ken dan berdoa supaya pria itu segera siuman.


"Em, Yuna. Apa kau memberitahu ayahmu soal ini?" tanya Ichigo.


"Tidak. Aku tidak sanggup mengatakannya."


"Apa kita berdua akan berperan tetap masuk kerja seperti biasanya?" tanya Takeda menunjuk dirinya sendiri dan Kurosaki.


"Hmm. Seperti biasanya."


"Baiklah. Sebaiknya, kau jaga dia baik-baik."


"Ya. Tentu saja. Aku akan menjaganya dengan baik," jawab Yuna dengan tetap menggenggam tangan Ken erat.


.


.


.


.


Next Episode 126.....