
EPISODE 104
Linzhi bangun dari tidurnya ketika dirasakannya mual yang amat sangat mengganggu.
Buru-burulah ia pergi ke kamar mandi. Begitu selesai dari sana, ia keluar dan duduk di depan meja rias yang di atasnya terdapat banyak jenis kosmetik wajah.
Diraihnya sebuah botol pembersih wajah yang ada di depannya. Kemudian karena melihat tanggalan lipat di sebelah botol tersebut, maka ia lebih memilih tanggalan.
Pada awal Juli ini, kehamilannya memasuki bulan ke empat.
"Sayang, selamat untuk hari ke seratus dua puluhmu di rahim mama," Linzhi bicara pada janinnya.
Ia mencoret satu hari yang kemarin ia lalui. Kemudian ia bicara lagi pada janin dalam kandungannya.
"Sampai di sini, papamu masih sama. Di luar dia pria yang dingin, namun hangat di dalam. Mama rasa, papamu masih banyak pikiran sehingga sulit untuk menerima mama."
Linzhi meraih ponselnya dan melihat-lihat galeri fotonya. Ada sebuah foto yang sudah ia simpan dalam waktu yang sangat lama. Foto itu adalah saat dimana Ken memeluknya tidur di dalam selimut. Di saat itulah Linzhi diam-diam mencuri kesempatan untuk mengambil gambar mereka.
Benarkah ada moment seperti itu di antara mereka? Kapan itu terjadi?
Jadi, saat itu ia membawa Ken ke rumahnya dalam keadaan mabuk berat dan demam tinggi. sebelumnya, Himari (ibunya) yang memberitahu bahwa Ken ada di kafe tempatnya bekerja.
Pada saat itu, Ken muda datang ke kafe tempat Himari bekerja. Dan minum banyak hingga tidak sadarkan diri di kursi sofa. Linzhi yang datang pun tidak punya pilihan karena ia tidak tahu rumah Ken, maka ia membawanya ke rumahnya.
Karena saat itu hujan, ia juga harus mengganti pakaian basah yang dikenakan Ken. Di saat itu pulalah ia melihat tubuh Ken untuk pertama kalinya. Sebab ia melepas pakaian basah Ken sendiri.
"Itu kenangan indah mama bersama papa untuk yang kedua kalinya," Linzhi tersenyum mengingat saat itu.
•••••
Ken baru saja sampai di bengkel tempatnya bekerja. Ia menggiring motornya ke dalam halaman bengkel dan memarkirkannya di salah satu sudut.
Kurosaki dan Ichigo bekerja sambil saling lirik. Mereka hendak mengatakan bahwa Yuna ada di bengkel tersebut namun di lain sisi, Yuna melarang mereka mengatakannya pada Ken.
"Waah,, Apa kalian sudah sampai sejak tadi pagi?" tanyanya menyapa.
"Tidak, kami juga baru sampai."
"Ada apa?" Ken merasakan kejanggalan.
Kedua temannya itu berdehem dan sesekali melirik ruang ganti.
"Aaah, baiklah. Aku akan ganti pakaian terlebih dahulu," katanya.
Ken berpikir bahwa Kurosaki dan Ichigo meminta dirinya untuk berganti pakaian terlebih dahulu. Maka dengan bersemangat ia melangkah ke ruang istirahat karyawan untuk mengambil seragamnya.
Ketika ia memasuki ruangan tersebut dan fokus pada langkahnya, awalnya tidak ada yang mencurigakan. Ken meraih seragamnya dari loker dan segera mengenakannya. Baru setelah setengah jalan memakai seragamnya, ia merasa ada seseorang di sana.
Maka ia pun menoleh dengan cepat. Dan melihat sosok Yuna.
"Astaga!! S sejak kapan kau ada di sana?" ia kaget luar biasa.
"Aku rasa sudah sejak tadi pagi. Apa kau terkejut?" Yuna duduk dengan santai menatap Ken.
Ken menyimpan tasnya di dalam loker dan kembali menguncinya. Ia mendekati Yuna dan menanyakan soal tuan Tanaka.
"Bagaimana kemarin?"
"Hmm..."
"Aku tidak salah kan? Ayahmu pasti menerimamu dengan hangat."
"Benar. Apa kau sudah tahu ini akan terjadi makanya kau ngotot agar aku pulang?"
"Tidak begitu. Tapi aku tahu, perasaan seorang ayah seperti apa."
"Ya. Kau benar. Ayah menerimaku dengan baik. Aku rasa, aku harus berterima kasih padamu soal ini," kata Yuna.
"Kenapa berterima kasih padaku? Aku tidak melakukan apa-apa."
"Tidak, tidak. Berkat kau aku jadi membuka pikiranku tentang ayah."
"Oh, soal itu? Sudah semestinya. Aku hanya tidak ingin kau mendapat pengalaman sepertiku."
"Baguslah. Karena sudah begitu, bagaimana kalau aku mentraktirmu?"
"Makan?" ucap Ken seraya mengenakan sarung tangannya.
"Ya. Kau mau makan di mana? Apa kau mau ke restoran mahal? Oke, aku yang akan bayar," kata Yuna.
"Tidak. Aku tidak suka makan di luar. Apalagi di restoran mahal."
"Benarkah? Lalu tempat apa yang kau suka?" Yuna merasa heran. Biasanya orang kalau diajak makan di restoran mahal mau-mau saja.
"Aku lebih suka memasaknya sendiri," jawab Ken sambil berlalu keluar dari ruangan tersebut.
Yuna merasa salah dengar dan mengejar Ken keluar. Ia terus bertanya padanya tentang apa yang baru saja ia katakan.
"Tunggu! Kau bilang apa tadi?"
"Entahlah. Aku sudah lupa."
"Eh, tidak mungkin. Cepat ulangi lagi, aku tidak salah dengar kan, tadi?" Yuna mengimbangi langkahnya di dekat Ken.
"Tidak mau," Ken meraih kotak berisi peralatan bengkel.
Pada saat mereka berdua sedang ribut seperti itu, Kurosaki dan Ichigo memperhatikan dengan mulut yang menganga. Hanya bola mata mereka saja yang bergerak ke kanan dan kiri.
"Apa mereka seakrab itu?" tanya Kurosaki akhirnya.
"Aku rasa begitu," Ichigo teringat pembicaraan yang ia dengar saat di rumah Ken.
Kemudian ia melirik Kurosaki yang sedang melongo karena tidak percaya dengan penglihatannya.
"Kau bahkan belum mendengar soal mereka yang pernah bercinta. Jika mendengar semua itu, mulutmu pasti akan terbuka lebih lebar lagi."
Ucap Ichigo dalam hati.
Hari itu, bengkel cukup ramai. Karena Takeda masih menikmati cuti, maka Yuna meminta pada ayahnya untuk ikut terjun membantu pekerjaan. Dan karena diijinkan, Yuna pun bekerja dengan baik.
Dan karena tuan Tanaka sedang ada urusan, maka mereka bertiga bekerja bersama-sama.
Pada saat mereka akhirnya bisa beristirahat di sore hari, datanglah Arai ke bengkel mereka dan mencari Yuna bersama pengawalnya yang sempat mengejar Yuna kala itu.
"Apa Yuna kemari?"
"Ichigo dan Kurosaki pun terdiam. Mereka hanya menatap kedatangan Arai yang tiba-tiba.
Begitu melihat Yuna sedang berjongkok bersama seseorang, Arai pun mendekatinya dengan cepat.
"Kau di sini rupanya!"
"A Arai?" Yuna terkejut.
"A aku ingin di sini. Kembali bersama ayahku, itu saja."
"Tidak, kau harus kembali denganku," Arai mencekal pergelangan tangan Yuna dan menyeretnya pergi.
SRET
Tiba-tiba Ken menahan tangan Arai yang tengah menyeret Yuna. Ichigo dan Kurosaki pun melihat itu.
"Kenapa dia ikut campur, bisa-bisa dia habis dipukuli preman-preman itu nanti," bisik Kurosaki.
Ichigo hanya diam dan merasa bingung harus berbuat apa.
"Singkirkan tanganmu," kata Arai.
"Tidak. Lepaskan Yuna sekarang."
"Aku akan membawanya pulang, mengapa kau ikut campur!" Arai sedikit meledak.
"Dia tidak ingin kembali padamu. Benar kan, Yuna?" jawab Ken.
Arai menoleh pada Yuna dan mendapat sebuah anggukan dari Yuna. Namun meski begitu, Arai tetap ingin membawa Yuna pergi. Ia tidak bisa hidup tanpa kekasihnya itu.
"Urus dia!" Arai menarik Yuna dan meminta pengawalnya untuk memberi pelajaran pada Ken.
Tepat saat Arai membawa pergi Yuna, pengawal-pengawal itu menahan Ken yang hendak mengejar bosnya.
"Kau mau apa? Jangan ikut campur urusan bos kami!"
"Yuna! Berhentilah!" teriak Ken untuk mengingatkan Yuna.
"Tidak, ayo ikut aku," kata Arai memerintah Yuna.
Yuna menepis tangan Arai dan memintanya berhenti, namun Arai tidak mau mendengarnya. Ia meminta dua pengawalnya untuk membawa Yuna ke mobil.
"Ken! Tolong aku!"
Ken tidak bisa diam saja melihat Yuna dibawa paksa oleh Arai dan pengawalnya itu. Ia pun memukul pengawal yang menghadangnya satu persatu.
BAG
BUG
BRUK
Suara perkelahian itu terdengar sengit. Bahkan peralatan bengkel yang tertata rapi pun jadi berantakan karena pengawal Arai menggunakan semuanya untuk menyerang Ken.
TRAAANGG
Suara beberapa besi komponen mesin yang berjatuhan ke lantai saat Ken menendang seorang pengawal dan jatuh menimpa rak barang.
Melihat Ken meninju kepala-kepala pengawal itu dengan gigih, Ichigo dan Kurosaki menyadari bahwa Yuna harus diselamatkan.
"Ken, kejar Yuna saja! Mereka biar kami yang hadapi!" seru Ichigo.
Mendengar itu, Ken mengangguk dan segera berlari mendapatkan motornya untuk mengejar Yuna. Ia meninggalkan dua kawannya untuk membereskan beberapa pengawal yang sudah babak belur.
BRRRUUUMMM
Dilajukan motornya dengan kencang dan menyusul mobil Arai. Beruntungnya, ia dapat mendekati mobil yang sudah melaju jauh darinya itu.
"Kenzhi!!" Yuna melihat Ken menyusulnya.
"Kenapa dia menyusulku!" Arai merasa kesal. "Jangan katakan kalau kau menjalin hubungan cinta dengan pria itu!" lanjut Arai.
"Ya. Aku jatuh cinta padanya. Bukankah sudah ku bilang Arai, aku ingin kita mengakhiri hubungan ini!" jawab Yuna terus terang.
"Tidak bisa! Kau hanya milikku. Tidak ada seorang pria yang boleh memilikimu!" Arai tiba-tiba saja mengeluarkan pistol dan mengacungkannya pada Ken.
DORRR!
DOORR!
DOOORRR!!
Arai menembaki Ken yang tengah mengejar mobilnya.
"Tidak! Jangan tembak dia!!" Yuna menjerit ketakutan.
"Dia harus menyerah dan berhenti mengikutiku!!" Arai emosi karena Ken masih saja mengejar mereka.
Ketika sekali lagi Arai menembakkan senjatanya, peluru tersebut mengenai lengan Ken hingga laju kendaraannya oleng dan jatuh terseok di jalanan.
KRASAAKKK
"Uhhgg!" kepala Ken terbentur hingga helmnya terlepas.
Yuna yang sempat melihat Ken jatuh tersungkur bersama motornya menjerit kencang. Saat itu juga ia berusaha melawan Arai namun pengawal yang ada di dalam mobil memeganginya kuat.
SHAASHH!
Ken tersungkur di jalan dengan darah mengalir dari lengan kirinya sebab sebuah peluru terbenam di dalam dagingnya. Kepalanya yang sempat terbentur juga membuatnya pusing dan berdengung.
"Aa'ahhh..." suara nafas Ken.
Untuk beberapa saat, Ken mengalami kelumpuhan otot. Badan dan kedua tangannya tidak bisa digerakkan sama sekali. Mata dan telinganya juga tidak bekerja dengan baik. Namun begitu, ia berusaha bangkit kembali setelah mengalami kecelakaan itu.
Dengan perlahan, ia menggerakkan jari-jarinya dan berusaha bangun dari posisinya. Dengan tubuh yang gemetar, ia pun berjalan tertatih-tatih mendekati motornya yang jatuh tidak jauh darinya.
"Asssh,, sakit sekali."
NGUNGGG
NGUUNGGG
Ken menggeber mesin motornya dan kembali melaju kencang membelah jalanan. Ia menyusul mobil Arai dengan sebuah perkiraan. Ia pikir, selain wanita itu akan membawa Yuna ke apartemennya, ada sebuah tempat lain yang bisa ia singgahi. Yaitu rumah tuan Shibuki di Shibuya.
•••••
Yuna terus menerus menoleh ke belakang karena cemas dengan keadaan Ken. Ia pikir, Ken mengalami kecelakaan berat saat jatuh seperti tadi.
Namun beberapa saat kemudian, dari kejauhan ia melihat sebuah motor melaju kencang ke arah mereka. Dan penumpangnya adalah Ken.
"Ken!" pekiknya dalam hati. Ia bersyukur bahwa pria itu baik-baik saja.
.
.
.
BERSAMBUNG......