
EPISODE 6
Kenzhi mendapat hukuman lagi. Meski ia membongkar perbuatan Tomo yang mengambil video Linzhi saat berganti pakaian di kamar ganti, tapi semua itu tidak ada gunanya. Tomo hanya diminta menulis surat permohonan maaf sebanyak satu lembar.
Jika pihak Tomo tidak mendapat sanksi tegas, lain halnya dengan Ken. Ia justru diskors karena memukuli teman di area sekolah hingga babak belur. Bahkan kabarnya, ia terancam dikeluarkan dari sekolah.
Selain itu, video Linzhi tetap tersebar. Bahkan sampai ke sekolah lain. Meski begitu, pihak sekolah seakan tenang-tenang saja. Tidak ada tindakan yang keras dari kepala sekolah ataupun direkturnya. Semua itu terjadi karena keistimewaan status. Apalagi kalau tidak karena ikut campurnya sebuah kekuasaan.
Sebagai putra dari direktur yang menaungi sekolah OISCA, Tomo adalah salah satu kandidat yang terpilih untuk menggantikan ketua OSIS berikutnya.
****
Ken berjalan menuju halte bus seorang diri. Ia baru saja mendapat surat pemberitahuan skors selama dua minggu. Di kepalanya, ia ingin sekali memukuli semua guru yang menangani kasusnya.
Bagaimana bisa seseorang seperti Tomo hanya dijatuhi hukuman tertulis. Ken yakin. Meski anak itu menuliskan bahwa dirinya merasa menyesal, itu semua hanya sementara.
Kebetulan Ken bertemu dengan Linzhi di halte bus. Ia pun menghampirinya dengan senang.
"Hai."
Linzhi menoleh dan tersenyum, "Kau mau pulang?"
"Ya," jawab Ken singkat.
Ken membuang nafas kasar. Kemudian ia bertanya tentang keadaan Linzhi.
"Apa kau baik-baik saja?"
Linzhi mengangguk. "Terima kasih banyak karena sudah berusaha membelaku, Ken."
"Tidak. Aku yang minta maaf padamu karna tidak bisa menghentikan kekacauan itu."
"Kenapa?"
"Tomo tidak dihukum. Dan video itu juga masih tersebar bebas di muka umum. Sepertinya usahaku memperjuangkanmu tidak disambut baik oleh guru."
"Tidak apa-apa. Kau sudah berusaha keras untuk itu," jawab Linzhi.
••••••
Sampai di rumah, Ken langsung pergi ke kamar. Ia tidak menjumpai siapapun saat pulang tadi. Begitu merasa lapar, ia turun ke bawah dan langsung menuju dapur.
Di dapur, ia melihat bibi Yun memasak banyak sekali makanan. Beberapa bahkan sudah terhidang di meja makan.
"Apa akan ada pesta di rumah kita, bibi?" tanyanya penasaran. "Mengapa kau masak banyak sekali?"
"Oh,, itu tuan muda. Tuan besar mengundang keluarga direktur OISCA untuk makan malam di rumah," jawab bibi Yun.
"Makan malam? Direktur OISCA?"
Ken berpikir sejenak. Bukankah direktur itu adalah ayahnya Tomo? Mengapa ayah Ken mengundangnya makan malam?
Ken tidak mau tahu. Lagi pula, pasti ada sesuatu yang ia sendiri tidak tahu. Sambil memajukan bibirnya, matanya melihat-lihat masakan bibi Yun. Tiba-tiba saja terdengar bunyi perut yang keroncongan.
KRUYUK,, KRUYUK,,
Bibi Yun menoleh, "Apa tuan muda sudah lapar?"
Tuing!
Ken meringis karena ketahuan menahan lapar.
"Hehehe. Masakan bibi kelihatannya enak, aku jadi lapar," Ken mengusap-usap perutnya sambil tersenyum lebar.
Karena merasa gemas, bibi Yun tertawa dan mengambilkan makanan untuk Ken.
"Bibi rasa, porsi kecil bisa mengobati sedikit rasa lapar tuan muda," kata bibi Yun baik hati.
"Bolehkah?"
"Tentu saja," bibi Yun tersenyum karena tuan mudanya yang satu ini selalu menggemaskan.
Saat Ken mencicipi beberapa masakan bibi Yun dengan lahap, ibu tua datang dan memarahi Ken yang seenaknya mencicipi makanan.
"Eh eh eh, siapa yang menyuruhmu makan terlebih dahulu?! Meski lapar, tunggulah waktu jam makan malam tiba. Dasar anak badung! Tidak sopan sama sekali!" katanya sambil merebut piring makan Ken.
Ken yang sedang enak-enak makan pun akhirnya berhenti.
"Itu makananku...." gumam Ken lirih sambil tangannya bergerak mencoba meraih sesuatu yang diambil ibu tua. Tapi tidak kena.
Melihat ibu tua menyingkirkan makanannya, ia pun mengulum sumpit yang sedang ia gunakan dengan wajah ngenes.
"Sebentar lagi tamu datang. Bergantilah pakaian dan usahanya bersikap sopan di depan tamu. Seandainya kau tidak membuat onar, tentu saja suamiku tidak perlu susah payah menjamu mereka ke rumah. Huh!! Dasar. Menyusahkan sekali!"
Ken duduk dengan kedua tangan bertumpu di atas meja karena begitu fokus menatap gigi ibu tua yang terselip daun bawang. Sebagai anak yang badung, Ken memberitahunya secara langsung tanpa basa basi.
Heh?
"Ada daun bawang di gigimu. Sebaiknya berkaca dulu jika memang akan ada tamu penting yang datang" kata Ken menyeringai sambil berlalu pergi dengan kedua tangannya masuk ke saku celana.
Mendengar itu, bibi Yun tertawa ngakak diam-diam. Tapi ibu tua melihatnya. "Sedang apa kau? Siapa yang menyuruhmu tertawa?!"
Ups! Bibi Yun berhenti tertawa. Tapi pipinya menggembung karena menahan tawanya di dalam mulut.
Setelah ibu tua berkata seperti itu pada bibi Yun, ia berkaca sebentar pada pintu kulkas yang bening. Benar saja! Ada sisa daun bawang yang tersangkut???
"Ehemm," ibu tua melirik pada bibi Yun dengan kepalanya yang sedikit bergoyang-goyang. Persis sekali dengan gerakan ibu tiri jahat di film-film.
Karena malu, ibu tua pun pergi terburu-buru kembali ke kamarnya.
WAKAKAKA! Tawa bibi Yun lepas setelah nyonya besar itu pergi. Ia benar-benar terhibur dengan tamparan tidak langsung dari tuan mudanya pada sang ibu tua yang jahat.
"Tuan muda Ken tidak boleh mencicipi makanan, tapi sendirinya ketahuan baru makan sesuatu, oleh tuan muda,,, xixixi,, menggelikan sekali," kata bibi Yun lirih sambil terus tertawa.
•••••••
Tamu undangan sudah datang. Tuan dan nyonya Kido menyambut kedatangan keluarga Tomoko. Yoshi pun menyapa kawannya Tomo dengan ramah. Hanya Ken yang terpaksa duduk di meja makan menyambut keluarga itu.
"Silahkan duduk, tuan Tomoko," kata tuan Kido ramah pada direktur OISCA.
"Ya, ya. Terima kasih tuan Kido. Hmm. Kami merasa tersanjung mendapat undangan makan malam di rumah anda," jawab tuan Tomoko.
"Sudah semestinya. Mari silahkan dinikmati," kata tuan Kido.
"Ah. Kami menyiapkan hidangan spesial untuk tuan direktur,, semoga anda suka dengan hidangan kami ini, " kata ibu tua dengan keramahan yang berlebihan.
Beberapa menit kemudian mereka pun menyantap hidangan makan malam dengan tenang. Hingga akhirnya keluarlah pertanyaan dari tuan Tomoko.
"Apa kau yang bernama Ryu Kenzhi?" tanya tuan Tomoko pada Kenzhi.
Kenzhi yang mendengar pertanyaan itu tidak langsung menjawab. Sampai ada yang menyenggol kakinya, barulah ia buka suara.
"Ya. Itu aku," jawabnya singkat tanpa menoleh.
"Ahahaha. Anak muda jaman sekarang. Dia cukup berani dan percaya diri. Aku bisa melihat bagaimana sesuatu yang bergejolak di dalam hatinya," kata tuan Tomoko berbelit-belit.
"Ehemm. Anda bisa saja, direktur," jawab tuan Kido tidak enak.
"Tomo, apa kau sudah meminta maaf pada Ryu Kenzhi soal kesalah pahaman hari ini? Jika belum, minta maaflah sekarang, " tanya tuan Tomoko berlagak rendah hati.
"Apa? Tapi kata ayah,,,, "
"Minta maaflah sekarang," kata nyonya Tomoko.
"Baiklah," jawab Tomo terpaksa.
Tuan Kido yang tidak enak hati segera berkata pada Kenzhi.
"Kenzhi, berdiri dan berlututlah segera untuk minta maaf pada Tomo!" perintahnya.
Tomo melirik Ken yang sedari duduk diam namun sorotan matanya terus mengarah tajam kepadanya.
"Apa kau tidak dengar perintah dari ayah?! Berlututlah minta maaf!" kata Yoshi pada Ken yang masih saja tak bergeming.
"RYU KENZHI??!" panggil tuan Kido mulai geram.
Karena nada suara ayahnya sudah meninggi, Ken mengepalkan kedua telapak tangannya dan berdiri dengan kedua tangannya itu berada di atas meja.
"Kau yang harus minta maaf padaku," kata Ken mengejutkan.
"Aku tidak akan pernah berlutut pada anak kecil yang merengek meminta perlindungan pada ayahnya. Padahal dia sendiri yang membuat gara-gara dengan merekam video telanjang anak perempuan di sekolah!" lanjut Ken.
"Apa??!!" tuan Tomoko terkejut.
"KENZHI!!" tuan Kido naik pitam.
"Jika kalian menginginkanku untuk meminta maaf, maka suruhlah dia untuk mencium kakiku terlebih dahulu!!" Ken tidak mau mengalah.
BRAK!
"Cukup! Apa-apaan ini? Jamuan makan malam yang tidak ada sopan santunnya!" tuan Tomoko marah.
"Benar sekali. Buang-buang waktu kami saja," sahut nyonya Tomoko.
"Ayo pergi," kata tuan Tomoko dipenuhi emosi.
••••••••
Malam itu, jamuan makan malam berjalan kacau. Begitu keluarga Tomoko pergi, Ken dimarahi dan dihajar habis-habisan oleh tuan Kido.
PLAK!!
PLAK!!
PLAKK!!!
"Dasar anak tidak tahu diri! Ayah mencoba membujuk direktur agar kau tetap berada di sekolahmu! Tapi kau malah membuatnya semakin kacau!!" tuan Kido membentak Ken kasar sambil menamparnya beberapa kali dengan sangat kencang.
Ken diam dan hanya menerima pukulan dari ayahnya. Ia tidak berucap sepatah kata pun karena ia tahu itu semua percuma.
Setelah memukuli putra keduanya, tuan Kido pergi ke ruang kerjanya dengan penuh kemarahan. Sedangkan Ken yang terduduk di bawah lantai dengan wajah lebam dan berlumur darah di bagian bibir dan hidungnya itu tertawa menyeringai. Semakin lama, tawanya semakin keras seperti orang gila.
Ia benar-benar tidak bisa memaafkan Tomo. Orang seperti itu tidak pantas dimaafkan. Jika saat ini Linzhi terjerat sebagai korbannya, lain waktu pasti akan ada Linzhi-Linzhi yang lain.
.
.
.
.
.
.
Bersambung di episode 7....... 😀