
EPISODE 90
Pagi-pagi benar, Ken pergi ke pemakaman Suzy. Ia membawa seikat bunga lili putih untuk ia persembahkan.
Ketika ia sampai di sana, sudah ada bunga anyelir putih di atas nisan Suzy. Meski baru, bunga itu sudah tidak segar lagi. Itu tandanya, ada seseorang yang datang beberapa hari yang lalu.
"Siapa yang kemari? Apakah ibu mertua?" Ken hanya menebak-nebak.
Kemudian ia mengajak bicara makam istrinya.
"Sayang, bagaimana kabarmu di sana? Apa kau makan dengan baik? Aku, masih merindukanmu seperti biasanya."
"Ohya, aku bertemu dengan Suya dan menghabiskan hari bersama anak-anak panti. Kemi juga menyanyi bersama di atas panggung di hari ayah kemarin. Sayang sekali kau tidak menonton pertunjukkan kami."
Ken menyeka air matanya seraya terkekeh, "Aku cengeng ya, sekarang. Apa kau sedang tertawa melihatku?"
Meski ia sudah menyeka air matanya, namun tangisannya justru semakin menjadi. Apalagi Ken merasa cemas memikirkan ucapan Linzhi.
"Itu kau bukan? Malam saat kita melakukan itu?" Ken diam beberapa saat.
"Jika aku hanya mengkhayal tentang dirimu, aku harus bagaimana? Kemarin, seseorang datang padaku dan mengatakan bahwa aku melakukan itu padanya. Dia juga membawa hasil tes untuk kehamilannya."
Ken menjatuhkan diri dan bersimpuh di depan makam Suzy dengan kedua lututnya sebagai permohonan ampunan.
"Sayang, apapun yang terjadi di sini, aku minta maaf. Jangan terlalu marah padaku. Jangan pula memakiku. Aku hanya pria yang menyedihkan sekarang. T tapi, jika kau ingin marah, kau bisa menghukumku nanti saat kita bertemu."
Di akhir ucapannya, Ken memberi penghormatan pada Suzy beberapa kali sebelum akhirnya pulang.
•••••••
Ken sedang duduk melamun di halaman rumah ketika dua orang tetangga kembali ada yang lewat di jalan depan rumah itu.
Mereka terkejut melihat Ken yang sedikit kurus dan tampak sedang bersedih.
"Astaga! Bukankah itu si menantu?" seru salah seorangnya.
"Ah? Kau benar! Ayo kita hampiri!"
Dua orang itu berlari tergopoh-gopoh menghampiri Ken hingga membuat Ken menoleh kepada mereka.
"Astaga, astaga! Bukankah kau Kenzhi?" seru seorang.
Ken yang semula duduk, berdiri sebentar untuk memberi hormat pada dua wanita tua yang energik itu.
"Apa kabar nyonya?" ucapnya sambil membungkuk setengah badan.
"Kau! Apa yang kau lakukan di sini? Apa sudah makan?" tanya seorang lagi.
"Aku....."
"Belum? Kalau begitu ayo ikut kami. Kami akan membuatkanmu makanan. Astaga.. Kau kurus sekali, pasti kau mengalami masa-masa yang amat sulit."
Ken dibawa kedua wanita itu ke salah satu rumah mereka. Setelah memaksanya duduk, mereka menghidangkan beberapa makanan yang kelihatannya lezat.
"Makanlah. Habiskan semuanya, ya!" kata pemilik rumah.
"Tapi, ini.."
"Makan saja. Ini, coba cicipi daging rebusnya," jawab wanita satunya seraya meletakkan seiris daging ke atas mangkuk nasi Ken dengan sumpitnya.
"Baiklah."
Untuk menghormati kerja keras sang pemilik rumah yang sudah membuatkannya makanan, Ken pun menyantap masakan yang terhidang didepannya itu dengan lahap.
"Bagus. Makanlah yang banyak.." wanita berambut keriting itu menepuk-nepuk pangkuan Ken seraya tersenyum.
Setelah makan dan mengobrol sedikit di rumah tetangganya, Ken pergi bekerja seperti biasanya. Kali ini, ia ingin memberikan sesuatu untuk Suya dengan uang gajiannya.
Begitu ia mendapatkan gajiannya, ia pergi mencari tahu apa yang sedang Suya butuhkan. Dari kejauhan, ia mengawasi rumah nenek Tama. Rumah itu tampak sepi karena sore menjelang malam seperti itu, nenek Tama sedang sibuk berjualan ubi manis.
Akhirnya, Ken berinisiatif menemui ayah mertuanya di toko. Di sana, ia melihat Suya sedang duduk membaca buku. Kebetulan sekali!
"Sepertinya buku itu lebih menarik daripada seorang pelanggan," sapa Ken mengejutkan.
"Paman??" Suya terkejut dan wajahnya senang.
"Apa kau tidak akan melayani pelangganmu ini?"
"Eh? Iya baiklah. Ada yang bisa ku bantu, paman?"
"Hmm. Aku sedang mencari sesuatu," jawab Ken seraya menggosok dagunya.
"Sesuatu seperti apa?"
"Sesuatu untuk anak laki-laki yang manis. Kira-kira apa yang harus kuberikan?"
"Paman ingin memberinya hadiah?"
"Yaah, seperti itulah."
"Kalau begitu, kenapa paman datang kemari? Tanya saja padanya langsung. Apa yang dia inginkan."
"Begitu, ya?"
"Tentu saja. Em, tunggu sebentar. Apa paman mau kopi panas?"
"Boleh," Ken duduk di kursi kayu tempat untuk para tamu menumpang istirahat.
"Kalau begitu, tunggu di sini. Aku buatkan lebih dulu," Suya berlalu dengan semangat.
Saat Suya pergi ke ruangan dalam, kakek Hiro keluar dari sana dan melihat Ken. Ia menatap bergantian pada Ken dan Suya. Ah, rupanya anak bapak itu sudah saling mengenal. Pikirnya.
"Kau sudah lama di sini?"
"Tidak. Aku baru saja tiba."
"Sepertinya, Suya menyukaimu."
"Apa menurut ayah begitu?"
Kakek Hiro duduk di sebelah Ken. Tangannya yang sudah tua dan keriput itu menyentuh pundak sang menantu.
"Bebaskanlah dirimu dari rasa penyesalan," ucapnya bijaksana.
Ken diam menunduk.
"Aku mengerti. Tapi rasanya, jantungku masih terasa sesak, ayah. Kehilangan Suzy saat aku mendekam di penjara, membuatku menjadi suami yang amat payah. Dan sekarang ini, aku pun tidak bisa sesuka hati menemui putraku sendiri."
"Ayah yakin, dulu kau sudah memilih jalan yang terbaik sebelum memutuskan sesuatunya."
Ucapan ayah mertuanya membuat Ken mewek. Dengan kepala menunduk, ia menangis dan menutupi mukanya dengan tangan kiri. Kesedihannya begitu mendalam hingga kedua telinganya ikut memerah.
Ketika kakek Hiro menepuk-nepuk pundak menantunya, Suya datang membawa kopi buatannya. Anak itu menjadi heran, kenapa paman Ken menangis di hadapan kakeknya.
"Kenapa paman Ken menangis? Apa yang kakek katakan padanya?" tanyanya tiba-tiba.
Mendengar ucapan Suya, kakek Hiro maupun Ken terkejut.
"Ah, paman tidak menangis. Hanya kelilipan saja," kata Ken langsung menyeka air matanya dan berusaha mencari alasan.
"Benarkah?" tanya Suya memperhatikan.
"Iya benar."
"Sepertinya tidak. Paman Ken menangis, aku sangat tahu itu. Apa dia bertengkar dengan kakek? Ah, tapi tidak. Kakek tidak seperti nenek."
Suya membatin.
"Wah, apa itu kopinya? Kalau begitu cepat bawa kemari, paman akan mencicipinya," seru Ken berlagak ceria.
"I iya."
SLURRPP
"Aah,, nikmatnya. Kau pandai meracik kopi," Ken memuji Suya.
"Bukan apa-apa, paman. Itu kopi sachet yang hanya ku tambahkan air panas," Suya berkata jujur.
"Walaupun begitu, kau sepertinya cocok dengan pekerjaan ini. Kopi buatanmu terasa nikmat."
"Hihihi, terima kasih, paman."
Ken, Suya dan ayah mertuanya duduk mengobrol dengan santai. Mereka membicarakan hal-hal yang menarik di lingkungan sekitar mereka.
Ketika hari semakin malam, Ken mengatakan bahwa besok ia ingin mengajak Suya jalan-jalan.
"Hmm, Suya."
"Yah??" menoleh pada Ken.
"Bagaimana kalau besok kita jalan-jalan?"
"Jalan-jalan?"
"Ya."
Suya menoleh pada kakeknya dan dijawab dengan sebuah anggukan. Tandanya, ia mendapatkan ijin untuk pergi dengan paman Ken.
"Pergilah ke mana pun kalian suka."
"Benarkah?? Terima kasih kakek!" Suya langsung memeluk kakeknya.
"Sepulang sekolah besok, kau bisa datang kemari. Kakek akan mengatakan pada nenek kalau kau akan membantu kakek di sini."
"Terima kasih, keeekkk!!" Suya begitu riang.
"Kalau begitu, paman pulang terlebih dahulu, ya," diseruputnya kopi terakhir lalu berpamitan pulang.
Kakek Hiro membiarkan cucunya mengantar laki-laki yang seharusnya dia panggil ayah itu sampai depan toko. Meski tidak ada di sana, ia yakin. Suzy akan bahagia melihat kedekatan mereka berdua.
••••••
Esok harinya, Ken bersiap untuk menjemput Suya di toko. Ia sudah mempertimbangkan hari liburnya itu sebagai hari istimewa.
Ketika ia tiba di toko Yama, ia melihat anak itu sedang menunggunya di depan pintu sambil mengais-ngais tanah dengan sehelai lidi. Sebuah tas juga terlihat sudah berada di punggungnya. Sepertinya Suya sudah siap sedari tadi.
"Paman!" mata Suya berbinar ketika melihat Ken sedang berjalan menuju ke arahnya.
Ken melambaikan tangannya, "Apa kau sudah siap?"
Suya mengangguk semangat.
Ketika mereka hendak pergi, kakek Hiro memanggil Ken dan memberikan sebuah kunci motor.
"Ini?"
Kakek Hiro mengangguk. Yah. Itu adalah kunci motor Ken. Selama Ken mendekam di dalam penjara, Yama menjaga motor miliknya dan menyimpannya di gudang belakang.
"Selama ini, Yama menjaga harta milikmu itu dengan sangat baik. Saat membutuhkan uang kala itu pun, sebenarnya ibumu memintanya menjual motor tersebut. Namun ia justru menyembunyikannya di sini dan meminta ayah memberikannya padamu saat keluar penjara."
"Benarkah itu?" Ken merasa terharu atas maksud baik iparnya.
Kakeh Hiro mengangguk lagi sambil menepuk pundak sang menantu, "Bersenang-senanglah. Tidak setiap hari kau mempunyai waktu bersama putramu."
"Baiklah. Terima kasih ayah."
Ken meminta Suya menunggu bersama kakeknya di dalam, sementara ia mengambil motor lebih dahulu. Ketika akhirnya ia muncul dengan sebuah motor, Suya berlari senang menghampirinya.
"Whooaaah!! Itu motor siapa paman? Keren sekali!!" tanyanya seraya menghampiri Ken.
"Punya paman. Kau mau naik?"
"Apakah boleh, paman??"
"Tentu saja. Ayo naik!" perintah Ken.
Sebelum pergi, Suya melambaikan tangan pada sang kakek dan ikut ke mana paman Ken membawanya pergi.
Yuhu! Menyenangkan sekali!
Akhirnya, Ken memiliki waktu berduaan saja dengan Suya. Apakah hari indah ini berjalan sesuai rencana?
Simak terus ceritanya..
Dan berikan Like jangan lupa,,😘
BERSAMBUNG........