RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
SIKSAAN



EPISODE 73


Di rumah tuan Kido.


Mendengar Ken dipenjarakan, Linzie bergegas menemui Yoshi. Ia memberanikan diri untuk bernegosiasi pada suaminya.


"Apa kau sungguh-sungguh akan melakukan itu?" tanya Linzie begitu masuk ke ruang kerja Yoshi.


Yoshi yang sedang membicarakan Ken bersama Rai seketika menghentikan pembicaraan seru mereka.


"Apa maksudmu?"


"Kau! Aku tahu bagaimana Ken bisa ditangkap atas pembunuhan Keiko. Semua itu adalah rekayasa darimu!" Linzie emosionil. "Cepat tarik kembali tuduhanmu, jika tidak, aku akan membawa bukti utama pada pihak kepolisian!"


Yoshi terkejut. Tetapi ia tidak takut pada ancaman wanita murahan yang ia jadikan istri hanya karena ingin menjadi lebih unggul dari Ken.


"Memangnya kau punya bukti apa? Wanita sepertimu tidak akan pernah bisa membawa bukti pada mereka. Itupun benar kalau ada bukti," Yoshi balik menantang.


"Asal kau tahu. Aku merekam semua percakapan yang terjadi diantara kalian. Jadi menyerahlah," Linzie menatap marah suaminya.


Melihat istrinya tampak serius, Yoshi berdiri dan segera menghampirinya. Sambil menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, ia mengancam balik.


"Coba kita lihat apa yang bisa Rai lakukan padamu," katanya cengengesan.


Ketika Yoshi memberi instruksi pada Rai agar menangkapnya, Linzie jadi panik. Ia melangkah mundur namun gagal melarikan diri. Hanya dalam beberapa detik saja, Rai berhasil memegangi pundaknya dengan kuat.


"Singkirkan tanganmu!" Linzie menoleh dan memelototi pria yang memeganginya.


Rai menunduk hormat karena wanita itu juga istri bosnya. Namun ia tidak melepaskan pegangannya sebelum Yoshi memerintahkannya.


"Jangan ikut campur dalam urusan ini jika kau masih ingin hidup," Yoshi bicara di depan hidung Linzie sambil mencengkeram pipinya.


Kini Linzie memelototi wajah suaminya yang hanya berjarak satu inci di depan mukanya.


"Apapun yang kau ketahui tentang kasus Kenzhi, sebaiknya diam dan berpura-puralah tuli. Atau aku akan semakin menyulitkan anak sialan itu," lanjut Yoshi kesal.


Pria itu melepaskan tangannya dengan kasar lalu pergi meninggalkan ruang kerjanya bersama Rai. Entah ke mana.


GLEK


Linzie menelan ludah. Saat itu, ia hanya bisa diam dan mendengarkan ancaman suaminya tanpa berbuat apa-apa.


Ia takut, jika ia beberkan bukti yang ia punya pada orang lain, maka Yoshi akan semakin membuat Ken sulit.


•••••••••


Malam itu, pihak kepolisian sedang memeriksa tubuh Ken. Dengan alat pemindai sidik jari yang lebih canggih dari sebelumnya.


Beberapa polisi penyidik yang bertugas, memaksa Ken untuk melepas semua pakaiannya. Kemudian, menggunakan lampu sensor yang mampu membaca sidik jari dari korban, tubuh Ken disiram dengan cairan khusus terlebih dahulu.


Melihat gambaran jejak yang tertinggal di tubuh Ken, penyidik menyimpulkan bahwa korban sempat menyentuh dada hingga area terlarang milik pelaku.


"Ck, Ck, Ck,,, Tato naga dan samurai? Kau pasti merasa hebat dengan semua tatomu itu, ya?" penyidik itu menertawakan gambar pada tubuh Ken.


Ken menunduk karena merasa risih bertelanjang di hadapan mereka semua. Sedari tadi ia juga menutupi bagian vitalnya dengan kedua telapak tangannya.


Apalagi saat semua yang ada di tempat penyidikan itu ikut menertawakan dirinya dan sambil menunjuk-nunjuk tubuhnya. Mereka tidak berpikir bahwa sikap mereka benar-benar melukai harga diri Ken.


Jika saja ia tidak menahan diri, sudah pasti ia akan menghajar mereka semua saat itu juga. Tetapi ia berpikir ulang agar tidak tersangkut kasus lain yang menambah hukumannya.


"Sekarang mari kita lihat apa yang kita temukan. Hmm, kau pasti menikmati gadis itu setelahnya, bukan? Katakan sejujurnya!!"


Ken mendengus pelan seraya menggelengkan kepala karena ia merasa tidak pernah melakukan apapun pada Keiko.


PLAK!


Penyidik langsung menamparnya dengan keras karena tidak menyukai jawaban Ken. Sebab, ia sudah melihat bukti sentuhan jejak korban pada area sensitif Ken. Tetapi Ken tetap tidak mengaku telah membunuh gadis itu.


"Jadi, apa kau tetap tidak mau mengakui perbuatanmu?!"


"A aku,,, bukan,,,," ucap Ken tergagap dengan darah segar mengalir dari hidungnya.


"Singkirkan tanganmu dari sana!" bentak penyidik.


"Maaf,,, tapi aku tidak bisa,,,


"Apa kau sedang melawan perintah penyidik?" tanya penyidik kesal.


"Tidak,,,"


"Lalu? Kau pikir aku sudi melihat burungmu? PUIH! Dasar pembunuh tak tahu malu. Mengakulah sekarang! Kau membunuh gadis itu karena dia tidak puas dengan ukuranmu. Ya kan?!!"


Ken menggeleng cepat, "T tidak. Sungguh. Tidak seperti itu."


"Cepat buka!"


Ken sekuat hati menutupi bagian vitalnya. Ia tidak tahu, mengapa penyidik itu begitu ngotot ingin melihatnya. Siapa sangka, seorang detektif senior memasuki ruang interogasi secara tiba-tiba. Ia mengeluarkan pistol dan menembakkan peluru ke salah satu sudut ruangan. Kemudian, tanpa ragu penyidik senior itu mengarahkan pistolnya tersebut pada Ken.


"Pak Danzo?"


"Singkirkan tanganmu," kata pria bernama Danzo itu pada Ken.


GLEK


Ken terkejut bukan main.


Itu senjata api aktif!


Dengan gemetaran dan keringat yang membanjiri dahinya, perlahan-lahan Ken menyingkirkan kedua tangannya dari bagian vital. Ia menyerah pada senjata api yang ditodongkan kepadanya itu.


Begitu ia menyingkirkan kedua tangannya, penyidik senior itu memperhatikan jejak warna yang muncul. Namun lama kelamaan, ia terganggu dengan bentukan burung yang ada di depannya. Belum lagi, tato naga yang ia kagumi.


"Waah.. Astaga naga! Bentukan kepalanya begitu sempurna! Lebih bagus dari milikku. Dan,,, tato naga itu, kenapa bisa terukir begitu indah di sana? Uwwwhh... Sepertinya aku harus membuatnya satu di sisi kiri dan agak serong ke pantat!"


Pekik penyidik senior dalam hati sambil melongo menatap bagian anu.


"Pak? Apa anda melamun?" tanya penyidik yang sedari awal menginterogasi Ken. Ia berusaha mengajak bicara penyidik senior yang mati kutu di hadapan Ken.


"Apa? Melamun? Tidaak,,, Hmm. Lanjutkan interogasinya. Aku ada urusan di luar kantor," katanya sok bijaksana.


"Kalau begitu, saya akan mengambil alih interogasinya kembali," kata penyidik awal.


"Ya, ya. Silahkan," penyidik senior berjalan pergi sambil mengistirahatkan kedua tangannya ke belakang.


Begitu pak Danzo pergi, penyidik awal langsung mengajukan pertanyaan kembali soal pembunuhan Keiko. Setiap jawaban yang tidak memuaskannya, ia memberikan tamparan keras pada kepala Ken.


"T tidak. Kami tidak pernah melakukan itu," jawab Ken memuntahkan darah setelah sebelumnya mendapatkan delapan belas kali tamparan keras.


"Jangan berbohong padaku. Jika kau tidak melakukan apapun bersamanya, mengapa ada jejak tangannya di burungmu itu!!"


Ken tidak menjawab karena ingatan tentang bagaimana Keiko menyentuhnya melintas di benaknya. Dari sini, Ken mulai ragu. Apakah dia melakukannya atau tidak.


"Sekarang kau diam? Benar bukan, kau menggaulinya sebelum akhirnya membunuhnya? Rupanya begitu. Ada motif lain yang mendasari pembunuhan itu."


"Jadi mengakulah sekarang!"


Ken tidak menjawab lagi karena kepalanya pusing. Juga, suara melengking di gendang telinganya kembali muncul setelah sekian lama hilang.


BRUUKK!


Sambil terbatuk-batuk dan memuntahkan darah kembali, Ken mendengar suara besi yang bergesekan dengan lantai. Rupanya penyidik mengambil tongkat besi dari pojok ruangan dan menyeretnya ke dekat Ken.


"Mengakulah bahwa malam itu kalian berdua bermesraan terlebih dahulu. Lalu setelah puas menyetubuhinya, kau membunuhnya dengan keji. Jadi, apa motifmu? Ayo cepat katakan!"


Penyidik itu memukul kepala Ken menggunakan tongkat besi yang ada di tangannya. Belum puas dengan itu, ia juga memukuli punggung dan semua bagian tubuh Ken tanpa ampun.


Sekali lagi Ken tersungkur dan menerima penganiayaan yang diberikan padanya. Lagi dan lagi, ia mendapat pukulan yang membabi buta dengan tongkat besi tersebut.


Dan lagi-lagi, Ken berusaha menahan perlakuan kasar mereka padanya. Tampak sekali pada kedua tangannya yang mengepal erat. Ia benar-benar berusaha menahan emosi dalam dirinya dengan sekuat hati.


"Karena dia tidak puas denganmu, maka kau membunuhnya. Benar, bukan?"


"Uhugg.. A aku tidak membunuhnya, sungguh. Tolong percayalah padaku," kata Ken dengan mulut yang menahan muntahan darah.


Karena Ken belum juga mengakui pembunuhan itu, penyidik dan polisi lain yang bertugas menginterogasi mengambil tali tambang dan memasangnya ke besi yang ada di dinding.


Kemudian, karena mereka menjerat leher Ken dengan cara ditarik ke arah yang berbeda, tubuh Ken pun terseret ke dinding dengan kondisi tercekik.


Sungguh?


"Hahhgkk! Akk'aakk!" Ken tercekik dan susah bernafas.


Ia benar-benar tersiksa atas apa yang dilakukan detektif penyidik itu padanya. Seperti binatang yang mendekati ajalnya, ia berusaha mengambil nafas sekuat tenaga meski itu sulit dilakukan.


Kedua tangannya tampak menggapai-gapai tali tambang, berusaha mengurangi kencangnya cekikan yang menjerat lehernya. Entah sampai kapan ia harus bertahan dalam menahan diri.


"K kami hanya berciuman. Tidak lebih," suara Ken samar.


Ken terpaksa mengakui sesuatu. Sebab lama kelamaan, ia tidak mampu menahan siksaan yang mereka lakukan padanya. Hingga akhirnya menyerah dan jatuh pingsan seperti itu.


BYUURRR!


Ken tersadar ketika seember air menyiram kepalanya. Sambil mengerjapkan kedua matanya, ia berusaha menggerakkan jari-jari tangannya.


"Dia sudah mengaku. Sekarang bawa dia. Kita lanjutkan besok lagi."


"Siap!"


Kini, dua polisi mengangkat tubuhnya dan menyeretnya kembali ke sel tahanan khusus. Kemudian sebelum meninggalkannya, mereka melempar pakaiannya begitu saja ke lantai.


Ken yang masih telanjang itu berusaha merangkak mendekati pakaiannya. Beberapa mata yang menatapnya dari balik meja kerja pun membuatnya amat risih. Dengan kekuatan yang tersisa, ia kembali mengenakan pakaiannya dan mencoba membunuh rasa malu yang ada.


•••••••


Ketika sudah satu minggu kasusnya ditangani pihak kepolisian, Ken dipindahkan ke penjara khusus. Ia kembali mendekam di penjara tempat dimana ia dulu pernah bertahan hidup.


Di penjara tersebut, keadaan tidak lagi seperti dulu. Sepertinya, penghuni dan para sipir tampak lebih kejam dari sebelumnya


Beberapa kali ia mendapat kekerasan dari para sipir. Dan beberapa kali pula ia terpaksa adu jotos dengan penghuni lainnya karena masalah sepele.


Pada hari ke sepuluhnya, ia mendapat tamu yang datang jauh-jauh menjenguk keadaannya. Dialah Suzy. Wanita itu datang bersama Kenie, ibunya Ken.


"Sayang, bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja di sini?" tanyanya cemas setelah menghamburkan diri kepada sang suami.


Ken berkaca-kaca memandangi Suzy yang berdiri di hadapannya sambil memegangi tangannya.


"Aku,, baik-baik saja," jawab Ken akhirnya.


"Benarkah?" Suzy bertanya lagi karena ia tahu suaminya telah berbohong.


Sambil menahan keharuan, Suzy menatap semua luka dan lebam di muka Ken. Ia yakin, keadaan sangat sulit untuknya. Maka sekali lagi, dipeluknya sang suami dengan erat dan penuh kerinduan.


"Bagaimana ini bisa terjadi padamu, Ken? Ibu sangat terkejut saat mendengar semuanya dari Suzy," Kenie mengusap bahu putranya.


"Ibu,,,"


"Sayang, dengar. Ayah dan ibumu akan membantumu keluar dari penjara. Benar kan, Bu?"


"Hmm," Kenie mengangguk. "Kami akan menyewa pengacara hebat untukmu. Jadi bertahanlah sampai sidang keputusan nanti."


"Selama kau tidak melakukan apapun dengan Keiko, pengacara kita akan memenangkan gugatan di persidangan nanti. Hmm? Bertahanlah dan jaga kesehatanmu."


Ken memaksa diri untuk tersenyum saat mendengar ucapan Suzy. Ia tidak tahu harus bagaimana lagi. Ia memang tidak bersalah dalam pembunuhan itu, namun perasaan bersalah dalam hati Ken terus mengganggunya.


"Tidak, jangan hiraukan aku. Perhatikan saja bayi dalam rahimmu, sayang. Aku harap, kalian berdua tetap sehat dan hidup bahagia meski tanpaku," ucap Ken sambil membelai pipi Suzy dengan punggung tangannya.


Suzy menggeleng. Lalu memeluk Ken kembali dan bersandar di dadanya, "Jangan katakan itu. Aku ingin kau bebas secepat mungkin dan melanjutkan hidup bersamaku. Kemudian menghabiskan masa tua bersama-sama tanpa ada masalah apapun."


Bibir Ken gemetaran karena menahan tangis. Ia membuang muka ke samping untuk menutupi kesedihannya. Namun, Kenie memergokinya dan tersenyum sambil mengangguk. Ia pun menunduk dan berusaha tersenyum untuk menghibur diri.


"Baiklah. Karena kita bersedia untuk hidup bersama lebih lama lagi, maukah kau berjanji padaku?"


"Janji?"


"Hmm. Jika di dalam sidang nanti hakim memutuskan bahwa aku bersalah dan harus menghabiskan sisa hidupku di penjara, aku mohon padamu agar kau melanjutkan hidup tanpa memikirkanku. Jangan pernah menoleh ke belakang dan hiduplah bahagia bersama bayi kita."


"Apa maksudmu? Apa kau menyerah begitu saja?" tanya Suzy mengangkat kepalanya menatap Ken.


"Tidak.. aku hanya.."


"Aku tidak akan menyerah. Maka seharusnya, kau juga tidak boleh menyerah."


Setelah pertemuannya dengan sang istri dan ibundanya, Ken merasa sedikit terhibur. Ia duduk termangu di dalam kamarnya yang berjeruji besi.


"Kau beruntung, masih ada seseorang yang menjengukmu di sini," kata teman sekamarnya.


Pria yang tampak sangat misterius itu sedang menggosok-gosok sesuatu di tangannya. Ken menoleh, namun tidak terlalu memperdulikannya sehingga pria itu menertawakan dirinya sendiri karena sikap Ken tersebut.


Tiba-tiba saja, pria itu menyerang dan menempelkan benda runcing yang sedari tadi ia gosok dengan kain ke leher Ken.


Pisau!


"Apa yang kau lakukan?!" seru Ken sembari menahan serangan kawan satu kamarnya itu.


Karena posisinya yang tidak siap menerima serangan, ujung pisau itu berhasil menekan dan menggores lehernya. Alhasil, sentuhan dari pisau itu membuatnya berdarah.


Ken mendesis menahan perih.


Beberapa detik kemudian, pria yang menyerangnya itu menyingkir begitu saja tanpa melakukan serangan lanjutan.


"Ck ck ck. Apa hanya itu saja kemampuanmu? Di penjara ini, kau harus mempunyai kekuatan dan dukungan orang dalam," kata pria itu dengan santai.


"Apa maksudmu?"


"Kau? Siapa namamu?"


Ken memperbaiki posisi duduknya seraya mengusap lehernya yang terluka.


"Apa untungnya aku menyebutkan namaku padamu?"


"Untung? Sebenarnya, aku juga tidak peduli soal itu. Tapi saat pertama melihatmu datang malam itu, kau membuatku penasaran."


Ken menoleh heran.


"Kenapa dia penasaran denganku?"


Bersambung.......