
EPISODE 89
Nenek Tama menatap Ken dengan mata yang tidak suka. Ia tidak habis pikir, bagaiman bisa menantunya itu begitu tebal muka dan datang ke rumahnya bersama Suya.
"Ke mana saja kau Suya?!"
"Em, aku pergi dengan paman Ken dan makan ayam tepung, nek. Lihat, paman juga membawakan makanan untuk nenek," cerita Suya dengan senyuman lebar.
Namun siapa sangka, nenek Tama menariknya mendekat dan memukul pantatnya dengan cukup keras.
"Siapa yang menyuruhmu pergi dengan orang asing tanpa meminta ijin pada nenek!"
PLAKK
"Aduh,,, sakit nek," Suya kesakitan.
Ken yang melihat sikap ibu mertuanya jadi terkejut dan membelalakkan matanya.
"Apa yang kau lakukan, Bu? Semua ini bukan salah Suya. Aku yang salah. Jika kau marah dan ingin memukul, pukul saja aku," Ken mencoba meraih Suya namun ibu mertuanya itu menepis tangannya dengan keras.
"Pergi kau!"
"Tapi... Suya ..."
Anak yang disebut namanya itu menatap Ken dan merasa bingung. Mengapa neneknya begitu kasar dan tidak suka pada paman Ken? Bukankah paman itu sangat baik?
Ken berdiri di tempat dan tidak mau pergi meski ia tidak bisa berbuat apa-apa.
"Masuklah ke dalam, Suya!"
"Tapi, nek..."
"Berikan itu pada nenek."
Nenek Tama meraih kantung makanan yang dibawa cucunya dan melemparnya ke tanah hingga ayam goreng panas yang dibuat Ken untuk Suya agar dimakan di rumah menjadi jatuh berserakan ke tanah.
"Nenek... Itu..." Suya hampir menangis. Ia sangat membenci sikap nenek saat itu. Tanpa menoleh lagi pada Ken, ia berlari ke dalam rumah sambil berurai air mata.
DAMN
Ken menatap Suya dengan sedih.
"Lihat! Kau membuatnya tidak patuh pada neneknya!"
Ken diam membisu. Butuh beberapa saat bagi Ken untuk bicara sebab tenggorokannya seakan tercekat.
"Mengapa ibu melakukan itu?"
"Biar kuperjelas. Mulai sekarang, jauhi cucuku. Jangan pernah temui dia lagi!"
"Tapi, Bu,,, Kau hanya akan melukai hatinya."
"Kau tidak perlu ikut campur. Bersikaplah seperti awal mula ia ada di rahim ibunya. Saat itu bukankah kau tidak peduli bagaimana Suzy melahirkannya?"
Nenek Tama menyepak ayam-ayam goreng yang ada di depannya hingga menyentuh sepatu Ken, lalu pergi dengan kesal.
Saat itu, Ken menitikkan air mata. Harga dirinya amat terluka. Ketika air matanya semakin deras mengalir, ditundukkannya kepalanya sambil menggigit bibirnya dengan kuat.
Ia berjongkok dan memunguti ayam goreng yang semula ia berikan untuk makan malam Suya. Semua ayam goreng itu dimasukkannya kembali ke dalam kantung. Kemudian ia kembali berdiri dan mendekap kantung berisi ayam goreng itu ke dadanya.
Dengan berat hati, ia melangkah pergi sambil sesekali berbalik dan menatap rumah yang ditinggali Suya dengan sedih.
•••••••••
Di rumah kosong itu, Ken duduk melamun sembari menghabiskan bir kalengnya. Di sisinya tergeletak ayam goreng tepung yang bercampur dengan pasir.
Ia masih ingat bagaimana putranya begitu riang menyiapkan dan belajar menggoreng ayam tepung tersebut. Dan bagaimana pula senangnya anak itu saat ia mengijinkannya membawa pulang hasil gorengannya.
Oh Tuhan....
Ia juga ingat, bahwa wajah Suya saat itu dihiasi senyuman bahagia.
Tanpa memikirkan kesehatannya, Ken meraih sebuah ayam goreng yang kotor itu dan menyantapnya sambil bercucuran air mata. Ia tidak peduli ada pasir dan tanah yang ikut masuk ke dalam perutnya. Setelah ayam yang ada di tangannya itu habis, ia ambil lagi. Lagi dan lagi.
Seolah ia sedang makan di hadapan Suya, ia melahap semuanya tanpa sisa.
Ia menjejalkan ayam-ayam goreng tersebut ke dalam mulutnya seolah tanpa ia kunyah terlebih dahulu. Sayangnya, selesai menghabiskan semuanya, ia merasa mual dan akhirnya memuntahkan apa yang baru saja masuk ke dalam perutnya.
Sambil terbatuk-batuk, Ken memukuli dadanya. Ia ingin mengeluarkan semua beban dan rasa sakit di hatinya. Entah mengapa, ia merasa bahwa perjalanan hidupnya amatlah menyedihkan.
***
Pada hari ke dua setelah malam bersama Ken, wanita itu datang kembali ke rumah kosong keluarga Suzy. Ia berniat mencari kalung tanda pengenalnya yang hilang. Mungkin saja benda itu jatuh di sana saat ia terburu-buru pulang kala itu.
Untungnya, Ken sedang bekerja. Jadi, Linzhi dengan leluasa mencari tanda pengenalnya itu di tempat terakhir ia bertemu Ken.
"Di mana benda itu? Aih, mengapa aku ceroboh sekali menghilangkannya," Linzhi merangkak-rangkak mencari benda itu di lantai.
"Bagaimana jika Ken lebih dulu menemukannya? Ia pasti akan curiga," lanjutnya.
Setelah lama membolak balik meja dan kursi, Linzhi tetap tidak menemukan apapun. Rupanya, ia melewatkan rak buku yang ada cukup jauh dari lokasi mereka bergumul.
Dengan putus asa Linzhi keluar dari rumah kosong itu. Tepat saat ia keluar, seorang tetangga kebetulan lewat di depan jalan rumah tersebut.
"Kau sedang apa di sana, nona?"
"Oh? I itu."
"Rumah itu sudah kosong enam tahun yang lalu," ucap tetangga itu.
"B benarkah?"
"Ya. Apa kau tidak melihat berita soal pembunuhan itu? Aih, kasihan sekali menantu mereka. Siapa yang berbuat, dia yang dipenjara. Kami juga menyesal saat itu terburu emosi dan telah mengusir keluarga mereka," cerita tetangga itu panjang lebar.
Linzhi tersenyum dan membungkuk sebelum pergi, "Terima kasih."
"Ya, ya. Pergilah, nona. Kau bisa diganggu makhluk penghuni rumah itu jika melamun di sana."
"Ya. Baiklah."
***
Beberapa bulan kemudian, Ken tampak sedang sibuk memasang ban sebuah mobil.
"Hey Ken, ada yang mencarimu!" seru salah seorang teman kerjanya.
"Mencariku?"
"Ya. Lekaslah, jangan menyia-nyiakan wanita cantik seperti itu," kata temannya itu.
DEG
Ia melihat Linzhi di depan sana. Apakah wanita itu yang ingin bertemu dengannya? Bagaimana bisa dia menemukannya?
Tanpa membuang waktu, Ken berbalik kembali dan enggan menemui Linzhi. Tetapi Linzhi yang melihatnya segera mengejarnya.
"Ken!"
Karena ia tidak ingin membuat keributan di dekat bengkel tempatnya bekerja, ia membawa Linzhi cukup jauh dari lokasi semula.
"Kenapa kau di sini?"
"Jadi, kau bekerja di sini sekarang?"
"Jangan bertele-tele. Katakan saja padaku apa yang ingin kau sampaikan."
Linzhi diam hingga Ken menoleh padanya, "Ada apa?"
Linzhi mengambil sebuah amplop putih dari dalam tasnya. Kemudian menyerahkannya pada Ken.
"Apa ini?"
"Kau bisa melihatnya sendiri."
"Baiklah. Itu saja, kan?" Ken berjalan hendak kembali ke bengkelnya.
"Tunggu! Sebaiknya kau buka sekarang."
Ken berhenti melangkah saat mendengar ucapan wanita itu. Maka ia pun membuka amplop putih tersebut.
"Surat? Rumah sakit Saiseikai? "
"Hmm."
Dibukanya lembaran kertas berisi laporan pemeriksaan kehamilan itu.
"Apa ini. Hasil tes kehamilan?"
"Yah."
"Lalu apa hubungannya denganku? Bukankah kau harus menemui Yoshi?"
Linzhi menggelengkan kepala, "Bukan dia. Tapi kau."
GLEK
Ken menelan ludahnya, "Hhh,, aku masih tidak mengerti. Mengapa kau menunjukkan ini kepadaku. Sudah jelas aku bukan ayah dari bayi yang kau kandung."
"Mengapa kau sangat yakin soal itu?"
"Bukankah sudah lama sekali kita melakukan hubungan semacam itu? Jadi jangan mengada-ada."
Ken membuang amplop dan lembaran kertas itu begitu saja ke tanah. Kemudian ia melanjutkan langkahnya.
"Bagaimana jika kau dan aku melakukannya baru-baru ini?" Linzhi berteriak lantang.
Ken menoleh, "Apa?"
"Ya. Kita. Apa kau ingat malam saat aku datang menemuimu di rumah kosong itu?"
Lagi-lagi Ken menelan ludah. Ia ingat saat Linzhi datang ke rumah Suzy dan membuatnya tertabrak mobil sampai berguling.
"Itu.... Apa kau sedang mengarang cerita untuk novel? Bagiamana bisa kau hamil hanya karena menabrakku dengan mobil?"
Linzhi menghampiri Ken dan meraih kedua tangannya, "Saat kau mengamuk di dalam rumah kosong itu, aku khawatir dan memeriksa keadaanmu."
"Kau mabuk dan memanggil-manggil Suzy. Benar?"
"I itu..."
"Lalu saat melihatku datang, kau meraihku, menciumku dan melakukan itu denganku. Apa kau ingat?" lanjutnya.
Ken membuka mata lebar-lebar. Ia ingat melakukan itu dengan Suzy. Tapi apa ini? Mengapa Linzhi mengatakan hal serupa?
"T tidak mungkin...."
"Sebelum aku pergi, aku sempat menyelimutimu dengan kemeja hitam yang kau kenakan."
"Diamlah!"
"Kalau kau tidak percaya, sebenarnya aku kehilangan benda di rumah kosong itu. Bahkan aku sempat mencarinya tapi tidak ketemu. Jika kau bisa menemukannya, itu artinya semua ucapanku benar adanya."
Tanpa mendengar ucapan lain dari mulut Linzhi, Ken pergi dengan suasana hati yang kacau. Ia benar-benar tidak ingin mempercayai ucapan wanita itu. Apa dia bilang? Meninggalkan barang? Yang benar saja.
Namun, selama sisa waktu kerjanya, Ken terus memikirkan ucapan Linzhi. Hingga akhirnya bengkel tutup, pikirannya masih saja kacau.
"Ken, kami duluan ya!" seru dua orang temannya.
"Ya!"
Malam hari, Pukul 20.44...
Ken pulang dengan berjalan kaki dari bengkel tempatnya bekerja hingga ke rumah Suzy. Suhu dingin di malam hari memaksanya berjalan dengan langkah lebar supaya tidak mati membeku di jalan.
Meski bulan itu bukan musim salju, namun tetap saja. Mereka yang tinggal di kota itu mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan udara malam yang sangat dingin.
Begitu sampai di rumah, Ken mencari-cari benda milik Linzhi yang katanya hilang di tempat itu.
"Sebenarnya, benda apa yang hilang darinya?" Ken menyinari setiap sudut ruangan.
Digesernya meja makan dan kursi. Lalu ia membersihkan seluruh lantainya, tetapi hasilnya tetap nihil.
"Hosh Hosh,, Apa dia sedang mengerjaiku?" Ken merasa kesal.
Dijatuhkannya dirinya ke lantai sambil mendengus pelan.
"Malam itu, apa aku benar-benar melakukan hubungan badan dengannya? Jika iya, mengapa aku tak ingat soal itu?" gumam Ken sambil melempar kaleng bekas minuman ke dinding dengan kencang.
Sayangnya, kaleng tersebut memantul kembali ke arahnya dan mengenai kepalanya tepat di pelipis hingga terluka.
BLETAK!
"Auggh!"
BERSAMBUNG.......