RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
LAPARRR



Warning (21+)


EPISODE 117


Semenjak kebebasannya, Kazuki sering datang ke bengkel tempat Ken bekerja untuk menemui Yuna. Karena tuan Tanaka mengenal orang tuanya, maka kedekatan mereka seolah direstui olehnya.


Meski saat itu Yuna masih tetap bersikap hangat kepadanya, namun Ken merasa berkecil hati. Ia memikirkan kembali siapa dirinya dan bagaimana keadaannya.


"Bongkar mesin sekarang," kata Takeda saat sebuah mobil masuk beberapa menit yang lalu.


"Ya," sahut Kurosaki.


Ken dan Ichigo sedang menyelesaikan mobil lain yang lebih dulu masuk antrian.


"Melihat dia datang setiap hari, aku rasa bos sudah memberinya lampu hijau. Apa kau benar tidak apa-apa?" kata Ichigo pada Ken.


"Hmm."


"Apa kau masih ragu dengan perasaanmu? Bukankah kalian berdua sudah cukup lama saling mengenal? Jadi mengapa tidak?"


"Aku tidak ingin membebani dirinya dengan keadaanku. Mungkin akan lebih baik jika dia bersama Kazuki."


PLAK!


Ichigo memukul punggung Ken kencang. Ia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran kawannya itu.


"Aih! Apa yang kau lakukan?" pekik Ken.


"Kau tahu? Sejak muda, Aku dan Kurosaki sudah beberapa kali mencari wanita untuk pasangan hidup. Tapi tidak satupun wanita yang menerima perasaan kami. Semuanya menolak mentah-mentah saat kami mendekati mereka," Ichigo menceritakan masa lalunya.


"Di usia empat puluhan seperti kita ini, sulit sekali mendapatkan pasangan. Tapi kau berbeda, Ken. Sekali mengenal Yuna, dia langsung menerimamu. Jadi jangan sia-siakan kesempatan seperti itu," lagi-lagi Ichigo bicara panjang lebar.


Karena bosan, Ken tidak meladeni lagi ucapan Ichigo. Ia hanya fokus bekerja dan bekerja hingga jam pulang pun tiba.


"Aku duluan ya!" serunya pada Ichigo dan yang lainnya.


"Oke!"


Ketika ia sedang menuntun motornya keluar bengkel, Yuna menyusulnya dan langsung membonceng di belakang.


"Heh?" Ken menoleh kaget.


"Beberapa hari ini, kau jadi pendiam. Apa ada masalah dengan wanita itu?"


"Emm, tidak."


"Lalu?"


"Turunlah. Aku mau pulang."


"Jalan dan nyalakan motornya. Ajak aku jalan-jalan berkeliling kota, ya," Yuna meringis.


"Tapi ayahmu masih di dalam. Dia akan mencarimu," Ken merasa tidak enak.


"Tidak apa. Makanya pergi sekarang biar tidak ketahuan. Ayo cepat!" pinta Yuna.


"T tapi."


"Sudah pergi saja, ayo!"


"B baiklah."


Akhirnya, mereka berkendara mengelilingi jalanan kota. Melewati Harajuku yang ramai dengan toko pakaian cosplay di jalan Takeshita, melewati sungai yang panjang, berkeliling Tokyo dengan angin sepoi-sepoi, kemudian berhenti di sebuah rumah makan barbeque.


"Mengapa berhenti di sini?"


"Apa kau tidak lapar?"


"Emm, alih-alih makan di sini, aku lebih senang menikmati masakanmu. Bagaimana kalau kita beli bahan mentah saja? Kita masak sendiri di rumah!" seru Yuna.


"Apa kau yakin?"


"Ya. Kita ke supermarket dulu. Ayo cepat!" Yuna mengulurkan tangan kanan meniru gerakan Superman.


"Kalau begitu, baiklah."


•••••


00.09


Di rumah Ken, tampak dua orang sedang menikmati makan malam mereka dengan lahap. Rasa lapar yang sejak tadi mereka tahan membuat makanan yang terhidang terasa begitu lezat.


"Aah, kenyangnyaa,," setelah makan banyak, Yuna pun merasa kenyang.


Ken tersenyum melihat Yuna kekenyangan sambil tetap makan.


"Waah. Kau lapar ya? Apa kau belum ingin berhenti?" tanya Yuna seraya mencondongkan kepalanya ke arah Ken.


"Sayang jika harus dibuang."


KLIP!


Melihat sisa minyak dan bumbu di bibir Yuna, Ken segera mengulurkan jarinya untuk mengelapnya. Kemudian jari yang ia gunakan untuk mengelap bibir Yuna itu ia sesap sebentar tanpa ragu.


DEG


Yuna menatap Ken saat pria tersebut selesai menyesap jari yang membawa minyak dan bumbu sisa dari bibirnya.


"Eh? J jangan salah faham. Aku hanya mengelap bibirmu yang belepotan minyak," Ken menyadari bahwa Yuna tengah menatapnya.


TAP!


Yuna menahan tangan Ken yang menyingkir turun.


"Ada apa?"


Tanpa memberi jawaban, Yuna justru mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Ken seraya menggeser piring-piring hidang ke sisi kanan dengan satu gerakan saja.


Kemudian kedua tangannya dengan cepat meraih kepala pria yang sedang bersamanya itu dan langsung mencium bibirnya dengan berani.


Cukup lama. Mereka menikmati bibir yang saling menyatu. Awalnya, mereka merasakan daging panggang yang baru saja mereka santap. Namun lama kelamaan, ada rasa manis yang timbul. Semakin manis, semakin kuat dan memabukkan.


Kemudian, Yuna melepas sejenak ciumannya dan menempelkan hidungnya ke hidung Ken.


"Apa kau menginginkannya?" tanya Yuna saat berhasil memikat lawannya.


Ken hanya diam. Nafasnya tampak tak beraturan karena serangan dari Yuna. Jakunnya pun tampak bergerak naik turun karena berulang kali meneguk ludah. Beberapa detik kemudian, ia pun memberanikan diri untuk menyesap bibir Yuna kembali.


Saat keduanya meleburkan hasrat yang ada, tiada yang mampu menghentikannya selain diri mereka sendiri.


"Yuna, katakan padaku jika kau ingin aku berhenti," Ken menatap Yuna lekat-lekat.


"Kenapa?"


"Aku tidak bisa mempermainkanmu seperti ini," ungkap Ken.


"Bagaimana jika aku berpikir kalau kau tidak mempermainkanku sedikitpun?"


"Tapi aku..."


"Ummcc ahh, ummch aah...."


Selain suara ciuman yang panas dari Yuna, suasana malam yang sunyi dan hanya terdengar suara jangkrik di luar itu membuat hasrat Ken semakin bergejolak. Ia pun berdiri dan meraih tubuh Yuna yang berada di atas meja.


Masih dengan bibir yang saling berpagutan, Ken menyusupkan kedua tangannya ke dalam baju yang dikenakan Yuna. Ia mengusap pelan dua bongkahan yang terkurung di dalam bra bertali.


Ketika Yuna menurunkan ciumannya ke leher Ken dan membuat tanda di sana, tangan kirinya juga menyusup masuk ke dalam celana Ken dan mengusap batang panjang yang sudah mengeras.


"Mari selesaikan sekarang, Ken," bisik Yuna sangat bernafsu dengan menarik turun resleting celana Ken.


Melihat wajah Yuna yang sangat merah, Ken tidak dapat membohongi perasaannya bahwa dirinya juga mulai terangsang hebat. Ia menyesap kembali bibir merah yang ada di depannya dan memuaskan rasa dahaganya.


Dilepasnya kait bra Yuna serta baju yang tengah dikenakannya. Begitu tubuh atas Yuna tanpa busana, Ken membenamkan wajahnya di antara dara kembar. Sesekali ia juga mel*mat lembut bongkahan kembar Yuna yang putih bersih tersebut seraya memperhatikan lukisan yang ada di buah dada kiri Yuna.


Yuna mendesah pelan saat wajah Ken yang sedikit berkumis menggelitik dadanya. Belum lagi, hisapan dari Ken juga membuatnya semakin panas dingin.


••••••


TRING


TRING


TRING


Hentakan lembut dan berirama yang dilakukan Ken rupanya mampu mengguncang meja makan tempat mereka bercinta. Piring dan gelas saling bersenggolan sehingga menciptakan bunyi benturan yang klasik. Sangat kontras dengan suara pertemuan tubuh keduanya.


Di hadapannya, tubuh berkeringat Yuna semakin tampak seksi ketika terkena pantulan cahaya lampu. Wajah bak boneka porselen yang memerah itu berulang kali memejamkan mata merasakan nikmat atas dorongan yang diterimanya.


Tidak jauh berbeda dengan Yuna, tubuh Ken juga dipenuhi peluh. Kedua tangannya yang menyangga di atas meja, berada di sisi kanan dan kiri memagari tubuh Yuna. Dengan kepala yang ia sandarkan di bahu kanan Yuna, ia terus melenguh dan menikmati persenggamaan di antara mereka.


Ketika akhirnya kenikmatan itu telah sampai pada puncaknya, Ken menyudahinya dengan sangat sempurna. Ditatapnya wajah Yuna dengan nafasnya yang tersengal. Melihat wanita muda itu kelelahan, ia pun tersenyum seraya membelai rambut di dahinya.


"Apa malam ini kau akan menginap?"


Yuna mengangguk.


"Kalau begitu, besok pagi-pagi sekali aku akan mengajakmu ke suatu tempat."


"Ke mana?"


"Kau bisa melihatnya besok. Sekarang bersihkan badanmu terlebih dahulu, lalu tidurlah segera," kata Ken seraya menyingkir dari hadapan Yuna.


"Tunggu!"


Ken berhenti melangkah dan menoleh, "Ada apa?"


Yuna turun dari atas meja dan mendekati Ken. Meski sebelumnya sudah pernah bercinta dengan pria itu, namun baru kali ini melihat tubuh Ken secara penuh.


"Lukisan yang indah...." ucapnya sambil mengusap perut bawah Ken.


"Aakkhh.." Ken menyingkir dengan cepat karena sentuhan tangan Yuna membuatnya geli.


"Apakah geli?"


"Hmm," Ken masih merasakan tegangan tinggi di bagian itu.


"Tidak aku sangka, ternyata badanmu memiliki banyak lukisan tersembunyi. Wanita mana saja yang pernah melihatnya?"


Ken tidak langsung memberi jawaban, ia diam sejenak dan menundukkan kepalanya.


"Istriku, wanita itu dan kau yang terakhir."


Kemudian Ken mengangkat kepalanya dan memberanikan diri bertanya soal tato milik Yuna, "Kau sendiri, bunga mawar di dada kirimu,-"


"Hanya Kau dan Arai," senyum Yuna.


"Benarkah?"


"Emm,.. Dan seorang tatooist wanita yang menggambarnya untukku tentunya," Yuna tertawa.


"Aah, begitu rupanya," Ken meraih pakaiannya dan mengenakannya kembali.


"Apa kau senang mendengarnya?"


"Aku justru khawatir seandainya kau menyesali itu."


"Maksudmu?"


"Bukan pria muda yang segar bugar, kau justru bertemu dengan pria tua sepertiku."


Mendengar kata pria tua dari mulut Ken, Yuna jadi tertawa kegelian. Ia merasa lucu karena Ken menganggap dirinya sudah sangat tua.


"Ahaha, Hey, Ken! Masa bodoh jika usiamu empat puluhan. Yang aku tahu, kau masih tampak segar bugar. Bahkan kuat dan tahan lama saat bercinta. Jadi janganlah berkecil hati."


Mendengar itu semua, Ken duduk di bangku dan menarik Yuna ke dalam pangkuannya.


"Jadi, apa menurutmu kau akan bahagia bila bersamaku?"


Yuna memperhatikan wajah Ken dan mengangguk pasti seraya tersenyum.


"Apakah kita akan mencoba untuk menjalin hubungan yang lebih serius?"


"Hmm. Sejujurnya, aku masih ragu."


"Karena apa?"


"Perasaanku."


"Ken...."


"Aku takut."


"Apa lagi yang kau takutkan?"


"Aku takut akan mengecewakanmu dan membuatmu pergi dariku suatu saat nanti. Seperti istriku," Ken membayangkan perpisahannya dengan Suzy.


"Jangan membayangkan sesuatu yang belum terjadi, Ken. Kita nikmati saja apa yang sedang kita jalani. Kau dan aku."


"Mungkinkah?"


"Ya. Kalau kau bertekad."


Ken menghela nafas panjang, "Baiklah. Mari kita lakukan itu."


Begitu Ken menyelesaikan ucapannya, Yuna langsung sumringah dan memeluk pria yang tengah memangkunya tersebut.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.....