RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
PUTRA YANG MALANG



EPISODE 9


Ken duduk di kamarnya memandang ke luar jendela. Ia benar-benar tidak mengerti dengan keluarga ini. Meski ia menampakan sikap tak pedulinya, sebenarnya ada luka menganga di dalam hatinya.


Apa lagi beberapa hari ini ia sedang menjalani hukuman dari ayahnya. Selama masa skors berlangsung, ia juga tidak boleh mengambil makan siangnya.


Otomatis, saat malam hari tiba ia sudah merasa keroncongan. Perutnya juga sudah sangat perih. Seperti malam itu,,,


Pada saat jam makan malam tiba, Ken yang sudah merasa sangat lapar itu pun turun ke bawah. Saat menuruni tangga, Ken tersenyum senang. Ia menerka-nerka, kali ini apa yang dimasak oleh bibi Yun.


Sambil berlari kecil menuruni anak tangga yang panjang, ia mencium aroma lezat daging iga bakar.


"Hmm,, aromanya lezat sekali. Pasti bibi membakar daging iga dengan bumbu rahasia."


Ken sangat berharap makan malam kali ini istimewa. Sebab, malam kemarin ia tertidur dan melewatkan makan malamnya.


Rupanya saat kemarin berkelahi dengan Suzy ia mengeluarkan banyak tenaga dan merasa lelah di malam harinya hingga lupa untuk makan.


Dan malam ini, Ken berencana untuk makan besar.


Begitu turun dan sampai di ruang makan, dilihatnya sang ayah, Rin sang ibu tiri dan Yoshi si kakak tiri sudah berada di sana. Mereka sedang menikmati makan malam tanpa mengajak dirinya.


"A Apa ini? Mereka tidak mengajakku makan malam?"


Ken bicara dalam hati lagi.


Ia berdiri mematung menonton keluarga bahagia yang sedang menikmati makan malam bersama. Sesuatu dalam hatinya tiba-tiba merasakan sakit.


Pada saat dirinya hendak berbalik pergi, ibu tua berakting memanggilnya ramah.


"Oh? Ada Kenzhi di sini. Ayo kemari, Ken. Makan malamlah bersama kami."


"Tidak, Terima kasih. Lanjutkan saja makan malam kalian," jawabnya sambil membungkuk setengah badan.


"Duduk dan makanlah," kata tuan Kido.


Ken berpikir sejenak. Kemudian, karena tidak ingin mengacaukan perasaan ayahnya, ia pun datang mendekat. Dilihatnya Yoshi tersenyum menyeringai padanya.


Ibu tua Rin berlagak mengambilkan nasi untuk Ken di dalam mangkok.


"Makanlah,," katanya.


Ken menerima mangkok nasinya dengan sopan. Rupanya nasi yang ada di mangkoknya hanya sedikit. Kira-kira hanya dua suap baginya.


Ken mendengus pelan.


Ia memperhatikan ayah, ibu dan kakaknya yang makan dengan lahap. Tapi, tidak satupun di antara mereka yang menggeser piring hidang ke hadapannya.


Ken menyuapkan nasi yang hanya sedikit itu sedikit demi sedikit ke dalam mulutnya sambil terus memperhatikan iga bakar yang tampak sangat lezat ada di depan piring makan Yoshi.


Begitu Iga bakar itu tinggal dua potong dan lauk yang lain tersisa sedikit, Yoshi tidak jadi melahapnya. Ia justru menawarkan pada Ken dan menggesernya.


"Apa kau mau?"


Ken menelan ludah. Ia tahu bahwa Yoshi sedang merendahkannya di hadapan ayah mereka.


"Sialan. Dia sengaja melakukan ini di hadapan ayah. Seandainya tidak, aku akan langsung menghajarnya."


Ken menahan diri dan bicara dalam hati.


"Baiklah. Apa susahnya melakukan sandiwara ini di depan ayah. Aku akan makan itu. Ah, tidak. Tidak boleh. Jika aku makan sisa dari Yoshi, dia pasti akan semakin merendahkanku. Tapi jika aku menolak, bisa-bisa ayah tidak mengijinkan aku makan malam, besok?"


Ken mengepalkan tinjunya di bawah meja. Ia terus memikirkan apa yang kira-kira akan terjadi besok jika ia tidak menerima tawaran Yoshi.


Akhirnya, Ken membuang semua harga dirinya dan menerima sisa lauk dari Yoshi. Saat ia mengunyah iga bakar yang seharusnya terasa lezat di mulutnya itu, Ken justru merasa seperti menelan ribuan jarum di tenggorokannya.


Saat Ken sedang makan makanan sisanya, Yoshi tersenyum puas. Ia terus menatap Ken dengan pandangan merendahkan.


Pada saat bersamaan, tuan Kido berdiri dan meninggalkan meja makan tanpa ucapan apapun, disusul ibu tua dan Yoshi. Hanya butuh waktu beberapa menit saja, ruang makan itu menjadi sunyi.


TREK!


Ken tetap pada makanannya. Tapi siapa sangka, air matanya jatuh menetes ke dalam mangkok nasinya. Tess!!


Ia benar-benar menekan diri agar tidak melakukan kesalahan kembali. Ia berusaha bersikap sopan di depan ayahnya meski harus melepas harga dirinya. Tapi pada kenyataannya, harga dirinya merasa benar-benar dilukai.


Meski masih sangat lapar, Ken meletakkan mangkuk yang berisi nasi yang tersisa beberapa butir itu ke atas meja bersama sumpitnya. Lauk sisa yang Yoshi berikan, hanya berkurang satu daging iga bakarnya. Itupun yang kecil.


Dengan langkah gontai, Ken kembali ke kamarnya. Ia benar-benar merindukan ibunya.


••••••••


Saat esok hari datang dengan matahari yang bersinar terang, Ken pergi keluar. Ia berencana pergi menemui ibunya di perbatasan kota. Bahkan ia sudah mengambil uang tabungannya untuk ia bawa pergi menjenguk wanita tersebut.


"Kau mau ke mana pagi-pagi sekali?"


"Aku akan pergi menemui ibu. Mungkin besok baru kembali," jawabnya.


"Kenapa tiba-tiba sekali?"


"Aku hanya merindukan dia. Itu saja."


Begitu memberi jawaban, Ken pergi sambil memberi salam. Ia pergi dengan kereta menuju perbatasan kota tempat rumah ibunya berada.


Sudah beberapa tahun lamanya ia tidak datang menjenguk wanita yang melahirkannya itu. Kereta yang ia tumpangi berjalan cukup cepat. Tidak ada satu jam, Ken sudah sampai di tempat kelahirannya tersebut.


Saat melewati pasar, Ken melihat penjual Unagi segar. Langsung saja ia menghampiri penjual ikan tersebut dan membeli beberapa darinya.


Berjalan menuju rumahnya, ia merasa kembali pada saat-saat masa kecilnya di sekolah dasar dulu. Ia berlarian bersama beberapa kawannya sambil memainkan layangan.


Persis di depan pintu gerbang rumahnya, ia melihat papan pengenal Dokter praktek umum Kenie masih terpasang.


"Ibu?? Aku pulang!" serunya senang.


Tak berapa lama kemudian, keluarlah wanita yang berusia kepala empat. Masih tetap cantik dan segar dipandang.


"Ryu?" Kenie tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Iya, bu. Ini aku."


Kenie segera menghampiri putranya dan justru langsung memukulinya. Unagi yang dibawa Ken pun terjatuh ke tanah karenanya.


"Dasar anak nakal!!"


"Aah, kenapa ibu memukuliku?" Ken berusaha melindungi diri.


"Ibu dengar dari ayahmu, kau melakukan kekerasan pada temanmu dan masuk penjara?" tanya Kenie tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi putranya.


"Itu tidak seperti yang ibu pikirkan."


"Tidak seperti yang ibu pikirkan bagaimana? Kau melupakan pesan ibu untuk menjadi anak yang baik?"


"Bukan begitu ibu. Hentikan dulu pukulanmu. Akan ku jelaskan semuanya. Aku tidak melakukan kejahatan seperti yang ibu pikir," kata Ken merasa tidak tahu harus bagaimana menjelaskan.


"Ibu juga mendengar, kalau kau juga memukul kakakmu?! Benarkah semua itu?"


"Itu. Itu tidak seperti yang ibu pikir,,,"


"Apa lagi alasanmu? Ayahmu sudah bersikap baik pada kita. Dia bahkan mau menyekolahkanmu di kota. Kenapa kau menjadi anak nakal di sana?!!" suara ibunya terdengar jelas membentak.


Kenzhi menangis. Ia tak habis pikir, mengapa ibunya langsung memukuli dirinya setelah sekian lama tidak bertemu. Bahkan ibunya tidak memberinya kesempatan untuk memberi penjelasan kepadanya.


"Ibu!! Apa ibu tidak percaya padaku?!!" teriak Kenzhi marah.


Kenie berhenti memukuli Kenzhi. Dilihatnya putra satu-satunya itu tengah menangis.


"Aku tidak melakukan kejahatan seperti yang ibu pikir! Jika aku mengatakan, aku masuk penjara karena Yoshi, apa ibu akan percaya?!! Tidak, bukan??"


Ken mengusap kasar air matanya. Kemudian ia meraih unagi yang sudah ia beli dari pasar itu dengan sedih. Sayang sekali, unagi itu tumpah ke tanah. Ken memasukkan satu persatu ikan yang hampir lemas itu kembali ke kantung plastik.


"Aku bahkan datang ke sini karena merindukan ibu. Tapi inikah cara ibu menerimaku saat aku datang??" suara Ken terdengar berat dan bergetar.


Ken berdiri kembali tanpa memungut kantung plastik berisi unagi.


"Asal ibu tahu. Selama ini aku kesulitan hidup bersama keluarga ayah. Mereka menganggapku hina karena mereka tahu aku lahir dari gundik ayah!!" Ken berkata jujur.


"Tapi hanya dengan merindukanmu, aku merasa senang. Bahkan hari ini aku datang padamu, berharap bisa menemukan ketenangan di sini."


Ken berbalik membelakangi ibunya, "Tapi aku pikir, aku sudah salah besar. Sia-sia saja aku datang berlari ke ibu. Ibu lebih bisa mempercayai cerita ayah daripada duduk mendengarkan penjelasanku sebentar saja," Ken berusaha menghentikan tangisannya.


Ken pergi meninggalkan ibunya yang kini meneteskan air mata. Kenie menyesal kenapa ia harus marah pada putranya.


Benar. Ryu pasti mendapat banyak kesulitan hidup bersama tuan Kido. Kenapa ia tidak pernah berpikir sejauh itu?


.


.


.


.


Bersambung di episode 10....


¹) Unagi, belut