
EPISODE 53
Pada hari dimana undangan pernikahan Linzhi berlangsung, Ken datang menggenakan baju hitam dengan bawahan putihnya. Tidak lupa ikat pinggang ia gunakan sebagai pemanis penampilannya.
Sebenarnya ia mengajak Suzy untuk ikut datang bersamanya. Namun, Suzy menolak karena tidak ingin mengganggu acara keluarga besar Ken.
Akhirnya.....
Di hotel tempat digelarnya pesta, Ken menyendiri di sudut ruang dekat pintu masuk. Meski suara musik mendominasi pesta tersebut, namun pikirannya tidak dapat bersatu dengan musik tersebut.
Apalagi ia datang pada akhir acara. Dimana satu per satu dari tamu undangan mulai beranjak pulang. Buket bunga yang ia bawa, ia letakkan di meja sebelahnya begitu saja.
Ketika acara benar-benar selesai dan keluarga tuan Kido beranjak pergi untuk kembali ke rumah mereka, Linzhi melihat dan menghampirinya.
"Hai Ken, kau baru datang?" sapa Linzhi yang saat itu tengah berjalan bergandengan dengan Yoshi.
Ken menoleh tapi tetap diam.
Tatapannya terlihat sarat makna.
Tuan Kido dan Rin pun berhenti karena melihat kehadiran Kenzhi, putra mereka yang lain.
Ken yang semula bersandar pada dinding itu pun meraih kembali buket bunga yang ada di atas meja. Kemudian dengan langkah pelan ia membawa buket tersebut pada Linzhi.
"Selamat atas pernikahan kalian. Semoga kau bahagia bersamanya," ucapnya.
Linzhi menerima buket bunga dengan senyuman.
"Terima kasih."
"Emm, karena aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku harus pergi sekarang juga," Ken berkata sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
Ketika Ken berbalik pergi, Yoshi berkata padanya, "Apa kau tidak ingin memberiku ucapan selamat? Sekarang, pacarmu sudah sah menjadi istriku. Setidaknya, kau mengucapkan selamat padaku karena aku berhasil merebutnya darimu."
Ken berhenti melangkah dan menoleh perlahan dengan tatapan mata yang menyembunyikan kebencian. Bandit sialan! Setelah merebut Linzhi dari Ken, Yoshi berharap mendapat ucapan selamat atas pernikahan mereka??
Ck, Ck, Ck....
Ken menatap wajah Yoshi. Lalu berpindah ke tuan Kido beserta istrinya. Orang-orang itu masih sama dan tidak pernah akan berubah.
"Ya. Selamat untukmu. Bersenang-senanglah karena kau berhasil menerima bekas dariku," ucap Ken tidak terduga.
"Kau!!" Yoshi marah.
Semua yang berdiri di hadapannya terperanjat saat Ken berani mengatakan hal seperti itu di hari penting mereka. Pada saat Yoshi emosi dan berusaha memberi perhitungan untuk Ken, Linzhi menahan suaminya itu sehingga mereka semua hanya mampu memandangi kepergian Kenzhi.
•••••••••
Di tengah jalan, Ken menghentikan motornya dan duduk di pinggir danau. Meski saat ini hatinya mulai dipenuhi oleh kehadiran Suzy, namun nyatanya, ia sedikit menyisakan ruang untuk Linzhi di sana.
Ia masih merasakan sakit ketika melihat Linzhi bersama Yoshi. Bahkan, tanpa ia mengerti pun, air matanya menetes dengan sendirinya.
Dalam waktu yang pas, Suzy menelepon karena khawatir. Sebab, Ken belum juga pulang sejak pergi meninggalkan rumah untuk menghadiri pesta pernikahan saudara tiri dan mantan kekasihnya.
"Halo, Ken? Kau ada di mana? Apa acaranya sudah selesai? Kapan kau akan pulang? Jangan lupa pulang dengan selamat," ucap Suzy memberondong.
Ken diam dan tidak mampu menjawab ucapan Suzy. Ia merasa sedang menghianati wanita yang kini sudah menjadi istrinya itu. Sebab saat itu, ia sedang menangis untuk Linzhi.
"Ken?"
"Hmmm.." Ken hanya menggumam pelan.
"Kenapa tidak menjawab pertanyaanku?"
"Kau tidak perlu khawatir. Sebentar lagi aku pulang," katanya kemudian.
"Benarkah? Memangnya kau sedang di mana??"
"Saat ini, aku butuh waktu untuk sendiri. Kalau kau sudah mengantuk, tidur saja lebih dulu."
"Begitu? Hmm. Baiklah." Suzy mengakhiri panggilannya dengan perasaan yang sedikit kecewa.
Suzy melamun sebentar. Kemudian, diraihnya foto pernikahannya dengan Ken yang terbingkai rapi. Sambil menatap foto tersebut, ia merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kasar.
"Kau sedang apa? Kenapa tidak buru-buru pulang menemuiku?" gumamnya.
Suzy membayangkan kebersamaannya dengan Ken di malam lalu. Entah mengapa ia harus malu dan bersikeras untuk mempertahankan diri. Jika ia bisa berterus terang pada Ken, ia menyukai apapun yang dilakukannya. Namun ia tidak tahu, kenapa ia terus merasa gengsi untuk menerimanya.
"Oowhh! Kalau dipikir-pikir, aku benar-benar jahat padanya. Sudah lebih dari sebulan pernikahanku dengannya, tapi kami berdua belum juga melakukannya. Kau pasti sangat kesal padaku," Suzy bicara pada diri sendiri.
Malam itu, Suzy menunggu Ken pulang sampai ketiduran.
•••••
Cukup lama, Ken berada di pinggiran danau yang ada di taman Ueno tersebut. Sambil menopangkan kedua tangannya di atas kakinya yang ditekuk, Ken berusaha mengakhiri ingatannya tentang Linzhi di sana. Sekali-kali, kelopak bunga sakura yang berwarna merah muda berjatuhan ke arahnya.
Ketika melihat jarum jam di tangan kirinya, waktu sudah menunjuk pukul 24 malam. Ken berdiri dan bergegas pulang. Bagaimanapun, ia mempunyai tempat tinggal dan tujuan hidup sekarang.
"Benar. Bagaimanapun, aku harus memperjuangkan seseorang yang sekarang hidup bersamaku."
••••••
Begitu sampai di rumah, Akiyama belum tidur dan sedang merokok di depan rumah.
"Kau baru pulang?" Akiyama tahu bahwa Ken baru menghadiri acara pernikahan saudaranya.
"Hmm. Apa Suzy sudah tidur?"
"Sepertinya begitu. Hmm.. ngomong-ngomong, apa kau sudah makan?" tanya Akiyama melihat wajah lesu Ken.
Membicarakan perihal makan, Ken teringat janjinya untuk membuatkan ramen spesial untuk Yama.
"Kau sendiri?"
"Beberapa jam yang lalu," jawab Akiyama sambil menghembuskan asap dari mulutnya.
"Kalau begitu, kau pasti sudah lapar lagi, bukan?"
"Eh??"
"Ayo masuk, akan ku buatkan ramen sepesial seperti janjiku," kata Ken.
Akiyama menjadi bersemangat dan langsung mengikuti Ken ke dapur. Ia duduk memperhatikan adik iparnya itu menyiapkan makanan spesial untuknya, upah dari kerja sama mereka kala itu.
Sambil menunggu Ken memasak, Akiyama mengajak ngobrol panjang lebar.
"Bagaimana dengan restoran?"
"Aku rasa, semuanya mulai berjalan dengan baik kembali. Aku merasa sangat bersalah. karena dosaku di masa lalu, Suzy harus menghadapi hal seperti ini. Aku tidak tahu harus bagaimana jika restoran Suzy benar-benar gulung tikar."
"Heeehh? Jangan menyalahkan diri sendiri seperti itu. Aku percaya kau bisa menghadapi semuanya dengan mudah dan menjaga adikku dengan baik."
"Aku minta maaf," Ken meletakkan sebuah mangkuk berisi ramen pedas di depan Akiyama.
"Mengapa harus meminta maaf padaku?" Akiyama mengulum sumpitnya.
"Aku tahu, kau pernah merasa tidak yakin pada hubunganku dengan Suzy."
"Eeeh??"
"Mulai sekarang, jangan khawatirkan itu. Aku pasti akan berjuang keras untuk membahagiakan Suzy."
Ken selesai membuat ramen untuk kakak ipar dan juga bisa dibilang teman lamanya itu. Mereka duduk bersama dan menceritakan pengalaman hidup masing-masing.
Sebagai ipar, mereka mempunyai ikatan khusus tersendiri. Akiyama merasa bahwa, Ken benar-benar dapat dipercaya untuk menjaga adik perempuannya. Sambil menyeruput kuah pedas dari ramennya, ia mengatakan bahwa dirinya dapat diajak kerja sama kembali.
Pukul 1 malam.
GRETEK!
Suara pintu kamar Suzy dibuka perlahan oleh Ken. Ia masuk dengan berjingkat-jingkat supaya kehadirannya tidak mengganggu tidur Suzy.
Namun siapa sangka?
Sebelum Ken masuk ke kamar, Suzy buru-buru kembali ke ranjang dan berpura-pura tidur. Sebab, selama Ken dan Akiyama bercengkrama, Suzy mengintip dari kejauhan.
**f**lashback on**
"Oh ya Tuhan ya Tuhan! Cepat tidur,, cepat tidur!" Suzy berlari panik saat Ken mulai naik ke lantai atas.
Ia melepas sandal dengan cara menghentakkannya dari kaki begitu saja sehingga sandal itu terlempar ke dinding lalu memantul kembali dan mengenai kepalanya.
BLETAK!
"Aduh!" Suzy memekik karena senjata makan tuan yang diciptakannya.
Dengan pecicilan, Suzy merebahkan kepalanya di atas bantal dan menyelimuti dirinya dengan selimut bermotif polka. Ia menarik nafas panjang supaya tidak gugup saat Ken memeriksanya nanti.
*flashback off"
Ken duduk sebentar di samping Suzy. Kemudian ia mengusap pipi wanita itu dengan penuh kasih sayang.
"Selamat tidur, sayang."
Setelah memeriksa Suzy yang terlelap, Ken bangkit dan mencuci mukanya di kamar mandi. Kemudian setelah itu, Ken yang tidak tahu menahu bahwa Suzy hanya berpura-pura tidur pun segera beranjak mengganti bajunya dengan santai.
"Jadi, apa aku tidak salah dengar tadi? Sayang??" Suzy membuat Ken kaget.
Mendengar suara Suzy, Ken melompat dan menoleh terkejut sambil menutupi dadanya yang terbuka.
"Waahh?! Astaga,,, rupanya kau belum tidur?" Ken merasa tidak percaya.
"Hehehe."
"A aku kira,, kau???"
Suzy duduk dan menatap Ken lekat-lekat.
"Bagaimana pestanya?"
"Ah! Sudah larut. Sebaiknya kita tidur sekarang. Ya?" Ken mengalihkan pembicaraan dan mengenakan bajunya dengan cepat.
Kemudian ia mendekati Suzy dan mengecup keningnya dengan lembut sebelum akhirnya pergi mengambil kasur lipatnya.
"Eh? Apa itu tadi?" gumam Suzy antara bingung dan bahagia tiada tara.
Ken mulai memposisikan tubuhnya di atas kasur lipat yang empuk. Sudut bibirnya terangkat sebelah saat sesuatu tiba-tiba saja membuat hatinya berbunga.
Malam itu, Ken maupun Suzy mencoba tidur dengan menutupi kepala mereka dengan selimut. Sebab, ada senyuman yang mereka sembunyikan di balik sana.
.
.
.
Bersambung ke Episode 54