
EPISODE 149
GREB
Ken yang saat itu ada di pasar, menutup pintu mobil pick up miliknya dengan cepat. Ia selalu berbelanja kebutuhan restorannya sendiri di pagi hari setiap dua hari sekali.
Sambil menyusuri jalan yang setengah basah, Ken melangkah melewati dua pedagang yang berjejeran rapi. Begitu sampai di tempat penjual sayur langganannya, ia pun segera mengambil beberapa macam sayur yang ia butuhkan dan memasukkannya ke keranjang.
Beberapa kilo jamur, lokio, Horenso¹, bawang-bawangan, nori, sawi hijau dan lobak.
"Pagi nyonya, Chibana! Kau terlihat segar sekali hari ini," salam Ken pada penjual sayur.
"Aah, aku jadi malu, pak Ken. Kau selalu bersikap ramah seperti ini. Bagaimana restoranmu?"
"Sejauh ini cukup terkendali."
"Para turis wisatawan memang banyak yang mencari makanan hangat yang segar seperti ramenmu."
"Hmm. Semoga begitu. Baiklah nyonya, aku ambil mereka seperti biasanya."
"Tentu saja. Kau bisa ambil apapun yang kau mau di sini."
HUP!
Ken mengangkat satu persatu keranjang kotak besar berisi sayuran yang ia pilih tadi dan membawanya menuju mobil yang terparkir tak jauh dari lapak penjual sayur tersebut.
Setelah selesai menaikkan semuanya, ia pun menyelesaikan pembayarannya dengan menyerahkan beberapa lembar uang kertas.
"Huff,, jika semua pelangganku menyenangkan sepertimu, aku pasti awet muda."
"Mengapa tidak? Menurutku, kau juga masih terlihat muda," kata Ken sambil mengantongi kembali dompetnya.
"Ahh, kau ini, pak Ken. Terima kasih sudah menjadi pelanggan yang baik."
"Ya. Sama-sama, nyonya," jawab Ken seraya melambaikan tangan dan berlalu pergi.
Ketika ia berjalan kembali menuju mobil pickupnya, tanpa sengaja ia melihat dua orang yang sangat ia kenal. Maka dihampirinya mereka dengan perasaan sumringah.
"Nonaka, Hari! Sedang apa kalian di sini?" sapanya.
Nonaka menoleh terkejut saat melihat Ken ada di depan lapaknya.
"Paman?" sahut Hari.
"K Ken..." gumam Nonaka.
"Wah! Kau menjual Senbei²?"
"I iya, paman."
"Kalau begitu beri aku masing-masing dua," kata Ken menunjuk tiga jenis kerupuk untuk ia makan di tempat.
"Baik."
Sambil menunggu Hari membawakan pesanannya, Ken duduk di kursi yang telah disediakan. Tidak lama kemudian, Hari datang membawa pesanannya.
"Silahkan, paman," ucapnya seraya meletakkan Senbei dalam piring bambu.
Ken melihat Senbei nori ada empat buah.
"Itu.."
"Ah, aku memberi bonus untuk paman," Hari senang bertemu pamannya.
"Duduklah, temani paman mengobrol."
"Baik."
"Kau juga, Nonaka. Apa kau tidak ingin menyapaku?"
"Eh?" Nonaka masih merasa tidak enak pada iparnya.
Namun ia menuruti keinginan Ken agar duduk bersama dan mengobrol meski canggung.
"Bagaimana kabar kalian selama ini? Terakhir bertemu kalian, aku rasa itu sudah lima atau enam tahun yang lalu."
"Benar. Sudah lama sekali. Terakhir bertemu paman, itu saat paman membantuku dari Soujin."
Ken mengangguk setuju sambil menggigit Senbei yang bertabur wijen. Sedangkan Nonaka masih diam dan enggan bicara. Ia merasa malu bertemu dengan Ken. Saat itu, ia baru mengetahui kondisi putrinya yang sudah kritis karena usai keguguran dan harus dibawa ke rumah sakit.
Rupanya, pacar putrinya itu sudah lama berbuat kasar. Dan entah mengapa ia juga tidak tahu bahwa selama ini Hari tengah berbadan dua.
Dan ketika akhirnya ia memarahi Hari di rumah sakit karena terlalu bodoh menuruti pria buruk seperti Soujin, putrinya itu mengaku bahwa Soujin sendiri tidak akan menemuinya lagi karena mereka sudah putus.
Hari juga menceritakan bagaimana Ken begitu peduli dan melindungi dirinya dengan menemui Soujin dan memberinya pelajaran, hingga akhirnya ia mampu menghindari pria kasar seperti Soujin.
Ketika suasana menjadi hening beberapa saat, Nonaka membuka suara.
"Apa kau tinggal di sini sendiri?"
"Hmm. Begitulah," jawab Ken sebentar lalu diam.
Ia mengamati wajah Nonaka yang selalu menunduk meski saat itu sedang bertanya padanya.
"Kalian sendiri tinggal di mana sekarang?" lanjut Ken.
"Kami tinggal di blok 45."
"Oh ya? Kalau begitu, karena kalian tinggal di dekat sini, sesekali mampirlah ke Ryu-Ken Ramen restoranku. Atau jika kalian ingin, datanglah juga ke rumah. Lusa, Suya akan datang kemari. Jadi kalian bisa datang dan bertemu putraku," ucap Ken seraya mengambil sebuah kartu nama dari dalam dompetnya dan memberikannya pada Hari.
"Tatsuya?" tanya Hari bungah sambil menerima kartu nama Ken.
"Yah. Suya, putra Suzy."
Mata Hari berbinar. Ia akan bertemu bayi kecil lucu itu. Kira-kira seperti apa rupa Suya sekarang? Pikir Hari.
"Maaf,-"
"Baiklah. Kami akan datang ke rumah paman, lusa," Hari cepat-cepat menyela jawaban ibunya.
"Baguslah. Suya pasti senang bertemu kalian di sini."
SRET
Ken berdiri dan meninggalkan tiga lembar uang untuk harga Senbei yang ia pesan.
"Baiklah, aku pamit dulu, ya."
Setelah berpamitan, Ken berjalan menuju mobil pickupnya yang terparkir tidak jauh dari tempat kedua wanita itu berjualan. Begitu ia menyalakan mobil, Hari melihat bahwa pamannya meninggalkan uang pembayaran yang berlebihan. Maka ia pun meneriaki pamannya sambil mengacungkan lembaran uang yang ditinggalkan.
"Paman, kau membayar terlalu banyak!" seru Hari.
"Benarkah? Kalau begitu, ambil saja sisanya untukmu!" jawab Ken sambil melambaikan tangan dan pergi.
WUZZZZ...
Setelah Ken pergi, Hari menoleh pada ibunya yang masih saja diam.
"Apa ibu akan terus-menerus bersikap dingin seperti itu pada paman? Ibu tahu sendiri, kematian ayah bukan karena kesalahan paman. Itu sebuah takdir yang tak bisa kita hindari."
"Paman pasti menjalani hari-hari yang sulit atas kepergian bibi. Entah dia menikah lagi atau tidak, tapi aku merasa bahwa paman semakin kurus dari waktu ke waktu."
Nonaka setuju pada ucapan putrinya. Ia ingat saat Ken datang pertama kali ke rumah mereka setelah keluar dari penjara. Badannya tampak gagah, berisi dan berotot.
Namun sekarang, meski lengan-lengan itu masih tampak berotot, tubuh Ken tampak lebih kurus.
•••••••
DOEENGG!
Seperti janjinya, pada hari libur akhir pekan, Suya datang bersama Ayumi pagi-pagi sekali. Mereka turun di restoran yang ternyata masih tutup. Ternyata Ken sengaja menutup restorannya untuk hari spesial tersebut.
Karena Suya akan datang, Ken cukup memasak dan menyiapkan semuanya di rumah.
"Masih tutup?"
"Kita langsung ke rumah ayah saja, bibi."
"Hmm. Baiklah."
Ayumi melanjutkan laju mobilnya dengan perlahan dan pergi menuju alamat rumah Ken yang telah di kirimkan pada Suya.
Sesampainya di sana, mereka berhenti dan merasa takjub. Rumah-rumah di sana begitu rapi berhias pohon-pohon hijau nan subur dengan pegunungan sebagai latar belakangnya.
Karena masih sangat pagi, cuaca masih berkabut. Jika udaranya dihirup, akan terasa segar dan sejuk. Pada jam-jam tertentu, suhu udara juga akan terasa sangat dingin jika berada di luar rumah tanpa mengenakan mantel penghangat.
"Yang mana rumah ayahmu?" tanya Ayumi sambil turun dari mobil.
"Entahlah. Sebentar ku lihat dulu," jawab Suya ikut turun dari mobil.
Suya memeriksa pesan yang dikirimkan ayahnya. Di sana tertulis, dari restoran, hanya berjarak beberapa meter saja atau sepuluh rumah dari sana.
"Benar di sini. Kita sudah melewati rumah ke sepuluh, bukan?"
"Ya. Seperti katamu."
"Kalau begitu.."
Baru saja Suya memutar pandangannya, seseorang memanggilnya dari arah depan.
"Suya!!"
Itu suara Ken. Dan tampaklah dari pandangan Suya, seseorang melambaikan tangan padanya.
"Itu ayah!" serunya senang.
Maka dengan buru-buru anak remaja itu menghampiri ayahnya yang sedang memotong kayu di depan halaman rumah.
"Ayah, jadi rumahmu ada di sini? Waah.. cukup menyenangkan..." kata Suya datang dan memeluk Ken.
"Ya. Ini rumah ayah. Kau berjanji akan menginap, kan?
"Hmm. Dua hari."
Ken tersenyum senang. Kemudian mengajak putranya masuk ke dalam rumah. Sebelum itu, ia menoleh sebentar pada Ayumi yang berdiri di belakang Suya. Dilihatnya gadis itu memberi salam hormat padanya.
Namun Ken tidak merespon salam tersebut dan lanjut berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan gadis itu.
Merasa sikap Ken masih acuh tak acuh padanya, Ayumi menghela nafas sejenak lalu menguatkan diri untuk mengikuti keduanya masuk ke dalam.
"Letakkan kopermu di sini. Sekarang kemari sebentar,, ayah sudah siapkan minuman hangat untukmu."
"Baik."
Suya meletakkan kopernya di sudut ruang, diikuti Ayumi.
SRET
Ken mengajak Suya ke meja dapur. Di sana sudah siap sebuah nampan dengan teko dan beberapa gelas dari batok kelapa. Rupanya, Ken membuat minuman jahe hangat untuk menyambut tamu yang mungkin saja terkejut dengan suhu udara di tempat itu.
"Minumlah," Ken menuangkan untuk Suya.
Kemudian, karena ia melihat Ayumi hanya berdiri mematung di dekat koper, dipanggilnya juga gadis itu untuk menikmati minuman hangat buatannya. Ia tidak ingin membuat Suya curiga dengan sikapnya pada Ayumi.
"Kau sedang apa di sana? Minumlah juga air jahe ini," ucapnya tanpa menoleh pada Ayumi.
"Eh? I iya baiklah," Ayumi merasa sangat terharu saat Ken memanggilnya untuk ikut bergabung meski pria itu bicara tanpa melihat ke arahnya.
"Slurrp! Aaah... dadaku terasa hangat. Apa ayah minum ini setiap hari?"
"Tidak. Tapi lumayan sering."
"Kami tadi sempat berhenti di restoran, tapi masih tutup?"
"Ya. Ayah akan libur sehari."
"Yaaah.. kalau begitu, aku tidak bisa mencicipi ramen buatan ayah,," Suya terdengar menyesal.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Ayah bisa membuatnya di rumah."
"Wah, benarkah? Asyik!"
"Ganti dulu bajumu. Kau bisa merapikan barangmu di kamar ayah. Karena rumah ini hanya ada dua kamar, kau tidur dengan ayah selama di sini," Ken menjelaskan pada Suya.
"Lalu kau, bisa pakai kamar satunya. Tapi akan ada tamu lagi nanti, kau bisa berbagi kamar dengan mereka," kata Ken pada Ayumi.
"Baik."
"Ada lagi yang akan datang? Siapa?" tanya Suya.
"Kau akan melihatnya nanti."
Suya memonyongkan bibirnya saat berpikir, "Siapa?"
"Tunggu saja."
"Baiklah... Aku ganti baju dulu."
Karena ia tidak mempunyai pandangan tentang siapa yang akan datang, maka ia pun bergegas pergi ke kamar untuk merapikan pakaiannya. Begitupun Ayumi.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.....
...----------------...
* Horenso¹, bayam khas Jepang.
*Senbei², kerupuk beras