
EPISODE 22
Suzy duduk di atas atap restoran sambil memandangi langit. Di sampingnya, duduk pula Ken yang juga mengangkat kepalanya memandang gemerlapan bintang-bintang.
"Apa kau bersinggah ke rumah ayahmu?" tanya Suzy bertanya tanpa menoleh.
"Tidak. Aku tidak berani muncul di depan matanya."
"Kenapa? Apa kau mau aku temani datang ke sana?" Suzy menoleh heran.
"Selama mendekam di penjara, ayah atau ibu tiriku tidak pernah menjenguk sekalipun. Mungkin mereka malu mempunyai anak sepertiku. Jadi aku pikir, sebaiknya aku tetap seperti ini dan tidak menemui siapapun," kata Ken.
"Aku dengar, saudaramu Yoshi juga sudah menggantikan pekerjaan ayahmu di perusahaan mereka. Apa kau tidak akan menuntut bagianmu?"
"Bagian? Ah, aku tidak melakukan apa-apa. Bagaimana bisa mengharap bagian dari perusahaan mereka."
Suzy diam memperhatikan Ken yang memilin-milin tisue.
"Lalu apa kau akan tinggal di rumah Linzhi selamanya?"
"Tidak. Aku akan mencari pekerjaan sampingan untuk mendapatkan uang. Dengan begitu, setidaknya aku bisa mencari rumah sewa dengan harga murah."
"Bagus. Kau harus mempunyai semangat seperti itu," kata Suzy senang.
Mereka kembali menatap langit yang dipenuhi bintang. Duduk di atas genteng seperti itu, membuat suasana berubah romantis dengan sendirinya. Selain tidak ada seorang pun yang mengganggu, mereka merasa lebih dekat dengan langit berbintang.
Ken mengeluarkan kotak musik pemberian Suzy waktu itu.
"Apa kau ingat ini?" tanyanya.
"Eh? Kotak musik itu, masih kau simpan?"
"Ya. Kotak musik ini, membantuku merilekskan pikiran. Ada waktu di mana aku berusaha mati-matian mengobati luka di hati. Dengan mendengar musik dari kotak musik ini, perasaanku menjadi tenang dan damai," Ken memutar musiknya.
Suzy menunduk dan merapikan rambut di telinga kirinya dengan tersipu malu. Rupanya, Ken begitu menghargai hadiah pemberiannya. Ia tersenyum memperhatikan Ken.
"Tidak terasa, sudah tujuh belas tahun berlalu. Aku begitu khawatir saat melihat penjahat itu menusuk punggungmu. Apa sekarang luka itu sudah sembuh?"
"Hemm," Ken mengangguk.
"Boleh aku melihatnya?"
"Eh? Itu....."
"Kalau tidak boleh tidak apa-apa kok," Suzy tersenyum.
Ken mematikan alunan kotak musik dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Kemudian, tiba-tiba saja ia mengangkat naik kaos yang dipakainya hingga terlihatlah punggungnya.
"Lihat. Lukaku sudah sembuh."
Suzy menyentuh punggung Ken dan meraba beberapa luka di punggungnya. Ada tiga bekas luka tusukan pisau dan satu bacokan dari kapak. Jadi semuanya ada empat. Belum dihitung juga bekas luka sayatan di lengan dan pinggul.
Ketika menyentuh bekas-bekas luka itu, mata Suzy terpaku pada tato samurai yang ada di lengan dan punggung kiri Ken. Ia menjadi ingat kembali saat dilihatnya tato naga di bagian perut bawah Ken dalam tragedi air kencing kala itu.
"Pasti rasanya sakit, mendapat luka sebanyak itu," ucapnya sambil terus menatap tato di punggung Ken.
"Hmm. Awalnya memang sakit, tapi setelah mendapat pengobatan yang benar, aku tidak merasakan apa-apa lagi."
PLAK!
Tanpa diduga, tiba-tiba saja Suzy menampar punggung Ken dengan cukup keras.
"Auuw,, ada apa?" tanya Ken terkejut.
"Seharusnya waktu itu kau tidak perlu repot menahan para perampok dan berkelahi dengan mereka sendirian. Kau bisa berteriak meminta pertolongan orang lain. Dengan begitu, kau tidak perlu ditahan di kantor polisi dan mendapat hukuman selama itu."
"Sudahlah, itu sudah berlalu. Masa mudaku juga sudah terbuang di penjara. Mau menyesali apa lagi?"
"Ih, kau ini!! Tetap saja nakal seperti dulu!" Suzy memukuli punggung Ken dengan gemas.
Ken mengelak dari pukulan Suzy, " Aduh. Iya iya. Maafkan aku."
Ken berniat menggeser duduknya. Tapi Suzy menarik bajunya sehingga ia hampir terjatuh dari atas atap.
"Wooooo..." pekik Ken.
Suzy terkejut dan menarik tangan Ken yang hampir terjengkang ke belakang. Tangannya dan tangan Ken pun berhasil berpegangan. Tapi keseimbangan yang hilang sulit diperbaiki.
Jadi, meski Suzy berhasil menangkap tangan Ken, keduanya justru jatuh bersamaan. Mereka jatuh menggelinding di atas genteng.
GRETEK!
SRAK KRASAK!!
Keduanya jatuh dari atas atap menimpa kotak sampah yang ada di belakang halaman. Tubuh mereka jatuh berdebum di atas plastik-plastik sampah pembuangan dari restoran ayam. Untung saja pada saat mereka berdua jatuh, posisi Kenlah yang berada di bawah Suzy.
"Oh ya Tuhan, ini tidak bagus. Badanku jadi bau sampah...." pekik Suzy menyingkirkan isi dari plastik yang keluar sedikit mengotori bajunya sambil berusaha bangun dari atas tubuh Ken.
"Kenapa merengek? Pakaianmu hanya terkena sedikit," kata Ken berusaha duduk.
"Huh, tapi tetap saja aku harus mandi berendam dengan parfum selama tujuh hari tujuh malam," gerutu Suzy.
"Kalau begitu, biarkan aku menemanimu. Aku lebih kotor darimu, bukan? Sepertinya aku juga perlu berendam dengan wewangian," Ken melontarkan kata begitu saja.
"Ih kau ini! Masih saja bisa bercanda??"
Suzy menjitak kepala Ken.
Mereka berdua turun dari kotak sampah dan pergi ke dalam restoran. Rupanya, meski jam tutup sudah berlalu, masih ada Akiyama dan dua pelayannya yang sedang beberes di dapur.
"Kalian ke mana saja? Hempp! Bau apa ini? Kenapa badan kalian bau sekali??" Akiyama yang semula menyapa jadi merasa mual.
"Kami berdua jatuh ke dalam kotak sampah," jawab Suzy cemberut.
Hahahaha !!!
Sambil menatap penampakan kotor yang ada pada Suzy dan Ken, Akiyama langsung tertawa terpingkal-pingkal mendengar pengakuan adiknya tersebut.
"Salah siapa kalian duduk di atas atap?? Jika tidak bisa turun, tentu saja kalian terjatuh.." Akiyama masih menyisakan tawanya.
Pelayan lain yang belum pulang pun menahan tawa mereka dan tersenyum-senyum kegelian.
"Hey. Siapa yang mengijinkan kalian tertawa?" kata Suzy pada pelayan restorannya.
"Eh, tidak nona. Kami tidak tertawa. Sungguh. Kami hanya merasa geli melihat nona dan tuan itu belepotan sampah," kata pelayan yang lebih senior.
"Itu sama saja," jawab Suzy dengan wajah datar.
"Iya juga sih,, hehe."
"Unnc,, kalian anak manis. Kalau begitu kemarilah, ijinkan aku memeluk kalian berdua," ucap Suzy kemudian.
Akal pintar Suzy yang tidak mau menderita sendirian muncul. Ia menggoda pelayannya dengan berusaha memeluknya. Alhasil, keduanya berlarian menjauh dari Suzy. Ditambah suara jejeritan dari mereka membuat ramai dapur tersebut.
••••••••
Suzy mengajak Ken pulang ke rumahnya untuk membersihkan diri. Begitu masuk ke gerbang rumah, mereka terkejut karena ayah dan ibu Suzy sedang duduk di halaman depan.
"Lihatlah sendiri," jawab Suzy dengan isyarat kepalanya.
"Ada apa?" ayahnya heran dan mencondongkan kepalanya ke depan untuk melihat siapa yang datang.
Karena Ken berdiri di sudut gelap penerangan, ibu dan ayah Suzy tidak dapat melihat dengan jelas wajah orang yang datang bersama putri mereka.
Begitu dekat, barulah bibi Tamako mengenali wajah itu.
"Apa itu Ken? Benarkah, Suzy?"
"Hemm. Benar, ibu."
"Oh, ya Tuhan! Putraku yang malang. Apa kau sudah bebas dari penjara?" tanyanya penuh keharuan dan memeluk Ken bahagia.
Ayah Suzy yang sebagian besar hanya mendengar cerita tentang Ken pun turut bahagia. Sebab, pada saat kejadian itu, ayah Suzy yang bekerja sebagai anggota militer sedang bertugas di luar negeri. Dan beberapa kali datang menjenguk bersama istrinya di setiap pulang di masa tugasnya.
Ken yang merasa badannya bau sampah merasa tidak enak hati saat bibi Tamako memeluknya dengan erat.
"Em, bibi.. Aku juga sangat berterima kasih padamu karena selalu membawakan makanan lezat untukku. Tapi,,,"
"Ken? Apa kau tidak mandi selama tujuh belas tahun ini?" bibi Tamako mulai merasakan aroma sampah pada tubuh Ken dan memperhatikannya lekat-lekat.
"Itu yang hendak aku katakan, bibi."
Suzy terkekeh melihat ekspresi ibunya yang mulai teracuni aroma sampah.
"Dia jatuh bersamaku ke dalam kotak sampah di restoran kita, Bu," jawab Suzy geli. "Itulah mengapa bau badannya seperti itu," lanjutnya.
"Heehh, anak perempuan ibu. Kenapa tidak langsung mengajak Ken untuk membersihkan diri? Ayo sana antar dia ke dalam. Biarkan dia mandi sepuasnya. Ibu akan menyiapkan makan malam untuk kalian," jawab bibi Tamako merasa kasihan pada Ken.
"Iya baiklah ibu," Suzy berbalik pergi sambil mendorong Ken masuk ke rumah.
Ken yang merasa tidak enak berulang kali membungkukkan badan memberi hormat pada ayah dan ibunya Suzy.
Begitu mereka masuk ke dalam rumah, terdengar suara ibu Suzy yang menyebut-nyebut nama mereka. Suzy dan Ken yang belum jauh melangkah itu pun berhenti dan mendengarkan percakapan orang tua itu dari dalam.
"Sayang, lihat mereka. Menggemaskan bukan?Bagaimana jika Ken kita nikahkan dengan putri kita? Bukankah mereka sudah cukup tua untuk membicarakan soal pernikahan."
"Jadi kau berpikir begitu?"
"Ya. Jika Ken tidak melindungiku dan Suzy waktu itu, mungkin dia sudah menikah dan berkeluarga sekarang. Tapi lihatlah, dia dan Suzy sama-sama melajang. Bukankah ide brilian jika kita menjodohkan mereka??"
"Soal itu, mari kita bicarakan lagi sambil memasak. Bukankah kau bilang mau menyiapkan makan malam untuk mereka?"
"Ahaha. Kau benar sayang, ayo masuk," jawab bibi Tamako.
DEG!!
Ken maupun Suzy berpandang-pandangan. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar. Pernikahan????
"K Kau mandilah di sini. Aku mandi di kamar atas. Nanti aku ambilkan baju milik Akiyama," kata Suzy gugup dan salah tingkah di depan Ken.
"Tunggu. Jangan salah faham. Aku tidak akan menikahimu,,-" Ken belum selesai bicara tapi sudah dipotong oleh Suzy cepat.
"S Siapa yang memintamu untuk menikahiku?" Suzy justru sewot. "Aku juga tidak mau menikah denganmu! Hiss!!"
Ken berdiri mematung saat Suzy berbalik pergi. Ia mengerjapkan mata dan menelan ucapannya yang belum sempat ia ungkapkan.
",,,,,, sebelum kita mencoba saling mencintai."
Lanjutan ucapan yang ditelan Ken.
•••••
Akhirnya karena Suzy meninggalkannya begitu saja, ia masuk ke kamar mandi luar yang ada di dekat pintu belakang. Dan mulai mandi. Beberapa menit ia mandi, Suzy berseru dari luar.
"Ken, ini handukmu. Oh ya. Kemarikan semua pakaianmu. Biar ku cucikan sebentar," kata Suzy dari luar kamar mandi.
Ken yang tidak curiga pun menuruti Suzy dengan memberikan semua pakaiannya. Rupanya, Suzy hendak mengerjainya.
Begitu ia menerima pakaian Ken, Suzy tidak langsung memberikan handuk. Ia justru pergi mandi di kamarnya yang ada di lantai atas.
Hening.
Ken menunggu Suzy bicara.
Semakin hening.
"Suzy? Apa kau masih di sana? Kau bilang akan membawakan handuk untukku??" Ken bertanya pada orang yang rupanya sudah berendam riang di kamar mandinya.
Sambil terus menunggu handuk, Ken sesekali melongok keluar pintu, namun tidak ada seorang pun di sana.
"Di mana dia?"
Ken mulai menyadari bahwa dirinya mungkin saja sedang dikerjai. Seperti dulu. Akhirnya, setelah setengah jam lebih kedinginan karena telanjang, ia memanggil-manggil seseorang.
"Halo? Apa ada orang di luar??" tanyanya berulang kali.
Beruntungnya, Akiyama datang karena sudah menutup restoran. Akiyama yang masuk dari pintu belakang itu mendengar suara orang minta tolong di dalam kamar mandi. Tanpa berpikir panjang, ia pun menjadi merinding.
"S Siapa di sana?" tanyanya gemetaran.
"Ini aku,,,," suara Ken sudah lemah.
Akiyama semakin merinding karena suara yang ia dengar terdengar seperti mayat hidup. Belum lagi suara ketukan lemah dan pelan pada pintunya.
Tanpa pikir panjang, didobraknya pintu kamar mandi dengan kencang. Pintu yang tidak terkunci itu terbuka dan membuat Akiyama jatuh menubruk Ken yang duduk lemah di atas toilet.
"KYAAAAA!"
"Astaga Naga!! K Kau??!!!" Akiyama terkejut bukan main saat melihat Ken di dalam sana. Dengan cepat ia berdiri dan memperhatikan temannya itu.
"Yama, tolong beri aku handuk," kata Ken kedinginan.
"I Iya baiklah. Tunggu sebentar."
••••••
Keluarga Suzy duduk bersama di ruang makan bersama Ken. Mereka menunggu putri mereka yang mandi begitu lama. Begitu Suzy turun, ia melihat Ken sudah berada di sana dengan selimut tebal membalut tubuhnya. Ketika ia hendak pergi kembali ke kamar, ayahnya memanggilnya.
"Suzy,,, kemari dan duduklah di dekat Ken."
"Eh, iya ayah. Baiklah,,hehe" Suzy berjalan pelan ke sisi Ken.
.
.
.
.
.
Bersambung ke Episode 23