RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
SISI LAIN DIRINYA



EPISODE 100


Tik Tik Tik


Siang itu, Hari sedang mengerjakan tugas kuliahnya. Beberapa hari lagi ia akan menghadapi ujian semester. Jika ia lulus dengan nilai baik, ia bisa melamar bekerja di perusahaan besar seperti Deido ataupun Moonjin.


Ketika kelasnya usai, Hari berjalan keluar dari kampus.


"Kau sudah mengumpulkan tugasmu, Hari?" tanya Rayne teman satu jurusannya.


"Hmm. Aku baru saja mengirim filenya ke pak Jeromi."


"Wah, apa aku yang mengumpulkan paling akhir?"


"Sepertinya tidak. Natsume juga belum selesai," katanya.


Hari berjalan kembali meninggalkan Rayne. Sambil sesekali melihat ke dalam ponselnya, ia berjalan menyusuri lorong kampusnya.


DUK


Soujin mencegat Hari tepat di tengah-tengah lorong.


"A ada apa?"


"Sepertinya.... kita putus saja."


"Apa karena pamanku?"


"Ya. Aku sudah mencari tahu tentang dia di internet. Jadi, benarkah dia seorang mantan pembunuh? Kau serius? Ahh! Ini gila! S sepertinya aku tidak bisa bersamamu lagi," Soujin menelan ludah.


"Aku rasa, kau bernyali ciut setelah menghadapi pria seperti pamanku."


"Apa maksudmu?"


"Bukankah selama ini kau selalu kasar terhadapku? Aku pikir, setelah mendapat nasehat dari paman, kau akan merubah sikap burukmu dan menyesali semua perbuatanmu padaku. Lalu apa ini? Baru sekali menghadapi pamanku saja kau langsung menyerah?"


"A apa?"


"Hanya karena dia mengancammu jika berani menyakitiku lagi, kau berniat memutuskan hubungan denganku. Apa itu artinya kau hanya seorang pengecut?"


"Apa kau bilang?" Soujin hendak melayangkan tamparannya.


"Baiklah. Kita putus. Aku juga tidak mau terus menjalin hubungan dengan pria menyedihkan sepertimu!"


"K kau!!"


Hari berlalu pergi. Ia benar-benar tak mengerti dengan pola pikir Soujin. Beberapa bulan yang lalu, pacarnya itu begitu kasar dan menggebu-gebu saat bersamanya. Namun setelah mendapat ancaman dari sang paman, nyali Soujin menjadi ciut.


"Benar. Begini lebih baik. Itu artinya, ancaman paman benar-benar mempengaruhinya," gumam Hari saat melangkah memasuki bus kota.


Tiba-tiba saja, ponselnya berdering. Ada nomor tidak dikenal yang menghubunginya. Siapa?


"Halo? Siapa ini?" tanya Hari.


"Ini paman. Bagaimana kabarmu?" Ken mendapatkan nomor Hari sewaktu ia mengirim video rekaman ke nomernya.


"Paman? Ah, aku baik-baik saja," jawab Hari.


"Apa pacarmu masih menyakitimu?" Ken ingin memastikan hal itu.


"Tidak," Hari diam.


Karena tidak ada suara dari Hari, Ken bertanya kembali, "Hari?"


"Yah?"


"Apa kau masih mendengar paman?"


"I iya."


"Apa ada sesuatu yang terjadi? Jika iya, paman akan segera ke sana."


"Tidak, paman. Tidak ada yang terjadi. Aku baik-baik saja dan sedang di dalam bus menuju rumah."


"Aahh,, syukurlah. Kalau terjadi sesuatu lagi, kau harus menghubungi paman segera. Paham?"


"Ya."


Hening lagi.


"Sebenarnya, kami baru saja putus," Hari memberitahu Ken dengan suara lesu.


Ken mendengar suara Hari yang sepertinya sedih, "Apa kau menyesalinya?"


"Tidak. Aku hanya sedikit sedih."


"Apa semuanya karena paman?"


"T tidak, paman. Aku sangat berterima kasih pada paman soal kemarin. Aku hanya merasa sedih karena berpikir bahwa begitu bodohnya aku. Mau maunya menyerahkan diriku pada pria macam Soujin."


"Kau masih beruntung, Hari. Sepertinya, Tuhan memberimu petunjuk dan pertolongan lewat paman."


"Iya, benar. Hmm, paman tidak akan menceritakan semua ini pada ibu, kan?"


"Tidak. Ini rahasia diantara kita."


"Baiklah. Terima kasih paman. Aku tidak tahu harus bagaimana jika tanpa paman," Hari terharu.


"Sudah semestinya paman menjagamu. Kau tetap keponakan paman yang cantik."


•••••••


Sore pulang bekerja, Ken mampir ke panti asuhan. Ia membawa separuh uang gajiannya untuk diberikan pada nyonya Hanami.


"Terima masih, Ken. Tapi bagaimana denganmu? Apa sisa uang gajimu cukup untuk kebutuhan sehari-harimu?" nyonya Hanami sebenarnya merasa berat menerima sumbangan dari Ken.


Sudah beberapa kali ini, Ken menyumbang uang kepadanya untuk keperluan anak-anak panti.


"Tidak apa nyonya. Kebetulan aku mendapat uang bonus. Jadi masih ada cukup sisa untuk keperluan harianku."


Nyonya Hanami menuangkan teh hijau ke dalam cangkir Ken.


"Ohya, apa Suya masih sering datang kemari?"


"Ya. Dia cukup sering datang untuk bermain bersama anak-anak di sini. Em,, Apa kau mempunyai rencana untuk memberitahu dia tentang semua kebenarannya?"


Ken menggeleng pelan, "Aku tidak berhak mendapatkan kebahagiaan darinya."


"Kenapa? Jika dia tahu kau ayahnya, bukankah dia akan senang?"


"Aku berharap begitu. Tapi sepertinya, itu tidak mungkin. Dia bisa saja merasa kecewa saat mengetahui semuanya. Apalagi jika dia tahu bahwa aku seorang mantan pembunuh. Dia pasti akan merasa malu."


Nyonya Hanami menepuk-nepuk pundak Kenzhi. Seperti biasanya, obrolan mereka seputar kegiatan Suya.


••••


TRAK


TRAK


TRAK


Sore itu, terdengar suara kayu sedang dipukul-pukul. Rupanya itu Ken. Pada hari liburnya ini, ia gunakan untuk memperbaiki pintu pagar rumah yang sebelumnya ambruk dan rusak.


"Akhirnya selesai juga," kata Ken yang bekerja sendirian dari pagi.


"Kau membenahi rumah ini sendiri?" tanya tetangga yang pernah membawanya untuk makan di rumahnya.


"Eh? Iya, bibi."


"Aih, seandainya istrimu masih hidup."


Ken hanya tersenyum dan menunduk.


"Ngomong-ngomong, apa kau tidak ingin mencari teman hidup lagi?"


"Ahahaha. Soal itu, aku tidak bisa memastikannya," jawabnya sambil tertawa.


"Heeyy. Kau masih tampak segar untuk memiliki istri dan keturunan. Jadi apa salahnya?"


"Iya, bibi. Akan aku pikirkan itu."


"Ya. Sebaiknya begitu."


Wanita tetangga Ken itu pun pergi sambil menyayangkan kesendirian Kenzhi.


Ken menatap kepergian bibi tetangganya itu sambil duduk di teras rumah. Ia menuangkan air minum dingin ke dalam gelasnya dan menikmatinya segera.


GLEK GLEK GLEK


"Ah, segarnya..."


Pada saat seperti itu, ada sebuah pesan masuk. Takeda mengiriminya pesan untuk tidak melupakan acara pernikahannya besok malam.


"Iya baiklah. Aku akan datang."


Ken meletakkan kembali ponselnya dan merebahkan tubuhnya ke belakang dengan kedua tangannya ia jadikan bantalan kepala.


KRIEEETTT


Tiba-tiba terdengar suara pintu gerbang dibuka seseorang. Seketika muncullah seseorang dari sana.



Linzhi datang dengan heran. Sejak kapan pintu itu kembali terpasang? Begitu dilihatnya Ken sedang beristirahat di teras rumah, ia pun segera datang menghampiri.


"Kau memperbaiki pintu itu sendiri?"


"Ya. Ada urusan apa kau kemari?" Ken masih pada posisinya yang tiduran.


"Apa seperti itu ucapan yang benar untuk seseorang yang sedang mengandung bayimu?" kata Linzhi.


Ken bangkit dan duduk kembali, "Apa kau meminta hak istimewa?"


"Bukankah sudah sewajarnya?"


Ken berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya yang dipenuhi serutan kayu. Kemudian ia berjalan masuk ke dalam rumah sambil membawa gelas dan tekonya.


"Apa kau tidak ingin mempunyai teman yang menemanimu di sini?" Linzhi mengikuti langkah Ken.


"Tidak."


"Jika kau memintaku tinggal di sini, aku akan dengan senang hati menerimanya," Linzhi berharap.


"Tidak. Aku tidak ingin kau tinggal di sini."


"Kenapa? Apa kau takut akan bercinta denganku lagi?"


"Ya."


"Tapi, Ken. Kau seorang pria dewasa. Bukankah sesekali kau akan menginginkan hal seperti itu?"


"Tidak. Aku tidak menginginkannya," Ken meletakkan gelas dan teko yang ia bawa ke atas meja makan.


SRET


Linzhi menahan tangan Ken.


"Ada apa?"


"Dulu, kau sangat menyukaiku. Kau bahkan tergila-gila padaku, bukan? Aku ingat setiap kali kita berdua melakukannya. Kau selalu menginginkannya lagi. Lagi dan lagi."


"Lalu kenapa?"


"Jadilah pria yang seperti itu lagi, Ken. Kita bisa bahagia bersama seperti saat kau datang ke rumahku," ucap Linzhi mencoba meminta pada Ken.


Beberapa menit lamanya, Ken diam dan berdiri menyamping. Ia merasa bahwa sekarang, bukan dirinya yang tergila-gila pada Linzhi. Melainkan Linzhi yang tergila-gila padanya.


"Jadi, apa yang sekarang kau inginkan?" Ken berbalik dan menatap mata Linzhi.


"Aku...."


"Apa kau ingin bercinta denganku?" sambil mengucapkan itu, Ken melepas kaosnya begitu saja dan melangkah ke depan memojokkan Linzhi.


GLEK


Linzhi menatap dada Ken. Memang benar, ia selalu menginginkan pria yang ada di hadapannya. Merasakan dan memilikinya secara utuh.


Namun, tatapan apa itu?


Ia melihat tatapan berbeda dari mata Kenzhi. Tatapan itu... sangat tajam. Seakan menusuk jantungnya begitu dalam. Dan itu... membuatnya takut.


Belum siap dengan situasi apapun, tiba-tiba saja Ken menarik kepalanya dan menyesap bibirnya dengan kasar.


"Hmmmpppphh!!" suara Linzhi terkunci oleh bibir Ken.


Tidak seperti biasanya, saat itu Ken justru memperlakukannya dengan menakutkan. Meski tangannya meronta untuk melepaskan diri, namun Ken sangat kuat.


Walaupun Linzhi mencoba merilekskan diri dan menikmati apa yang Ken lakukan saat itu, namun pada kenyataannya ia tidak bisa.


Sentuhan Ken terasa sangat berbeda. Ada apa dengannya?? Apa seperti itukah sisi lain dari dirinya?


Semakin dirasakan, ciuman Ken semakin ganas. Pria itu menyesap bibirnya kuat-kuat sambil mendorong tubuhnya sehingga berpindah dari tempat satu ke tempat lain.


Sesekali mereka menubruk kursi, meja ataupun dinding tangga.


Dan beberapa detik kemudian, Ken pun melepaskan pagutannya. Matanya lurus menatap Linzhi dengan tangan kanan yang masih memegangi rahang wanita itu.


"Bagaimana?"


"K kau menakutkan, Ken..." jawabnya tersengal.


"Jika kau sudah tahu, maka jangan meminta sesuatu yang lebih dari apa yang aku beri," Ken menekan jari-jarinya yang ada di pipi Linzhi sedikit lebih kuat.


Linzhi mengangguk pelan seraya menelan ludah.


"Ohya. Apa katamu tadi? Masa lalu?" Ken tersenyum miring.


"Hubungan kita sudah lama berakhir. Kau ingat itu?" lanjutnya.


Linzhi mengangguk cepat.


BERSAMBUNG......