
Hai readers ,,π€
Sudah baca sampai berapa episode nih?
Semoga,, cerita kehidupan Kenzhi ini tidak bikin bosan kalian. Juga, alur yang ku buat mudah dimengerti,,,
Klik gambarππ» likenya dan jangan lupa dukung terus karyaku..
...Terima kasih banyak buat kalian yang sudah mlipir kemari,,, jangan bosan bosan ya,,,ππ...
...β€οΈ...Love You...β€οΈ...
...----------------...
EPISODE 101
Dedaunan kering berterbangan mengikuti tarian dari angin. Di halaman depan rumah itu, Ken duduk melamun sendirian. Ia ingat saat pertama kali datang ke rumah tersebut dan mendapat keusilan dari Suzy.
Meski langit malam tidak menampakkan mendungnya, namun cuaca yang dingin itu membuat Ken justru merasakan gerah.
Saat Ichigo datang ke rumahnya untuk menjemput dirinya, Ken belum siap apa-apa. Bahkan ia masih bersantai dengan kaos putih tanpa lengan yang dipadukan dengan celana baggy berwarna coklat.
"Psstt! Kau sedang apa? Mengapa belum berganti baju??" Ichigo menghentikan laju motornya dan menghampiri Ken.
"Bukankah kita ke pesta jam sembilan nanti? Mengapa sekarang kau sudah menjemputku?" tanya Ken heran.
"Sebenarnya...."
"Kau mau minum dulu?" Ken tidak menanggapi apa yang hendak Ichigo katakan.
Pria yang bernama Ichigo itu mengangguk cepat. Baru kali ini ia melihat Ken membuka bajunya. Dan baru kali ini pula ia melihat tato di sebagian tubuh kawannya.
"Baiklah, tunggu sebentar," Ken berdiri dan masuk ke dalam.
Beberapa kali, Ichigo menoleh ke pintu gerbang. Sebenarnya, ada seseorang yang berdiri di luar sana. Dan orang itu datang pula bersama Ichigo.
Begitu keluar membawa dua botol bir dengan dua gelasnya pula, Ken merasa ada yang tidak beres dengan kawannya itu.
"Ada apa? Sepertinya kau sedang gelisah?" tanya Ken.
"Pssstt!! Sebenarnya, di depan.... itu..." Ichigo berbisik di telinga Ken dengan gugup.
"Ahh! Kau mau bicara apa sih? Katakan dengan jelas," Ken merasa kawannya itu hanya membuat telinganya geli.
PLAK
Ichigo memukul lengan Ken, "Kau ini! Aku berusaha bicara dengan berbisik!!
"Lalu mengapa? Kau aneh sekali?" Ken menuang bir ke dalam gelasnya.
"Y y-u-n-a!"
Ken menoleh mengitari halaman rumahnya. Ia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikannya dari kejauhan.
"Jangan katakan kau datang kemari bersama Yuna?" Ken menebak asal.
"Nah!!" Ichigo menjentikkan jarinya.
DEG
Ia tahu ada yang tidak beres sejak awal. Rupanya Ichigo datang bersama Yuna ke rumahnya.
Belum sempat mengatakan alasan mengapa ia datang bersama Yuna, wanita itu tiba-tiba saja muncul dan berjalan mendekati keduanya.
"Apa kehadiranku membuatmu terkejut?" Yuna berjalan santai ke arah Ken.
"Kau memaksa untuk ikut bersamanya?" Ken bertanya balik.
"Ya. Aku yang meminta dia untuk mengajakku serta," Yuna tersenyum. Sebab, berkat itu ia dapat mengetahui alamat rumah Ken.
"Baiklah. Semua ini sudah terlanjur."
"Kami berdua akan pergi ke pernikahan Takeda. Apa kau juga akan datang?" tanya Ichigo.
"Yah. Aku ikut," jawab Yuna sambil meraih gelas yang sedang digunakan Ken untuk minum lalu duduk di sebelahnya tanpa risih.
Ichigo yang sejak tadi menahan kencing itu semakin tidak tahan dengan hasrat ingin vivisnya begitu melihat sikap Yuna yang sembarangan, dengan cepat ia pun bertanya di mana toiletnya, "Ngomong-ngomong, di mana toiletnya?"
"Di sana."
Sambil setengah berlari, Ichigo meninggalkan Ken dan Yuna di halaman. Begitu Ichigo pergi, Yuna mengomentari tato yang ia lihat.
"Rupanya kau mempunyai banyak gambar di tubuh," kata Yuna.
"Hmm. Kenapa kau kemari?"
"Ingin saja."
"Ingin saja?" Ken bertanya. "Kau pasti sengaja mencariku."
Yuna menatap wajah Ken.
"Ada apa? Apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Ken membalas tatapan Yuna.
"Kau. Sangat menggemaskan dengan pemandangan seperti itu," jawab Yuna sedikit berbisik.
Ken tertawa geli mendengar kata menggemaskan yang diucapkan Yuna.
"Apa menurutmu aku seperti bayi? Mengapa bisa menggemaskan?"
"Yah. Bagiku kau seperti itu. Menggemaskan! Emm, apa kemarin kau bisa tidur?"
"Ya. Aku tidur seperti biasanya. Kau sendiri?"
"Usai bercinta denganmu kemarin, badanku terasa sakit semua. Apa kau selalu kuat dan tahan lama seperti itu?"
Ken mendelik. Ia tidak menyangka Yuna akan membicarakan hal itu dengan santai. Maka dengan cepat ia menutup mulut Yuna dengan tangan kanannya.
HUP!
"Tidak bisakah kau sedikit memelankan suaramu?"
"Mengapa?"
"Ichigo ada di dalam. Bagaimana kalau dia mendengar ucapanmu?"
"Apa kau takut?"
"Tidak. Hanya saja itu sedikit memalukan untuk dibicarakan di depan orang lain," Ken menyingkirkan tangan yang menutup mulut Yuna kemudian meraih gelas minumannya.
Benar saja. Apa yang dikhawatirkan Ken pun terjadi. Sebenarnya Ichigo sedang berjalan keluar saat Yuna mengatakan soal aktivitas mereka kemarin malam itu.
Mendengar berita yang amat penting seperti itu, Ichigo segera menyembunyikan diri di balik tembok dan terus mendengarkan pembicaraan keduanya.
"Whoaah? Benarkah Ken melakukannya? Menakjubkan,,, siapa yang akan menyangka?""
"Benar juga. Lagipula, aku juga baru melihat tato di tubuhnya. Orang seperti apa dia sebenarnya?"
Pikir Ichigo dalam hati.
Maka, ia menghampiri keduanya dengan berpura-pura tidak pernah mendengar pembicaraan diantara mereka.
"Apa kita akan berangkat sekarang?" tanyanya begitu keluar.
"Baiklah. Kalau begitu, aku ganti baju dulu."
Ken pergi ke dalam untuk mengganti pakaiannya. Maka, tinggallah Yuna bersama Ichigo. Pada saat suasana hening, tampaklah kekakuan diantara keduanya.
Beberapa kali Ichigo melirik pada Yuna. Ia terus berpikir. Bagaiman bisa gadis kasar itu, bisa luluh di tangan kawannya? Bahkan keduanya telah bercinta? Kapan itu terjadi?
"Apakah saat mereka bertemu di klub malam?" Ichigo bergumam dalam hati sambil sesekali melirik Yuna.
"Hey! Apa yang kau lihat!" tanya Yuna menyadari bahwa Ichigo terus meliriknya.
"T tidak ada."
Suasana hening. Hanya terdengar suara Yuna yang menggigiti kukunya.
GLEK
Ichigo jadi salah tingkah. Mengapa Yuna bisa membaca pikirannya? Padahal, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyembunyikan kebenaran itu.
"Aah. Jadi kau mendengarnya?" Yuna menatap tajam Ichigo.
WUZZZZ...
TAP!
Tiba-tiba sebuah kunai melayang di dekat kepala Ichigo dan menancap di tiang kayu yang persis ada di sebelahnya.
Kunai itu rupanya berhasil menggores leher Ichigo hingga mengeluarkan darah.
"Telan semua yang kau dengar. Aku tidak mau ada orang lain yang tahu soal itu," Yuna meraih kunainya dan bicara sambil menatap tajam Ichigo.
Saat itu juga Ichigo mengangguk cepat. Ia tidak ingin membuat masalah dengan gadis aneh seperti Yuna.
"Aku sudah siap."
"Cepat sekali?"
"Ya. Apa kita pergi sekarang?" tanya Ken.
"A ayo," Ichigo berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia mengusap darah yang ada pada lehernya dengan sapu tangan yang kebetulan ada di sakunya.
Ken masuk sebentar ke dalam rumah untuk mengambil tasnya kemudian keluar dan mengunci pintu. Begitu ia kembali menyalakan motornya, dengan percaya diri Yuna naik ke boncengannya.
"Sedang apa kau di situ?"
"Aku? Tentu saja ikut denganmu."
"Tidak bisakah kau membonceng Ichigo?"
"Tidak. Aku mau denganmu saja," jawab Yuna seraya memeluk erat perut Ken.
Karena pelukan itu terlalu kencang, Ken sampai sesak nafas.
HEMMPPHH!!
"Uhuk Uhuk! B bisakah kau lepaskan tanganmu? K kau membuatku sulit bernafas."
"Eh? M maaf," Yuna tertawa cekikikan.
"Ngomong-ngomong, Kapan kita berangkat?" Ichigo menyela ragu.
"I iya. Kita berangkat sekarang."
Karena sudah jam sembilan lewat dua belas, mereka pun segera berangkat ke tempat pesta pernikahan Takeda.
β’β’β’β’β’β’β’
Suara musik dansa mengiringi pesta Takeda yang cukup meriah. Beberapa tamu ikut berdansa dan beberapa lainnya tetap di meja perjamuan.
Ketika Takeda melihat kawan-kawannya, ia pun menghampiri mereka bersama Sodou.
"Ini dia pengantin kita!" seru Kurosaki.
"Jangan lupa makan, nikmati apapun yang kalian mau," ucap Takeda dengan ekspresi bahagianya.
"Benar. Silahkan nikmati hidangannya. Jangan sungkan-sungkan," Sodou menimpali.
"Ya. Pastinya. Jangan khawatir, haha," jawab Ichigo dan Kurosaki.
"Selamat untuk pernikahan kalian. Semoga langgeng sampai kakek nenek," Ken mengucapkan selamat pada istri Takeda.
"Ah,, terima kasih banyak. Apa kau yang bernama Kenzhi?"
"Ya, itu aku," Ken tertawa ramah.
"Kau tampak cantik sekali, nona. Takeda beruntung sekali mendapatkan istri sepertimu," kata Yuna menyela.
"Hey? Apa itu Yuna?" tanya Takeda tak percaya.
"Ya. Kenapa?"
"Kau sudah bertemu ayahmu?"
"Tidak. Aku tidak ingin bertemu dengannya," jawab Yuna begitu saja.
Ken berdehem pelan sehingga Yuna pun menoleh kepadanya. Melihat Ken menatapnya tajam, ia pun teringat soal pembicaraan mereka waktu itu mengenai ayahnya. Sehingga ia pun segera memperbaiki kata-katanya.
"Em, aku akan menemuinya nanti. Yah.. Aku rasa seperti itu," Yuna mengulangi ucapannya dengan lebih berhati-hati seraya menoleh pada Ken.
Gara-gara itu, semuanya menatap Ken dengan penuh pertanyaan. Apa yang sudah dia lakukan pada Yuna sehingga wanita muda itu tampak seperti menuruti perintahnya?
Setelah mengikuti beberapa kali pemotretan Ken berpamitan pulang dan pergi dengan menyelinap.
"Ah, melelahkan sekali," gumamnya ketika menyalakan motor.
"Aku juga lelah. Tolong bawa aku pulang, ya," ucap seseorang yang tiba-tiba saja memboncengnya.
"Hay, siapa kau,-"
Ken melihat Yuna yang meringis di belakangnya, "Ayo jalan."
"Kenapa kau di sini? Cepat turun."
"Tidak mau."
"Bukankah tadi kau mengatakan akan menemui ayahmu?"
"Iya, itu hanya aku ucapkan begitu saja. Aku bisa menemuinya kapanpun aku mau, kan?"
"Jadi kau berbohong?"
"Tidak juga."
"Lalu??"
"Sudahlah. Ayo jalan dulu."
Akhirnya, Ken menuruti permintaan Yuna. Di tengah jalan, Yuna meminta Ken untuk berhenti. Ia duduk di tepi jembatan sambil memandangi gemerlapnya lampu kota.
"Ibuku, tiada saat melahirkan aku dulu," ucap Yuna.
Di sebelahnya, Ken mendengarkan dengan baik. Ia sekarang mengerti kenapa sifat Yuna sedikit keras.
"Aku tidak sedikitpun tahu seperti apa sosoknya. Bahkan ayahku juga tidak pernah memberitahuku seperti apa wajah ibuku."
"Karena tidak mengenal sosok ibu, aku selalu bekerja keras sendiri. Bahkan, ayahku yang sibuk bekerja melarangku bergaul dengan sembarang orang. Hingga akhirnya aku bertemu Arai di sekolah. Kami pun menjadi dekat dan bersahabat."
"Setiap datang ke rumah, ayahku tidak pernah peduli. Jadi, diam-diam kami mencoba sesuatu yang belum pernah kami lakukan. Lama kelamaan, kami merasa ketagihan. Aku pun jadi tidak betah berada di rumah dan akhirnya memilih untuk ikut Arai menyewa apartemen."
"Lalu, apa kau berniat mengakhirinya?"
"Aku sedang mencoba."
"Pertama-tama, pulanglah ke rumah ayahmu dan berbaikanlah dengannya. Dengan begitu, Arai tidak bisa memaksamu untuk kembali tinggal di apartemennya."
Yuna mengangguk, "Benar. Aku harus melakukannya seperti itu. Tapi, apa ayahku akan menerimaku kembali?"
"Aku rasa iya."
"Jika tidak? Apa kau akan menampungku untuk tinggal di rumahmu?"
"Tidak bisa."
"Kenapa? Kau yang mengusulkan ini bukan?" Yuna ingin memprotes.
"Berusahalah dengan baik untuk meyakinkan ayahmu. Aku yakin dia akan menerimamu kembali. Karena bagaimanapun, kau adalah putrinya."
BERSAMBUNG......