RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
KESAL



EPISODE 29


Ketika sudah berada di rumah Linzhi, Ken berkaca dan melihat kembali wajahnya. Untung saja semua sudah kembali normal. Meski di rumah Suzy ia harus berselimut tepung, tetapi kesedihan hari ini sudah terbayarkan.


Berkat kekonyolan Suzy malam itu, ia mampu melupakan sejenak ucapan ayahnya. Entah mengapa, meski ia selalu mendapat pengalaman menggelikan bersama Suzy, tapi semakin ia tidak dapat melupakan semuanya. Huff,,


Ken berjalan ke ruang tamu. Rupanya, Linzhi belum juga pulang dari pekerjaannya. Sehingga apartemen itu berasa sepi.


Sambil duduk melamun memikirkan pertemuannya dengan ayah dan saudara tirinya malam tadi. Ia membuka telapak tangan kanannya dan memperhatikannya lekat-lekat.


Karena tiba-tiba teringat dengan jelas bagaimana Yoshi mengacuhkan niatan baiknya untuk memberinya selamat, Ken menjadi geram. Lebih-lebih, ayahya juga menghina dirinya sebagai anak yang tidak berguna.


Seketika amarah terkumpul di benaknya. Ia juga mengepalkan telapak tangannya dengan erat karena menahan kepedihan di dalam hati.


Ken melirik jam dinding. Pukul 00.57. Linzhi belum juga pulang. Namun karena Ken tidak mempunyai ponsel, ia tidak dapat menghubungi ataupun menanyakan kabarnya.


Dan akhirnya....


Ken sudah terlelap di sofa ketika Linzhi pulang. Wanita itu pulang dengan keadaan setengah mabuk. Berjalan sempoyongan dengan aroma khas yang menyengat. Ketika melihat Ken tidur di luar, wanita itu menghampirinya.


Linzhi duduk di samping Ken dengan perlahan. Kemudian tangannya bergerak membelai rambut pria yang ketiduran karena menunggunya pulang.


"Ken, apa kau sudah dari tadi tidur di sini?" Sebaiknya pindahlah ke kamar," katanya lirih.


Karena Ken tidak mendengar ucapannya, Linzhi pergi ke kamarnya dan mengambil selimut. Kemudian, diselimutkannya kain tebal yang dibawanya itu untuk menutupi tubuh Ken. Lalu ia sendiri pergi ke kamarnya.


Pukul 07.00 esok harinya,


Ken sudah bersiap pergi ke tempat pemotongan ayam ketika Linzhi keluar dari kamar hanya dengan lingerinya.


"Kau sudah mau pergi?"


"Hmm. Aku pergi dulu, ya. Kalau kau mau sarapan, aku sudah membuatkan roti panggang untukmu," kata Ken mendekati Linzhi dan menyentuh poni wanita itu.


"Baiklah. Selamat bekerja," Linzhi melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Ken.


Tidak lupa, Linzhi juga mengecup bibir Ken sebagai salam pembuka di pagi hari.


•••••••••


Beberapa bulan bekerja di restoran ayam Suzy, Ken mendapat penggemarnya sendiri. Sebagian besar justru para nenek atau wanita tua yang menganggap Ken sebagai calon cucu menantu mereka. Bahkan beberapa diantara mereka terang-terangan membawa cucu dan anak-anak mereka untuk dipertemukan dengan Ken.


"Nah, kemarilah nak. Duduklah sebentar di sini. Aku mau memperkenalkan seseorang padamu," seorang pelanggan tua dengan senang hati menarik tangan Ken agar duduk di sampingnya.


"Eh? I Iya, nenek," Ken merasa kikuk.


"Lihat, Moni. Dia pemuda yang nenek ceritakan padamu. Bagaimana pendapatmu? Dia tampan, bukan?" nenek itu tersenyum sumringah.


Cucu yang datang bersamanya itu pun tersenyum memperhatikan Ken. Dengan malu-malu ia memperkenalkan diri di hadapan Ken.


"Senang bertemu denganmu. Apa aku boleh tahu siapa namamu?" tanya Moni.


"Aku?"


Moni mengangguk bersemangat.


"Aku,,, Ken-," ucap Ken terhenti saat Suzy sengaja menyela obrolan mereka karena cemburu.


Kebetulan, ada tukang galon datang. Maka, Suzy membawa galon air tersebut dan melimpahkannya pada Ken. Ia berlagak tidak kuat mengangkatnya di depan mereka.


"Huff, Ken. Tolong bawa ini ke dapur," katanya.


Ken menoleh, "Eh? Iya baiklah."


Melihat Suzy keberatan membawa galon, Ken langsung mengambil alih galon air tersebut. Dan membawanya ke dapur. Upaya Suzy menyingkirkan Ken dari pelanggan yang datang untuk menggoda pun berhasil.


Hari berikutnya dan berikutnya lagi, restoran mereka menjadi semakin sering mendapat tamu semacam itu. Selain wanita-wanita tua yang ingin menjodohkan cucunya, sekarang datang pula para gadis remaja yang berkerumun berlama-lama di restoran hanya untuk melakukan pendekatan pada Ken.


Gorou dan Daisuki pun sampai kewalahan menghadapi pelanggan yang duduk berlama-lama hanya untuk bertemu Ken. Hingga akhirnya, beberapa kali Suzy mematahkan pertemuan di antara mereka.


"Ini tidak bisa dibiarkan!" serunya pada suatu waktu.


"Ada apa?" Ken kaget mendengar seruan Suzy.


"Mulai sekarang, kau harus tegas pada mereka. Katakan sejujurnya bahwa kau tidak menginginkan perjodohan di antara mereka," kata Suzy jelas dan lugas.


"Mengapa harus?"


"Apa??"


"Aku baik-baik saja dengan kehadiran mereka. Perjodohan? Jika ada seseorang yang cocok denganku, mengapa tidak?"


Ken memperhatikan Suzy.


"Apa kau sedang cemburu padaku?" katanya.


"Em,, Ti Tidak. Untuk apa aku cemburu," jawabnya gugup.


"Lalu? Kenapa kau nampak sangat kesal dengan semua itu?"


Suzy terjebak dengan pertanyaan yang membuatnya merasa sulit. Dengan kesal ia menendang kaki Ken tepat di bagian tulang keringnya.


DUKK!!


"Huh! Dasar payah!" umpatnya kesal sambil berlalu pergi. Ia tidak menyangka bahwa Ken benar-benar tidak peka dengan perasaannya.


"Ough!!" Ken membungkuk karena kesakitan mendapat tendangan di kakinya.


Dipandanginya Suzy yang pergi dengan kesal. Ken merasa wanita itu sangat aneh sejak ia bekerja di restoran ayam tersebut.


"Ada apa dengannya?"


•••••••


Suatu hari, Ken sedang berjalan-jalan dengan Linzhi ke bioskop untuk menonton film. Berlanjut menghabiskan waktu mereka di taman hiburan ski. Di tempat itu, tanpa sengaja mereka bertemu dengan Yoshi. Rupanya keberadaan Yoshi di sana sebagai seorang atasan yang melakukan kunjungan kerja.


Pada waktu Linzhi sedang mengambil sepatu bermainnya, Yoshi menghampiri dan menghina harga diri Ken lagi.


"Rupanya mantan napi sedang bersenang-senang dengan seorang wanita dari panti pijat. Yah, setelah lelah bermain di sini, kau pasti membutuhkan pijatan erotis dari wanita sepertinya," katanya.


Ken berdiri tenang menatap Yoshi.


"Itu bukan urusanmu," jawabnya tegas.


"Hahaha. Benar sekali. Itu memang bukan urusanku. Tapi asal kau tahu, aku bisa saja memanggilnya secara pribadi untuk datang memberiku sebuah pijatan istimewa," kata Yoshi tidak main-main.


"Diam kau. Jangan pernah berpikir untuk mengganggu wanitaku. Sekali kau macam-macam dengannya, aku tidak akan tinggal diam."


"Kita lihat saja nanti, dia pasti akan memilihku," Yoshi benar-benar percaya diri.


Tepat setelah pembicaraan mereka selesai, Linzhi datang dan melihat Ken sedang berbicara dengan Yoshi. Ia pun berdiri beberapa meter di belakang Ken menunggu pembicaraan keduanya benar-benar selesai.


"Rupanya sampah tetaplah sampah. Ibu dan anak akhirnya sama saja. Sama-sama rendah. Yang kalian pikirkan hanya nafsu birahi," kata Yoshi sambil melangkah pergi dengan menyenggol pundak Ken.


Dan pada detik berikutnya, Yoshi yang didampingi dua bodiguard itu berjalan menghampiri Linzhi dan berhenti sejenak menatapnya dengan pandangan merendahkan.


"Dan sampah menjijikkan pun, mempunyai pasangan yang juga berasal dari sampah!"


Linzhi begitu gugup mendapat tatapan tajam seperti itu. Bahkan, meski mendengar ucapan menyakitkan dari Yoshi, perasaannya pun menjadi goyah seketika. Ia merasa, orang yang berkuasa seperti Yoshi itulah yang ia butuhkan.


"Tunggu!" seru Ken.


Merasa sangat kesal, mata Ken yang mulai berkaca-kaca pun menghampiri Yoshi dan meninjunya beberapa kali. Seketika, terjadilah perkelahian di sana. Hingga bodyguard Yoshi menangkap kedua tangan Ken kuat-kuat.


"Sudah ku bilang. Jangan pernah membawa-bawa ibuku dalam kasus apapun!" Ken sangat marah dan hampir meneteskan air matanya.


"Cihh! Dasar sampah menjijikkan. Sampai kapanpun, aku akan terus membawa nama gundik yang menggoda ayahku, karena dialah yang memulai. Sebentar lagi akan ku singkirkankan pula kalian berdua dari daftar keluargaku. Meski sebelumnya kau mendapat sedikit tempat, kau tidak akan berhasil menang dariku!!" kata Yoshi sambil meludahi wajah Ken.


Begitu selesai dengan ucapannya, Yoshi tiba-tiba saja meninju perut Ken dengan kencang. Bahkan saudara tiri Ken itu beberapa kali menendang bagian anu Ken dengan penuh kebencian.


"Rasakan ini!!


"Rasakan ini!!"


"Rasakan ini!!"


Aiih. Ken benar-benar hanya bisa merasakan tinju dan tendangan kaki Yoshi. Tentu saja Ken tidak bisa melawan sebab dua bodyguard Yoshi memegangi tangannya dengan erat di kanan dan kirinya.


Begitu selesai dengan urusannya, Yoshi pergi meninggalkan tempat itu tanpa bertele-tele. Meski beberapa pengunjung berkerumun, Yoshi dengan santai melewati mereka.


.


.


.


.


Bersambung ke Episode 30