RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
BOCAH NAKAL



EPISODE 7


Pagi itu Ken bangun dengan malas. Ia menyingkirkan selimutnya dan berjalan ke depan cermin. Lihat. Wajahnya tampak kacau. Dipenuhi lebam di area pipi dan luka kecil di bibir kirinya. Ia mengingat kembali kejadian semalam. Dan apa juga yang dilakukan ayahnya kepadanya.


Beberapa menit kemudian, ia sudah tampak bersih saat keluar dari kamar mandi meski bekas tamparan ayahnya masih terlihat jelas.


Hari ini ia tidak sekolah. Karena masa skors baru dimulai. Tentu saja itu tidak menjadi masalah untuknya. Ia sudah terbiasa tidak masuk kelas meski dari rumah ia berangkat sekolah.


Hari ini pula, ia keluar rumah untuk mencari ketenangan di tempat lain. Sampai siang hari ia berjalan-jalan mencari udara segar, ia berhenti di depan toserba.


Entah mengapa, tiba-tiba saja terpikir suatu barang yang ingin ia beli. Kemudian, ia pun masuk ke dalam toko tersebut dan membeli barang yang ia inginkan.


Yaitu Rokok!


Pemilik toserba itu adalah keluarga Suzy. Dan karena kakak Suzy yang bernama Akiyama mengenalnya, maka Ken dapat membeli rokok dengan mudah. Kebetulan lagi, mereka adalah teman satu SMP.


Pada pertemuan pertama itu, Akiyama sebenarnya terkejut melihat Ken ada di tokonya. Sebab, karena dirinyalah Ken dulu masuk penjara.


"Hey, Ken? Apa kabar?"


"Aaah,, Akiyama??" Ken menunjuk Akiyama sambil berpikir sejenak karena sedikit lupa pada nama temannya.


"Ya. Ini aku. Bagaimana bisa kau lupa padaku? Aku yang waktu itu-" kata Akiyama terhenti karena disela oleh Ken.


"Aah. Aku ingat. Karena kau dan temanmu itu aku bisa merasakan hotel terindah di dunia," Ken memutar-mutar bungkus rokok yang baru saja ia terima.


"Maaf, ya. Tapi asal kau tahu, Hiro langsung takut padamu sejak itu. Perutnya yang terluka pun sebenarnya cepat sembuh. Tapi entah mengapa, hukuman delapan bulanmu sama sekali tidak berkurang," kata Akiyama mengenang masa itu.


Ken terkekeh. "Jadi, sekarang kau melanjutkan sekolah di mana? Apa kalian masih suka membully orang?"


"Aku di Fukui. Hiro juga sekolah di sana. Tidak, kami tidak membully siapapun lagi," jawab Akiyama tersenyum malu.


"Bagus. Jika mau jadi berandal, jadilah berandal yang suka menolong," kata Ken terkekeh.


Ken mengantongi bungkus rokok ke dalam saku celananya. "Apa kau punya pemantik?"


"Oh iya. Sebentar aku ambilkan."


Saat Akiyama mengambil korek api atau pemantik di sebuah etalase, Ken melihat sebuah tanggalan meja. Bukan tanggalan itu yang membuat Ken tertarik. Melainkan foto tiga orang gadis di dalamnya.


Begitu Akiyama kembali membawa sebuah pemantik, Ken bertanya padanya, "Apa mereka bekerja di sini?"


"Siapa?"


Ken menunjuk foto-foto di tanggalan meja tersebut.


"Oooh. Tidak. Mereka teman sekolah adikku. Mereka manis, kan?" kata Akiyama.


"Adikmu? Siapa?"


"Suzy. Ada apa memangnya? Apa kau kenal mereka?" Akiyama penasaran.


"Mereka teman sekelasku."


"Wah?! Yang benar? Rupanya kita memang ditakdirkan untuk bertemu kembali," Akiyama tertawa senang.


"Kau senang?"


"Tentu saja."


Ken tersenyum dengan sebelah bibir yang terangkat, "Sayangnya aku tidak."


"Apa?"


"Aah. Bagaimana jika nanti kita ditakdirkan untuk berkelahi lagi seperti dulu?"


Akiyama terkesima. Jika sekarang ia berkelahi lagi dengan Kenzhi, mungkin luka yang ia dapat akan lebih parah dari yang dulu.


"Tidak mungkin. Aku sudah tidak membully seseorang lagi. Jadi kita berteman baik saja, bagaimana?" Akiyama tersenyum.


Ken meraih bungkus rokok yang ada di dalam saku celana dan mengambil sebuah rokoknya. Ia bahkan menawari Akiyama. Namun Akiyama menolak dengan sopan, karena ada larangan merokok di dalam ruangan toserba.


Ken memahami itu. Ia pun membayar belanjaannya dan berpamitan pergi. Sambil berjalan keluar, Ken melambaikan tangan pada Akiyama.


"Aku akan datang lagi lain waktu," katanya.


"Baiklah. Lain kali akan kutraktir kau minum Sapporo Yebisu¹!" Akiyama membalas lambaian tangan Ken.


"Baiklah. Aku pasti akan datang."


Ken keluar dari toko tanpa memperhatikan arah luar. Sambil menyimpan kembali bungkus rokoknya ke dalam saku celana dan menyalakan rokok tersebut dengan api dari pemantik, ia membuka pintu kaca dengan pelan.


Tanpa sengaja ia melihat sebuah kaleng bir bekas di tengah jalan. Maka dengan santainya ia menendang kaleng tersebut agar masuk ke dalam tong sampah yang ada di seberang.


Tapi sialnya, tiga dara yaitu Suzy, Temi dan Nonaka lewat. Kaleng tersebut melayang dan mengenai kepala Suzy.


BLETAK!


"Auuwwwh.. " Suzy kesakitan.


Sambil mengusap-usap kepalanya, Suzy bertanya dengan garang, "Siapa yang melempar kaleng bekas padaku?!!"


"Itu,,, diaa... " kata Nonaka menunjuk pemuda di depan mereka.


"Hey? Bukankah itu Kenzhi?" suara Temi melengking. "Lihat! Dia sedang merokok!"


Kenzhi terkejut dan terbatuk-batuk saat dilihatnya Susy, Temi dan Nonaka berlari ke arahnya. Karena begitu mengejutkan dirinya, Kenzhi yang merasa bersalah telah melempar kaleng bir bekas hingga mengenai kepala Suzy itu pun melarikan diri.


WUUZZ!


WUUZZ!


WUUUUUZZZ!


Suzy, Temi dan Nonaka terus mengejar. Tapi Nonaka dan Temi merasa kelelahan sehingga mereka memutuskan untuk berhenti mengejar Ken.


Berbeda dengan kedua temannya, Suzy yang perkasa tetap mengejar Ken. Pada sebuah tikungan, tiba-tiba saja Ken menghilang. Suzy menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Ken.


Rupanya Ken berhenti dan bersembunyi di balik sebuah pagar kayu, pintu samping rumah seseorang. Saat bersembunyi, ia mengambil nafas dan menghisap rokoknya sejenak.


Karena Suzy mencium bau asap rokok di sekitarnya, maka ia tersenyum dan mengendap-endap mendekati tempat asal asap tersebut.


"Hey, kau. Kenapa kau kabur?" tanya Suzy sambil menepuk pundak Ken dan menarik bajunya.


"Eee eee ehh,, jangan tarik bajuku," kata Ken.


"Makanya berhenti! Kenapa kau lari saat kami panggil? Apa karena keleng yang kau lempar mengenai kepalaku?" Suzy ngos-ngosan.


"Iya, maaf. Aku tidak sengaja. Salah siapa, kalian terlihat persis seperti penguntit yang ingin menculik pemuda tampan sepertiku. Makanya aku lari," Ken terkekeh.


"Dasar gila. Mana ada yang mau menculik bocah nakal sepertimu?"


"Baiklah. Sekarang lepaskan cengkeramanmu pada bajuku. Jika tidak, aku akan melepas baju di depan matamu seperti waktu itu."


Begitu Suzy melepas cengkeramannya pada baju bagian belakang Ken, Ken langsung melarikan diri lagi sambil tertawa mengejek.


"O'oow,, tangkap aku kalau kau bisa," Ken mulai meledek.


"Apaan sih? Dasar bocah nakal," Suzy sebal tapi juga senang.


Mereka berdua pun berkejar-kejaran kembali tanpa arah, bahkan melewati toserba dan kedua teman mereka.


"Sedang apa sih mereka?" tanya Temi sebal.


"Mereka imut, ya? Romantis sekali," Nonaka justru berpikir lain.


"Apa katamu? Imut?"


Saat Temi melihat pemandangan di depannya itu, seakan waktu tiba-tiba saja berjalan melambat. Sehingga ia mampu melihat gerakan demi gerakan dari Suzy dan Ken.


Ken yang berusaha menghindar itu kini naik ke sebuah tembok berkawat di lapangan. Dari sana ia akan melarikan diri pulang ke rumah. Tapi tanpa ia duga, Suzy berhasil meraih celananya sehingga tanpa sengaja, saku celana Ken tersangkut di kawat tersebut.


"Wow wow woy??! Jangan tarik kakiku," seru Ken.


"Tidak bisa."


"Baiklah. Aku akan berhenti melarikan diri, tapi lepaskan kakiku lebih dulu."


"Kau pasti mau kabur lagi."


"Tidak, aku janji."


"Benarkah?"


"Yaaaa,, huhuhu, Lepaskan tanganmu dari celanaku, nanti celanaku bisa sobek!"


Baru saja Suzy bersedia melepas cengkeramannya pada celana Ken, terdengarlah suara kain sobek.


PREPEETT!!


"Aah. Ce Celanaku??"


"Ups! Maaf,,, " Suzy tertawa simpul.


Celana Ken yang tidak sengaja tersangkut ke kawat besar pada pagar pembatas itu sobek dari bagian saku ke bagian paha -depan sampai lutut.


••••••••


Suzy tak bisa berhenti tertawa saat melihat Ken yang terduduk lesu sambil memeluk lututnya di dekat etalase toko. Ken duduk dengan Trunks² nya menunggu celananya yang sobek dijahit oleh Akiyama.


"Salah siapa kau bertingkah kekanakan?" Suzy berjongkok di dekat Ken sambil menjulurkan lidahnya untuk mengejek.


"Kau,, " Ken merasa kesal dan bergerak seakan mau memukul Suzy.


"Ee eeh?? Masih mau bertingkah? Akiyama tidak akan melanjutkan menjahit celanamu!" Suzy mencondongkan badannya ke belakang. Tapi beberapa menit kemudian saat Ken mulai diam, Suzy memukul paha Ken dengan cepat.


PLAK!


"Aauu.. " suara Ken saat menerima pukulan di pahanya.


"Kau ini.."


Karena Ken tidak mau mengalah, mereka berdua akhirnya beradu tangan. Seperti kucing yang sedang bertengkar. Meong!!


"Wah wah,, ini namanya pemuda berandal yang berhasil dikerjai seorang wanita," kata Akiyama datang membawa minuman dan mengajak Suzy tos tangan.


"Apanya yang dikerjai,, " Ken merengut. "Aku hanya mengalah padanya. Mana mungkin samurai hebat sepertiku bermain kasar pada wanita," katanya beralasan.


"Cih! Kau memang kalah, bukannya mengalah," jawab Suzy.


"Ya. Baiklah. Itu juga karena celanaku tersangkut. Jika tidak, aku pasti bisa lolos darimu," Ken bergumam.


"Sudah, sudah. Mari kita minum," Akiyama menuangkan minuman ke gelas-gelas mereka.


Slurrp..


Karena hari semakin sore, Temi dan Nonaka berpamitan pulang lebih dulu. Selain itu, Akiyama menghentikan jahitannya karena ada pelanggan toko yang datang.


"Suzy, tolong lanjutkan menjahit celana Ken. Kakak mau melayani pembeli sebentar."


Rupanya, pelanggan toko bergantian berdatangan sehingga membuat Akiyama sibuk. Akhirnya, tinggallah Ken bersama Suzy berduaan di ruangan tersebut.


Karena sepi, Ken berani berdiri dan mendekati Suzy. "Cepatlah, aku bisa kedinginan karenamu," kata Ken berbisik.


"Tunggu sebentar. Tapi, aku tidak bisa menjahit sama sekali."


"Apa? Kau anak perempuan, tapi tidak bisa menjahit?"


"Heh. Aku ini bukan tipe gadis yang duduk manis berjam-jam untuk melakukan hal seperti ini," Suzy cemberut.


"Baiklah, baiklah. Sekarang tolong lakukan apapun untuk membuat celanaku kembali lagi setidaknya sampai 70%."


"Iya. Tunggu saja dan diamlah."


Beberapa menit kemudian, Ken benar-benar diam. Ia duduk berdampingan menghadap ke arah Suzy dan sesekali memainkan rambut gadis itu.


"Kau sedang apa sih?"


"Hmm... " jawab Ken mencurigakan.


Suzy menoleh karena Ken agak mencurigakan. Begitu ia menengok ke kanan, jantungnya berdegup kencang seketika.


DEG!


Rupanya Ken sedang menatap Suzy. Sesekali pula tangannya memainkan rambut gadis itu dengan perlahan.


.


.


.


.


.


.


Bersambung di Episode 8.....


...----------------...


¹) Sapporo Yebisu, nama bir yang lumayan mahal di Jepang.


²) Trunks, nama CD/****** ***** pria yang sedikit menutupi paha atas dan memiliki bahan yang mengikuti lekuk tubuh jika dipakai.