RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
KEKACAUAN BESAR



EPISODE 36


Ken menutup restoran dan mengunci pintu-pintunya. Ia berlagak ikut pergi dan mengantar Suzy pulang ke rumahnya.


"Masuklah."


"Hmm. Sampai jumpa besok," kata Suzy.


"Goodnight."


Ken berjalan mundur dan berbalik pergi sambil sesekali menoleh ke belakang. Ketika Suzy menggerakkan tangan "Dadah" padanya. Ken membalasnya dengan malu-malu.


Nah. Akhirnya ia bisa kembali ke restoran dengan aman. Beberapa jam yang lalu, mereka berdua berlatih untuk lomba memasak yang diadakan dua hari yang akan datang. Suzy begitu bersemangat hingga lupa waktu. Tahu-tahu, jam dinding sudah menunjuk angka 23 malam.


Ken yang ingin membawa pulang hadiah lomba, belajar lebih keras dari Suzy. Ia menempatkan harapannya pada hadiah perlombaan yang akan ia gunakan untuk membuka restorannya sendiri.


Maka, pulang mengantar Suzy, Ken kembali berlatih membuat mie. Entah itu mie gandum, mie terigu dengan telur atau tidak menggunakan telur. Bahkan ia mencoba membuat mie kering dan menyimpannya untuk ia olah pada keesokan harinya.


"Hufff,, akhirnya istirahat juga,," Ken duduk di lantai bawah sambil meletakkan nampan berisi semangkuk udon lezat.


Ia membuat mie udon untuk makan malamnya. Mie yang berwarna coklat dan bertekstur besar itu tidak menggunakan telur. Dengan toping jamur dan sawi hijau yang setengah matang, ia menyantap makan malamnya tersebut dengan amat berselera.


"Aaaaahh... nikmatnya," Ken menengadahkan kepalanya sambil membuang uap panas dari mulutnya.


Tring Tring...


Sebuah pesan masuk ke ponselnya.


Suzy : "Apa kau sudah tidur? Semangat untuk hari Kamis! Kita pasti akan memenangkan hadiahnya!!"πŸ’ͺ🏻


Ken meraih ponsel dengan tangan kirinya. Sedang tangan kanannya memegang sumpit dan terus melahap makanannya. Sambil tetap mengunyah, ia tersenyum membaca pesan Suzy tersebut.


Kenzhi : " Semangat! Semangat! Semangat!"πŸ˜ƒ


Balas Ken.


Begitu selesai dengan latihan dan makannya, Ken mengumpulkan semua sampah ke dalam plastik hitam dan membawanya keluar.


KRANG!


Suara plastik sampah yang ia masukkan ke dalam tong besar. Begitu ia hendak kembali ke dalam restoran, sebuah mobil yang lewat di depan restorannya membuatnya berhenti melangkah dan menatapnya lama.


Ada apa?


Rupanya itu mobil Yoshi. Di dalamnya juga terdapat Linzhi yang bersandar manja pada lengan Yoshi. Dari garis pandangan mata mereka yang bertemu, Ken sempat bertatapan cukup lama dengan Linzhi.


Meski sudah putus, jantung Ken masih menyisakan rasa sakit ketika dilihatnya wanita yang pernah membuatnya bertekuk lutut pada cintanya, kini menjadi milik orang lain.


Namun siapa sangka? Wanita itu justru membuang muka dengan cepat dan mengobrol mesra dengan Yoshi.


Ken kembali ke dalam restoran dan membersihkan kekacauan. Setelah mencuci alat makannya, kemudian mengelap dan mengepel bagian yang kotor, Ken akhirnya merebahkan tubuhnya itu ke atas meja besar yang ada di ruang tengah dapur. Meja yang biasa mereka gunakan untuk makan siang bersama.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Sehari sebelum lomba, restoran ayam Suzy mendapat tamu pelanggan yang mengejutkan. Mereka adalah Linzhi dan Yoshi.


Puih!


Untuk apa mereka ke sana? Apakah untuk membuat hati Ken panas?


Ah! Entahlah. Semoga saja Ken tidak terpancing emosi.


"Menu spesial apa yang kalian rekomendasikan untuk kami?" tanya Yoshi.


"Hmm. Karena bulan ini kami sedang mengadakan promosi untuk hidangan baru, bagaimana kalau anda mencicipi hidangan baru kami ini?" tanya Suri yang melayani mereka.


"Sepertinya menarik. Baiklah. Bawakan kami makanan paling enak apa saja yang kalian punya," kata Yoshi lagi.


"Baik."


Sebenarnya, semalam Yoshi melihat Ken juga. Bahkan ia melihat dengan jelas jika semalam, Ken tengah mengenakan baju koki restoran. Sebagai saudara tiri yang tidak pernah merasa puas akan penderitaan saudaranya itu, Yoshi datang untuk membuat gara-gara.


Hidangan ramen spesial beserta makanan pendamping lainnya sudah dibawa ke meja mereka. Suzy meminta Gorou dan Daisuki melayani dengan baik.


"Siapa yang membuat hidangan ramen ini? Apa kalian bercanda? Kalian membuatnya terlalu pedas! Apa kalian mau membunuh orang?!" seru Yoshi tiba-tiba sambil menggebrak meja.


Pelanggan lain yang memesan hidangan yang sama langsung mencicipi makanan mereka. Namun mereka tidak merasakan seperti yang dikatakan pelanggan arogan tersebut.


"Maaf tuan, kami yakin telah membuat makanan seperti keinginanmu," jawab Daisuki sopan.


"Persetan! Cepat suruh kemari koki kalian!"


Saat itu, Ken sedang membuat pesanan ayam untuk pelanggan di meja lain, mendengar suara ribut-ribut di luar, ia segera bergegas keluar.


"Ada apa?" tanyanya pada Suzy.


"Seorang tamu memintamu agar menemuinya. Sepertinya ada masalah besar," jawab Suzy khawatir.


"Baiklah. Tolong lanjutkan pesanan meja lima. Aku akan mencoba membuatnya tenang," Ken melepas topi kokinya dan meletakkannya di meja dapur.


Ia berjalan keluar dan menemui pelanggannya dengan sopan. Betapa terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa orang yang berteriak-teriak mencarinya itu adalah Yoshi.


"Ooh. Jadi kau yang membuat semua masakan ini?!" Yoshi berkata keras.


"Maaf tuan, apa ada yang bisa aku lakukan untukmu?' Ken mencoba tetap ramah dan sopan hanya karena ia berusaha menjaga etika kepada pelanggan.


"Lihat. Pantas saja, makanan yang masuk ke dalam mulutku sulit sekali aku telan. Rupanya koki yang memasak di sini adalah seorang pembunuh!"


DEG!


"A apa maksud tuan? Jika ada masakan yang membuat anda tidak puas, maka kami akan segera menggantinya," Ken berusaha menghadapi situasi itu dengan tenang.


Akan tetapi,


"Hei! Jangan asal bicara, kau tuan! Apa buktinya jika koki kami itu seorang pembunuh??" seru Gorou membela Ken.


Linzhi memperhatikan Ken yang diam mematung dengan kepalan tangan yang mulai erat. Ia sedikit merasa tidak enak.


"Kalian ingat kasus pembunuhan di perumahan sekitar taman Ueno delapan belas tahun yang lalu? Dialah pelakunya!!"


Semua orang berpandang-pandangan. Kemudian saling mengutarakan pendapatnya mengenai pembunuhan di kala itu.


"Aku ingat, bukankah itu pembunuhan yang terjadi di rumah pemilik restoran ini?"


"Benar, aku juga ingat. Tapi benarkah dia pelakunya?"


Orang ramai-ramai bertanya pada Yoshi. Kemudian seseorang yang sedari tadi hanya duduk sambil menikmati katsu karinya mengacungkan tangannya yang memegangi ponsel.


"Berhenti!" serunya.


Semua orang menoleh padanya.


"Setelah mencari-cari berita itu kembali, aku menemukan foto pelakunya," seru seorang pemuda dengan lantang.


Yoshi merasa senang. Orang suruhannya benar-benar pintar mengambil kesempatan. Semua orang yang menonton berita di ponsel pemuda itu pun merasa ditipu mentah-mentah oleh restoran ayam Suzy.


Akhirnya, semua yang ada di restoran itu pun merasa tidak sudi lagi melihat maupun menyantap makanan yang dimasak oleh koki yang berstatus mantan pembunuh.


"Waah! Ini tidak benar! Pecat saja dia! Jangan biarkan seorang pembunuh memasak untuk kita para pelanggan!!" seru seseorang.


"Benar!! Kami tidak mau makanan yang masuk ke dalam tubuh kami disentuh seorang pendosa!!"


"Pecat dia!!"


"Usir dia! Atau kami akan memblokade restoran kalian!!"


"Usir pembunuh segeraa!!"


Teriakan demi teriakan, meminta Ken dipecat dan diusir. Semuanya tidak ada yang ingin mendinginkan masalah itu.


Tidak ada yang mengira,, mereka semua bertindak brutal dengan melempari tubuh Ken dengan makanan pesanan mereka. Juga botol-botol sake, saus dan wasabi yang terhidang di meja. Bahkan mangkuk dan benda-benda seperti peralatan makan pun mereka lemparkan kepadanya.


PRANG!!


PRANGG!!


PRAAAANGGGG!!


Ken tetap diam berdiri ditempatnya. Tubuhnya gemetaran hebat dan terluka oleh lemparan mangkuk, nampan stainless dan botol-botol sake. Pelipis dan pipinya beberapa kali terluka karena goresan benda.


Bahkan seseorang suruhan Yoshi berjalan ke belakang Ken dan memukul kepalanya dengan keras menggunakan bangku yang ada di sana.


BRAKK!!


Ken terkejut dan memegangi kepala bagian belakangnya. Meski ia tidak langsung jatuh, namun kepalanya mengeluarkan darah yang mengalir deras.


Suzy yang tidak tahan melihat Ken dilempari barang hingga terluka pun keluar untuk menghentikan kericuhan. Namun ia justru terkena lemparan gelas.


PRANG!


"Ach!" pekiknya terkena lemparan gelas saat melindungi Ken.


Ken yang melihat Suzy terkena lemparan berniat menghampirinya. Namun belum sampai ke tempat Suzy, Ken oleng dan tersungkur.


Yoshi tersenyum menang dan mengajak Linzhi pergi dari tempat itu. Begitu sampai di dalam mobil, ia tertawa terbahak-bahak. Ia merasa menang dalam pertandingan.


Melihat senior mereka di dizolimi, Daisuki, Gorou, Suri dan Keiko pun segera membantu Suzy serta Ken yang terluka. Suri dan Keiko menangis histeris karena ketakutan. Mereka tidak tahu harus bagaimana lagi. Sebab dua senior mereka pingsan.


Lalu bagaimana dengan orang-orang brutal itu? Masyarakat yang mengaku berpendidikan tinggi justru berbuat semena-mena kepada seniornya.


Alih-alih meminta maaf, mereka justru membubarkan diri dan pergi satu persatu dengan tidak lupa, mengancam akan memaksa menutup restoran jika mereka tetap mempekerjakan seorang pembunuh.


.


.


.


Bantu dukung dengan like ya,, πŸ‘πŸ»πŸ€—


komentar positif,,


atau votenya juga boleh,, πŸ₯°


..


Bersambung ke Episode 37


Bantu jawab yuk !


🌷 Menurut kalian, apakah restoran akan tetap berjalan meski banyak penolakan?


a. Iya. Sebab Suzy tidak mau tahu dengan pendapat mayoritas pelanggan. Ia akan memperjuangkan keberadaan Ken sebagai kokinya;


b. Tidak. Sebab, masyarakat berniat menutup restoran;


c. Tidak. Ken tidak akan membiarkan Suzy dan yang lainnya mendapat kecaman dari masyarakat akibat dirinya;


d. Iya. Karena itu hanya kabar bohong.


e. Tuliskan pendapat kalian.


HAPPY READING πŸ€—πŸ’•πŸ’•


.