
EPISODE 118
Pagi-pagi sekali, Ken mengajak Yuna ke pemakaman Suzy. Hari ini, ia ingin meminta maaf secara langsung pada sang istri karena tidak bisa hidup sendiri sejak keluar dari penjara dan ditinggalkan olehnya.
Selain itu, ia juga ingin memperkenalkan Yuna padanya.
"Apakah ini?" Yuna menoleh pada Ken saat berdiri di depan sebuah makam dengan tumbuhan bunga di sekelilingnya.
"Ya. Makam istriku."
"Ah??" Yuna menundukkan kepala memberi hormat pada istri Ken.
Perlahan, Ken meletakkan bunga anyelir putih di atas pusara Suzy. Kemudian ia mengusap batu nisannya dengan sangat lembut. Meski kini Suzy telah berpindah alam, namun Ken memperlakukannya tetap sama seperti dulu.
"Sayang, apa kau hidup bahagia di sana? Aku, ingin meminta maaf kepadamu karena tidak mampu memegang janjiku untuk setia dan hidup selamanya denganmu," ungkap Ken seraya mengusap batu nisan Suzy dengan penuh perasaan.
"Aku harap, kau bisa hidup berbahagia di sana dan tidak lagi menderita seperti ketika hidup bersamaku," Ken menangis sedih karena hatinya masih terikat kuat dengan Suzy.
Namun begitu, ia berusaha menghargai keberadaan Yuna yang datang bersamanya.
"Sayang, aku datang kemari untuk memperkenalkan seseorang kepadamu. Namanya Yuna," ucapnya seraya meraih tangan Yuna.
"Selamat pagi, nona Suzy. Perkenalkan, namaku Yuna," ucap Yuna sopan.
"Hmm. Bagaimana menurutmu? Sebenarnya, gadis kecil ini selalu saja menggangguku. Namun entah mengapa, aku tidak pernah kesal kepadanya. Aku justru merasa hidup kembali karena dia."
Ken menunggu kehadiran Suzy. Namun lama ia menunggu jawaban darinya, wanita itu tidak juga datang menampakkan diri.
"Seandainya kami berdua menjalin suatu hubungan, bisakah kau merestuinya? Aku berharap kau mengijinkanku berlayar dan hidup bersamanya."
Yuna memperhatikan Ken. Ia tahu, laki-laki yang ada di hadapannya itu berkata sambil menangis.
"Dulu, dia pasti sangat mencintai istrinya," ucap Yuna dalam hati. Tak terasa air matanya menggenang di pelupuk mata.
Ken bangkit berdiri di sisi Yuna dan mengangguk kepadanya. Maka, mereka berdua pun memberi penghormatan bersama-sama dengan tulus.
Pada saat itulah, Ken melihat Suzy hadir dan mengangguk tersenyum. Istrinya itu terlihat tenang dan begitu anggun.
Pada sujud terakhirnya, Ken tidak juga bangun. Rupanya ia sedang menangis namun tak bersuara. Sebenarnya, ia teramat sulit menyampaikan permintaannya itu pada Suzy.
Walaupun Yuna hadir dan mengubah hidupnya, namun ia tidak pernah berniat membuang perasaannya pada Suzy. Selamanya, ia akan menyimpan kenangan itu di dalam hati.
GYUUUTT
Yuna turun dari motor Ken tepat saat tuan Tanaka sampai di bengkel. Keduanya pun menjadi gugup karena kepergok sedang bersama. Untuk ke dua kalinya.
"Kalian datang bersama?" tanya tuan Tanaka pada Ken.
"Emm, anu,,"
"Tidak mungkin kalian berdua hanya berpapasan di jalan, kan?" nada bicara tuan Tanaka seperti tidak suka.
Sebab ia tahu bahwa semalam Yuna tidak pulang ke rumah dan mengatakan akan menginap di rumah Arai. Namun kenyataan yang ia lihat pagi ini membuatnya curiga.
Karena Yuna datang bersama Ken, ia pun berpikir bahwa jangan-jangan putrinya tidur di rumah karyawannya tersebut. Namun untuk saat ini, ia tidak akan memperbesar masalah dan berniat menyelidiki secara lanjut terlebih dahulu mengenai kecurigaannya.
"Tidak, ayah. Mengapa ayah bertanya hal seperti itu?" Yuna mencoba melindungi Ken.
"Ehemm! Sudahlah," tuan Tanaka berlalu sambil berdehem keras.
Yuna meraih dan menggenggam erat tangan Ken yang sedari tadi menundukkan kepala di hadapan ayahnya.
"Tidak perlu cemas. Aku akan mengurus ini," katanya sambil beranjak pergi.
Namun Ken menahannya, "Tidak, Yuna. Kau tidak perlu menjelaskan apapun pada ayahmu. Semakin kita mencari alasan, ayahmu akan semakin curiga."
"Lalu bagaimana kalau dia benar-benar tahu kalau aku menginap di rumahmu?"
"Jika ayahmu bertanya kembali, biarkan aku yang bicara padanya.
Yuna menatap Ken serius. Jika dilihat dari tatapan matanya, pria itu benar-benar akan menghadapi ayahnya.
"Baiklah. Kita berdoa saja supaya ayah lupa soal apa yang ia lihat pagi ini."
"Hmmm."
"Kalau begitu, mari bekerja dengan semangat!" Yuna mengecup bibir Ken sebelum pergi meninggalkannya.
Tepat pada saat itu, Takeda dan Kurosaki sedang berjalan bersama menuju bengkel. Mereka melihat kejadian itu dan terkejut dibuatnya. Maka, mereka datang pada Ken dengan tergopoh-gopoh.
"Whooaaah!! Apa yang baru saja kami lihat??!!" seru Takeda.
"Yuna baru saja menciummu?" tanya Kurosaki tak kalah seru.
"Apa? Bagaimana mungkin? Tidak. Aku rasa kalian hanya salah lihat," Ken benar-benar terkejut dan berusaha mengelak.
"Sepertinya kami melihat dengan jelas barusan. Apa kau dan Yuna berpacaran?"
"Siapa yang berpacaran?" tanya Kazuki yang tiba-tiba datang.
Takeda dan Kurosaki serempak terdiam dan berusaha untuk tidak bicara dengan asal tentang rahasia Ken yang baru saja mereka lihat.
"Kenapa diam? Tadi heboh sekali.." kata Kazuki bicara pada Takeda dan Kurosaki namun meliriknya ke arah Ken.
"Kami mau pergi ke klub di Shibuya! Memangnya kenapa?" Seru Ichigo dari arah belakang.
"Ooh, benarkah? Kalau begitu kalian bisa datang ke klub milik orang tuaku. Aku akan memberi kalian vocher secara gratis!"
"B benarkah?" sahut Takeda secara langsung.
"Tentu saja," kata Kazuki.
"Apa kau akan ikut, Ken?" tanya Kazuki.
"Sepertinya tidak."
"Ah, sayang sekali. Aku juga akan mengajak Yuna pergi," lanjut Kazuki memancing.
Ken menatap Kazuki dan berusaha tidak meladeninya. Meski saat di dalam penjara mereka sangat cocok, namun berbeda saat si luar seperti ini. Mereka tampak bersaing. Apalagi menyangkut Yuna.
Karena pembicaraan mereka sudah selesai, Ken pergi lebih dahulu dari yang lain. Disusul Ichigo lalu akhirnya Takeda dan Kurosaki.
Selama siang itu, Kazuki mendekati Yuna secara terus menerus. Ia juga tampak memepet Yuna dengan lagak bicara panjang lebar. Sepertinya Kazuki benar-benar mengajak Yuna ke klub.
"Kau pasti cemburu melihat mereka," kata Ichigo.
Ken menoleh.
"Sepertinya Yuna tertarik untuk ikut, apa kau akan membiarkannya pergi sendirian saja?" sambung Ichigo.
"Kenapa kau selalu bertanya seolah aku mempunyai hubungan dengan Yuna?" kata Ken kesal dan pergi menyibukkan diri.
Namun, sebenarnya Ken merasa gelisah. Bagaimana seandainya Yuna benar-benar pergi dan mabuk. Akankah Kazuki membiarkan Yuna begitu saja? Atau ia justru akan membawa Yuna ke hotel dan melakukan hal itu?
Aarrh! Tiba-tiba saja Ken memikirkan semua kemungkinan yang bisa saja terjadi. Entah mengapa ia juga sangat kesal dibuatnya. Apakah ia benar-benar menyimpan Yuna di dalam hati?
••••••
Sore menjelang pulang, Yuna menghampiri Ken yang sedang di ruang istirahat atau kamar ganti karyawan.
"Kazuki mengajakku ke klub milik ayahnya. Takeda dan yang lain juga diajak. Apa kau akan ikut juga?"
DEG
"Aku tidak ikut..." jawabnya.
"Kalau begitu haruskah aku ikut serta?" Yuna menjadi ragu karena Ken tidak ikut.
"Terserah padamu saja."
Ken menyingkir dan melepas sarung tangannya.
"Apa kau marah?"
"Tidak."
"Lalu mengapa ekspresimu seperti itu?" Yuna melihat bahwa Ken sepertinya sedikit kesal.
"Aku hanya takut kau akan melewati batas saat bersamanya," jawab Ken.
"Seperti saat bersamamu?"
"Hmm."
"Tidak. Aku menyimpan perasaan ini hanya untukmu. Tidak untuk Kazuki."
"Namun bila mabuk, aku rasa kau bisa melakukan apa saja dengannya," ia bicara sambil mencuci tangannya dengan sabun lalu mengelapnya dengan handuk.
Yuna menatap Ken, "Kau khawatir padaku?"
"Tentu saja. Bukankah semalam kita sepakat untuk mencoba menjalin hubungan lebih serius? Karena itu pula aku mengajakmu ke pemakaman mendiang istriku. Lalu apa lagi yang ku harapkan? Selain dirimu?"
"Kau mencemaskanku dengan berlebihan, Ken. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Kau tidak perlu khawatir. Hmm??"
Yuna tertawa seraya meraih ponselnya. Jarang sekali melihat wajah Ken yang kesal seperti itu. Maka ia berinisiatif untuk mengambil gambarnya.
"Ken, hadap kemari..."
"Apa.."
Ken yang sedang meraih jaketnya itu melihat Yuna tengah tertawa riang mengambil foto dirinya.
"Jangan ambil gambarku.."
"Tidak. Coba tersenyumlah. Buat jarimu membentuk V..."
"Aku tidak mau," dipakainya jaket bertudung dengan cepat.
"Ken.... Ayolah, sekali saja, ya?" rengek Yuna pada Ken.
"Aku tidak biasa bersua foto. Kau saja," Ken duduk dan membetulkan tali sepatunya.
"Aku akan ambil gambarmu sekarang, bersiaplah...."
CEKREK
Ken tidak menyangka akan menuruti kata Yuna untuk mengangkat jarinya membentuk V. Namun ekspresinya yang setengah tersenyum setengah tidak itu, bisa dikatakan lumayan juga.
Yuna tertawa-tawa melihat hasil jepretannya. Ia juga tidak menyangka, foto singkat dan tidak terlalu ditata itu mendapatkan hasil yang bagus.
"Eh? Kau mencukur kumismu? Kenapa aku baru menyadarinya?"
"Aku menyisakannya sedikit."
"Benarkah? Apa kau tahu? Saat ini, kau terlihat sangat tampan."
Yuna mencondongkan badannya ke arah Ken yang sedang duduk, "Aku tidak percaya kalau semalam aku bercinta dengan pria tampan sepertimu."
GLEK
"Jangan bahas itu di sini, Yuna."
"Kenapa? Kau takut ada yang mendengarnya lagi?" Yuna menekan bahu Ken dengan kedua tangannya.
Ken mengangguk pelan. Saat itulah Yuna menempelkan dahinya ke dahi Ken sambil tersenyum.
"Mereka semua sedang sibuk untuk lembur, jadi jangan khawatir," Yuna berkata seraya duduk di pangkuan Ken.
"Sebaiknya aku segera pul,-" ucapan Ken terhenti ketika jari telunjuk Yuna menutup bibirnya.
Tanpa menunggu lama, Yuna segera mel*mat bibir Ken dan membuatnya basah. Karena kecerobohan Yuna tersebut, tuan Tanaka yang hendak pulang melihat mereka sedang berciuman. Ia menyembunyikan diri di balik dinding dengan hati yang geram.
.
.
.
.
BERSAMBUNG......