RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
LORONG PERTOKOAN



(21+)


Hay pembaca,,


Karena bab ini ada adegan dewasanya,,


harap bijak dalam membaca, yaa....


Anak piyik dibawah umur menyingkir dulu laaaahh,, Oke??😁


Oke, kalau gitu ....


Buat yang sudah baca, jangan lupa juga likenya πŸ‘πŸ» vote ataupun hadiah kecil boleh banget diberikan....hehe


Terima kasih sudah mampir....😘


......................


EPISODE 98


Langkah yang terburu-buru itu akhirnya sampai di depan pintu keluar klub. Begitu ia dapat membebaskan diri dari wanita malam tadi, Ken langsung menghamburkan diri ke jalanan.


Ketika ia melangkah dengan cepat, tanpa sengaja ia bertabrakan dengan Yuna yang sedang berlari dari arah berlawanan.


"Kau lagi?" seru Yuna.


Ken memperhatikan tingkah laku Yuna yang sedang cemas sehingga ia bertanya, "Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"


HUP!


Yuna menarik tangan Ken dan mengajaknya berlari bersamanya. Kemudian sebelum beberapa orang yang mengejarnya itu melihat dirinya, Yuna menyeret Ken untuk bersembunyi di samping gedung pertokoan sambil berjongkok.


"Sebenarnya ada ap,-?"


"Diamlah,' Yuna menutup mulut Ken dengan tangannya.


"Bocah ini, sebenarnya sedang apa sih dia??"


Ken membatin sambil melirik ke arah Yuna perlahan. Ia heran, siapakah yang sedang mengejar-ngejar wanita itu.


Dan mengapa pula ia ikut bersembunyi seperti seekor tikus?


Belum selesai dengan adegan itu, lagi-lagi Yuna menyeretnya untuk berpindah ke sisi belakang gedung. Tempat persembunyian yang sempit itu memaksa keduanya berdiri berhimpitan.


Ouhg... Posisi Ken yang terpojok di dinding itu juga tidak menyenangkan. Apalagi setelah dilihatnya gunung kembar Yuna yang tampak menyembul karena pakaian jenis off-shoulder top yang dipakainya itu sedikit melorot.


Tepat saat mereka berpindah tadi, lima orang berpakaian hitam-hitam berlarian ke tempat tersebut.


"Di mana dia?"


"Aku tidak melihatnya!"


"Assshh,, di mana dia bersembunyi? Jika kali ini kita gagal menemukan dia, kita bisa habis dimarahi nona Arai," seseorang dari salah satu merasa putus asa.


"Sudahlah. Mari kita pulang. Aku lelah mencari-cari dia hampir satu jaman."


"Benar. Baiklah, mari pulang saja."


Sesudah kelima orang itu pergi, Yuna dapat bernafas lega.


"Apakah sudah pergi?"


"Sepertinya begitu."


"Kalau begitu, bisakah kau menyingkir dariku?" tanya Ken seraya berpaling dan menutupi mukanya.



"Apa?"


Yuna menyadari bahwa pakaiannya melorot hingga duo kembarnya menyapa Ken dengan ramah.


"A'aaahh,, maaf."


Yuna buru-buru menyingkir dari Ken. Namun kaki kirinya justru tersandung kaki kanan, sehingga ia pun terjatuh ke belakang. Sialnya, sebelum ia jatuh, ia sempat menarik jaket Ken.


Otomatis Ken yang tidak siap dengan kondisi itu pun ikut terjatuh.


GLABRUK


"Oouhhhh.." suara dua manusia yang jatuh bersamaan itu.


Kacau sekali.


Sadar bahwa dirinya tengah menindih tubuh Yuna, Ken segera menyingkir dan berdiri dengan cepat. Meski dirinya sedang merasakan gugup luar biasa, Ken berusaha menolong Yuna bangun.


"K kau baik-baik saja, nona?"


"Aaahhh.. Ya. Aku baik-baik saja," jawab Yuna.


"Apakah aku melukaimu?"


"Tidak. Hanya saja, sepertinya lengan kiriku terasa sakit."


Karena merasa bersalah, Ken mencoba memeriksanya. Benar saja. Ada sedikit goresan pada lengan kiri Yuna.


"Tunggu sebentar. Aku akan mengobatimu," kata Ken berusaha mengambil sesuatu dari dalam tasnya.


Ternyata sebuah kotak kecil yang berisi obat merah dan plester. Dengan cepat Ken mengobati luka gores Yuna menggunakan obat merah yang ia bawa.


Huuuuff... Huuuufff...


Sesekali Ken meniup luka tersebut.


Tanpa ia sadari, Yuna memperhatikan dirinya. Wanita itu menatap bibir Ken yang menurutnya sangat seksi.


"Indah sekali...." ucap Yuna tanpa sadar.


"Apa?"


Ken menoleh pada Yuna. Seketika itu ia sadar, bahwa Yuna sedang menatapnya dengan pandangan yang sedikit aneh. Dan tanpa ia duga, tiba-tiba saja Yuna mengecup bibirnya dengan lembut.


GLEK


Yuna tersenyum menatap Ken yang berdiri mematung. Tampak jelas baginya bahwa pria itu sedang terkejut.


Yuna berjinjit kembali dan menempelkan bibirnya dengan perlahan. Kemudian sambil kedua tangannya berpegangan pada pundak Ken, disesapnya bibir yang kenyal itu dengan penuh perasaan.


Kini, kedua mata mereka bertatapan. Ken sadar bahwa dirinya tidak sedang mabuk. Dalam situasi seperti itu. Entah mengapa, setan dalam dirinya selalu muncul dan mampu menguasai tubuhnya.


Bertahun-tahun lamanya, ia tidak melakukan aktivitas fisik dengan wanita manapun. Meski ia sekali melakukannya dengan Linzhi, namun saat itu dirinya dalam keadaan tidak sadar.


Berbeda dengan sekarang ini. Ia sadar!


Namun entah mengapa, ia tidak mampu menolak rangsangan yang diberikan Yuna padanya. Maka dari itu, ia membuang begitu saja obat merah dan plester yang ada di tangannya. Kemudian membungkuk dan merengkuh tubuh wanita muda itu lebih dalam lagi.


Ken mendesak Yuna ke dinding dengan bibir mereka yang masih terpaut. Perlahan, ia juga menggendong Yuna sambil oleng ke sana kemari.


Ketika tanpa sengaja mereka menubruk mobil yang terparkir di lorong tersebut, Ken menidurkan Yuna di atas kap mobilnya sambil terus berciuman. Malam itu, mereka berdua tampak sama-sama haus akan cinta.


Ketika ciuman Ken turun ke belahan dada Yuna, wanita itu bertanya menggoda.


"Apa kau menginginkannya?"


Dengan nafas yang tersengal, Ken berusaha menghentikan perbuatannya. Namun dengan cepat, Yuna menarik kepala Ken dan menyesap bibirnya kembali. Selain itu, ia juga mengusap-usap bagian anu Ken dan berusaha melepaskan ikat pinggangnya.


Ketika setan sudah menguasai pikiran, Ken membalikkan badan Yuna sehingga posisinya kini menelungkup di atas kap mobil.


Ken kembali mel*mat bibir bertindik itu sembari mengangkat mini split skirt yang dikenakan Yuna. Merasakan bahwa Ken sepertinya ingin segera menyelesaikan aktivitas mereka, Yuna pun segera menunggingkan bok*ngnya.


"Aaaaaa'hhhhhhh!!!" erangan Yuna terdengar tertahan ketika benda keras itu berhasil menggenjot liangnya.


Yuna terkejut! Baru kali ini ia merasakan hal luar biasa seperti sekarang ini dengan seorang pria. Meski rasa panas seperti terbakar sedang menjalari bagian tubuh bawahnya, namun ia merasakan nikmat yang tiada duanya dari Kenzhi.


Dorongan demi dorongan yang ia rasakan, membuatnya berkeringat dan melenguh kencang.


Sampai-sampai, Ken harus menghentikan erangan Yuna dengan l*matan bibirnya.


Ah! Nikmatnya! Yuna menjerit-jerit kenikmatan. Sebelah tangannya mencengkeram tangan kiri Ken yang berpegangan pada kap mobil.


Tiba-tiba, hujan turun. Meski tubuh mereka kini diguyur hujan, Ken tidak menghentikan aksinya. Suhu dingin dari hujan justru membuatnya semakin bekerja keras.


"Aahh! Aahh!!" pekik Yuna semakin tak tertahan.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Hujan tampak semakin deras. Di emperan belakang gedung, tampak dua orang sedang duduk beristirahat. Keduanya basah oleh keringat yang bercampur dengan air hujan.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Yuna sembari merasakan kedutan di bagian itunya.


"Pulang."


"Kau yakin tidak menginap di hotel dekat sini saja?"


"Tidak. Besok aku harus bekerja," jawab Ken sambil berusaha mengatur nafasnya.


"Aku harap, kau tidak menghindariku setelah kejadian ini," pinta Yuna


"Tidak. Aku tidak akan melakukannya."


Keduanya diam.


"Kau, kapan terakhir melakukannya?"


"Sepuluh tahun yang lalu," jawab Ken tanpa menghitung kebersamaannya dengan Linzhi.


"Apa??"


"Saat itu, aku tengah mendekam di penjara. Saat itu pulalah, istriku pergi meninggalkanku untuk selamanya."


DEG


Yuna baru tahu cerita itu, "Lalu, bagaimana dengan putramu?"


"Dia sedang hamil saat aku mendekam di penjara. Dan melahirkan tanpaku di luar sana. Aku bersyukur, saat itu ayah dan ibu mertuaku mengurus istriku dengan baik."


"Apa mereka memisahkan kau dengan putramu?" Yuna menerka.


"Mungkin kata itu tidak terlalu tepat. Aku sadar, seperti katamu, aku bukanlah suami ataupun ayah yang baik. Jadi, ketika ibu mertua menolakku, aku bisa memakluminya."


Yuna memperhatikan Ken dengan cermat. Ia yakin, apa yang pria itu lalui lebih menyakitkan dari apa yang ia ceritakan.


"Maaf, aku merasa bahwa baru saja membuatmu menjadi ayah yang buruk," kata Yuna.


Ken menengadahkan kepalanya sambil menghela nafas, "Tidak sepenuhnya. Aku yakin betul, dirikulah yang memilih jalan ini."


Mereka kembali diam. Hanya nafas yang sedikit berantakan yang terdengar.


"Kapan kau berhubungan dengan Arai?"


"Emm,, Aku rasa, waktu itu kami masih kelas 3 SMA."


Ken menoleh ke arah Yuna, "Dua belas tahun yang lalu?"


"Ya."


"Apa yang membuatmu bertahan?"


"Dia baik."


"Jadi begitu."


"Tapi beberapa tahun belakangan ini, aku merasa bosan dengannya."


"Kenapa?" Ken menatap derasnya hujan.


"Aku ingin menjalani hidup yang normal. Bercinta dengan seorang pria sesungguhnya."


Mendengar itu, Ken menoleh pada wanita muda yang baru saja meneguk nikmat bersamanya.


"Aku rasa, aku baru saja merasakannya dengan seorang pria!" Yuna berpaling pada Ken sambil tertawa kecil.


"Apakah ini pertama kali untukmu?" Ken menyesal. Sebab ia pikir, Yuna sudah biasa dengan hal seperti itu.


"Ya. Kau yang pertama kalinya," jawab Yuna tersenyum.


Akhirnya, di sanalah mereka. Di lorong pertokoan yang terletak di belakang gedung, keduanya duduk sambil menatap derasnya hujan. Beristirahat dalam beberapa waktu untuk memulihkan tenaga.


BERSAMBUNG.....