RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
ADA APA DENGAN BOTOL SHAMPO DI KAMAR MANDI?



EPISODE 64


Ken membuka mata ketika didengarnya suara dering alarm ponselnya. Ia menguap sambil mengusap wajahnya. Setelah menoleh ke arah Suzy yang masih terlelap, Ken pun bangun dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Tidak lama berselang, Ken keluar dengan handuk putihnya. Di depan cermin ia memandangi tubuhnya yang sedikit kurus.


"Sepertinya aku kehilangan banyak berat badan," Ken mencubit-cubit lengannya sambil tetap menatap cermin.


Dua tahun belakangan, memang banyak kejadian yang membuatnya stres. Selain tentang penolakan warga yang beberapa kali menyerang dirinya, beberapa masalah lain dengan Suzy juga mempengaruhi pikirannya sehingga berat badannya pun turun.


Ken menepuk-nepuk pipinya sambil membuka lemari pakaian. Hanya ada dua setelan kemeja yang ada di dalam sana. Dan semuanya bukan seleranya. Karena tidak membawa pakaian ganti, mau tak mau ia harus memakai lagi bajunya yang ia kenakan sewaktu datang.


Sambil mengenakan kaos hitam lengan panjangnya, ia menoleh kembali pada istrinya yang masih terlelap dan berselimut sampai kepala.


"Gadis nakal. Apa dia akan tidur sampai siang?" gumamnya heran.


Ken mendekati Suzy perlahan. Ia duduk di samping wanita itu tanpa suara. Kemudian, dengan amat hati-hati ia mengulurkan jari telunjuknya untuk menyentuh tubuh Suzy yang ada di balik selimut.


GYUTT


Masih tidak ada pergerakan dari Suzy. Maka disentuhnya sekali lagi.


GYUUTT


Karena Suzy benar-benar seperti badak, Ken berinisiatif untuk menyibak selimut yang dikenakan istrinya tersebut.


SRET


Kini Ken dapat melihat wajah Suzy yang tidur lelap. Meski bibirnya sedikit terbuka, wanita itu masih tampak manis dan seksi di mata Ken.


Perlahan, Ken menyandarkan kepalanya di atas bantal yang ada di sampingnya. Dengan tangan kiri sebagai alasnya, ia menatap lekat ekspresi Suzy saat tidur.


"Sebenarnya kau cukup manis jika diperhatikan," kedua sudut bibir Ken sedikit terangkat, membuat bibirnya yang seksi tampak manis.



"Tapi kau juga mengerikan jika marah-marah seperti semalam."


Menatap Suzy cukup lama, membuatnya tersenyum-senyum sendiri. Belum lagi ketika keisengan mampir di otaknya. Dimainkannya bibir bawah Suzy sehingga tampak gigi bawahnya.


Ken tergelak memandangi wajah istrinya yang lucu. Kemudian ia menghela nafas.


"Meski begitu, bukannya aku takut padamu. Aku hanya menghormati wanita yang menerimaku apa adanya, bahkan bersedia menikahi penjahat sepertiku."


Ketika Ken sedang tertawa kecil karena keusilannya, seseorang mencondongkan kepalanya di dekat Ken. Bahkan orang itu pun ikut memperhatikan bibir Suzy yang dibuat mainan oleh Ken.


"Jika dia bangun aku akan mengadukan semuanya," ucapnya berbisik di telinga Ken.


"Astaga! Kaget aku!" Ken terkejut bukan main sampai jantungan.


"Xixixi,,," Ayumi tertawa cekikikan.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Ken kesal.


"Aku tadi mengetuk pintu, tapi kau tidak menjawab."


"Lalu? Kau seenaknya masuk ke dalam tanpa bersuara?"


"Hehe. Iya," Ayumi tertawa lebar.


"Dasar nakal! Bagaimana jika kau datang aku sedang ber,-" Ken menoleh pada Suzy sambil tangannya bergerak untuk menggambarkan sesuatu seperti kode bermesraan.


"Tidak mungkin..." Ayumi menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Apanya yang tidak mungkin?! Kau masuk ke kamar kakakmu yang sudah menikah!" Ken berteriak karena kesal.


"Nyatanya, kau sedang tidak melakukan apa-apa dengannya, kan?" Ayumi terus membela diri sambil cengengesan.


"Haiss! Au ah! Kau membuatku gila," Ken berdiri dan menggiring adiknya itu keluar dari kamarnya.


"E e eh... apa yang kau lakukan?"


"Pergi sana, aku sedang sibuk.." kata Ken.


"Sibuk apa? Memainkan bibirnya?" Ayumi tertawa.


"Diam kau. Awas jika sampai kau mengadukan semua yang ku lakukan padanya," ancam Ken.


"Tenang saja,,, Aku akan mengadukannya nanti," seru Ayumi sambil berlari menjauh.


"Apa? Dasar! Kemari kau!!" Ken mendekati Ayumi. Tapi gadis itu segera berlari turun ke lantai bawah seraya meledeknya terus menerus.


Sepeninggal Ayumi, suasana jadi hening kembali. Ken menghela nafas panjang dan kembali ke kamar. Ia tidak mengira bahwa ia memiliki saudara yang benar-benar usil.


Begitu kembali ke kamarnya, Ken bingung. Sebab, ia tidak menemukan Suzy di atas ranjangnya. Ke mana dia?


Tanpa berpikir panjang, Ken melihat ke dalam kamar mandi dan menemukan Suzy sedang mandi di sana. Spontan saja, Suzy menoleh terkejut begitu melihat Ken membuka pintu kamar mandi.


"A apa yang kau lakukan?" tanya Suzy menghentikan gerakannya saat sedang menyabuni badannya.


NGEK


Ken meneguk ludah. Tatapannya tidak bisa menyingkir dari pemandangan indah di depan matanya.


"A aku,,,, itu,,," Ken menggaruk kepalanya.


Belum juga Ken selesai bicara, sebuah botol shampo melayang di dekat kepalanya dan menabrak tembok.


"Cepat tutup pintunya!!" Suzy berteriak seperti monster.


"I iya baiklah."


Karena gugup, Ken justru masuk ke dalam kamar mandi dan menutup pintu dari dalam. Tentu saja ia kembali mendapat teriakan dari Suzy dan beberapa lemparan botol kosmetik.


BRUK


BRUK


BRUK


"M maafkan aku sayaangg,...."


Ken buru-buru keluar dari kamar mandi agar terhindar dari serangan kemarahan sang monster.


Begitu ia berhasil keluar kamar mandi, dengan cepat ia pun meninggalkan kamarnya.


"Huff,, Sungguh monster yang mengerikan. Sepertinya dia lebih galak dariku."


Akhirnya Ken turun menemui keluarganya yang sedang menyantap sarapan.


"Kau sudah bangun?" tanya ibunya.


"Ah, ya. Apa kalian baru mau menyarap?


"He'em. Hari ini, ayahmu pergi ke kantor agak siangan," ibu Ken meletakkan piring hidangan ke atas meja. "Ohya. Mana istrimu?" lanjutnya.


"Dia sedang bersiap turun," jawab Ken.


Begitu semua selesai ditata di atas meja, Kenie meminta Ayumi agar memanggil ayahnya. Dan sambil menunggu suaminya datang, Kenie bertanya sedikit pada putranya.


"Apa kalian sudah merencanakan kehamilan?" tanya Kenie.


"Apa maksud ibu dengan merencanakan?" Ken bingung.


"Biasanya, pasangan pengantin baru akan merencanakan kehamilan dengan melakukan pemeriksaan rutin ke dokter."


"Ah, itu,,, Sebenarnya, saat ini Suzy sedang hamil."


"Benarkah? Ibu turut senang untukmu."


Kenie merasa bersyukur dengan memperhatikan putranya tanpa berkedip.


"Mengapa ibu menatapku seperti itu?" Ken sedikit canggung.


Kenie meraih kedua tangan putranya dan menggenggamnya erat, "Ibu rasa, kau sudah dewasa sekarang. Kau sudah menikah dan sebentar lagi akan memiliki anak."


Ken mengangguk lalu menunduk diam.


"Memiliki keluarga, artinya kau akan melewati jalan yang semakin berat. Ibu harap, kau akan menyikapi semua cobaan dengan bijak nantinya. Dan yang paling penting sebagai seorang suami dan seorang ayah adalah berjuanglah dengan sungguh-sungguh untuk keluargamu."


"Ya. Baiklah. Aku akan melakukan semuanya," jawab Ken tersenyum dengan menghirup nafas dari hidungnya dengan kencang hingga mengeluarkan suara.


Situasi hening sesaat.


"Panggil istrimu sekarang. Ajak dia menyarap bersama," kata Kenie menepuk pundak Ken.


•••••••


Saat itu, Ken dan Suzy berpamitan pulang. Namun tuan Hideaki mengatakan pada Ken bahwa nanti malam ia akan pergi ke sebuah jamuan makan malam di rumah tuan Kido. Dan ayah tirinya tersebut berharap supaya Ken dan istrinya ikut serta bersama mereka.


"Sebagai putra kami, aku ingin kau juga ikut menghadiri jamuan tersebut. Ajak serta istrimu. Aku akan memperkenalkan salah satu ahli warisku pada rekan Bisnisku."


Ken sedikit terkejut. Ia menoleh pada Kenie dan dijawab dengan sebuah anggukan darinya.


"Ya. Baiklah, aku akan berusaha untuk pergi. Kirim saja alamat yang harus ku datangi nanti malam," jawab Ken.


"Hmm. Baguslah. Kenie akan mengirim alamatnya."


Setelah menyanggupi ajakan itu, Ken dan Suzy pulang. Mereka juga mengatakan bahwa mereka harus pulang sebab restoran membutuhkan mereka.


Di restoran,


Suzy masih ketus pada Ken. Semua pekerjaan seperti mencuci panci Sampai menyiapkan bahan ia limpahkan pada suaminya tersebut.


Karena mengetahui seniornya sedang tidak akur, kesempatan itu digunakan Keiko dengan baik. Ia mencoba membantu Ken agar bisa lebih dekat dengannya.


Ketika Ken sedang memukul adonan tepung, Suzy menggoreng ayam tepungnya. Jika biasanya mereka saling bicara, kini keduanya tampak dingin. Terutama Suzy yang menjauh setiap Ken mendekatinya.


Kebetulan, hari itu pesanan mi udon lebih ramai. Sehingga pekerjaan Ken berlipat-lipat. Keiko yang semula tampak kalem pun terlihat lebih agresif dari biasanya. Beberapa kali ia tampak sengaja mengelap keringat di dahi Ken dengan saputangannya.


"Senior, kau pasti lelah. Apa kau mau ku buatkan minuman es?" ucapnya.


"Tidak, terima kasih," Ken menolak lembut.


Diam-diam, Suzy memperhatikan mereka dan juga mendengarkan pembicaraan keduanya. Ada rasa cemburu di hatinya dan bahkan ia sedikit takut jika Ken benar-benar mencari wanita lain untuk melakukan hal itu.


Diliriknya ekspresi wajah suaminya saat dekat dengan Keiko. Biasa saja. Aah... tapi itu tetap menyebalkan!


"Hisss,, dasar pria genit! Apa dia benar-benar akan mencari wanita lain untuk melakukan itu? Kenapa dia menerima semua perhatian dari Keiko,,,"


Suzy bicara dalam hati karena cemburu dan khawatir. Sayangnya, saat itu ia terlalu fokus pada Ken dan menjadi tidak hati-hati. Tanpa sengaja, tangannya terkena wajan panas sehingga ia langsung menjerit.


"Aah!"


Pada saat yang tepat, Ken menoleh padanya dan langsung datang menghampirinya.


"Apakah sakit? Kenapa kau melamun saat bekerja di depan perapian?" Ken langsung mengulum jari Suzy yang terluka bakar.


Suzy diam. Ia membiarkan suaminya melakukan itu.


"Beristirahatlah, biar aku dan yang lain yang melakukannya," kata Ken penuh perhatian.


"Tidak perlu. Aku bisa melakukannya sendiri," Suzy menarik tangannya.


"Tapi,,"


"Sudah diamlah. Selesaikan saja pekerjaanmu. Pelanggan sudah menunggu makanan mereka."


Ken menjauh dengan ragu. Ia segera melanjutkan pekerjaannya dengan diam dan tidak banyak bicara. Sesekali ia menoleh padanya untuk memastikan keselamatan istrinya.


Bersambung.....