
EPISODE 21
Setelah kemarin malam terjadi sesuatu di antara dirinya dengan Linzhi, Ken bangun begitu pagi dan mencari udara segar di balkon sambil minum kopi.
"Kau sudah bangun?" Ken menoleh karena Linzhi bertanya padanya.
"Ya. Kau juga?"
"Hhm. Sepertinya badanku pegal semua," jawab Linzhi menggeliat.
"Mau kopi?"
"Boleh."
Ken pergi ke dapur dan membuatkan Linzhi secangkir kopi panas.
"Apa hari ini kau berangkat bekerja?" tanyanya.
"Hmm. Sore nanti aku baru pergi."
Ken selesai membuat kopi, "Ini kopimu."
"Terima kasih."
Ken duduk dan menikmati kopinya kembali. Kepalanya menunduk dan pandangan matanya terus saja menghadap ke bawah.
"Hari ini aku ada urusan di luar. Jadi mungkin akan kembali pulang pada malam hari," katanya pada Linzhi.
"Eh? Ada urusan?"
"Hmm. Aku mempunyai janji pada seorang teman bahwa kelak akan mengunjunginya saat keluar dari penjara."
"Apakah seorang wanita?"
Meski Ken tidak menjawab langsung, tapi Linzhi mampu menebak jawabannya dengan melihat ekspresi Ken yang diam saja.
"Baiklah. Nikmati saja kebebasanmu. Jangan lupa bersenang-senang dan ceritakan padaku nanti. Oke? Kau juga bisa pulang kapanpun kau mau," Linzhi menepuk pundak Ken.
Ken tersenyum. Suasana hening menyelimuti pagi mereka.
"Oh ya. Bagaimana kalau mulai sekarang, kita berdua berpacaran?" tanya Linzhi takut jika ada wanita lain yang mendahuluinya.
"Apa?"
"Mulai hari ini, kita berdua berkencan. Kau akan menjadi pacarku, kekasihku, teman serumahku. Hmm, bukankah itu tidak terlalu sulit? Kita berdua juga sudah melakukannya semalam. Bagaimana?? Kau mau kan?" Linzhi menyentuh dada Ken.
Ken menurunkan tangan Linzhi, "A Aku tidak bisa memutuskan itu sekarang juga," Ken bergerak meninggalkan Linzhi.
"Kenapa?"
Ken menoleh.
"Hanya karena kita pernah bercinta, bukan berarti kita melakukannya karena saling mencintai, bukan? Aku takut, itu hanya perasaan sesaatmu saja."
DEG!
Linzhi mengakui kebenaran atas ucapan Ken. Memang semalam, dirinya yang lebih dulu menggoda Ken. Sebagai seorang pria dewasa, tentu saja Ken benar-benar siap untuk itu. Apalagi seseorang membangkitkan gairahnya dengan sengaja.
"Bagaimana jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu??"
"Maaf Linzhi. Kita akan membicarakan itu lain kali. Untuk saat ini, mari bersikap sewajarnya saja. Aku tidak ingin membuatmu bingung dengan kehadiranku. Jadi, aku juga akan berusaha untuk mencari uang dan pindah ke tempat lain."
•••••••
Sore itu, Ken berjalan menyusuri trotoar di sepanjang bangunan pertokoan dan restoran. Dengan tas selempang hitam yang melingkari dadanya, ia menggenggam surat dari Suzy.
Sesekali ia mencocokkannya dengan papan nama di atas bangunan-bangunan restoran di sepanjang jalan. Tapi belum juga ketemu. Begitu melangkah beberapa meter lagi, akhirnya ia menemukan papan nama yang benar.
KLING KLING!
Bunyi pintu restoran saat Ken melangkah masuk. Cukup ramai dengan mayoritas pengunjung kalangan anak muda.
"Silahkan masuk, tuan. Mau pesan apa?" tanya seorang wanita pelayan.
"Em... Bisakah aku bertemu Suzy?"
"Nona Suzy? Apa kau sudah membuat janji temu dengannya?"
"Ya. Sudah."
"Baiklah. Siapa nama tuan? Kami akan memanggilkan nona sekarang," kata pelayan itu.
"Katakan saja padanya bahwa Ken, datang."
"Oh. Baiklah kalau begitu. Tunggu sebentar ya, tuan. Hmm, selagi menunggu, apa mau memesan sesuatu?"
"Hmm, air putih boleh."
Pelayan itu meminta temannya mengambilkan segelas air putih. Kemudian ia masuk ke dalam dan menemui Suzy yang sedang sibuk meracik dan mengaduk-aduk bumbu ayam andalannya.
"Nona, ada seorang pria datang mencarimu," kata pelayan tadi.
"Siapa? Katakan saja padanya aku sedang sibuk di dapur. Atau kau bisa menemuinya menggantikanku," kata Suzy cuek.
Pelayan itu bingung.
"Tapi nona, dia....."
"Sudahlah! Cepat katakan saja padanya aku tidak ingin menemuinya," Suzy pikir pria yang datang adalah Kiro. Orang yang beberapa bulan belakangan mengganggu dirinya.
"Tapi dia bilang nona sudah membuat janji dengannya...." pelayan itu ragu untuk pergi.
Suzy yang kesal pun meletakkan ayam dan melemaskan tangannya. Ia benar-benar tidak bisa diganggu gugat.
"Usir saja dia. Beres kan?" ia melotot pada pelayannya.
"B baik nona," pelayan itu lupa memberitahu Suzy bahwa Ken datang.
Maka, ditemuinya kembali Ken yang duduk menunggu lama di sebuah meja.
"Maaf tuan, nona kami sepertinya sedang sibuk," pelayan itu membungkuk meminta maaf.
"Aah. Begitu ya. Baiklah kalau begitu," Ken tersenyum dan berkata sopan.
"Sepertinya itu Kenzhi? Ah, mungkin aku hanya salah lihat. Bukankah Kenzhi sedang di dalam penjara??" Akiyama menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri.
Begitu ia masuk membawa kotak tersebut dan menemui Suzy, ia pun berkata, "Sepertinya, aku melihat Kenzhi di depan restoran kita. Apa dia sudah bebas dari penjara??"
DEG!!
Jantung Suzy berdegup kencang. Ia benar-benar menunggu momen itu datang kepadanya. Tapi mengapa terlewatkan?? Dipanggilnya pelayan yang tadi.
"Apa pria yang ingin menemuiku tadi itu tampan dan berambut gondrong?"
Pelayan itu mengangguk cepat. "Dia juga,,,"
"Dia mengatakan bahwa dia bernama Ken?" Suzy benar-benar berharap.
Pelayan itu mengangguk.
"Kenapa kau tidak mengatakan bahwa dia bernama Ken??! Oh tidak. Aku harus pergi mencarinya!"
"Tapi tadi, nona...."
Suzy segera melepas sarung tangannya dan berlari keluar dengan menutup mulutnya karena terharu. Ekspresi wajah cemas yang ditangkap oleh pelayan-pelayan di sana pun seakan mengatakan bahwa nona mereka menunggu kekasihnya sejak lama dan baru sekarang kekasihnya itu datang berkunjung.
Suzy berlari cemas saat keluar restoran. Ia langsung menoleh ke sana kemari mencari Ken sampai di jalan depan. Bahkan berlari kecil beberapa meter ke jalan yang mungkin dilalui Ken.
"Ken,, di mana kau? Aku mohon. Jangan pergi terlalu jauh. Syukurlah akhirnya kau bebas. Aku sangat merindukanmu, kau tahu??"
Suzy memanggil-manggil nama Ken di dalam hatinya. Ia sudah berlari cukup jauh mencari pria yang dicintainya, tapi hanya lelah yang ia dapatkan. Bahkan saat ia kembali ke restoran, tidak juga ia jumpai sosok yang mirip dengan Ken di jalanan dekat restorannya tersebut.
Pada saat berputus asa seperti saat itu, Suzy tidak sengaja menoleh ke arah pengemis jalanan yang biasa mangkal di ujung jalan. Dari tempatnya berdiri, dilihatnya sosok Ken yang sedang berjongkok memberi makanan pada pengemis itu.
Tentu saja Suzy merasa sangat bersyukur. Rupanya Tuhan memberinya kesempatan untuk bertemu kembali dengan pria yang ia cintai.
Maka, ia pun berlari menghampiri Ken.
"Hey! Apa kau akan pergi begitu saja tanpa menyapaku?" tanya Suzy dengan suara ngos-ngosan.
Mendengar suara itu, Ken segera menoleh. Lalu berdiri perlahan menghadap ke arah Suzy. Ia tersenyum karena Suzy menghampirinya sampai keluar dari restoran.
"Sepertinya, kau hidup dengan baik dan menjadi pengusaha ayam sukses?"
"Kau juga. Meski mendekam di dalam penjara begitu lama, kau tumbuh baik dan menjadi pria yang sehat. Selamat atas kebebasanmu kembali, Ken."
Suzy tersenyum haru.
"Terima kasih. Aku juga datang untuk memberimu selamat pada bisnis ayam gorengmu."
•••••••••••
Suzy meminta pelayannya untuk menghidangkan beberapa menu spesial restoran mereka. Ia sengaja menjamu tamu istimewanya tersebut.
Begitu makanan datang, Akiyama pun ikut duduk menjamu Ken yang lama tidak ia jumpai. Ia tidak bisa mengacuhkan temannya itu begitu saja.
"Kau nampak baik-baik saja, Ken. Bahkan otot tubuhmu terlihat lebih bagus dariku," Akiyama mengusap lengan otot Ken yang besar dengan takjub.
Suzy memukul tangan kakaknya. Lalu mencibirkan bibirnya karena kesal.
"Issh! Biarkan dia makan dulu."
"Baiklah. Baiklah. Ayo Ken, silahkan cicipi masakan adikku. Dia jago membuat ayam goreng berbumbu seperti ini," ucap Akiyama mempromosikan kehebatan Suzy sambil mengambil sepotong ayam dengan sumpit dan meletakkannya ke dalam mangkuk makan Ken.
"Hmmm.. Terima kasih," Ken menerimanya dengan sopan.
Jamuan makan yang diberikan Suzy kepadanya begitu istimewa ia rasakan. Sambutan dan penerimaan yang hangat dari Suzy membuat Ken merasa seperti mempunyai keluarga.
"Jadi, kapan kau bebas?" tanya Akiyama.
"Kemarin."
"Kemarin? Lalu, tidur di mana kau semalaman ini?" tanya Suzy cemas dan ingin memastikan.
"Linzhi mengundangku menginap di rumahnya," Ken tidak bisa berbohong di hadapan Suzy.
"Linzhi? Wanita yang mendapat julukan Stroberi di rumah pijat itu?" tanya Akiyama penasaran.
"Rumah pijat?" tanya Ken terkejut.
"Hey?? Dari mana kau tahu soal wanita stroberi itu??" Suzy heran dan mencubit kakaknya.
"Eehh... Aduuh... itu karena,, aku pernah mencobanya sekali," kaya Akiyama terkekeh.
"Maksudmu dengan mencoba?" tanya Suzy memelototi Akiyama.
"Ayolah. Kalian tahu sendiri apa yang aku maksud. Rumah seperti apa pula panti pijat itu. Kalian tidak mungkin memintaku menjabarkan dengan detile bukan?" Akiyama menggaruk-garuk kepalanya.
"Aku rasa, kau mungkin salah menyebut orang. Linzhi yang aku sebutkan, dia teman sekolah kita dulu," kata Ken meluruskan.
"Hmmm. Memang itu juga yang aku maksud. Linzhi teman kita dulu itu, dialah wanita Stroberi," Akiyama meraih ponselnya dan mencari foto yang pernah ia ambil saat berada di panti pijat tempat Linzhi bekerja.
"Lihatlah! Dia wanita itu," lanjut Akiyama menunjukkan foto Linzhi yang sedang duduk di pangkuannya.
Uhuk Uhuk...
Saat itu juga Ken terbatuk-batuk. Membayangkan kembali apa yang terjadi semalam. Rupanya ia terlalu polos karena mengira bahwa dirinya begitu jahat mengambil kesucian Linzhi.
"Ada apa??" tanya Suzy saat melihat Ken memegangi kepalanya.
"Tidak ada apa-apa. Em, mari lanjutkan makan," katanya gugup sambil berusaha keras menutupi perasaannya.
.
.
.
.
.
Bersambung Episode 22