RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
GAME KEJUJURAN



EPISODE 58


Keiko menggosokkan kedua tangannya bersiap melontarkan pertanyaan yang selama ini ada di dalam pikirannya. Ia menatap Ken terus menerus sehingga Ken semakin gugup.


"Baiklah, apa pertanyaannya?" tanya Ken.


"Apa kau siap senior?"


Ken menghela nafas, "Baiklah."


"Jawab dengan jujur, ya..." kata Keiko.


Semuanya kini menatap ke arah Ken. Menunggu pertanyaan dari Keiko dan jawaban apa yang akan dikatakan senior mereka benar-benar membuat penasaran.


"Sudah berapa kali kau bercinta, senior? Dengan siapa saja?"


GLEK


Ken membuka lebar matanya. Dengan semua tatapan yang mengarah kepadanya, membuatnya semakin gugup.


"A apa ini benar-benar perlu dijawab? Dan mengapa pertanyaan yang kalian ajukan hanya mengenai masalah itu?" tanyanya risih.


"Harus! Harus! Harus! Karena kami penasaran!!" seru anak-anak restoran serempak sambil bertepuk tangan.


Ken semakin gelisah. Haruskah ia menjawab semuanya di depan anak-anak tersebut?


Ketika ia melihat kesempatan untuk melarikan diri, maka dengan cepat ia bergerak membereskan piring di atas meja.


"Ah, sepertinya aku harus mencuci piring sekarang," ucapnya mengalihkan perhatian.


Namun yang terjadi, Gorou dan Daisuke segera menghadangnya.


"Jawab dulu pertanyaanmu, senior. Aku juga sudah menjawab pertanyaanku tadi. Jadi, mari selesaikan setelah semua mendapat pertanyaan."


Daisuke membentangkan tangannya menghalangi Ken pergi. Karena keadaannya seperti itu, maka Ken terpaksa bersikap sebagai seorang pria yang tidak lari seperti pengecut.


"Baiklah. Aku akan menjawab pertanyaan dari Keiko," Ken meletakkan kembali piring yang dibawanya ke atas meja.


"Baik, silahkan jawab sekarang," Keiko membuka lebar matanya.


Sebelum memberi jawaban, Ken menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan.


"A aku,, Melakukan itu dua kali. Yang pertama dengan mantan kekasihku dulu dan yang kedua dengan,,,"


Meski ia sendiri baru tahu kalau Ken sudah pernah bercinta dengan Linzhi, namun Suzy tetap berusaha memberi isyarat agar Ken jangan menyebut dirinya. Sebab ia bisa malu dibuatnya.


"Dengan,,, Suzy. Istriku. Aiissh.. kalian membuatku mengatakan semuanya," jawabnya kesal sambil membanting sarung tangan karet.


Ehem... Ehemm....


"Waaah.. senior. Kau baru dua kali saja melakukan itu? Benarkah?" Gorou tidak percaya.


"Benar, aku juga tidak percaya. Kami pikir, senior adalah salah satu pemain terbaik," sahut Daisuke.


Keiko mengamati Ken sambil tersenyum. Benar seperti kata Daisuke. Selama ini, ia juga berpikir bahwa senior Ken adalah pemain ulung yang sudah melakukan itu dengan banyak wanita. Namun apa yang baru saja ia dengar cukup membuatnya senang.


"Nonaaa, jadi diam-diam kau sudah melakukan itu dengan senior Ken? Tapi mengapa setiap kami melihat, nona selalu bertengkar dengannya seperti Tom and Jerry?" kata Suri menggoda Suzy.


"Eh? Itu... i itu..." Suzy salah tingkah.


"Sudah cukup. Jangan mengorek informasi tanpa pertanyaan di permainan," kata Ken.


"Baiklah. Baiklah. Mari kita lanjutkan sampai akhir!!" Keiko berseru.


Putaran ke tiga, botol berhenti pada Keiko. Daisuke yang memberi pertanyaan.


"Kau. Apa kau sendiri sudah pernah melakukan itu? Di mana?"


"Aku belum pernah melakukan itu," jawab Keiko.


"Wah. Yang benar saja? Di jaman sekarang ini?" Daisuke heran.


"Ya. Belum pernah. Aku harap, aku bisa melakukan itu dengan seseorang seperti senior Ken," kata Keiko terus terang.


"Apa?" Ken terkejut karena Keiko berterus terang sekali.


"Waaahhhh!! Apa itu permintaan tidak langsung?" celetuk Daisuke memelototi Keiko.


"Yang benar saja. Senior Ken tidak akan mau bercinta denganmu," Gorou tertawa terbahak-bahak bersama Daisuke.


Lalu, putaran berikutnya Suri. Gadis itu juga belum pernah melakukannya. Lagi-lagi, mereka menginginkan seseorang yang seperti Ken.


"Waaahh. Sepertinya senior Ken manjadi favorit para wanita. Jangan bilang, kalian berdua naksir senior Ken???!!" Gorou menggoda seniornya.


Keiko dan Suri dengan cepat mengelak perkataan Gorou. Jika Suri benar-benar tidak sedang menaksir Ken, berbeda dengan Keiko yang berbohong tentang perasaannya.


"Yang benar?? Waah, apa aku harus menjadi seperti senior agar para wanita tergila-gila padaku," canda Daisuke.


"Tidak perlu. Sampai kapanpun kau tidak bisa menyamainya,,," Gorou menjitak kepala Daisuke.


Mereka pun melakukan putaran terakhir. Karena botol terus saja mengarah ke orang yang sudah pernah diberi pertanyaan, mereka mengulanginya lagi dan lagi.


Ketika akhirnya botol diputar dan ujungnya menghadap ke arah Suzy, anak-anak mulai bersiap bertanya. Alhasil, wanita itu kembali menjadi gugup setelah beberapa saat tenang.


"Sekarang, aku yang memberi pertanyaan. Nona, jawab dengan jujur, ya," kata Gorou.


"I iya baiklah..." Suzy tersenyum kecut.


"Kapan pertama kali kau melakukannya dengan senior Ken?"


UHUK UHUK!


Suzy kembali tersedak saat minum air putih. Ia benar-benar malu menjawab pertanyaan seperti itu. Permainan anak muda jaman sekarang, sedikit keterlaluan menurutnya.


"Hiyyyaaaaa!! Hentikan semuanya! Memangnya semua rahasia hidupku harus kalian ketahui? Dasar anak nakal! Kalian perlu dipukul 100 kali,,," teriak Suzy sambil meraih penggiling tepung dan mengacung-acungkannya pada anak-anak nakal tersebut.


"Waaaaahhh, lari cepat!!!"


Teriak anak-anak itu bersamaan. Mereka berlarian ke sana kemari dan sesekali bersembunyi di balik tubuh Ken.


Ia bahkan sengaja melempari anak-anak dengan botol saus dan dan penggiling tepung.


Pada detik berikutnya, Daisuke, Gorou, Suri dan Keiko berlarian ramai-ramai keluar pintu restoran.


"Baiklah. Kami pulang dulu, senior,," seru Gorou berpamitan pada Ken yang ikut keluar ke halaman depan.


"Hmm. Kalian anak nakal, lain kali aku sendiri yang akan memberi hukuman pada kalian semua," kata Ken.


"Hehe,, maafkan kami senior. Kami hanya ingin bersenang-senang saja," Daisuke menyahuti sambil tersenyum.


"Sudah, sudah. Pulang sana."


"Sampai jumpa besok, senior," kata Keiko tersenyum menatap Ken.


"Hmmm."


••••••••


Setelah anak-anak itu pergi, Ken masuk kembali ke dalam restoran. Dilihatnya Suzy sedang berdiri berkacak pinggang dengan posisi membelakanginya.


"Kita juga harus pulang," kata Ken sambil memunguti botol-botol saus yang berceceran di lantai.


NGEK!


Suzy berbalik dan langsung memarahi Ken. Dipukulinya Ken menggunakan sutil kayu.


PLAK


"Eh? Apa yang kau lakukan?" Ken terkejut saat Suzy memukulnya.


"Dasar kau! Mengapa harus berkata begitu jujur di depan mereka?? Kau bisa saja berbohong atau bagaimana, kan!!"


"Entahlah. Aku hanya tidak mau disebut pengecut, itu saja."


Ken berusaha mengelak setiap pukulan yang mendarat ke bokongnya.


"Jadi, apa kau bangga karena pernah bercinta dengan dua wanita?"


GLEK


Ken merasa bahwa saat ini, Suzy sedang cemburu. Maka ia berbalik dan menghadapi Suzy.


"Jika kau merasa bahwa aku salah, aku bersedia dihukum olehmu."


Ken berlutut di lantai dan memejamkan matanya seolah siap menerima pukulan.


"Cepat lakukan jika dengan menghukumku bisa membuatmu tenang," sambungnya sambil menunduk.


Suzy diam di tempat dan hanya memperhatikan Ken yang tengah berlutut di hadapannya. Ia hanya malu jika anak-anak mengetahui bahwa dirinya telah bercinta dengan Ken. Tapi bukan karena ia tidak suka itu. Atau malu karena siapa diri Ken.


Ia hanya malu karena merasa terlambat melakukannya. Di jaman sekarang, gadis-gadis di lingkungannya bahkan merasa bangga jika pernah melakukan hubungan badan dengan kekasihnya di usia sangat muda.


Bahkan, mereka yang menjadi perawan tua sepertinya, selalu mendapat cibiran dari para tetangga karena belum juga laku. Atau bisa juga dibilang bahwa pria manapun tidak ada yang mau melirik karena sudah tidak menarik.


Suzy menjatuhkan dirinya ke lantai. Berhadapan dengan Ken.


"Aku tidak bisa menghukummu."


Ken mengangkat wajahnya dan melihat Suzy tampak lesu. Maka dihampirinya wanita yang sedang merajuk itu. Ia bahkan merengkuhnya ke dalam pelukan.


"Maafkan aku karena membuat kesalahan. Tapi aku tidak menyesalinya sedikitpun. Dengan jawabanku seperti itu, setidaknya aku memberitahu mereka bahwa kau benar-benar sudah menjadi milikku sekarang," Ken mencoba menenangkan Suzy.


"Tapi aku masih merasa malu,,,,"


"Lupakan saja. Karena itu hanya permainan, aku rasa mereka tidak akan menceritakan semua itu pada orang lain."


Suzy mengangguk.


"Lagi pula, kita juga mendengar pengakuan mereka juga, bukan?"


Suzy kembali mengangguk.


"Yaaah. Baiklah. Apa kita pulang sekarang?" tanya Ken.


"Tidak."


"Ada apa lagi?"


"Lihatlah. Kau perlu cuci piring dan membersihkan saus yang tercecer di lantai lebih dulu," Suzy ingin memanfaatkan Ken.


"Aaaahh.... Baiklah, aku akan membersihkan lantainya terlebih dahulu," jawab Ken dengan berat hati.


"Cepatlah,,," Suzy tersenyum licik dan meledek.


"Yaaa...."


Ken mengambil alat pengepel lantai dan mulai mengepelnya. Sedangkan Suzy duduk di kursi dengan kaki yang naik ke atas meja bak seorang raja.


"Itu di sana!" seru Suzy sambil menunjuk arah kanan Ken.


"Di sana juga ada!" Suzy kembali menunjuk arah kiri Ken.


"Baiklah tuan putri," jawab Ken tersenyum kecut.


Setelah mengepel, Ken juga mencuci piring. Karena anak-anak itu diusir pergi oleh Suzy, mau tidak mau Ken yang harus mengerjakan semuanya. Beberapa piring, gelas, wajan dan loyang besar seolah tersenyum mengejek pada Ken.


Satu jam kemudian,,,,


"Aarrgghh.... Selesai juga akhirnya,,," Ken menggeliat lelah sambil berjalan menghampiri Suzy.


Namun, ia melihat Suzy sudah tertidur di atas kursi tersebut. Meski badannya sangat letih, Ken menggendong Suzy pulang ke rumah melewati jalanan yang bersalju.


Ia sengaja meninggalkan motornya di restoran.


Sepanjang perjalanannya, Ken bersin beberapa kali dan menggigil kedinginan. Ia berusaha berjalan pulang dengan cepat agar Suzy tidak ikut merasakan dinginnya suhu luar ruangan.


Bersambung ke Episode 59