
EPISODE 75
Masyarakat dan berbagai macam model reporter televisi ramai berdatangan ke pengadilan tempat diadakannya sidang keputusan kasus Ken.
Begitu juga keluarga Ken. Mereka hadir untuk menyaksikan proses persidangan suami, anak dan menantu mereka.
Di depan ruang sidang, Suzy begitu resah menunggu suaminya datang. Sambil berjalan mondar mandir, ia terus saja mengusap perutnya. Sesekali ia juga menggigit bibirnya karena terlalu gugup.
Begitu mobil tahanan memasuki halaman pengadilan, para reporter segera memburu mereka untuk mewawancarai tersangkanya.
Sekilas, Suzy melihat Ken turun dari mobil dan langsung diserbu pewawancara. Wajah suaminya itu tampak pucat dan sepertinya sedang tidak sehat.
"Sayang!"
Tanpa berpikir jauh, Suzy berlari menghampiri kerumunan dan menyelinap diantara reporter. Namun sayang sekali, niatnya bertemu sang suami harus ia urungkan karena penjagaan yang begitu ketat.
Di dalam ruang sidang, semua yang datang mematuhi tata tertib dan tidak banyak bersuara.
Mereka menunggu kedatangan sang wali kota yang beberapa minggu lalu menggugat sang pelaku pembunuhan. Ia bertekad tidak akan melepaskan begitu saja berandal yang berani menghilangkan nyawa Keiko, putrinya.
Tidak berapa lama kemudian setelah wali kota datang, sidang pun digelar.
Di depan hakim, jaksa dan pengacara, Ken duduk diam mendengarkan semua bukti yang tengah dibacakan pengacara penggugat. Jaksa yang menangani kasus ini pun sangat giat dan percaya diri dengan penilaiannya.
Pengacara hebat yang dibawa oleh Kenie pun sampai tidak sanggup menyanggah semua ucapan jaksa yang mempertontonkan bukti-bukti tentang perbuatan Ken pada korban.
Lebih-lebih, pengakuan Ken pada waktu diinterogasi membuat masalah baru dalam persidangan.
"Yang Mulia, karena tersangka mengakui bahwa malam itu dia sempat berciuman dengan korban di kamarnya dan korban pun sempat menyentuh bagian sensitif tersangka, saya rasa itu saja sudah cukup menjadi bukti jelas bahwa dia akhirnya melakukan persetubuhan sebelum terjadinya pembunuhan!" seru jaksa penggugat dari wali kota.
"Tunggu yang mulia, tersangka memang mengakui adanya kontak fisik dengan korban di malam itu. Namun di sisi lain, tersangka juga mengatakan bahwa tidak ada hal lain selain berciuman itu sendiri. Dia bahkan mengatakan ada seseorang yang memukul kepalanya dari belakang. Bukankah dari sini dapat disimpulkan bahwa bisa jadi ada tersangka yang lain?" pengacara Ken tidak mau kalah.
"Bagaimana anda berpikir seperti itu ketika penyidik dari kami sudah mengantongi semua bukti yang memberatkan tersangka? Bahkan kami juga mencocokkan sel sp*rm* milik tersangka dengan sp*rm* yang ditemukan di tubuh korban. Keduanya sama. 100 % milik tersangka."
"Bukankah itu bisa dimanipulasi?"
"Apa? Apakah anda menuduh kami merekayasa hasil tesnya?"
TOK ! TOK! TOK!
Palu diketuk untuk menenangkan situasi. Hakim meminta waktu untuk berpikir dan menentukan keputusannya. Maka, mereka memberi waktu istirahat bagi semua yang hadir dalam sidang selama lima belas menit.
Kenzhi dibawa keluar menuju ruang lain dengan penjagaan ketat dan akan dihadirkan kembali saat sidang berlanjut. Pada kesempatan itu, ia sempat bertatapan mata dengan Suzy.
GLEK!
Ken tertegun. Ia melihat mata Suzy berkaca-kaca. Ia yakin, pengakuannya pada polisi dan telah dibacakan di depan hakim tadi telah menyakiti hatinya.
"Sayang,,, benarkah itu? Kau dan Keiko sempat bermesraan???"
Wanita itu merasa kepercayaannya pada sang suami telah dinodai. Apakah itu artinya kecurigaannya beberapa waktu yang lalu terbukti benar adanya.
"Gila! Mengapa suamimu justru menyatakan bahwa dia dan korban sempat berciuman? Apa menurutmu itu masuk akal?" Akiyama merasa kecewa. Ia melirik adiknya yang berdiri di sampingnya.
"Yama,,," ucap Suzy lirih.
"Ada apa?"
"Tidak perlu marah-marah," sambung Suzy hampir tidak terdengar.
"Kenapa aku tidak berhak marah saat adik iparku menduakanmu? Bukankah pengakuannya itu juga membuatmu terluka?"
Suzy tersenyum, "Itu benar. Tapi apa kau melihat kondisinya beberapa waktu lalu?"
"Apa maksudmu?"
"Dia sempat terluka dan wajahnya dipenuhi lebam. Walaupun itu benar adanya, aku yakin dia telah disiksa dan dipaksa mengakuinya."
Pada saat Suzy dan Akiyama sedang berdebat, wali kota datang menemui Ken di ruangannya. Ia membawa pengawalnya sendiri dan menahan pengawas yang bertugas mengawasi Ken agar tidak mengganggu.
BUG!
Begitu masuk, wali kota Asahi langsung meninju wajah Ken. Karena kedua tangannya diborgol, Ken tidak bisa berbuat banyak.
"Sejak kapan kau mempunyai hubungan dengan putriku?!" tanya wali kota seraya mencengkeram kerah baju Ken.
Ken diam merasakan bibirnya perih akibat luka.
"Jawab dengan jujur!"
"Kami tidak ada hubungan apapun."
"Jangan bohong! Katakan padaku alasan kau membunuhnya."
Ken diam dan meminta maaf, "Maaf."
"Apa katamu?" wali kota mencengkeram lebih erat.
"Aku mengakui bahwa kami sempat berciuman. Tetapi, itu terjadi begitu saja. Aku terbawa suasana saat Keiko melakukannya. Tidak ada motif lain, apalagi niat untuk membunuhnya."
"Jadi maksudmu, putriku yang memancingmu terlebih dahulu? Lalu dengan seenaknya kau menyetubuhi dia dan membunuhnya dengan keji? Begitu?!!"
Wali kota menarik Ken ke dekatnya dan bicara tepat di depan mukanya. Tangan yang digunakan untuk mencengkeram kerah Ken pun gemetar menahan marah.
Ken diam dan tidak berani menatap mata pria didepannya. Bukan karena takut, tetapi ia merasa bersalah karena tidak mampu menyelamatkan putrinya.
Wali kota melepas cengkeramannya dan mengamuk. Ia memukuli Ken karena tidak juga mendengar pengakuan dari mulutnya.
Setelah puas memukul kepala Ken, wali kota menatapnya dengan serius,
"Hakim akan memutuskan penahananmu. Jadi akui semuanya saat ini juga dan ikuti alurnya, jika tidak ingin wanita yang kau cintai dan bayi yang dia kandung merasakan hal yang serupa."
Ken yang mendengar ancaman wali kota pun terkejut. Ia berusaha berdiri dengan tegak.
"Apa maksudmu, tuan?"
"Jika kau pintar, kau akan mengerti apa yang aku maksud," jawab wali kota seraya mengelap punggung tangannya yang berlumuran darah Ken.
"T tapi. Aku sungguh tidak membunuhnya. Tidakkah kau ingin mencari pelaku yang sebenarnya?"
"Tidak ada pelaku lain. Yang ada hanya kau. Mengerti?!"
"Tapi tuan!
•••••
Kembali pada debat Suzy dan Akiyama,
Saat itu, Akiyama hanya bisa diam menunduk. Ia tahu hal itu bisa saja terjadi. Bagaimana penyiksaan yang dilakukan penyidik untuk mendapatkan pengakuan sangatlah brutal.
Namun ia tahu seperti apa Ken. Temannya itu tidak mudah menyerah jika tidak terpaksa.
"Kalau begitu, apa kau ingin bertemu dengannya?"
"Tentu saja. Tapi sepertinya aku tidak bisa menemuinya, dia dijaga ketat oleh polisi."
"Kau tidak akan tahu jika tidak mencoba!" jawab Akiyama.
Suzy menatap kakaknya itu dengan harapan tinggi. Meski sulit ditemui, Suzy dan Akiyama berusaha keras untuk menemui Ken di ruangan khususnya.
Mereka berdua berjalan dengan amat yakin mendekati ruang tersangka Ken berada.
"Tapi pak, dia suamiku. Ijinkan aku bertemu dengannya sebentar saja, yah?"
"Maaf, nona. Tapi pertemuan dalam bentuk apapun selama persidangan itu tidak diperbolehkan."
"Tapi pak,,,"
Pria itu menyingkirkan Suzy dari depan ruangan dengan paksa. Karena menerobos masuk terasa amat sulit, akhirnya ia dan Akiyama merencanakan sesuatu.
"Kau lihat pria-pria berdasi itu? Bukankah itu aneh? Kira-kira siapa yang menyuruhnya berjaga?"
"Ya. Itu sangat mencurigakan. Eh? Bukankah yang itu pengawal wali kota? Aku melihatnya saat dia masuk mendampinginya di dalam ruang sidang!"
"Benarkah? Kalau begitu, sudah pasti wali kota yang sedang menemui suamimu."
"Lalu bagaimana? Apa kita tetap masuk?"
"Tentu saja. Ini kesempatan bicara pada ayah Keiko bahwa Ken bukan pria seperti itu."
"Hmm!" Suzy mengangguk.
Akhirnya, mereka memprovokasi para reporter agar mengerumuni ruang tempat Ken berada. Situasi ramai tak terkendali pun menguntungkan mereka.
Kemudian, saat pandangan penjaga teralihkan, Akiyama membawa Suzy masuk tanpa ketahuan.
Begitu mereka masuk ke dalam ruangan, Suzy maupun Akiyama melihat wajah Ken yang berdarah. Wali kota pun terlihat tengah mengusap punggung tangannya yang berlumuran darah dengan sapu tangan.
Suzy mengerti bahwa wali kota baru saja memukuli suaminya. Ia yakin betul!
Kedua pria itu menoleh bersamaan saat Suzy datang. Wali kota diam dan melirik pada Ken dengan mengisyaratkan ancamannya.
DEG!
Kini, Ken mengerti siapa wanita yang dimaksud wali kota. Matanya terbuka lebar memancarkan keresahan. Ia benar-benar takut jika yang dikatakan wali kota itu bukan sekedar ancaman belaka.
Karena ada orang lain yang datang, wali kota memutuskan untuk pergi. Ia merapikan jasnya dan meninggalkan ruangan tanpa berkata apapun. Ken hendak mengejar wali kota, namun ternyata Suzy lebih dulu melakukannya.
"Tunggu! Anda wali kota Asahi, bukan? Ayah Keiko?" panggil Suzy.
Wali kota menoleh kaku.
"Tunggu, pak. Apa anda juga berpikir bahwa suamiku melakukan pembunuhan itu pada Keiko?"
Wali kota tersenyum menyeringai, "Semua bukti sudah menjelaskan semuanya. Jadi relakan saja suamimu."
"Apa? Tunggu pak! Kau salah paham! Suamiku tidak membunuh putrimu!"
Tanpa mendengarkan Suzy lagi, wali kota Asahi pergi dengan buru-buru. Suzy sempat beraniat mengejar langkah wali kota, namun Ken mencegahnya.
"Sayang, sudah cukup.."
Suzy menoleh putus asa. Ia memandangi wajah Ken. Mata sebelah kirinya menyipit dan tampak bengkak dengan bibir yang juga terluka.
"Apa yang terjadi padamu,,," Suzy menyentuh luka di bibir Ken dengan pelan.
Ken meraih tangan Suzy tersebut dan menunduk sedih, "Semua sudah berakhir, sayang."
"Apa maksudmu?" Suzy terkejut. Begitu juga Akiyama. Kakak Suzy itu mendekati mereka karena cemas.
"Karena semua bukti sudah diterima, Hakim akan memutuskan masa hukumanku hari ini juga."
"Tidak, ini tidak benar. Kau mengatakan tidak membunuhnya, kan? Lalu mengapa sekarang kau menyerah untuk itu?" mata Suzy berkaca-kaca karena menahan sedih.
Suzy berbalik hendak pergi mengejar wali kota untuk memohon kebaikannya. Tetapi Ken dengan cepat memeluknya dari belakang.
"Lepaskan! Aku harus memohon pada wali kota untuk memberimu keringanan," Suzy meronta.
"Tidak, sayang. Hentikan keinginanmu sekarang. Aku pikir, kau harus merelakanku pada kasus ini."
"Tidak! Aku tidak bisa melakukannya! Mengapa kau memintaku melakukan hal yang tidak ingin kulakukan?"
"Sayang, maafkan aku," Ken melepaskan pelukannya dan bertekuk lutut di belakang Suzy. Kedua tangannya ia letakkan di atas lutut sembari kepalanya menunduk karena menahan air mata.
Suzy segera berbalik.
"Tidak, Ken. Aku mohon jangan menyerah seperti ini," Suzy menangis sedih dan bersimpuh di lantai mengikuti suaminya.
"Sayang...."
"Tidak! Jangan berkata apapun lagi aku mohon.."
"Berhentilah dari sekarang, Suzy. Sepertinya, aku tidak mempunyai harapan lagi untuk bebas. Jadi dengarkan aku. Mulai sekarang, hiduplah seperti kau tidak pernah mengenal ataupun bertemu denganku. Hiduplah bahagia tanpa terbebani dengan semua masalahku!"
Ken bicara panjang lebar sambil memegangi kedua lengan Suzy.
"Apa katamu? Bagaimana bisa kau mengatakan itu padaku? Lalu bagaimana dengan bayi ini? Apa kau juga menyuruhku untuk menyembunyikan identitasmu darinya?" Suzy semakin menangis.
"Ya. Bila perlu lakukan itu. Akan lebih baik baginya untuk tidak tahu siapa ayahnya. Dengan begitu, ia akan hidup tenang berdampingan dengan masyarakat."
PLAK!
"Apa kau gila?!"
Ken menangis dan mengeraskan hatinya, "Lakukanlah apa yang ku minta."
"Aku tidak mau!"
"Yama! Bawa dia pulang!"
"Tapi Ken, menurutku apa yang dikatakan Suzy ada benarnya. Kau tidak harus menyerah pada kasus ini," jawab Akiyama.
"Cepat bawa dia!"
"Ya? B baiklah," Akiyama yang sedari tadi hanya bisa diam menyimak pembicaraan itu pun mendekati adiknya.
Pada saat itu, penjaga masuk dan menyeret Ken untuk kembali ke ruang sidang sebab sidang akan dilanjutkan.
"Sayang!! Tidak! Lepaskan aku!!" teriak Suzy histeris seraya meraih-raih tangan Ken.
•••••
TOK!
TOK!
TOK!
Sekali lagi, sidang pun berlanjut. Semua yang menghadiri sidang tersebut akhirnya mendengar keputusan yang menurut mereka cukup adil. Yaitu sepuluh tahun penjara.
Namun tidak bagi Suzy. Baginya, keputusan hakim adalah keputusan sepihak yang tidak memikirkan pembelaan dari tersangka yang tidak bersalah.
Suzy histeris memanggil-manggil Ken. Ia juga berusaha keras untuk melangkah ke depan. Menghampiri suaminya. Dalam keadaan hamil, ia terus menyerukan kebenaran.
Ayah, ibu, kakak dan mertuanya hanya bisa menahannya agar tidak melakukan hal-hal nekat sambil bersedih.
Ken yang melihat itu pun merasa amat tersakiti. Hatinya pedih membayangkan dirinya yang harus meninggalkan sang istri dan bayi yang masih dalam kandungan ibunya.
"Sayang, jaga dirimu baik-baik. Maaf karena aku melakukan ini padamu. Meskipun menyesal, aku tetap harus memilih jalan ini jika ingin melindungimu."
Bersambung......