RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
TELUR BUSUK



EPISODE 41


Sehari setelah Kenzhi dan Suzy menerima ultimatum untuk menikah, paman Akihiro dan bibi Tamako meminta mereka menandatangani surat nikah resmi dan membawa keduanya ke gereja untuk melakukan ikrar suci pernikahan.


Mereka berpikir bahwa acara resepsi bisa menyusul kapan saja. Yang penting Ken dan Suzy menikah terlebih dahulu.


Semua keluarga Suzy datang ikut serta untuk mendengar dan melihat pernikahan keduanya. Bahkan keluarga kecil restoran pun datang sebagai saksi. Begitu Suzy dan Kenzhi saling mengucapkan ikrar untuk saling setia, semuanya bersorak senang.


"Selamat! Akhirnya kalian benar-benar menikah," seru Akiyama menyalami adik iparnya.


"Ah,, i iya."


Ken merasa canggung dengan situasi yang memaksanya untuk melakukan itu. Suzy pun sama. Ia tidak siap dengan pernikahan terpaksa yang ia alami ini.


"Selamat, adikku yang manis! Kalian menikah juga akhirnya!" ucap Akiyama pada Suzy.


"Isshh.." Suzy mencibirkan bibirnya.


"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu? Pengantin wanita harus tampil cantik di hadapan suaminya. Benar begitu bukan, sayang?" Akiyama terus saja berceloteh di hadapan pasangan pengantin baru itu.


"Pokoknya, berbahagialah kalian berdua! Ingat! Usia kalian sudah semestinya membina rumah tangga. Jadi, terus akur dan berikan kami keponakan yang lucu," Nonaka menggoda Suzy dengan gembira.


"A apa keponakan? Hohohoho,,," Suzy menoleh pada Ken, kemudian terkekeh dengan muka kecut sambil bersandar di bahu pria yang kini menjadi suaminya, berlagak baik-baik saja.


GLEK


Ken balas menoleh pada Suzy dan menelan ludah. Matanya melotot. Apanya yang keponakan lucu? Pernikahan mereka pun berjalan karena situasi yang mendesak. Apa mungkin mereka akan melakukan hal seperti itu? Sepertinya tidak.


Ah masa?


Dan percaya tidak percaya. Pada malam pengantin mereka, Nonaka dan bibi Tamako mendandani keduanya dengan pakaian adat pengantin di keluarga mereka. Suzy mengenakan Hikifurisude hitam bermotif burung flamingo putih dan bunga sakura merah muda nan indah dengan selipan kain merah di bagian dalamnya.


Sedangkan Kenzhi sendiri, mengenakan pakaian adat yang disebut Kuro-montsuki yang berwarna hitam pula. Dengan pakaian tersebut, Ken tampak sangat menawan. Bahkan Nonaka yang sudah menjadi istri Akiyama pun berkomentar manis.


"Oh ya ampun ibu, sebelumnya aku merasa yakin bahwa dia akan terlihat sangat tampan jika mengenakan itu. Dan lihatlah! Perasaanku benar-benar tepat!" seru Nonaka pada ibu mertuanya.


"Iya benar. Dia lebih tampan dari suamimu, bukan?" goda bibi Tamako, ibunya Akiyama.


Nonaka tersenyum memperhatikan wajah Kenzhi dengan amat mendalam. Namun tiba-tiba saja Akiyama datang dan menjewer kupingnya.


"Jadi, apa kau akan terpikat dengan adik iparmu sendiri?" Akiyama berlagak kesal.


"Eh? Sayang,,,, tidak. Bukan begitu maksudku," Nonaka berdalih manja.


"Aku tidak percaya," Akiyama merajuk.


"Percayalah. Kau tetap paling tampan di rumah ini," ucap Nonaka mengusap-usap wajah suaminya dan mengecupnya sayang.


Cup!


•••••


Pakaian pengantin yang dikenakan Suzy dan Kenzhi tersebut rupanya pakaian milik paman Akihiro dan bibi Tamako tempo dulu. Pakaian yang juga dikenakan oleh Nonaka dan Akiyama pada malam pengantin mereka.


Ketika semua keluarga sedang menguping dengan menempelkan kepala mereka di dinding kamar pengantin baru, Suzy dan Ken duduk mematung satu sama lain.


Mereka merasa sangat kikuk ketika disatukan dalam satu kamar dalam posisi duduk bersimpuh menggunakan bantal duduk dan saling berhadapan. Cukup lama mereka diam memandangi lilin yang menyala di samping kanan dan kiri mereka berdua.


Sesekali mata keduanya pun terlihat saling melirik. Dengan jantung berdebaran bagai sedang balapan dengan laju kereta api. Keringat dingin seukuran biji jagung pun perlahan membasahi tubuh keduanya.


Lucunya, ketika Suzy hendak meraih teko berisi teh, tanpa disangka-sangka, Kenzhi juga mengulurkan tangannya untuk menuang teh dari dalam teko ke gelas.


Tentu saja, kedua tangan mereka bertemu dan mengalirkan sengatan listrik bertegangan tinggi.


SERRRTTT!!


Tidak seperti biasanya, Ken dan Suzy kini merasakan setruman cinta dan langsung menarik kembali tangan mereka. Seketika keduanya pun merasakan detak jantung yang diselimuti rasa deg-degan dan perasaan gugup yang tiada tara.


"M maaf. Aku menyebabkan kekacauan ini," kata Ken lirih.


"Eh?"


"Jika malam kemarin aku tidak mabuk, mungkin akan beda lagi ceritanya," lanjutnya.


"Tidak apa."


Suzy menunduk. Sekilas ia melihat beberapa bayangan di depan pintu. Maka ia pun tahu, bahwa keluarganya sedang menguping.


"Aku rasa, aku tidak bisa melakukannya sekarang. Apa kau keberatan?" tanya Suzy gugup.


Ken mengangkat kepalanya dan memperhatikan Suzy. Ia memahami situasi di antara mereka. Tidak benar jika ia memaksa Suzy melakukan hubungan suami istri.


"Aku akan menghormati keputusanmu. Karena situasi pernikahan kita berbeda, aku juga bersedia menunggu. Sampai kau benar-benar bisa menerimaku sebagai seorang suami," jawab Ken.


"Maaf ya..." Suzy semakin menunduk.


"Jangan khawatir. Kita bisa menjalani hubungan ini dengan perlahan. Aku tidak akan memaksamu. Jika kita ditakdirkan untuk bersama, maka lambat laun, perasaan kita pun akan semakin terikat. Dan masing-masing dari kita juga akan memiliki kesiapan dalam membina rumah tangga ini," Ken bicara sambil menatap Suzy.


Suzy mengangguk haru. Ken benar-benar pria yang berhati besar. Tidak banyak pria yang mau menerima keputusan yang sedikit egois seperti itu.


"Tapi, apa yang harus kita lakukan pada mereka?" Suzy menoleh pada pintu kamar dan berbisik lirih mengisyaratkan bahwa keluarga mereka ada di depan kamar tersebut.


Ken merasa tidak percaya. Jika itu benar-benar menjadi malam pengantinnya bersama Suzy, untuk apa mereka semua memata-matai?


Ah! Yang benar saja?


Apa mereka ingin mendengar suara mesra disaat kedua pengantin memadu kasih?


Dengan cepat Ken meniup lilin. Karena api padam, keluarga Suzy yang di depan pun mulai bersemangat dengan pikiran mereka masing-masing.


"Sekarang tidurlah. Tenang saja. Aku tidak akan macam-macam denganmu. Biarkan mereka berpikir bahwa kita sedang melakukan sesuatu sebagai pengantin baru," Ken tersenyum dan merapikan tempat tidur untuk Suzy.


"Selamat tidur, Ken," Suzy mulai mengantuk.


"Hmm. Selamat malam."


•••••


HOEK!


HOEK!


Suzy bangun karena mendengar suara orang seperti sedang mual-mual dan muntah. Karena ia juga tidak melihat Ken tidur di sekitarnya, maka secara otomatis ia pun mencari keberadaan Ken.


Ia berjalan mendekati kamar mandi yang ada di dalam kamar mereka. Benar saja. Di sana, Ken sedang mengalami masa sulit. Gejala yang menunjukkan gangguan pada otaknya, membuat Ken muntah-muntah dan merasakan sakit kepala luar biasa.


"Ken!"


Suzy meraih lengan Ken, menepuk-nepuk dan mengusap punggung suaminya dengan lembut. Setelah Ken selesai dengan mualnya, Suzy membantu pria itu keluar kamar mandi dan duduk di ranjang.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Suzy khawatir.


Diperhatikannya wajah Ken yang pucat pasi dan tampak sangat lesu. Terlihat jelas bahwa Ken sedang menahan rasa sakit di kepalanya.


"Sejak kapan kau berada di kamar mandi?" tanya Suzy. "Apa semalaman kau tidak tidur?"


Ken mengangguk lemah.


"Oh, ya Tuhan," Suzy mengusap wajah Ken dengan penuh perhatian.


Kemudian ia ingat pada obat yang diberikan dokter waktu itu. Dengan cepat ia pun mengambil obat tersebut dan segelas air putih yang terletak di atas nakas.


"Minumlah."


Suzy mendekatkan sebutir kapsul pereda sakit ke mulut Ken. Tanpa menolak, Ken membuka mulut dan menerima obat tersebut.


"Terima kasih," kata Ken.


Suzy duduk di samping Ken dan memijat pundaknya.


"Sekarang, kau tidur saja dulu. Hari ini aku akan menengok restoran bersama Suri dan Keiko," Suzy menyiapkan bantal tidur untuk Ken.


"Sepertinya, aku tidak akan bisa tidur. Mungkin lebih baik aku ikut saja denganmu," jawab Ken cepat.


"Tapi kau belum istirahat," Suzy protes.


"Tidak apa. Aku juga ingin melihat keadaan restoran pasca terjadi kekacauan. Kalau begitu, sebaiknya kau mandi dulu. Aku akan mandi setelahmu,," Ken berdiri dan melepas pakaian adatnya.


"Baiklah."


•••••


Suzy dan Ken yang baru saja tiba di depan restoran sedikit terkejut melihat keadaan yang ada di sana. Dinding bagian depan dipenuhi coretan dari cat semprot yang berbunyi menolak keras keberadaan pembunuh.


Bahkan tulisan-tulisan tersebut bernada ancaman dan hampir seluruhnya berisi makian. Dengan beberapa persen pengrusakan papan, plang, serta kaca dan jendela restoran akibat dilempar batu.


Ken menelan ludah. Perasaannya benar-benar kacau. Benarkah kerusakan yang terjadi di restoran Suzy adalah akibat dirinya?


Oh tidak. Keadaan benar-benar sedang tidak bersahabat padanya. Meski begitu, Ken berusaha tampak baik-baik saja di hadapan Suzy yang kini menjadi istrinya.


Melihat kekacauan di depan restoran, Ken segera memunguti apapun yang ada di sana. Entah itu pecahan kaca, patahan kayu dari plang nama, botol-botol bekas cat, kursi yang patah, tong sampah dan sampah yang tersebar ke mana-mana pun ada di sana.


"Maaf, Suzy. Aku rasa, ini semua terjadi karena keberadaanku di restoranmu," Ken berkata sambil memasukkan kembali sampah-sampah yang berceceran.


Mata Suzy berkedip-kedip cepat karena berusaha menahan tangisannya. Ia tidak ingin Ken semakin merasa bersalah gara-gara dirinya menangis. Selama hidupnya, kejadian ini benar-benar membuatnya sedih.


Pada saat mereka sedang berbenah, beberapa orang datang dan menolak kehadiran Ken. Mereka juga sengaja membawa telur-telur busuk dan melemparkannya ke tubuh Kenzhi dengan teganya.


"Hey! Apa yang kau lakukan di sini?! Dasar pembunuh tak tahu diri! Cepat pergi! Tempat ini tidak cocok untukmu!!" orang-orang itu berteriak memaki dan mulai melempari Ken dengan telur busuk yang ada di tangan mereka.


PLOK!


PLOK!


PLOK!


Wajah dan tubuh Ken berlumuran telur yang baunya membuat mual dan ingin muntah.


"Pembunuh sepertimu, sama seperti bau telur-telur itu. Selain busuk, di mana pun kau berada, semua orang tidak akan pernah suka!"


"Benar. Jadi nona, suruh dia pergi jika tidak ingin kami merobohkan restoranmu!!" seru seseorang sambil memukul-mukulkan tongkat ke tembok.


"Lakukan saja jika kau tidak ingin kami menghancurkan usahamu!"


Puih!


Orang-orang itu meludahi Ken dan berlalu dengan kebencian mendalam.


.


.


.


Bersambung ke Episode 42


.


.