RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
TERKECOH



EPISODE 123


Dengan terburu-buru, Ken mendatangi toko kakek Hiro. Rupanya toko sedang tutup. Karena itu, Ken pergi lagi menuju rumah mertuanya itu.


Di depan rumah mertuanya, tidak ada seorang pun yang tampak. Maka Ken melangkah masuk dengan tidak membuat banyak suara. Namun rumah itu pun kosong. Tidak ada orang di dalam.


"Ke mana orang-orang?" gumam Ken cemas.


Kemudian saat ia melangkah pergi, datanglah kedua mertuanya dengan mata bengkak karena semalaman menangis. Begitu melihat Ken berdiri di hadapannya, nenek Tama langsung menerjang tubuh menantunya itu dan memukulinya dengan kuat.


"Sialan kau!! Ke mana kau membawa cucuku pergi!! Cepat kembalikan dia pada kami!!" teriak nenek Tama menyalahkan Ken secara tiba-tiba.


"T tunggu! Apa maksud ibu, Suya belum pulang sejak kemarin?"


"Jangan berpura-pura tidak tahu! Dasar bajingan! Kau kan yang menculik Suya dari kami?!!" bentak nenek Tama amat membenci Ken.


"T tidak."


Kakek Hiro menarik istrinya dan memintanya bersabar, "Sayang, tenanglah! Jika menantu Ken yang menculiknya, mana mungkin dia datang kemari mencarinya?"


"B benar, ayah. Aku datang kemari untuk membantu mencari Suya."


"Membantu mencari? Jadi, apa kau tahu dia diculik?"


Ken menjatuhkan dirinya di hadapan kedua mertuanya. Ia duduk bersimpuh dengan kedua lutut menempel di tanah sebagai wujud permintaan maaf dengan sopan atas sebuah kesalahan.


"Maaf ayah, ibu. Suya diculik karena salahku,-"


Belum selesai Ken bicara, nenek Tama lagi-lagi memukuli kepala Ken.


"Dengar, sayang! Dialah penyebab Suya diculik. Huhuhu.. Sampai kapan kau akan menorehkan luka untuk kami?! Kurang ajar!!"


Ken diam saja saat ibu mertuanya terus memukuli kepalanya. Ia pun menahan tangis karena merasa tidak pantas untuk menangis.


"Sudah, sayang. Sudah..." kakek Hiro mencoba menghentikan istrinya.


Maka, nenek Tama pun menangis tersedu-sedu dan menjatuhkan diri di tanah. Saat itulah Ken mengatakan bahwa ia tetap akan bertanggung jawab untuk menemukan putranya.


"Aku akan membawa pulang Suya dengan selamat. Ayah dan ibu harap tenanglah. Bagaimanapun, aku akan melindungi putraku dengan segenap hati," ucap Ken sambil menundukkan kepala dengan kedua tangan berada di atas lutut.


Kakek Hiro mengangguk memberi persetujuan dan karena memang menganggap menantunya itu dapat dipercaya.


Setelah bersujud memberi hormat pada kedua mertuanya, Ken bangkit dan pergi meninggalkan mereka.


••••


Di persimpangan jalan dekat bengkel, Ken mengintai Kazuki yang kebetulan baru saja keluar dari dalam. Sepertinya ia hendak pergi ke suatu tempat. Maka ia pun mengikuti laju mobil mereka dengan cepat.


Namun sayang, seorang anak buah Kazuki melihatnya.


"Sepertinya motor itu mengikuti kita."


"Apa? Siapa?" Kazuki menoleh ke belakang dan mengenali Ken. Ia pun tersenyum senang.


"Apa kita akan tetap menuju apartemen, bos?" tanya anak buah Kazuki yang bernama Fu.


"Tidak. Kita akan mengecoh dia menuju gedung pernikahan."


"Baiklah."


"Hagie, di persimpangan depan nanti kau turunlah dengan cepat. Minta Jeiji menjemputmu di sana. Kalian pindahkan anak itu ke markas. Biarkan dia di sana sampai hari pernikahanku dengan Yuna tiba. Kita lihat, dia akan mengikutiku atau kau."


"Baik, bos."


Maka begitu mobil Kazuki melintasi persimpangan jalan, Hagie turun dan mengirim pesan pada Jeiji untuk menjemputnya.


Ken yang melihat seseorang turun dari mobil Kazuki menjadi bimbang. Siapa yang harus ia ikuti sekarang ini? Apakah Kazuki melihat dirinya sedang mengikuti laju mobilnya?


Saat melewati Hagie, Ken menatap pria gempal itu dengan tajam. Sekali lihat saja ia bisa mengenalinya jika nanti bertemu kembali.


Karena sulit untuk memilih dalam keadaan seperti itu, Ken tetap mengikuti laju mobil Kazuki. Ia tidak tahu bahwa Kazuki tengah menertawakannya di dalam mobil.


"Ahahaha!! Sudah ku duga! Dia terlalu fokus pada tujuannya," Kazuki terbahak-bahak sambil menepuk-nepuk pahanya.


Pada saat mobil Kazuki sampai di gedung pernikahan, Ken sedikit heran. Ia tahu bahwa tempat itu menyewakan tempat untuk acara pernikahan.


"Apakah di sana mereka akan mengadakan pesta pernikahan?" tanya Ken pada diri sendiri.


Kazuki membiarkan Ken mengikutinya dan berpura-pura tidak menyadari bahwa dirinya sedang diikuti.


"Maaf nona, bisakah aku minta bantuanmu?"


"Tentu saja, tuan. Apa yang bisa aku bantu?"


"Kau lihat pria di sana?"


"Yah. Aku melihatnya."


"Jika pria itu bertanya tentangku, katakan saja yang sebenarnya, bahwa tempat ini aku sewa untuk pernikahanku besok," Kazuki bicara pada salah satu pekerja yang mengurus gedung.


"Oh. Iya baiklah, tuan."


Setelah Kazuki berlalu, Ken datang dan bertanya pada petugas gedung yang tadi.


"Maaf nona, bisakah aku bertanya padamu?" tanya Ken.


"Tentu saja, tuan. Ada yang bisa ku bantu?"


"Apa altar bunga itu untuk pesta pernikahan?"


"Benar."


"Bolehkah aku tahu siapa yang akan memakai tempat itu?"


"Tempat ini disewa oleh tuan Kazuki dari klub Minami untuk pernikahannya besok."


"Benar."


"Em,, kira-kira jam berapa pesta itu akan dilangsungkan?"


"Di sini tertulis pesta dimulai jam tiga sore sampai tujuh malam, tuan."


"Baiklah. Terima kasih."


Ken pergi dan memacu sepeda motornya kembali ke tempat pria gempal yang tadi turun di persimpangan. Sayangnya, ia tidak melihatnya lagi di sana.


"Sialan! Aku kehilangan jejak!" umpat Ken kesal.


Tepat pada saat Ken berhenti dan melayangkan pandangan ke seluruh jalanan, ia melihat sebuah pergerakan di ujung jalan dekat halte bus.


Itu dia si pria gempal!


Tanpa menunggu untuk kehilangan jejak yang kedua kalinya, Ken segera memutar arah dan mengikuti mobil yang membawa Hagie pergi.


Kali ini ia sangat berhati-hati dalam mengikuti targetnya. Mobil yang ia ikuti itu akhirnya berhenti di sebuah apartemen daerah Ginza.


Hagie turun dan langsung masuk ke dalam apartemen tersebut. Tak berapa lama kemudian, ia turun kembali menggiring seorang bocah yang mempunyai tinggi badan sama persis seperti Suya. Bahkan seragam sekolahnya pun benar seragam sekolah Suya. Namun, karena kepalanya tertutup sebuah topeng, Ken tidak dapat mengenali anak itu.


DRAK!


Suara pintu mobil ditutup. Dari jauh, Ken melihat bahwa terjadi percakapan yang serius di antara mereka. Kali ini, pria gempal itu tidak ikut masuk ke dalam mobil yang membawa anak laki-laki yang diperkirakan sebagai Suya. Dan justru digantikan dengan dua pria bersenjata api laras panjang sebagai penjaganya.


Selama anak itu masuk mobil, tiga orang keluar membawa koper hitam berukuran besar ke dalam mobil yang lain. Dan Hagie si gempal sekarang ikut ke dalam mobil tersebut.


Ken yang fokus pada seragam sekolah Suya pun segera mengikuti mobil yang membawa anak laki-laki itu. Ketika berjalan pada arah yang sama, mobil yang membawa koper melaju lebih cepat. Sedangkan mobil yang membawa Suya berjalan lebih lambat dan terkesan santai.


"Mencurigakan sekali," Ken sedikit curiga.


Lebih mencurigakan lagi ketika mobil tersebut berhenti di tengah jalan dan mengalami kempes ban. Ken yang merasa curiga itu pun berhenti dan memeriksanya.


"Siapa kau!" hardik salah seorang yang berdiri berjaga.


Ken langsung memukul pria bersenjata laras panjang itu dengan gesit hingga pingsan. Kemudian yang seorang sedang mengisi angin ban mobilnya juga kena pukulan Ken. Setelah selesai menghajar, Ken langsung menyelamatkan Suya dari dalam mobil dan membuka topeng yang dipakainya.


"A apa? Di mana Suya??"


Ken sangat terkejut ketika mengetahui bahwa dirinya telah ditipu. Anak itu bukan Suya! Lalu di mana dia?


"Sialan! Koper hitam itu!" gumam Ken kesal seraya memukul keras pintu mobil.


"Apa anak yang lain dimasukkan ke dalam koper?" Ken bertanya pada anak laki-laki itu.


Dan anak itu pun mengangguk.


"Di mana rumahmu, nak?"


"Nagoya, paman."


Ken mengeluarkan uang dan menghadang sebuah taksi yang kebetulan lewat.


"Pulanglah naik taksi ini, sekarang. Orang tuamu pasti sangat cemas!" Ken memberikan uangnya ada anak tersebut.


Anak itu pun mengangguk dan bergegas memasuki taksi untuk pulang.


"Tolong antar anak ini sesuai alamat yang dia katakan ya, paman!" kata Ken pada supir taksi.


"Ya. Baiklah."


Setelah anak itu pergi, maka diraihnya sebuah senjata laras panjang milik salah seorang pria anak buah Kazuki dengan cepat. Lalu seperti orang yang kesetanan, Ken mengejar mobil yang membawa koper hitam dengan kecepatan tinggi.


Karena hari mulai beranjak sore, itu artinya tidak banyak waktu baginya untuk menyelamatkan dua orang yang berharga baginya.


NGUUUNGGG!!


NGGUUUUUUUUUUNNNNNGGGGG!!!


Suara geberan motor Ken membelah jalanan meliuk-liuk ke kanan dan kiri saat menghindari mobil di depannya.


Ketika akhirnya ia berhasil melihat mobil yang membawa koper, mobil tersebut berada di jalur kanan dan menuju sebuah jalan perbukitan.


Ken segera berpindah jalur dan mengikuti mobil tersebut. Begitu akhirnya mereka sampai di sebuah jalan di perbukitan, mereka membelok menuju jalan menurun yang ada papan larangan berbeloknya.


"Kenapa mereka belok ke sini? Bukankah ada larangan keras?"


Tanpa ragu Ken mengikuti dan memperlambat laju motornya untuk bersembunyi. Sebab, di depan gerbang berdirilah puluhan pria berpakaian hitam bersenjatakan senapan api modern. Ketika mobil itu berhenti di depan orang-orang tersebut, gerbang besar seketika terbuka mempersilahkan mobil yang membawa koper masuk dengan mudah.


Terlihatlah sebuah lahan luas dengan bangunan yang tak kalah luasnya, juga sebuah menara tinggi di sisi barat yang seakan mampu mengawasi sekeliling tempat itu dengan gampang.


Selain itu, ada banyak sekali penjagaan di sana sini. Bahkan beberapa deretan truk kontainer dengan kode-kode berbeda terlihat jelas dari tempat Ken berdiri.


"Tempat apa itu? Sebuah pabrik kimia?" pikir Ken saat membaca nama sebuah pabrik kimia terpasang di depan tembok gedung tersebut.


"Benarkah ini pabrik??"


Baru saja Ken berpikir seperti itu, truk-truk itu bergerak dan keluar dari tempat tersebut. Semuanya berjalan dengan berbaris rapi menuju jalan atas.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG....