
Hai pembaca budiman,,π€
Apa kabar hari ini?
Semoga sehat selalu ya,,,
Yang sedang sakit juga cepat sembuh dan sehat kembali....π€²π»
Sampai di sini penulis mau ngucapin terima kasih banyak nih buat yang sudah kasih like.....
Jangan bosan-bosan kasih ππ» dan β€οΈ nya ya,,, Vote juga boleh,, boleh banget kok,,,π
Like dan dukunganmu menambah semangatku loohh....
Yuk baca terus,,,
Dan nantikan kelanjutan episode baru Ringu Enshu'.....πππ
Salam sejahtera semua.........
...----------------...
EPISODE 96
Di jalanan kucing yang menuju rumah, Ken berjalan beriringan dengan putranya. Suya membicarakan mainan pesawatnya yang baru saja dibelikan Ken saat melewati taman Ueno.
"Paman, apakah kau pernah naik pesawat?" tanya Suya.
"Pesawat?"
"Ya."
"Hmm, belum pernah. Apa kau ingin mencoba naik pesawat?"
"Benarkah? Apa aku bisa?"
Ken tiba-tiba saja berjongkok di depan Suya, "Naiklah ke pundak paman."
"Eh?"
"Naiklah."
Setelah berpikir panjang, Suya akhirnya menuruti Ken untuk naik ke pundaknya.
"Rentangkan tanganmu, Suya! Kita akan segera meninggalkan landasan!" Ken berseru seolah mereka adalah pesawat itu sendiri.
Tanpa berpikir dua kali, Suya segera merentangkan kedua tangannya dan berseru gembira. Ia duduk di atas pundak Ken dengan kaki yang ia kuncikan di sela-sela lengan Ken.
"Yuhuuuuu!!"
Jika dipandang dari jauh, ayah dan anak itu tampak begitu gembira. Aktivitas sederhana yang sedang mereka lakukan rupanya mampu mempererat hubungan keduanya.
Sepanjang perjalanan, terdengar gelak tawa dan canda dari bibir keduanya. Siapa yang menyangka, ada kesedihan luar biasa dibalik canda tawa mereka.
Ketika akhirnya mereka sampai di depan rumah Suya, Ken segera menurunkan anak itu dan mengucapkan salam perpisahan.
"Baiklah, masuk ke rumah sekarang juga. Nenekmu pasti khawatir karena kau pulang terlambat," kata Ken.
"Iya, paman. Sampai jumpa besok lagi!" Suya berlari kecil menuju rumahnya.
"Hmm. Sampai jumpa lagi," Ken melambaikan tangannya.
Dipandanginya anak itu hingga masuk ke dalam rumahnya. Begitu Suya tidak tampak lagi, Ken berbalik dan pergi.
β’β’β’β’β’β’β’β’
Sebelum pulang ke rumah, Ken berhenti di depan mesin penjual minuman otomatis. Ia membeli beberapa kaleng bir dan soda untuk persediaan.
Pesta ulang tahun yang baru saja ia nikmati bersama Suya dan anak panti membuatnya teringat kembali bahwa ulang tahunnya jatuh pada hari ini.
Selama ini, ia tidak pernah memperingati hari kelahirannya dengan benar. Begitu sampai di rumah, Ken segera menyimpan semua minuman yang ia beli. Kemudian melepas jaketnya dan duduk di ruang makan.
Sejak ia bekerja dan menghasilkan uang, ia mendaftarkan kembali saluran listrik di rumah Suzy sehingga rumah tersebut tidak lagi gelap gulita. Sebuah kulkas dan mesin cuci yang ditinggal di sana pun dapat ia gunakan kembali.
Ken mengeluarkan kotak hadiah dari Suya dari dalam tasnya. Seperti apa yang anak itu minta, ia membuka kotak hadiah itu setelah sampai di rumah.
SRET
Ken membuka kotak biru dari Suya. Ternyata, di dalamnya masih ada kotak kayu berwarna coklat. Dan di atas kotak itu ada sebuah surat yang berbunyi.....
_____________________
Selamat ulang tahun, paman Kenzhi.
Aku tidak tahu apa yang paman suka. Jadi, aku membeli roti dan membuat sandwich ini bersama nona Teri sepulang sekolah tadi.
Waktu itu, aku tahu paman sangat sedih melihat ayam yang paman buat untuk makan malamku dibuang nenek.
Aku terus merasa bersalah karenanya. Bahkan semalaman aku tidak bisa tidur karena menangis memikirkan perasaan paman.
Jadi untuk menebus kesedihan paman, terimalah hadiah ini sebagai ungkapan permintaan maafku. Tolong jangan terlalu membenci nenek, ya....
____________________________
Ken menyelesaikan bacaan suratnya dengan berurai air mata. Rupanya, ketika malam itu ia menangis payah dan melahap semua ayam berpasir itu. Di lain tempat, putranya juga menangis sedih.
Dengan tangan gemetaran, ia membuka kotak kayu persegi yang ada di dalam bungkus kotak biru. Isinya sungguh tidak terduga.
Suya membuat sandwich dengan hiasan kepala Goku dari kartun Dragon Ball.
"Indah sekali," gumam Ken.
KEMUDIAN...
Dilahapnya kepala Goku dan bola naga yang terbuat dari rumput laun dan wortel. Ia merasakan gurih dan manis bercampur satu padu di dalam mulutnya. Lalu diulurkan tangannya kembali untuk meraih roti sandwich yang paling besar.
Perlahan, disuapkannya roti sandwich itu ke dalam mulutnya. Terasa lembut dan penuh di dalam mulutnya. Ken mengunyahnya perlahan untuk merasakan dengan baik makanan yang disiapkan putranya.
Setelah menghabiskan sepotong, ia pun mengambil yang lain.
"Hmmmmpppp," suara tangisan yang tertahan dari bibir Ken terdengar pilu.
Sambil terus menikmati sandwich terakhir, Ken menangis sesenggukan sampai ingusnya mengalir dari hidung.
Sejak ia kehilangan Suzy dan memiliki Suya di hatinya, pembawaan Ken lebih sensitif dari sebelumnya. Ia berubah cengeng dan mudah menangis.
Pada saat ia sedang menangis seperti itu, datanglah Linzhi dengan sekeranjang belanjaan di tangannya.
Rupanya wanita itu juga ingat soal ulang tahun Ken dan berniat merayakannya bersama.
"Ada apa Ken?" tanyanya begitu melihat Ken sedang terisak.
Ken tidak peduli pada Linzhi. Ia menelungkupkan kepalanya ke atas meja dan menangis luka.
Linzhi duduk di dekat Ken dan mengusap punggung pria yang sedang bersedih itu. Ia belum pernah melihat Ken menangis seperti itu sebelumnya.
Ia merasa ikut merasakan luka. Perlahan diraihnya kepala Ken sehingga lambat laun ia dapat memeluknya ke dalam dada.
Baru setelah menunggu selama hampir setengah jam, Ken menyingkir dari pelukan Linzhi sambil mengusap air mata dan ingusnya.
"Ada apa sebenarnya? Kau bisa menceritakannya padaku," Linzhi bertanya karena ia benar-benar peduli.
"Pulanglah," Ken membawa kotak makan Suya dan beranjak ke washtafle yang ada di dapur untuk mencucinya.
SHAAASSSSHH! Suara keran.
"Aku sudah makan."
"Ken..."
Ken tidak menyahuti dan terus mencuci mukanya dengan keran air.
"Dokter Mioko sudah memberiku hasil tes DNA. Dan hasilnya, kau memang ayah dari bayiku."
Ken mematikan keran. Ia menghela nafas dan menundukkan kepalanya. Kedua tangannya pun bertumpu pada pinggiran washtafle saat mendengar dengan jelas ucapan Linzhi.
Butuh pengorbanan yang besar untuk menentukan apakah ia akan bertanggung jawab pada kehamilan Linzhi atau pun tidak.
Ia hanya akan merasa bersalah seandainya bayi itu lahir dan hidup seperti Suya. Maka setelah menarik nafas panjang, ia pun berkata,
"Aku akan bertanggung jawab pada bayi itu. Tapi jangan berpikir bahwa aku juga akan menerimamu sebagai pasangan hidup."
Linzhi menatap Kenzhi. Ia berkaca-kaca. Mengapa sulit sekali baginya menerima dirinya?
"Ken..."
"Pergilah. Aku mau istirahat."
Tanpa mempedulikan Linzhi yang masih ingin bicara padanya, Ken meraih jaket yang tergeletak di atas meja. Kemudian ia pergi meninggalkan wanita yang ingin bersamanya itu menuju lantai atas.
β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’
TRAK
Sayup-sayup, Ken mendengar suara dari lantai bawah. Sambil menggeliat, ia memicingkan mata yang masih enggan terbuka.
Rupanya matahari sudah terbit dengan cahayanya yang menyilaukan. Ken membalik posisi tidurnya menjadi tengkurap.
TRAK
TRAK
Terdengar lagi suara dari lantai bawah. Mau tidak mau Ken duduk dan menyibak selimutnya. Matanya mengerjap perlahan dengan telinga yang mencoba menangkap kembali suara-suara yang ia dengar tadi.
Diraihnya jam weker yang ada di atas nakas. Pukul tujuh lima satu. Masih satu jam lagi jadwal ia berangkat bekerja.
Karena ia sudah terlanjur bangun, maka Ken bangkit dan melepas kaos dalam putih yang ia kenakan sambil berjalan menuju kamar mandi.
Ken berjalan turun melewati tangga menuju lantai bawah tempat ia hendak mengambil air minum dan membuat sarapan. Baru saja ia melangkah setengah jalan, tercium aroma masakan dari dapur.
Ternyata Linzhi sedang menyiapkankan sarapan untuk Ken. Wanita itu baru saja meletakkan makanan yang ia buat di atas meja.
"Kau sudah bangun?" tanya Linzhi begitu melihat Ken.
Ken diam mematung. Ia tidak percaya bahwa wanita itu masih di sana sejak semalam.
Melihat Ken tidak juga beranjak dari tempatnya, Linzhi mendekatinya dan menggandengnya menuju meja makan.
"Sedang apa kau di sini? Ayo nikmati sarapanmu," ajaknya.
Masih dengan pandangan heran, Ken duduk dan menghadapi masakan yang dibuat Linzhi. Ia tidak menyangkal bahwa bau masakan itu sangat harum.
Dengan cepat, Linzhi mengambilkan nasi ke dalam mangkuk dari mesin tanak untuk Ken. Kemudian diletakkannya mangkuk nasi tersebut di depan pria tersebut.
"Makanlah."
Ken masih saja diam membisu.
"Aku sudah mencuci semua peralatan masak, jadi aku akan pergi sekarang. Makanlah yang banyak, Ken. Jika masih sisa, kau bisa menyimpannya ke dalam kulkas dan menghangatkannya kembali saat makan malam nanti," kata Linzhi.
Tanpa banyak bicara lagi, Linzhi bergegas pergi. Namun, suara Ken membuatnya berhenti melangkah.
"Kau boleh tinggal sebentar untuk menemani aku makan," Ken mengatakan sesuatu yang membuat Linzhi senang.
Linzhi menoleh cepat, "S sungguh?"
"Aku tidak bisa menghabiskan makanan yang begitu banyak, sendirian. Jadi makanlah juga."
Tanpa banyak bicara, Ken segera menyendok nasinya dan menyuapkannya ke dalam mulut. Ia melahap semua makanan yang terhidang di meja makan sebagai penghargaan atas usaha Linzhi karena menyiapkan sarapan untuknya.
Dan karena ia mendapat kesempatan dari Ken untuk menikmati sarapan bersamanya, Linzhi merasa senang. Ia pun menikmati sarapan paginya sambil memperhatikan Ken yang berusaha berbaik hati padanya.
Meski ia tidak melihat jelas ke depan, Ken tahu bahwa Linzhi terus memperhatikannya. Ia berharap, wanita itu tidak salah paham atas apa yang ia minta barusan.
Sebenarnya, ia hanya tidak ingin melihat wanita yang sedang hamil bekerja terlalu keras seperti itu. Apalagi wanita itu memilih tinggal di dapur untuk beberapa jam lamanya.
Ia yakin, semalam Linzhi tidak bisa tidur karena kedinginan.
.
.
.
BERSAMBUNG.....