
EPISODE 52
Pagi hari itu, terdengar kokokan ayam jantan dari arah Utara. Ken membuka mata dan meraih ponselnya untuk melihat jam. Rupanya sudah pukul 8 pagi.
Seperti orang kesurupan, Ken melompat dari kasur lipatnya dan buru-buru merapikannya. Ia melihat bahwa tempat tidur Suzy sudah kosong. Itu artinya, wanita itu sudah keluar lebih dahulu.
Ketika Ken beranjak ke kamar mandi, entah apa yang terjadi, kepalanya merasa pusing sehingga ia berjalan sempoyongan dan akhirnya jatuh terduduk di lantai.
"Kenapa aku merasa pusing?" gumamnya.
Kemudian ia bangkit dan mendekati nampan yang berisi gelas serta teko air putih. Dituangnya air tersebut sebanyak setengah gelas dan ia mulai meminumnya.
"Akh,, aku pasti kekurangan waktu tidur," Ken memahami dirinya bahwa ia tidur selama tiga jam saja. Sisanya ia kesulitan.
•••••••
Selesai mandi dan merapikan diri, Ken turun sambil mengusap-usap tangan kirinya. Saat itu, keluarga Suzy baru saja selesai menyantap sarapan mereka.
"Oh? Kau sudah bangun, Ken?" panggil ibu mertua Ken dari meja makan.
Ken menoleh dan menyapa balik mertuanya. Di meja makan tersebut hanya ada orang tua Suzy dan Nonaka.
"Maaf, ayah, ibu. Sepertinya aku tidak melihat Suzy di sini. Apa dia menitipkan pesan untukku??"
"Pesan? Tidak," jawab ibu mertuanya.
"Dia pergi ke restoran sejak pagi tadi. Kalau tidak salah, dia sempat mengatakan padaku bahwa hari ini ia dan yang lain akan membuka kembali restoran," sahut Nonaka.
Ken diam sesaat.
"Ooh. Seperti itukah?"
"Yah! Apa dia tidak memberitahumu?" Nonaka diam-diam memperhatikan Ken dari kepala hingga kaki. Pandangan matanya yang jeli, berhenti di area menonjol yang ada di sana.
Waah! Nonaka benar-benar!
Ia mengira bahwa semalam kedua iparnya berhasil melakukan hubungan suami istri. Ia penasaran, berapa rondekah mereka melakukannya?? Pikiran kotor itu terus saja membayangi kepalanya.
"Emm, tidak. Kalau begitu, aku pergi dulu, ayah, ibu," Ken berpamitan tanpa mengambil sarapannya.
Di jalan menuju restoran, tanpa sengaja Ken mendapat kertas brosur dari sebuah dealer motor. Kertas yang terbang terbawa angin itu menutupi kepalanya dengan lancang. Ken menepisnya karena kesal. Tetapi kemudian, ia memungut brosur tersebut dan membacanya.
"Dealer motor?" Ken mengernyitkan dahinya sambil membaca harga motor yang tertera di sana.
Tiba-tiba sebuah ide cemerlang muncul di benaknya. Begitu melihat bus kota, ia pun memasukinya dan menuju tempat dimana dealer itu berada.
Setengah jam kemudian, ia sampai di lokasi yang ia tuju. Tidak mau berlama-lama di sana, Ken mengatakan keinginannya untuk memiliki sebuah motor yang mereka jual. Dan, setelah memilih warna dan kelengkapannya, Ken memutuskan untuk mengambil salah satu dari antrian.
Karena Ken membawa ATMnya, tentu saja ia membayar lunas motor yang akan ia ambil. Setelah proses serah terima soal kepemilikan selesai, akhirnya Ken sudah bisa pulang membawa motornya.
Yamaha Tracer 900 GT dengan bodi berwarna hitam yang berpadu dengan merah itu pun tampak mewah di mata Ken sendiri.
Sepanjang perjalanan, sudut bibir Ken terlihat terangkat naik karena tersenyum tanpa henti. Sebab dalam benaknya, ia merencanakan sebuah kencan malam yang romantis bersama Suzy dengan berkeliling menggunakan motor barunya tersebut.
••••••
TRAK!
Ken memasuki restoran yang masih tampak sepi dari luar. Namun ketika ia masuk ke ruang dapur, berkumpullah anak-anak yang lain.
"Senior Ken!!" seru Gorou menghamburkan diri ke dalam pelukan Ken.
"Ah? Kalian datang juga?"
"Ya. Nona Suzy meminta kami untuk datang," seru semuanya serempak.
Waah. Suzy keterlaluan. Ternyata hanya dirinya yang tidak diberitahu bahwa mereka akan buka hari ini!
Merasa bahwa Suzy mengabaikannya, Ken melepas pelukan Gorou dan menepuk-pundaknya. Kemudian ia pergi menghampiri Suzy lalu menarik dan membawanya ke halaman samping untuk bicara berdua.
"Jadi, apa kau serius dalam mengabaikanku? Bagaimana bisa kau mengundang mereka semua kemari? Dan,, hanya aku yang tidak tahu rencanamu ini?" Ken bertanya karena tidak percaya.
Suzy diam dan menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Bicaralah. Jangan diam saja," kata Ken memegangi kedua bahu Suzy.
Ken membuang nafas kasar dan benar-benar tidak percaya.
"Jika kau mau ikut silahkan saja. Aku tidak akan melarangmu," jawab Suzy santai.
"Apa?? huh?" Ken membuang nafas kembali. Seakan ia salah dengar karena merasa bahwa Suzy masih menyimpan kemarahan atas kejadian semalam.
Suzy memalingkan mukanya ke arah lain, "Kalau sudah selesai bicara, boleh aku kembali ke dapur?'
"Kau??"
Ken menunduk beberapa saat lalu mengangkat kembali kepalanya.
"Apa kau masih marah soal semalam?"
"Entahlah. Pikir saja sendiri."
Suzy beranjak meninggalkan Ken. Ia pergi dengan sedikit menyisakan kekesalan di wajahnya. Tapi Ken tidak mau tahu, ia segera menangkap pergelangan tangan Suzy.
"Baiklah. Aku mengaku salah karena menginginkan sesuatu yang lebih darimu. Aku tidak bisa menahan naf,-"
Akhirnya, Suzy pergi kembali ke dapur. Ken memperhatikan langkah wanita itu saat meninggalkannya. Tidak ingin menambah kekesalan di hati Suzy, Ken mencoba untuk diam. Ia menyusul wanita itu ke dapur dan memeriksa beberapa persiapan.
"Kau mau ke mana?" tanya Ken pada Suri.
"Aku harus menyiapkan kursi dan meja ruang tamu," jawab Suri.
"Tidak. Sebaiknya, kau dan Keiko bantu Suzy di dapur. Aku dan yang lain akan menyiapkan ruang tamu. Jika ada yang diperlukan, katakan saja padaku," perintah Ken.
"Baiklah," Suri tersenyum.
Ken berjalan melewati dapur begitu saja. Tanpa menoleh pada Suzy yang sedang merendam daging ayam di dalam bumbu.
"Issh. Yang benar saja? Setelah semalam dia melakukan itu padaku, sekarang dia tidak peduli padaku? Menyebalkan sekali?!" gerutu Suzy.
"Kau bicara apa, nona?" tanya Keiko datang membantu.
"Eh? Tidak, tidak. Aku hanya bicara pada diri sendiri, hehe," Suzy terkekeh.
"Oohh,, begitu? hehe," Keiko ikut terkekeh.
Setelah masing-masing bekerja di tim yang berbeda, akhirnya mereka menyelesaikan pekerjaan hari itu. Suzy yang baru rampung dengan masakannya pun menunggu pelanggan datang.
"Kenapa belum ada satupun yang datang, ya?" Suzy mengajak bicara Keiko.
Ken datang dan diam-diam berdiri di samping Suzy.
"Ini tidak benar. Aku rasa, orang-orang tidak akan datang berkunjung jika mereka tidak tahu kalau restoran kita sudah buka kembali," kata Ken mengejutkan.
"Apa seperti itu?"
"Aku punya ide. Apa kau mau menerima ideku?"
"Sebutkan."
"Bagaimana seandainya kita buka stand di depan restoran? Makanan gratis. Kita bisa mengatakan pada siapapun yang datang bahwa mulai besok kita akan kembali berjualan," Ken memperhatikan Suzy.
Suzy menoleh dan bicara dalam hati.
"Astaga,, dia membuatku kesal semalam. Tapi idenya juga brilian. Apa aku harus menerima itu?"
"Bagaimana?" tanya Ken.
"Eh?"
"Apa kau setuju?"
"Hmm. Itu ide yang bagus. Kalau begitu kita siapkan semuanya sekarang," Suzy segera pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan yang akan mereka tata di depan restoran.
"Kalau begitu aku akan menyiapkan keperluan di depan!" seru Ken sambil berlari keluar dengan semangat dan gembira.
Suzy melirik sedikit dan tersenyum. Kekesalan yang semalam muncul karena rasa malu dan canggung yang ia rasakan, tidaklah terlalu besar. Mungkin, ia butuh waktu penyesuaian saja. Sebab pada nyatanya, sejak adegan romantis mereka semalam, ia menjadi lebih deg-degan setiap Ken berdiri di dekatnya.
••••••
Gorou dan Daisuke siap dengan meja makanan gratis mereka. Begitu pula Suri dan Keiko. Suzy sendiri mengawasi sambil berdiri di dekat meja dan sesekali mengatur situasi. Sedangkan Ken berdiri untuk mempromosikan makanan mereka pada orang-orang yang lewat.
"Siang, nona nona. Apa kalian mau mencoba makanan perdana kami? Hari ini, kami melakukan stand gratis sebelum kembali beroperasi, besok. Silahkan ambil yang kalian mau,," sapa Ken pada beberapa orang yang lewat.
"Ah, jadi mulai besok, kalian akan buka kembali?" tanya seorang yang mulai berkumpul.
"Benar. Sebelum itu, silahkan nikmati makanan gratis kami," kata Ken pada beberapa orang yang penasaran.
Beberapa orang pun berdatangan dengan senang hati memesan makanan yang tidak perlu membayar. Mereka juga merasa senang karena restoran langganan mereka akhirnya akan buka kembali.
Beberapa orang pun mendukung perjuangan Ken yang bangkit dari masa lalunya.
"Semangat, ya. Semoga restoran kalian kembali ramai pengunjung," ucap seorang yang merasa bersyukur.
"Terima kasih, nyonya. Apa kau mau tambah lagi?"
"Tidak. Ini sudah cukup. Makanan kalian selalu lezat," ucapnya.
Hari itu, restoran Suzy kembali bernafas. Menggeliat di tengah persaingan bisnis restoran-restoran lain. Dan hari itu pula, harapan mereka kembali dibangun. Berkat semangat dan keyakinan pada diri mereka, restoran bangkit dari keterpurukan.
Dan yang paling membahagiakan adalah saat-saat keberadaan Ken kembali diterima masyarakat sekitar.
.
.
.
Bersambung ke Episode 53
***Hai pembaca setia,,,
Terima kasih sudah mampir,,,,
Jangan lupa like dan vote nya ya,,,😀
😘😘😘***