
EPISODE 19
Ken naik bus menuju rumah ibunya dengan uang pesangon dari penjara. Sudah lama sekali sejak ia dipukuli ketika datang menjenguknya membawa Unagi kala itu.
Ketika sampai di depan alamat rumah lamanya, papan nama praktek ibunya sudah tidak ada. Rumah itu pun nampak sepi. Ketika dimasukinya rumah tersebut, seorang tetangga melihatnya.
"Rumah itu kosong. Setelah menikah, pemiliknya mengatakan akan pindah ke kota lain."
"Apa? Menikah?"
"Ya. Sejak ia mendengar putranya dipenjara karena kasus pembunuhan, dokter Kenie memutuskan untuk menerima lamaran seseorang," kata wanita tua yang membawa plastik sampah besar.
Ken terkejut dan merasa ditinggalkan. Kemudian dengan penasaran ia pun menanyakan apakah ada sebuah pesan yang ditinggalkan untuknya.
"Apa ibu menitipkan sesuatu untukku, nyonya?" tanya Ken ingin memastikan.
"Ah? Jadi, apa kau putranya? Kaukah Kenzhi??" tanya nyonya tua yang mengenal Ken sewaktu kecil.
"Ya. Ini aku."
Nyonya tua itu berdiri gemetaran. Ada rasa takut yang menjalari tubuhnya saat berhadapan langsung dengan seorang pembunuh. Namun ia ingat, Kenzhi adalah anak yang manis sewaktu SD dulu. Lagipula, ada sebuah surat yang dititipkan Kenie untuk Kenzhi.
Maka,,,
"Aahh,, jadi benar itu kau?? Oh ya Tuhan,,,, Kau membuatku pangling nak," nyonya tua menutup mulutnya, membungkuk dan menepuk-nepuk pahanya sendiri.
T Tunggu. Ada pesan yang dititipkan ibumu padaku," katanya lanjut.
Ken berdiri menunggu nyonya itu mengambil sesuatu di dalam rumah. Begitu keluar kembali, ia membawa sepucuk surat dan sebuah bungkusan berisi kue mochi.
"Jadi, apa hari ini kau baru keluar dari penjara?" tanyanya sambil menatap Ken lekat.
"Ya. Hari ini aku bebas."
Nyonya tua meraih tangan Ken. Lalu memberikan bungkusan makanan dan surat dari Kenie padanya.
"Ini surat yang dititipkan ibumu padaku. Dia bilang, aku harus memberikannya ketika kau datang mencarinya. Dan ini, kue mochi buatanku. Makanlah selagi hangat," katanya tersenyum.
"Baiklah. Terima kasih nyonya. Semoga kau sehat dan panjang umur," kata Ken membungkuk memberi hormat.
Begitu memberi salam perpisahan, Ken kembali melangkah pergi. Ia meninggalkan desa tempat kelahirannya tanpa ada sebuah kenangan pasti.
Begitu sampai di halte bus, ia duduk di salah satu bangkunya. Kemudian dibukanya surat yang ditulis ibunya untuknya.
Sebuah permohonan maaf. Karena Kenie meninggalkan Ken dan tidak memberinya kabar sedikitpun. Bahkan saat terakhir mereka bertemu, dirinya justru memukul dan memarahi Ken. Di tulisan tersebut, Kenie juga benar-benar menyesal telah mempersulit dirinya dengan mengirimnya ke tuan Kido.
Di akhir pesan, Kenie menuliskan alamat barunya. Yaitu rumah tempatnya tinggal bersama suami baru. Kenie juga menyebutkan, alasan mereka pindah adalah karena ingin menjalin hubungan keluarga yang tenang.
Ken menutup surat tersebut dengan berlinang air mata. Ia amat sedih setelah mengetahui semuanya.
"Kenapa ibu baru menyesal setelah aku masuk penjara? Huh?" Ken berbicara pada dirinya sendiri.
Ia bertopang siku di lutut dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tidak tahu harus ke mana hari itu. Jika ibunya ingin hidup tenang, akankah ia pantas berkunjung ke rumahnya membawa status sebagai mantan napi?
Tidak. Ken tidak mungkin merusak kehidupan tenang seperti yang ibunya ingin. Tapi ia begitu merindukan wanita itu. Lalu bagaimana?
Akhirnya, karena rasa rindu yang besar di dalam hatinya, Ken naik bus menuju alamat rumah ibunya. Cukup jauh dari lokasi desa tempat kelahirannya. Sebab, alamat itu sudah berada di kota seperti tempat tinggal tuan Kido.
Begitu sampai di depan gerbang rumah tersebut, Ken hanya berdiri mematung. Ia tidak mampu bergerak untuk sekedar menekan belnya. Hanya kakinya saja yang nampak bergerak. Mengetuk-ngetukkan ujung sepatunya ke aspal karena ragu.
Saat ia sedang bersedih di depan gerbang rumah Kenie, seorang asisten rumah tangga berumur dua puluh tujuhan keluar hendak menjemput nona muda mereka. Ia terkejut melihat seorang pria muda berdiri mengawasi rumah tuan mereka.
"Maaf tuan, ada yang bisa saya bantu??" tanyanya penasaran.
"Ah, tidak nona terima kasih."
Ken membungkuk pada wanita itu dan bergerak menyingkir perlahan dari depan rumah Kenie. Asisten rumah tangga itu berpikir sejenak, memiringkan kepala sambil mengerucutkan bibirnya karena heran. Tapi kemudian ia pergi begitu saja karena tidak boleh terlambat menjemput nonanya.
Beberapa waktu kemudian, pelayan itu kembali bersama nona mudanya.
"Eh tunggu, nona. Jangan berlari seperti itu. Kau bisa jatuh," teriak asisten rumah tangga itu.
"Kejar aku nona Kira!!" anak kecil itu tertawa-tawa dan berlari sambil menghadap ke belakang.
Tidak sengaja, ia menubruk kaki Ken yang berdiri sambil memperhatikan rumah Kenie. Upss!!!
Ken menoleh ke bawah dan melihat anak perempuan berumur dua belas tahunan terjatuh di dekatnya. Dengan cepat ia berlutut dan membantu anak itu berdiri.
"Kau tidak apa-apa?" tanyanya.
Anak itu mengangguk.
"Terima kasih, tuan. Kau baik sekali. Bolehkah aku tahu namamu?"
"Namaku?"
"Ah, panggil saja aku Mr. K."
"Baiklah. Terima kasih Mr. K. Kau baik hati dan juga sangat tampan. Maukah kau memberikan hatimu padaku dan menjadi pacarku?" tanya anak itu konyol.
Tuinggg??
Ken tersenyum gila. Anak sekecil itu. Mengapa gampang sekali membicarakan soal pacaran? Dirinya yang sudah berusia tiga puluh lima tahun saja belum pernah merasakan cinta yang sesungguhnya.
Ken meraih kue mochi dari dalam tasnya yang berjumlah tiga buah dan memberikannya sebuah pada gadis itu.
"Alih-alih hatiku, bagaimana kalau aku memberimu kue mochi manis ini saja?" ucapnya seraya menawarkan mochi pada gadis kecil tersebut.
"Benarkah? Kalau begitu biar aku saja yang makan," kata Ken tersenyum sambil menyuapkan kue mochi itu ke dalam mulutnya.
"Tunggu. Beri aku satu. Kalau kue itu pemberian darimu, aku akan mencoba memakannya," kata anak itu tersenyum manis.
"Aaah.. Seperti itu??"
"Hhmm."
Anak itu mengangguk senang. Ken pun tersenyum dan memberinya sebuah kue mochi yang berukuran paling besar. Ketika tangan anak itu hendak menerima kue mochi dari Ken, asisten rumah tangga itu mendekati nona mudanya dan menariknya ke belakang. Sehingga kue mochi itu terjatuh ke tanah.
"Maaf tuan, kau tidak bisa sembarangan memberi makanan pada orang lain saat pertama bertemu. Ngomong-ngomong, apa kau ada perlu dengan tuan? Sepertinya kau ada keperluan hendak menemui mereka?"
Ken menatap kue mochi yang jatuh menggelinding ke dekat ban mobil, kemudian berdiri dengan cepat lalu mengejar kue tersebut dan menyelamatkannya.
"Ah tidak. Tidak. Aku hanya melihat arsitektur rumah ini. Ah mengapa nampak bagus sekali?" Aku harus mencari arsitek yang sama untuk membuat rumah sebagus ini," Ken tertawa mengalihkan perhatian sambil menepuk-nepuk kue mochi yang sedikit kotor.
"Maaf, tapi kalau benar tidak ada keperluan, sebaiknya tuan pergi sekarang juga."
"Ah. Baiklah. Aku pergi sekarang. Permisi nona," Ken berjalan pergi.
"Eh tunggu Mr. K! Kau belum menanyakan namaku!!" teriak nona muda yang bernama Ayumi.
Ken melambaikan tangan pada Ayumi.
"Namaku Ayumi! Kapan-kapan jangan lupa datang kemari lagi dan bawakan aku kue mochi!!" Ayumi melingkarkan kedua telapak tangannya di depan mulut supaya suaranya lebih keras dan jelas terdengar oleh Mr. K.
Gadis kecil itu merasakan ada sebuah ikatan tersendiri dengan Mr. K. Bahkan, baru sekali bertemu dengannya saja, ia merasa bahwa jantungnya berdegup sangat kencang.
••••••••••
Ken duduk di pinggir sebuah jalan. Dilihatnya lalu lalang angkutan umum dan pribadi yang bermacam-macam tipe.
Siang itu, ia merasakan perutnya yang lapar. Sisa kue mochinya hanya ada dua buah. Satu sempat jatuh. Namun ia berhasil menyelamatkannya.
Sambil menahan kesedihan, ia melahap kue mochi yang sempat terjatuh itu dengan perlahan. Kemudian menyimpan kembali satu yang masih tersisa.
Ken meraih surat dari Suzy. Sebuah alamat restoran ayam yang cukup jauh dari posisinya sekarang.
"Apa aku benar-benar harus ke sana? Aku takut kehadiranku hanya akan merepotkan mereka," gumam Ken.
Pada saat dirinya sedang bingung, Linzhi yang kebetulan berada di dalam mobil dan berhenti di lampu merah yang berseberangan dengan tempatnya duduk tanpa sengaja melihatnya dari kejauhan.
Begitu lampu menyala hijau, Linzhi memutar balik mobilnya dan menghampiri Ken.
DIN DIN!!
Suara klakson mobil yang berhenti di depannya begitu mengagetkan. Ken melihat Linzhi turun dari dalam mobil berwarna merah itu.
"Hai? Kau di sini rupanya?"
"Eh?"
"Aku mendapat kabar dari sipir penjara bahwa kau sudah bebas pagi tadi. Saat aku datang, kau sudah tidak ada. Untung saja aku menemukanmu di sini," katanya senang.
"Ooh..."
"Kenapa Oh? Ayo pulang denganku," kata Linzhi meraih tangan Ken.
Ken gugup dan mengerjapkan matanya berulang kali saat wanita cantik itu menariknya masuk ke dalam mobil. Begitu duduk di dalam, Ken merasa canggung.
"Kau akan membawaku ke mana?" tanyanya.
"Tentu saja ke rumahku. Kau perlu beristirahat setelah seharian di luar," kata Linzhi. "Pakai sabuk pengamanmu," lanjutnya.
Ken bergerak memakai sabuk pengaman. Tapi karena gugup, ia kelihatan tolol di depan Linzhi. Dengan cepat, wanita itu mencondongkan tubuhnya dan membantu Ken memakaikan sabuk pengamannya.
DEG!!
Karena pakaian Linzhi terbuka di bagian dada, Ken menjadi gelagapan. Nafasnya pun terdengar tak beraturan. Bahkan ia merasa kesulitan saat meneguk ludah.
Dipalingkannya kepalanya ke arah kaca mobil untuk mengurangi ketegangan dalam dirinya. Namun Linzhi seakan sengaja menggodanya. Ia berbisik tepat di dekat telinga Ken.
"Apa kau sudah nyaman?" tanya Linzhi mendekatkan wajahnya ke leher Ken dengan jari-jarinya yang juga meraba sela-sela kancing kemejanya.
Ken sangat gugup. Diremasnya tas yang ada di pangkuannya dengan kencang. Wajahnya menjadi merah dan berkeringat karena menahan hasrat dalam diri. Untung saja, sebuah suara klakson dari mobil lain membuyarkan situasi panas seperti tadi. Linzhi juga kembali pada kursinya dan mulai menyetir.
"Apa kau lapar? Bagaimana kalau kita makan siang terlebih dahulu," kata Linzhi mengajak Ken makan.
"Baiklah. Terserah kau saja."
Ken diam kembali dan menatap ke arah luar jendela. Ia berusaha menata kembali perasaannya yang sempat dikacaukan oleh Linzhi.
.
.
.
.
Bersambung ke Episode 20
Jangan lupa tinggalkan Like ya,, 🤗