RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
HANDUK



EPISODE 43


Ken duduk di hadapan Suzy sambil mengibaskan bajunya yang masih setengah basah.


"Apa itu tadi? Kau cemburu pada Suri?" tanya Ken tanpa basa-basi.


"Apa?"


"Aku merasa, sikapmu tadi adalah wujud dari rasa cemburu di dalam hatimu," Ken tersenyum menyelidik.


"Hohoho,,, kau terlalu banyak menonton drama percintaan," kata Suzy gugup.


"Aku rasa begitu. Tapi, tidakkah kau merasa bahwa kita seolah berada dalam drama tersebut?"


"Eh?? hihihi,,, kau bisa saja," jawab Suzy malu-malu.


Ken berdiri dan mengenakan bajunya. Kemudian ia pergi mengambil beberapa bahan masakan yang ada dan mulai memasak.


Suzy memperhatikan Ken yang sedang memasak. Baginya, seorang pria yang bisa memasak itu keren. Tidak melulu menjadi juara tinju di jalanan. Atau pebisnis kantoran.


Beberapa menit kemudian, Ken datang membawa dua porsi Nikujaga. Rebusan daging, kentang, buncis dan bawang bombay yang diolah dengan bumbu yang mirip dengan semur. Yaitu kecap asin, gula dan mirin. Hanya saja, dalam hidangan ini boleh ditambahkan soun sebagai pengganti karbohidrat.


Di cuaca dingin seperti sore itu, Nikujaga sangat cocok dihidangkan sebagai makanan penghangat badan.


"Makanlah selagi panas," kata Ken menyodorkan sumpit untuk digunakan Suzy.


"Terima kasih," Suzy merasa senang.


Mereka berdua menikmati makanan tersebut dengan tenang.


"Kau tahu, ini adalah makanan kesukaanku sewaktu sekolah dasar," kata Suzy.


"Benarkah?"


"Hmm. Ibu sering membawakannya sebagai bekal untukku. Tapi, diam-diam ibu suka memasukkan wortel ke dalamnya. Karena aku dulu tidak suka wortel, Akiyama yang menghabiskannya untukku," Suzy bercerita.


"Hahah,,, jadi? Apa kau dulu menjadi anak nakal yang tidak mau makan wortel?"


"Bisa dibilang begitu," Suzy tertawa. "Kau sendiri bagaimana? Hmm? Apa kau yakin,, dulu melahap wortelmu?"


"Tentu saja. Dulu, aku anak yang manis untuk ibuku. Apapun yang dia masak untukku, aku selalu menikmatinya dengan baik. Khususnya Unagi goreng," Ken mengenang masa lalunya.


"Benarkah? Aah,, sepertinya aku harus bertemu ibumu untuk mendengar cerita yang sebenarnya secara langsung."


Suzy tersenyum dan melanjutkan makan. Ia benar-benar menikmati waktu santai sore itu bersama Ken.


Setelah selesai makan dan berbenah beberapa waktu, mereka pun keluar dari restoran dan berjalan pulang. Ketika melewati taman Ueno tempat mereka bertemu dan mengalami tragedi pistol air, Suzy terkekeh sendiri.


"Ada apa? Kenapa kau tertawa mengerikan seperti itu?" tanya Ken.


"Heuh! Tertawa mengerikan katamu? Asal kau tahu saja. Aku sedang mengingat kelakuanmu saat itu,,, itu sangat konyol,,,"


Suzy berhenti dan berdiri tepat di hadapan Kenzhi.


"Apa kau ingat, kejadian 18tahun yang lalu di taman ini?" tanya Suzy tidak bisa menyembunyikan senyumnya.


"Kejadian?"


"Ya. Kejadian malam itu."


Kenzhi berpikir sejenak. Dia mengakui bahwa ingatannya benar-benar buruk. Namun beberapa menit kemudian, ia mulai ingat. Ingatan itu kembali muncul begitu dilihatnya pohon sakura besar yang batangnya bengkok ada di sana.


"Aah. Itu. Ya, aku ingat," Ken menunduk dan merasa malu.


"Kau konyol sekali, kan? Aku baru saja terhibur dengan sikapmu waktu itu. Tapi begitu kita pulang dan mendapat ujian terbesar dalam hidup, aku hampir saja tidak ingin mengingatnya."


Ken menoleh.


"Lupakan saja masa-masa pahit itu. Mari kita hadapi waktu yang kini sedang kita jalani. Apakah pernikahan ini benar dan dapat kita lalui bersama ataukah akan berhenti ditengah jalan," Ken berjalan kembali dengan pelan di samping Suzy.


"Menurutmu, apa kita bisa melaluinya?" tanya Suzy lesu.


Untuk beberapa detik, mereka berdua berjalan dengan beriringan dan saling berdiam diri. Namun, pada langkah ke sembilan setelah Suzy mengajukan pertanyaan, Ken memberanikan diri untuk menggenggam tangan wanita yang sedang berjalan bersamanya.


"Ayo kita coba melaluinya bersama. Tidak perlu terburu-buru. Cukup berjalan beriringan dan bergandengan tangan di situasi apapun," kata Kenzhi menoleh sebentar kemudian menarik nafas ke arah lain.


Suzy menoleh karena terharu. Bibirnya yang mungil membentuk garis senyum yang manis. Jujur saja. Menikahi Kenzhi adalah salah satu impian dalam hidupnya. Dan ketika kini ia berhasil memilikinya, Suzy ingin setiap waktu yang berharga dapat ia lalui bersamanya.


•••••••


Sampai di rumah,


Keluarga Suzy sedang menghabiskan malam bersama. Begitu melihat Ken, Hari melompat turun dari kursinya dan berlari mendapatkan pamannya


"Paman, paman. Bisakah kau mengajariku membuat prakarya dari kayu?"


"Sebuah prakarya?"


"Ya.. Tugas sekolahku harus dikumpulkan besok. Tapi ayah tidak bisa membantuku sama sekali. Aah, dia benar-benar payah. Jadi, bagaimana denganmu? Apakah bisa membantuku?" tanya Hari sangat berharap.


"Hey, biarkan pamanmu mengganti pakaian terlebih dahulu, Hari. Kenapa kau tidak sopan?" seru Nonaka.


"Biar saja. Aku sangat gugup jika harus memikirkan waktu yang semakin larut. Prakaryaku belum selesai sedikitpun," Hari merajuk.


Ken tersenyum dan menyentuh pundak Hari. Kemudian ia berkata sambil sedikit membungkuk,


"Baiklah. Paman akan membantumu membuat sebuah prakarya. Di manakah kita harus membuatnya?"


"Di sana, paman!" jawab Hari bersemangat sambil meraih dan menarik tangan pamannya.


"Sungguh, Ken. Tidak apa-apa jika kau mau istirahat. Tidak perlu memaksakan diri. Akiyama akan mengurusnya nanti," kata Nonaka merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa, kakak ipar. Kebetulan, aku sedikit menguasai soal kesenian dari kayu. Jadi aku akan membantu Hari sebentar."


Ken mengikuti Hari menuju halaman samping dimana terdapat banyak tumpukan kayu. Sedangkan Suzy pergi pamit hendak pergi ke kamar.


"Hemm. Kalau begitu, aku pergi ke kamar dulu ya," ucapnya pada ibu, ayah dan yang lainnya.


Pada saat Suzy berjalan menaiki tangga, Akiyama datang membawa minuman coklat.


"Hey, kau sudah pulang? Mana suamimu?" tanyanya pada Suzy yang melewatinya.


"Dia...."


"Ken sedang membantu putrimu membuat prakarya. Kau payah sekali, mana bisa seorang ayah tidak tahu cara membuat sesuatu dengan kayu?" sela Nonaka mengkritik suaminya.


PLAK!


Bibi Tamako memukul bokong Akiyama dengan gemas.


"Kau ini! Lihat adik iparmu. Bahkan meski dia belum mempunyai anak, dia mampu bersikap lebih baik dari seorang ayah," kata bibi Tamako memarahi putranya.


"Aih. Ibu. Bukankah ibu tahu jika manusia terlahir dengan kemampuan yang berbeda?" Akiyama duduk dan menuangkan minuman coklat untuk ayah dan ibunya.


"Hohoho. Sudah, sudah. Kita tunggu saja apa yang sedang mereka buat. Bukankah mereka berdua menunjukkan hubungan paman dan keponakan yang harmonis?"


Paman Akihiro tersenyum dan mengamati menantu prianya. Dari kejauhan, ia dapat merasakan ketulusan Kenzhi saat membantu Hari dalam mengerjakan tugasnya.


ZIIIINGGG!


Dua jam berlalu dengan cepat.


Kenzhi sudah selesai membantu Hari dalam membuat sebuah boneka kayu dan berkumpul sebentar bersama keluarga barunya.


Ketika akhirnya ia pergi ke kamar untuk beristirahat, Ken melihat lampu kamar Suzy sudah padam.


"Dia pasti kelelahan," gumam Ken sambil tersenyum.


Dibukanya pintu model geser itu dengan sangat pelan. Kemudian ia melangkah ke dalam dan melepas pakaiannya sambil berjalan menuju kamar mandi. Seharian berpeluh, membuat badannya terasa lengket. Maka, ia memutuskan untuk mandi meski hari sudah malam.


Lima belas menit kemudian, Ken keluar dari kamar mandi sambil mengenakan handuknya. Meski lampu utama di kamar tersebut padam, tetapi lampu tidur yang ada di atas nakas sedikit memberi cahaya penerangan.


Tangan kanan Ken bergerak meraih tas selempang miliknya yang ia letakkan di atas meja rias dan mengambil sebuah kaos berwarna putih dari dalam.


TRAK!


TRAK!


Tiba-tiba Ken mendengar suara di belakangnya. Ketika menoleh, tidak ada apa-apa yang mencurigakan. Selain gelap, tidak ada gerakan angin apapun.


SRET!


Sesuatu kembali terdengar di belakangnya. Semakin lama suara itu semakin dekat dengannya. Begitu Ken menoleh untuk yang kedua kali, dilihatnya wajah putih dan menyala terang karena sorotan senter. Tentu saja Ken kaget dan jatuh terduduk di bangku rias.


"Wohh?? Astaga?!!" pekik Ken benar-benar kaget.


Xixixi....


Saat itu juga terdengarlah tawa cekikikan yang amat renyah. Rupanya Suzy sedang mengenakan masker bengkoang di wajahnya dan berdiri tepat di belakang Ken.


Begitu Suzy menyalakan lampu dan melihat posisi Ken yang jatuh duduk di bangku riasnya, entah mengapa hal itu justru membuatnya berhenti tertawa.


Bagaimana tidak?


Ken terlihat hanya mengenakan handuk di bagian bawah tubuhnya. Bagian dada yang telanjang tampak sangat menggoda keimanan Suzy.


Lebih dari itu, handuk yang dikenakan Ken itu tersingkap hingga menampakkan paha kirinya yang seksi. Dan hampir saja, belahan yang tersingkap itu juga menampakkan bagian paling privasi darinya.


"Wuaah. Astaga. Ternyata kau??" Ken melemaskan ototnya.


GLEK! Suzy mengangguk. Berulang kali ia menelan ludahnya.


"Hik,, hik,,"


Tiba-tiba saja Suzy cegukan. Bahkan ia nampak sangat kikuk saat Ken berdiri di hadapannya.


"Kau belum tidur? Apa itu tadi? Kau sengaja mengagetkanku?" Ken mendekat dan merapikan handuknya.


"I iya. Hik,, Maaf. Aku hanya,, hik,, ingin mengatakan padamu bahwa aku,, sudah menyiapkan,,, hik,, pakaian untukmu," jawab Suzy menunduk dan terus memperhatikan bagian itu.


Karena peduli pada Suzy yang cegukan, Ken meraih teko yang ada di atas nakas dan menuang airnya ke dalam gelas.


"Baiklah. Minum ini supaya cegukanmu hilang," Ken menyodorkan gelas berisi air putih.


Tangan Suzy bergerak menerima gelas yang disodorkan Ken. Namun karena merasa kikuk dan gugup, apalagi saat tangannya bersentuhan dengan tangan Ken yang hangat, Suzy membuat kesalahan. Ia tidak memegangi gelas dengan benar sehingga gelas itu pun jatuh ke lantai dan pecah.


PYARR!


"Oh ya Tuhan!" Suzy semakin gugup.


Merasa bersalah, Suzy hendak membereskan pecahan tersebut. Namun Ken melarangnya keras.


"Berhenti! Kau diam saja di situ," kata Ken.


Tanpa menunggu lama, Ken berjingkat ke arah Suzy dan meraihnya dengan cepat. Tanpa ragu, ia menggendong Suzy menuju tempat tidur agar kaki wanita itu tidak terkena pecahan gelas.


Aiiih.....


Seketika itu juga, hati Suzy meleleh dan menjadi berbunga-bunga. Ditatapnya wajah Kenzhi dari samping. Ia benar-benar semakin jatuh cinta padanya. Tanpa terasa, Suzy melamun cukup lama menatap Ken.


"Suzy!" panggil Ken.


"Eh? Ya?" Suzy tersadar.


"Mau sampai kapan kau berpegangan di leherku?" tanya Ken terus terang dengan lembut.


Mendengar pertanyaan itu, lamunan Suzy buyar seketika.


"Apa?"


"Tanganmu,,,"


"Eh? Ini,,, em,, maaf,,," Suzy menarik tangannya.


Ken tersenyum, "Tidurlah. Aku akan membersihkan pecahan gelas terlebih dahulu."


"I iya."


.


.


.


.


Bersambung ke Episode 44 🤗