
EPISODE 47
SRET...
Kenzhi berjalan ke meja makan paling terakhir. Setelah Hari duduk, ia baru datang dan langsung menyapa ayah dan ibu mertuanya. Ketika ia mendekat ke meja, Suzy tidak menoleh kepadanya dan sibuk mengambilkan bubur untuk ayah dan ibunya.
Meski akhirnya duduk berhadapan, Suzy tidak menghiraukan Ken sedikitpun. Sehingga Ken beberapa kali mencuri pandang kepadanya.
Pada pagi hari itu, mereka menyantap bubur abalon dengan campuran rumput laut kering. Setelah beberapa lama mereka saling diam, akhirnya Ken dan Suzy saling berpandangan. Mereka sedikit gugup karena baru saja melewati masa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Dan karena Ken terus saja menatapnya, Suzy pun akhirnya memberi isyarat pada Ken seolah ia bertanya "Ada apa?".
Nonaka menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi pada iparnya. Maka ia mendapat ide untuk menyatukan keduanya. Dengan perlahan, ia menjulurkan kakinya ke arah Ken. Tanpa suara, tanpa bertanya. Ia mengusap kaki Ken dengan nakal.
Uhuk! Uhuk!
Ken yang saat itu sedang menyuapkan bubur ke dalam mulutnya sedikit tersedak gara-gara usapan yang ia dapat pada kakinya.
"Eh? Kau tidak apa-apa, menantu? Ini minumlah," kata bibi Tamako memberi perhatian dengan menuang air ke dalam gelas Ken.
"Terima kasih, aku tidak apa-apa, ibu," jawab Ken sopan.
Sambil menunduk, ditelannya bulat-bulat abalon panas yang baru saja ia suapkan ke dalam mulut, lalu diminumnya pula air putih yang baru saja dituangkan ibu mertuanya.
Kemudian, perlahan ia mengangkat kepala kembali dan memperhatikan Suzy. Ia mengira bahwa Suzylah yang melakukan sentuhan nakal itu.
"Ada apa dengan dia? Beberapa menit lalu ia sangat dingin kepadaku. Lalu apa yang membuatnya melakukan ini?"
Pikir Ken dengan bingung.
Maka, detik berikutnya Ken membalas Suzy dengan mengusapkan kakinya pada tulang kering kaki Suzy. Tentu saja Suzy terkejut. Tanpa kata-kata, matanya mendelik ke arah Ken.
"Eh? Apa itu? Apa yang dia lakukan? Kenapa hari ini dia jadi mesum sih? Iich, apa belum cukup membuatku basah kuyup seperti tadi?"
Suzy membatin juga sambil menikmati makan paginya. Karena Ken beberapa kali mengusapkan kaki padanya, Suzy pun tidak tahan. Dibalasnya perbuatan Ken dengan gemas.
DUK!
Sebuah tendangan kecil ia kirimkan. Ken menoleh karena tidak percaya bahwa Suzy sepertinya tidak suka dengan apa yang ia lakukan. Tapi kenapa? Bukankah dia yang mulai? Begitu pikir Ken sambil mengernyitkan alisnya.
Melihat Suzy berekspresi gemas dan kesal padanya, tanpa menunggu lama, Ken segera balas menendang kaki Suzy dengan pelan. Maka terjadilah aksi saling tendang secara sopan di bawah meja.
Pada saat keduanya sedang bertarung dengan kaki, meja makan menjadi sedikit bergetar. Ayah dan ibu mertua pun dibuat bingung karenanya. Akiyama juga merasa heran. Ada apa gerangan yang membuat meja makan bergetar.
"Apa kalian merasakan gempa? Mengapa ibu merasa meja makan ini bergetar?" tanya ibu mertua pada putra-putrinya.
"Gempa? Tidak ibu, itu pasti hanya perasaan ibu saja, hehe," Nonaka yang tahu apa penyebabnya merasa ingin tertawa.
Sedangkan Suzy dan Kenzhi yang menjadi pelaku hanya diam membisu melanjutkan sarapannya dan sesekali mereka saling melirikkan mata.
Meski begitu, rupanya pertarungan itu belum selesai. Merasa bahwa Ken sudah keterlaluan, Suzy menendang kencang kaki Ken.
DRAK!
"Oouugghhh!'
Meja makan pun bergetar kuat karenanya. Berbarengan dengan suara Ken yang mengerang kesakitan akibat Suzy menendang kencang tulang keringnya.
Secara spontan dan tanpa sengaja, Ken juga menjatuhkan sendok yang ia pakai ke atas meja. Ia berusaha menggigit bibir bawahnya untuk menahan teriakan yang mungkin saja ia keluarkan.
"Ada apa Ken?" tanya ayah mertua.
Ken menoleh pada ayah mertuanya dan mengatakan tidak ada yang terjadi.
"Tidak ada apa-apa, ayah mertua. Hanya,,,,?? Nyamuk! Ya, nyamuk, hehe. Sepertinya ada nyamuk besar meggigit kakiku," Ken membuat alasan sambil menahan ngilu.
"Nyamuk besar?"
"I iya. Aku rasa begitu,,,," Ken menjawab ayah mertuanya sebentar lalu menoleh ke kanan dengan pelan dan meringis kesakitan.
Suzy tersenyum geli mendengar alasan yang dipakai Kenzhi. Ia meletakkan sendoknya dan berdiri tiba-tiba.
SRET
"Ayah, ibu, maaf. Sepertinya aku harus kembali ke atas untuk bersiap. Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan di restoran," kata Suzy sopan lalu pergi meninggalkan meja makan.
Melihat Suzy pergi, Ken menghabiskan buburnya dengan cepat. Kemudian ia pamit pada ayah dan ibu mertua untuk pergi juga.
Ketika Ken berlalu pergi, semuanya memperhatikan langkah kaki Ken yang tertatih-tatih.
"Apa yang terjadi padanya?" tanya paman Akihiro.
"Sepertinya nyamuk yang menggigit adik ipar sangat garang," Akiyama merasa mengerti apa yang terjadi pada Ken.
"Garang? Kalau begitu, mulai sekarang kita harus menyemprotkan obat nyamuk untuk ruang dapur ini," kata bibi Tamako.
"Hemm.."
Akiyama mengangguk sambil menatap Nonaka karena suatu hal. Nonaka pun memberi isyarat pada suaminya dengan lirikan mata.
•••••••
Ketika Ken menggeser pintu dan memasuki kamar dengan perlahan, tiba-tiba saja ia mendapatkan tinju keras tepat di perutnya.
BUG!
"Ooogghhh!!" Ken membungkuk kesakitan karenanya.
Suzy muncul di hadapannya dengan wajah cemberut. Sambil menjitak kepala Ken dengan kesal, Suzy kembali bertanya.
BLETAK! (sekali)
"Jadi, apa maksudmu melakukan hal seperti itu, ha?"
BLETAKK! (lagi)
"Ooghh, astaga. Ini sakit sekali," erang Ken tanpa akting.
BLETAKK! (lagi dan lagi)
"Jangan berpura-pura sakit seperti itu. Aku tidak akan memaafkanmu."
Ken memegangi perutnya dan menjatuhkan diri ke lantai secara perlahan. Dengan posisi menungging, tangan kanannya terus memegangi perut sedang tangan kiri menahan tubuhnya.
"Hey? Jawab pertanyaanku," kata Suzy.
"Ssshhh.... Itu kau. Kau yang memulainya lebih dulu," Ken mendesis dengan muka meringis.
"Apa? Aku? Jangan memutar fakta, ya. Kau yang mengusapkan kakimu padaku lebih dulu. Apa yang kau pikirkan?"
Suzy menendang-nendang kecil kaki Ken.
Ken tidak menggubris komplainan Suzy. Ia benar-benar merasakan nyeri pada perutnya. Bahkan rasa mual itu mulai datang padanya.
"Ken?"
Suzy memperhatikan Ken yang tidak juga berganti dari posisinya. Pria itu justru terlihat semakin meringkuk.
"Hey? Apa ada yang salah denganmu?" tanya Suzy.
Merasa tidak benar, Suzy segera mendekati Ken dan memperhatikannya lebih dekat.
"Apa kau benar-benar kesakitan?"
Ken menatap Suzy sebentar dengan pupil matanya yang tampak melebar. Pandangannya pun mulai kabur. Sepuluh detik kemudian, Ken memejamkan mata dan tidak sadarkan diri.
"Ken? Aah, jangan bercanda seperti itu. Itu sama sekali tidak lucu...."
Karena Ken tidak juga bangun, Suzy benar-benar dibuat panik. Ia meraih kepala Ken dan meletakkannya ke pangkuannya.
"Hei, bayi besar? Apa kau sedang tidur? Ayolah, jangan bercanda seperti ini."
Dan karena Ken cukup lama pingsan, Suzy berlari keluar meminta tolong pada Akiyama untuk mengangkat Ken ke tempat tidur. Untung saja Akiyama belum pergi ke toserba.
Dengan cemas, semuanya mengikuti Suzy untuk melihat keadaan Ken.
"Oh ya Tuhan, menantuku. Apa yang terjadi?" bibi Tamako berseru karena cemas.
"Apa gejala penyakitnya kambuh?" tanya paman Akihiro pada putrinya.
"Entahlah,, sepertinya ini semua salahku, huhu," jawab Suzy gugup dan sedih.
"Memangnya apa yang kau lakukan?" tanya bibi Tamako.
"A aku tadi memukul perutnya," jawab Suzy sambil menangis.
"Apa? Dasar anak nakal! Bagaimana bisa kau memukul perut suamimu?!" bibi Tamako memukul pantat putrinya.
"Hanya karena aku kesal," jawab Suzy sambil manyun dan memalingkan muka.
"Apa kau bercanda?? Kau benar-benar memukul perutnya?" Nonaka heran dengan gerakan menutup mulutnya sambil memperhatikan perut Ken.
"Hhaiihh,, kau ini. Tetap saja nakal," Akiyama memeriksa keadaan Ken yang pingsan lalu mengangkatnya perlahan.
Pada saat Akiyama menggendong adik iparnya tersebut, Ken tersadar dari pingsannya. Namun ia tetap pada posisinya dan berbisik lirih di telinga Akiyama,
"Yama, dengarkan aku. Biarkan dia mengira aku masih pingsan, karena dia memukulku, sekarang gantian aku yang akan mengerjainya."
Akiyama terkejut dan sedikit menoleh ke dekat kepala Ken.
"Apa yang akan kau berikan padaku jika melakukan ini?" jawab Akiyama berbisik sangat lirih pada Ken.
"Ramen spesial untuk makan malam," jawab Ken masih berbisik.
"Baiklah. Deal."
Akiyama kini tahu bahwa Ken sudah sadar dan berencana mengerjai Suzy dengan berpura-pura tetap pingsan. Karena ia tahu kejadian antara Ken dan Suzy sebelumnya dan bayaran yang akan ia peroleh nanti, maka ia setuju untuk bersekongkol.
Dengan akting yang sempurna, ia membaringkan Ken di tempat tidurnya. Begitu juga Ken yang berakting tetap tidak sadarkan diri. Suzy yang tidak tahu persekongkolan kedua pria itu pun ikut naik ke atas ranjang.
Setelah memperhatikan dengan seksama, Akiyama membuang nafas. Huff....
"Biarkan dia istirahat. Sepertinya dia pingsan karena efek luka kemarin," kata Akiyama.
"Benar, kan? Hanya itu," tanya Suzy benar-benar cemas.
CTAK!
Akiyama menyentil dahi Suzy.
"Kalau kau takut terjadi sesuatu kepadanya, tidak seharusnya kau memukul perutnya di saat ia baru saja menyantap sarapannya," kata Akiyama.
"Iya,, aku tahu aku salah,,"
"Kalau kau tahu kesalahanmu, jaga dia dengan baik. Aku harus pergi ke toserba. Sepertinya yang lain juga sama-sama sibuk," Akiyama berjalan keluar dari kamar Suzy sambil melirik Nonaka.
"Ah, iya benar. Aku juga harus mengantar Hari ke sekolah, daahh. Aku pergi dulu," Nonaka melambaikan tangan dan pergi.
Melihat menantu perempuan dan putranya pergi, bibi Tamako pun segera angkat suara.
"Ehem,, Ibu dan ayah juga ada urusan di luar," kata bibi Tamako keluar sambil menyeret suaminya.
Ngak Ngak Ngak....
Suara burung gagak lewat mendadak.
Hening tiba-tiba terasa. Suzy bingung mau melakukan apa.
Maka,
Begitu semuanya keluar, Suzy menyelimuti Ken dan berbaring tengkurap di sisinya.
"Kau membuatku khawatir, apa kau selemah itu, ha? Baru ku pukul sedikit saja kau langsung pingsan. Bagaimana nanti saat kita bertempur siang dan malam?"
GYUUTTT...
Tanpa sadar, Suzy membuat gambar melingkar dengan gerak jari telunjuk di dada Ken. Ekspresi wajahnya saat menatap Ken pun sangat lucu. Antara takut, cemas dan bersedih.
Karena gerakan yang dilakukan Suzy itu melingkar-lingkar tepat di bagian p*ting susunya, Ken benar-benar berusaha menahan diri untuk tidak tertawa.
Diintipnya sedikit dari celah kelopak matanya. Wanita itu sedang menunduk dan memonyongkan bibirnya karena sedih dan kecewa.
Karena tidak sanggup menahan geli dan rasa kasihan dalam dirinya, Ken menggerakkan tangan kirinya yang sejak tadi berada di celah tangan Suzy untuk merengkuh wanita yang ada di sisinya tersebut.
"Aku tidak selemah itu, percayalah," sahut Ken mengejutkan.
"Heih??" Suzy terkejut karena Ken menarik tubuhnya.
.
.
.
.
Bersambung ke Episode 48
Maaf ya,,, baru update sekarang,,,
Author lagi sibuk daftarin sekolah anak,,,
Tapi jangan kuatir dong,,
Sekarang udah nongol lagi kok,,,😀🤗