RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
MENGHADAPI UJIAN



EPISODE 72


SRET!


"Minggir! Minggir!" seruan polisi yang membawa Ken keluar restoran.


Saat itu, Ken diseret keluar dengan kasar sebagai tersangka pembunuhan. Beberapa warga yang menonton dengan jahatnya melempari kepala Ken dengan batu hingga berdarah.


Ada pula seorang pria yang datang dengan kebenciannya dan menyerang Ken secara langsung. Pria itu meninju perut Ken beberapa kali. Bahkan pria itu juga menggigit bahu Ken dengan kencang sampai menimbulkan luka.


"Aaaarrrrgghh!!" teriak Ken kesakitan.


Untuk melindungi tersangka, polisi mengusir pria itu dan menyuruhnya pergi jika tidak ingin ditangkap dan dibawa ke kantor polisi.


"Cuih! Mati saja kau! Dasar pembunuh!" umpat pria tersebut sebelum pergi.


Suzy melihat semua penganiayaan yang diterima Ken dari dalam restoran. Hatinya hancur melihat tubuh suaminya kesakitan seperti itu.


Namun ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia benar-benar syok dan merasa dihianati.


Sementara waktu Ken dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi lebih lanjut, rapat pengesahan saham telah dimulai. Sebelum itu, ayah tiri Ken menunggu putranya datang begitu lama dan akhirnya harus memulai rapat tanpa kehadiran pemegang saham itu sendiri.


Karena orang yang akan memegang saham tidak hadir, maka pengesahan itu pun ditunda. Siapa yang paling bahagia dengan situasi seperti itu? Tentu saja Yoshi, saudara tiri Kenzhi.


Sepulang dari rapat, Yoshi tertawa terbahak-bahak di ruangan pribadinya. Sebab ia tahu, sore itu Ken sudah ditangkap oleh pihak polisi.


"Kerja bagus! Akhirnya, anak sialan itu kembali ke tempat yang layak untuknya, hahaha," Yoshi terpingkal-pingkal senang.


"Dengan kasus perkosaan dan pembunuhan, aku rasa dia akan dipenjara seumur hidup," kata Rai.


"Benar. Ide yang bagus!" Yoshi merasa menang.


"Dan.. Benarkah itu? Benarkah sp*rm* miliknya tertinggal di tubuh gadis itu? Bukankah kau bilang mereka tidak melakukan hubungan badan? Lalu bagaimana bisa itu terjadi?" lanjut Yoshi bertanya-tanya.


"Aku rasa, kita sedang beruntung, bos. Sebelum aku membunuh gadis itu, mereka berdua sempat berciuman. Dan gadis itu sempat pula menyusupkan tangannya ke celana Ken."


"Oouugh? Melakukan pemanasan?"


"Benar. Hanya saja, tiba-tiba Ken menghentikan apa yang sedang terjadi di antara mereka. Sehingga semuanya tidak berlanjut seperti yang kita harapkan," Rai mengatakan semuanya.


"Lalu, kau membuatnya seolah itu terjadi alamiah?"


"Benar, bos. Aku memukul kepalanya hingga pingsan. Dan saat dia tidak sadarkan diri, aku mengambil sp*rm* miliknya dan menletakkan semuanya ke bagian intim gadis itu."


Yoshi merasa senang mendengar akal Rai yang begitu cemerlang. Dengan begitu, Ken tidak bisa lepas dari hukumannya. Ia pun tertawa kembali sampai keluar air mata.


Tanpa mereka ketahui, di sebuah vas bunga di sudut ruangan, menempel lah sesuatu yang berkedip-kedip merah di antara dedaunannya.


Rupanya Linzie meletakkan kamera tersembunyi dan perekam suara yang mampu merekam sinyal suara sekecil apapun.


Wanita itu, memutuskan untuk mencari bukti atas kejahatan suaminya. Sejak Yoshi mengancam membunuhnya tempo hari karena mengetahui rencana jahatny pada Kenzhi, Linzie terus berusaha mencari jalan untuk membongkar rahasia busuk suaminya.


•••••••


Restoran kini tidak terkendali. Para pelanggan kembali menggunjingkan Ken. Mereka melakukan pengrusakan dan mengumpat kelakuan Ken yang tidak juga berubah.


Bahkan baru beberapa jam saja Ken dibawa pergi oleh polisi, tempat itu sudah banyak coretan di dinding-dindingnya. Semuanya menggunakan kata-kata kasar dan mengutuk berat suami Suzy.


"Dasar pembunuh cabul! Potong Kem*luannya!"


"Sekali pembunuh, tetap pembunuh!"


"Penjahat wanita! Mati saja kau!"


Itulah beberapa tulisan yang ada di dinding restoran. Semuanya menyerukan kebencian terhadap Ken.


Anak-anak menutup restoran dan mengantar nona mereka pulang ke rumahnya. Dalam kondisi seperti ini, mereka tidak mungkin membuka restoran kembali.


Keluarga Suzy juga terkejut mendengar berita penangkapan Kenzhi soal perkosaan dan pembunuhan berencana. Mereka membicarakan persoalan itu bersama anak-anak restoran.


Namun, Suzy tidak ikut berkumpul dan memilih menyendiri di kamar. Ia berpikir beberapa saat lamanya. Sambil berjalan mondar-mandir, dsilangkannya kedua tangan di depan dada. Ia berhenti dan berdiri memandang keluar jendela.


Ia memang mengakui bahwa ada rasa kecewa di dalam hatinya, tapi ingatan tentang permintaan Ken yang memintanya untuk tetap percaya dalam keadaan apapun terus terngiang di telinganya.


Akhirnya, setelah mempertimbangkan segala hal, Suzy mampu mengubah pendiriannya.


Dengan tergesa-gesa, Suzy berlari keluar. Ia berfikir bahwa seharusnya, ia tetap setia dan menemani suaminya saat dalam kesulitan.


"Kau mau ke mana?" tanya Akiyama heran.


"Aku harus menemaninya. Dia pasti sedang kesulitan," seru Suzy.


"Tunggu! Aku ikut bersamamu!" Akiyama buru-buru berdiri dan meraih kunci mobilnya. "Aku segera kembali!" lanjutnya berkata pada orang-orang yang berkumpul di sana.


"Sayang?" panggil Nonaka.


Akiyama tidak menghiraukan panggilan istrinya. Ia menyusul Suzy dan bergegas pergi menuju kantor polisi.


Setibanya di kantor polisi, Suzy langsung menghamburkan diri menuju jeruji sel sementara tempat Ken ditahan. Akiyama menyusul tetapi dihalangi oleh dua polisi.


"Sayang!" serunya.


Ken yang tengah duduk bersandar di dinding pun terkejut mendengar suara istrinya.


"Suzy? Sedang apa kau di sini?" tanyanya penuh haru.


"Aku akan mempercayaimu. Jadi katakan padaku, apa yang terjadi sebenarnya? Hmm??" Suzy meraih kedua tangan Ken dari celah-celah jeruji besi.


Ken diam Ia hanya menghela nafas panjang. Suara nafasnya pun terdengar amat berat dan sesak.


"Ken, kau tidak membunuhnya, kan? Jadi, kenapa malam itu kau tidak menceritakan semuanya padaku? Mengapa kau hanya menanggungnya sendiri? Ayo katakan," Suzy merasa iba pada suaminya.


"Maafkan aku, Suzy. Aku takut hanya akan membuatmu khawatir jika ku ceritakan semuanya."


Suzy menggelengkan kepalanya, "Lalu, apa sekarang aku terlihat baik-baik saja? Apa menurutmu aku tidak cemas dan khawatir jika suamiku ditahan di penjara?"


Ken menatap Suzy sedih. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, lalu diusapnya pipi Suzy dengan sedikit gemetar.


"Aku minta maaf, Suzy. Tolong maafkan aku," Ken menangis.


"Ken......" Suzy juga ikut menangis.


"Aku tahu,, aku akan percaya..." Suzy mengangguk sedih


"Baiklah. Sekarang, jangan cemaskan aku. Pikirkan saja kesehatanmu dan bayi kita. Ya.." Ken mencoba menghentikan tangisannya dan bersikap tenang.


Pada saat itu, polisi menghampiri Suzy dan meminta keterangan darinya. Begitu polisi sedang mencatat kesaksian Suzy tentang perilaku Ken malam itu, Akiyama datang bertanya pada Ken.


"Bagaimana ceritanya? Mengapa kau bisa dituduh membunuh dan memperkosa seorang gadis?"


"Yama?" Ken menoleh ke arah suara.


"Cepat ceritakan semuanya padaku. Jangan ada yang terlewat."


Ken diam sesaat. Kemudian ia menatap wajah Akiyama yang cemas, "Sebenarnya, aku tidak mengerti, mengapa semuanya jadi begini."


"Maksudmu?"


"Malam itu aku mengantar Keiko pulang ke rumahnya karena dia sedang mabuk. Aku membantunya tidur di kamarnya karena dia tidak sadar," Ken berhenti bicara dan diam memikirkan proses pertemuan panas diantara dirinya dengan Keiko.


"Lalu? Lalu bagaimana selanjutnya?" Akiyama tidak sabar mendengarkan.


Setelah memikirkan dengan matang, Ken tidak menceritakan situasi antara dirinya dengan korban, pada Akiyama.


"Setelah membawanya ke kamar, aku bergegas keluar dari rumahnya. Tetapi, seseorang memukul kepalaku dari belakang hingga membuatku pingsan. Dan saat aku bangun, aku melihat Keiko sudah tidak bernyawa di atas ranjangnya."


Akiyama menyimak cerita Ken dengan baik, "Benarkah? Hanya seperti itu saja?"


Ken mengangguk berat.


"Jika itu yang terjadi, dari mana mereka menemukan semua jejak yang memberatkanmu?"


"Entahlah."


"Kau yakin tidak melupakan sesuatu yang penting?" tanya Akiyama lagi.


Ken mengangguk dengan rasa bersalah. Ketika Suzy akhirnya selesai memberi kesaksian, baik Suzy maupun Akiyama diminta pergi dari sana.


"Sayang, bertahanlah sebentar ya? Aku dan yang lain akan meminta bantuan dari ayah dan ibumu. Kau sehat-sehat di sini dan makan yang teratur. Oke?" Suzy memberi semangat untuk Ken.


Ken tersenyum dan mengangguk pada Suzy. Sebenarnya ia melakukan itu hanya untuk membuat Suzy tenang sehingga tidak terjadi sesuatu pada kandungannya.


Ketika akhirnya Suzy pergi dari hadapannya, Ken memanggil Yama.


"Yama! Tolong jaga Suzy untukku. Pastikan dia menjaga kesehatannya dengan baik."


"Hmm. Tentu. Kau tenang saja," Akiyama menepuk pundak Ken.


••••••••


Dua hari tanpa kehadiran Ken di rumah, Suzy merasa amat kesepian. Ia terus melamun sambil mengenang tempat-tempat indah saat bersama.


Bahkan akibat berita yang begitu cepat menyebar, tetangga-tetangga mereka pun berdatangan dan melakukan pengrusakan.


Mereka juga mengusir keluarga Suzy dan menyuruh mereka pergi dari lingkungan perumahan tersebut.


"Keluarga pembunuh! Pergi kalian dari sini! Kami semua tidak menerima kehadiran kalian di sini! Pergi cepat!!"


"Pergi! Pergi!"


Semuanya berteriak dan membuat kacau. Bahkan ketika tuan Akihiro dan putranya mencoba memberi pengertian, mereka tetap tidak mau peduli. Dengan kasarnya, mereka melempari keduanya dengan batu.


Sebuah batu mengenai pelipis tuan Akihiro dan membuatnya berdarah. Akiyama yang melihat kejahatan itu pun berteriak dan membela keluarganya. Namun apa yang ia dapat?


Ia justru dipukuli warga karena membela Ken dan keluarganya hingga babak belur. Tentu saja Nonaka menjerit-jerit dan menangis histeris.


Bibi Tamako pun marah dan balas menyerang tetangganya hingga terjadilah aksi saling menjambak dan dorong mendorong.


"Berhenti! Aku bilang berhenti!" teriakan Suzy menggema di udara.


Semua warga berhenti sejenak, "Apa? Kau mau kami memukulimu juga?"


"Dengar! Suamiku bukan pembunuh!"


"Hahaha,, Dengar, dia bilang suaminya bukan pembunuh?" seorang pria menertawakan pernyataan Suzy.


Warga pun menertawakan Suzy sambil bicara macam-macam. Mereka menunjuk-nunjuk keluarga Ken dengan pandangan menghina.


"Lagipula, kasus ini belum pasti. Mengapa kalian mengganggu kami, ha?!"


Tiba-tiba pria itu mendorong Suzy hingga jatuh tersungkur, "Dengar! Kalian semua cepat kemasi barang kalian dan pergi dari sini. Atau kami akan menghancurkan rumah kalian malam ini juga!"


Warga kampung bergegas pergi meninggalkan rumah keluarga tersebut dengan marah-marah dan menendangi pagar rumah.


Paman Akihiro menolong putrinya dan membantunya bangun. Bibi Tamako juga menyudahi perkelahiannya. Mereka diam karena tidak bisa melakukan apa-apa lagi.


"Aaahhh! Kenapa ini terjadi pada keluarga kita?" Nonaka menangis kesal. "Apa kau yakin suamimu tidak melakukan perkosaan dan pembunuhan itu?" lanjut Nonaka bertanya pada Suzy dengan putus asa.


"Sayang!! Perhatikan ucapanmu!!" Akiyama yang sedang terluka terpaksa bangkit dan memarahi istrinya.


"Jujur. Aku tidak ingin mengatakan ini. Tapi kalian tahu sendiri. Aku rasa, memasukksn seorang mantan narapidana sebagai keluarga benar-benar membawa petaka selamanya."


"Apa maksudmu? Katakan saja dengan jelas di depanku, Nona. Apa kau mau mengatakan bahwa kau mempercayai fitnah yang sedang menjerat suamiku?" Suzy menghadang kakak iparnya.


"Sayang, aku bilang hentikan!" Akiyama menampar Nonaka.


Nonaka menatap suaminya kesal. Kemudian ia melanjutkan ucapannya.


"Lalu kalian pikir apa? Kenapa semua bukti mengarah padanya? Jika bukan, mengapa sampai ada sp*rm* milik Ken yang ditemukan? Dia pasti melakukan itu di belakangmu dan tidak mau mengakuinya. Sekarang, apa yang kalian lihat? Keluarga kita kacau karenanya," Nonaka mengeluarkan semua pendapatnya sambil menangis dan bersimpuh di lantai.


"K kau?" Suzy terkejut mendengar ucapan Nonaka. "Aku tidak percaya kau mengatakan tentang semua ini padaku. Apa kau pikir suamiku bisa melakukan suatu hal keji pada seorang wanita? Tidak. Dia tidak melakukannya. Kalianlah yang salah faham!" Suzy menjerit kesal.


Bagaimana bisa?


Bagaimana bisa?


Ia berlari ke dalam meninggalkan keluarganya. Ia sangat sedih dan menyayangkan pemikiran buruk Nonaka tentang suaminya.


Bersambung........