
EPISODE 23
Suzy menarik kursinya dan duduk perlahan di dekat kursi Ken. Ibu dan ayahnya menatapnya dengan tajam. Begitu pula Akiyama.
"Ada apa??" tanya Suzy berpura-pura bodoh.
"Kau membiarkan Ken mandi tanpa handuk?" tanya ayahnya. "Cepat minta maaf padanya!"
"Iya. Maafkan aku. Aku hanya bercanda."
"Ingat! Kau itu sudah dewasa, Suzy. Kenapa masih seperti anak kecil saja? Tidak pantas jika bercanda berlebihan seperti ini."
Suzy tersenyum-senyum sambil menundukkan kepalanya. Dari samping tempat duduknya Ken dapat melihat senyuman bahagia dari wajah Suzy.
"Iyaaaa. Aku minta maaf."
"Tidak apa-apa paman, aku sudah biasa dikerjai Suzy seperti ini. Jadi jangan marahi dia di depan semua orang."
"Lihat. Ken justru membela dirimu."
Ken tersenyum menunduk.
Untuk sesaat suasana menjadi hening. Tiba-tiba saja bibi Tamako mengutarakan keinginannya di depan Ken dan putra putrinya.
"Bibi lihat, kau sudah cukup umur untuk berkeluarga, Ken. Apa kau sudah mempunyai calon istri?"
Uhuk Uhuk!
Suzy tersedak saat dirinya sedang meneguk minuman. Dengan cepat ia menoleh pada Ken. Karena semua orang yang berkumpul di meja makan itu menatapnya, Ken membuka suara.
"Bibi bisa saja. Mana mungkin aku berani memikirkan seorang calon istri. Aku betul-betul menyadari siapa diriku. Seorang pembunuh sepertiku, mana berani memimpikan sebuah keluarga," Ken menunduk sambil tersenyum kecut.
"Benar, Bu. Ken mungkin harus menyesuaikan diri terlebih dahulu dengan keadaannya yang baru keluar dari penjara," sela Akiyama.
"Benar apa yang dikatakan Akiyama, bibi," Ken menyahuti lagi.
Bibi Tamako dan suaminya berpandang-pandangan. Setelah bibi memberi isyarat pada suaminya, akhirnya ayah Suzy berkata pada Ken.
"Jika paman mengusulkan Suzy sebagai calon istrimu, bagaimana pendapatmu?"
GLEK!
Ken, Suzy dan Akiyama saling berpandangan.
"Maaf paman, bukannya aku tidak tahu diri dengan menolak kemurahan hati paman. Aku hanya tidak berani memberi jawaban untuk saat ini. Karena pada dasarnya, itu semua kembali pada perasaan Suzy."
"Benar. Aku tidak ingin menikah dengan siapa pun. Lagi pula, sebagai teman aku juga tidak ingin memaksanya untuk mencintaiku. Ayah dan ibu tidak perlu repot-repot memikirkan siapa jodoh kami berdua," jawab Suzy ngambek.
Bibi Tamako memukul Suzy pelan, "Ih, kau ini. Apa salahnya jika ibu berusaha mencarikan suami untukmu?? Mana ada laki-laki yang akan melamarmu di usiamu yang sudah masuk tiga puluh empat??"
"Ibuuu,,,???"
"Apa?? Memang benar, bukan?"
Setelah akhirnya masalah mereka selesai dan tidak mendapat keputusan, datanglah seseorang masuk ke ruang makan mereka bersama seorang gadis kecil.
"Kami pulaaangg,,,,"
Akiyama menoleh dan menggeser kursinya. Dengan senyuman bahagia, ia melebarkan tangan bersiap memeluk gadis kecil yang berlari ke arahnya.
"Ayah," panggil anak kecil itu pada Akiyama.
Ken menoleh dan melihat Nonaka datang bersama seorang anak yang memanggil Akiyama sebagai ayah.
"Heh? Itu Kenzhi?"
Suzy mengangguk cepat. Ken yang bingung pun diberitahu bahwa Nonaka adalah istri Akiyama. Dan anak kecil cantik bernama Hari itu adalah putri mereka.
"Dia Nonaka. Apa kau ingat dia?"
Ken mengangguk.
"Sekarang dia menjadi istriku. Dan ini putriku. Namanya Hari," Akiyama memperkenalkan putrinya.
"Hay Hari," Ken tersenyum dan sedikit membungkuk memberi salam sapaan.
"Paman ini siapa, ayah?"
"Dia teman ayah. Apa dia tampan?"
Hari mengangguk.
"Hmm. Dia sangat tampan. Lebih tampan dari ayah," kata Hari apa adanya.
"Apa? Ayah jadi tidak bersemangat untuk makan jika putri ayah berhianat dengan memilih pria lain sebagai pria yang lebih tampan," kata Akiyama berlagak sedih.
"Tidak apa ayah. Meski ayah tidak setampan paman ini, tapi nama ayah selalu ada di hatiku," jawab Hari tersenyum sambil menepuk-nepuk kepala ayahnya agar tidak cengeng.
Semua orang di sana menertawakan kekonyolan ayah dan anak itu.
"Eeeh, ayo cucu kakek, kemarilah. Apa liburanmu menyenangkan?"
Hari mendekati kakek dan neneknya, "Hmm. Kami mempunyai banyak kegiatan, kakek, nenek. Dan itu saaaangat menyenangkan."
"Baiklah, baiklah. Kemari peluk nenek juga," kata bibi Tamako.
Mereka melanjutkan acara makan malam dengan rahat dan penuh kekeluargaan. Nonaka juga ramah pada Kenzhi. Begitu pun Hari. Gadis kecil itu rupanya gampang akrab dengan Ken. Begitu obrolan mereka nyambung, ia memilih duduk di dekat Ken dan bercerita panjang lebar.
Begitu acara makan malam usai, Hari pergi tidur bersama Akiyama.
"Ken, sebaiknya, malam ini kau menginap saja di sini. Besok saat Hari berangkat sekolah, kau boleh pulang," kata bibi.
Ken menoleh pada Suzy untuk mencari pendapat. Namun, wanita itu hanya mengangkat kedua alisnya tanpa berkata-kata. Akhirnya ia pun setuju untuk menginap barang satu malam.
"Nonaka, ayo bantu ibu menyiapkan kamar untuk tamu kita," kata bibi Tamako mengajak menantunya masuk ke dalam.
"Baik Bu," jawab Nonaka.
Karena ibu dan kakak iparnya pergi ke dalam, Suzy memperhatikan Ken yang sedari tadi hanya menundukkan kepala. Ia masih teringat percakapan ibu dan ayahnya, soal rencana untuk menjodohkannya dengan Ken.
"Seandainya ibu dan ayah memintaku menikahi Ken. Tentu saja aku tidak akan menolak. Tapi tadi Ken mengatakan tidak akan menikahiku. Bukankah itu berarti ia tidak memiliki rasa seperti yang aku rasakan?"
Suzy sedikit kecewa. Perasaannya selama tujuh belas tahun itu akan sia-sia jika Ken tidak membalas cintanya.
"Hufh,, ini memang sulit," gumamnya sambil membuang nafas.
Ken menoleh dan bertanya pelan, "Apa yang membuatmu membuang nafas?"
"Tidak ada apa-apa," jawab Suzy.
Ken mengangguk dengan pandangan yang mata yang ke sana kemari.
"Apa tadi, kau benar-benar sengaja melakukannya?"
"Eh?"
"Aku akan memakluminya."
Suzy heran dan menoleh, "Kau tidak marah?"
"Hemm," Ken mengangguk cepat. "Kau kesal padaku karena upaya bibi dan paman yang ingin menjodohkan kita, bukan?"
"Ah? Itu,," Suzy sedikit kecewa karena Ken salah mengerti.
"Aku tidak ingin merusak pertemanan diantara kita dengan konflik seperti ini. Jadi, jika kau tidak suka, aku akan menjelaskannya nanti pada bibi," kata Ken.
Ken berdiri.
"Aku rasa, aku akan pergi tidur sekarang. Kau juga sebaiknya segera beristirahat," katanya.
Karena jam malam sudah sangat larut, Ken pergi ke kamar yang sudah disiapkan bibi Tamako.
•••••••••••
SRET!
Ken merebahkan diri di atas kasur lipatnya. Memakai selimut yang tersedia di sana dan mulai memejamkan mata. Beberapa waktu kemudian setelah ia berusaha tidur, Ken merasakan suasana horor yang tiba-tiba saja menyelimuti kamarnya.
Alis matanya bergerak-gerak naik turun dengan kelopak mata yang berkedut-kedut berusaha terbuka. Ada aura negatif yang ia rasakan dari sebelah kirinya. Begitu ia membuka mata, Ken terkejut bukan main. Ada sosok kepala berwajah hijau dengan rambut yang tergerai amat sangat menakutkan.
"Whooaah?!! Se setan!!" teriak Ken kaget dan melompat ke sisi kasur.
Suzy mengagetkan Ken dengan wajahnya yang bermasker hijau. Begitu Ken melompat karena terkejut, dirinya tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha, aku kira pria bertato dan kekar sepertimu tidak takut terhadap setan," gelaknya.
"Itu beda cerita. Siapa yang tidak terkejut ketika melihat seseorang muncul tiba-tiba seperti hantu di sampingnya," Ken memegangi dadanya karena jantungnya berdegup amat kencang.
Suzy meringis lebar.
"Aku lupa memberitahumu."
"Tentang apa?"
"Hati-hati tidur di kamar ini. Ada cerita tentang hantu wanita yang suka menggoda pria yang berani tidur di tempatnya," Suzy bercerita dengan nada suara yang di horor-hororkan.
"Kau serius?"
"Tentu saja. Jika kau dengar suara krengket dan berdecit dari atap, mulailah waspada. Itulah tanda kedatangannya," Suzy tertawa dalam hati karena membohongi Ken dengan cerita horor seperti karangannya.
Ken meneguk ludah, "Ah, kau pasti hanya mengerjaiku kan?"
"Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang penting aku sudah memberitahumu. Jika ada tanda-tanda seperti itu, harap bersiaplah. Sebab, saat kau lengah, hantu itu sudah mengambil barang berhargamu," Suzy bersuara horor kembali sambil menatap bagian anu Ken.
GLEK!
Ken menunduk menatap bagian berharganya cukup lama. Lalu menatap Suzy kembali. Dengan muka polosnya, Ken segera menutup bagian anunya dengan kedua telapak tangannya. Hup!!
"Aku rasa i itu tidak benar," katanya gugup.
Suzy semakin senang. Ia mulai kembali akrab dengan suasana menggelikan seperti sekarang ini. Sudah lama sekali ia tidak merasakan keakraban seperti saat-saat mereka duduk di bangku SMA.
"Terserah apa katamu. Sudah ya, aku pergi tidur dulu. Jangan lupa jaga itumu,,,," Suzy terkekeh bahagia sambil menudingkan jari telunjuk dan jempol tangan yang dibentuk pistol ke arah pistol air tersembunyi milik Ken.
DORRR!!
Ken mencondongkan badannya melindungi pistol air miliknya seolah-olah ia baru saja tertembak tepat di bagian anunya.
TUINGG???
.
.
.
.
.
Bersambung ke Episode 24