
EPISODE 32
Sudah dua jaman Ken dan Suzy duduk di perpustakaan sambil menyalin beberapa resep yang menurut mereka penting.
Ken terlihat serius dalam mempelajari resep-resep yang dibacanya. Ketika ia ingat akan hadiah kecil yang ia beli untuk Suzy. Diraihnya bungkusan kotak itu dari saku celananya.
SRET
Ia mengulurkan itu pada Suzy, "Ini untukmu."
"Heh? Apa itu?"
"Emm. Kebetulan aku melihatnya di jalan saat menuju kemari. Jadi aku membelinya untukmu. Harganya memang tidak seberapa, tapi,-" Ken belum selesai bicara namun Suzy segera meraih bungkusan kecil itu dari tangan Ken.
"Aku menerimanya dengan senang hati," kata Suzy menyela.
Ken menoleh, lalu tersenyum simpul. Ada sedikit perasaan lega di dalam hatinya. Sebab, belum pernah sekalipun ia memberi hadiah pada seseorang. Apalagi untuk seorang wanita.
Begitu selesai urusan mereka di perpustakaan, mereka berdua pergi ke supermarket untuk belanja yang diperlukan. Seperti daging sapi, udang dan ikan. Juga beberapa sayuran yang di restoran mereka tidak ada.
Suzy berjalan pelan di samping Ken yang mendorong troli keranjang. Mereka melangkah di barisan bumbu sambil berdiskusi apa yang dibutuhkan lagi selain beberapa jenis kecap dan bumbu kering.
Ketika sedang asyik berdiskusi, seorang pegawai suepemarket yang tengah mendorong troli barang berisi banyak muatan, buru-buru lewat tanpa melihat sekitarnya. Hampir saja troli itu menyerempet tubuh Suzy yang sedang memilih kecap dan bumbu lainnya.
Ken melirik ke kanan dan melihatnya.
Hap!
Tanpa pikir panjang lagi, Ken meraih pinggang Suzy dan menariknya cepat ke arah dirinya hingga dada mereka saling menempel. Mereka berputar dengan suasana yang penuh romantisme.
❤️
Can I go where you go?
Can we always be this close forever and ever?
And ah, take me out, and take me home.....
You're my, my, my, my lover......
****
Ketika gerakan memeluk pinggang itu berlangsung, Suzy berkedip memandangi wajah Ken yang sedang menatap kepergian troli barang itu dengan tajam.
Astagaa...
Suzy benar-benar jatuh cinta....
Hatinya meleleh setiap kali dirinya sedekat itu dengan Ken.
Bahkan ia sempat membayangkan kembali saat-saat pertama dirinya bertemu dengan Ken di kamar ganti sekolah. Alhasil, Suzy pun melamun,,,
SUZY?
SUZY?
SUZY?
Panggilan pada Suzy terus dilakukan oleh Ken. Ia khawatir karena wanita yang tengah berada di dalam dekapannya itu terbengong dengan wajah yang menjadi pucat pasi.
"Kau tidak apa-apa???" tanya Ken.
"T Tentu saja," Suzy bangun dari lamunan.
"Syukurlah," Ken menghela nafas lega.
"Belanjaan kita sepertinya sudah cukup. Ayo pulang," lanjutnya.
Ken menyingkirkan tangannya dari pinggang Suzy. Kemudian segera melangkah pergi mendorong keranjangnya.
Sebenarnya, ia sendiri merasa gugup saat berada dekat dengan Suzy seperti tadi. Bahkan sampai detik terakhir pun, Ken menyembunyikan kegugupannya di depan Suzy.
Siapa yang sempat melihat wajah Ken saat ia melangkah pergi?
Wajah itu tersenyum miring dengan manis karena menyembunyikan perasaan gugup dan bahagianya.
••••••
Mereka berdua pergi ke restoran untuk belajar memasak. Barang belanjaan yang mereka beli, segera Ken keluarkan di atas meja.
"Aku akan belajar membuat mie dengan tepung yang kita punya. Hari ini mari belajar membuat sesuatu sesuai pikiran masing-masing."
Ken berkata pada Suzy dan dijawab dengan anggukan setuju. Tidak lama kemudian, keduanya sibuk dengan urusan mereka sendiri. Mereka berdua begitu berkonsentrasi mewujudkan masakan yang tidak ada dalam menu restoran mereka.
Ken meraih pakaian kokinya dan mulai menuang tepung di atas meja Stainles. Dengan campuran telur dan air yang sudah ditakar, ia menggulung adonan dan memipihkannya beberapa kali.
Sesekali tangannya membentang untuk menarik adonan. Sesekali pula ia membantingnya dengan penuh tenaga. Tidak disangka, ia cukup terampil melakukan teknik itu.
Tanpa sepengetahuannya, Suzy yang sedang memotong udang dan ikan itu sesekali memperhatikannya.
"Ya Tuhaaan. Ada apa dengan jantungku? Kenapa terus saja deg-degan seperti ini saat melihat Ken? Hey Suzy! Jangan terlalu mencolok di hadapannya. Jika tidak, dia akan melihat perasaanmu dengan mudah."
Suzy berbicara dalam hatinya.
Satu jam berlalu dengan cepat. Asap mengepul dari panci-panci yang mendidih di hadapan mereka. Aroma lezat pun mulai tercium karena bumbu-bumbu yang dimasukkan mulai bersatu padu.
Kegiatan memasak mereka pun selesai. Ken membuat udon dengan makanan ringan kue mochi. Sedangkan Suzy membuat sushi dengan makanan ringan mochi juga.
Di atas meja hidang dapur, mereka duduk berhadapan menghadapi makanan yang baru saja mereka masak. Aroma lezat menggugah selera makan mereka.
"Mari kita cicipi. Dan berikan komentar yang jujur," kata Suzy.
"Hmm," Ken mengangguk.
Perlahan, mereka berdua mulai menyantap hidangan yang mereka masak. Antara Udon dan Sushi yang mereka buat, tidak ada cela sedikitpun. Rupanya mereka berdua berhasil membuatnya. Dengan sempurna.
"Ini lezat," kata Suzy.
"Hmmm. Kuahnya yang kental, terasa segar di mulut. Dagingnya gurih dan manis. Ukuran dan kematangan mienya juga sempurna. Aku rasa kau berhasil membuatnya, Ken. Aku akan setuju jika ini dihidangkan sebagai menu baru," lanjutnya keenakan menyeruput udon buatan Ken.
"Hmm. Benarkah? Kalau begitu aku juga akan mengomentari sushi buatanmu. Menurutku, sushi yang kau buat ini, kematangan nasinya pas sekali. Sesuai dengan daging ikan dan udang yang lembut. Bahkan sayuran di dalamnya juga masih bertekstur dan menimbulkan rasa manis yang cocok sekali jika di padukan dengan shoyu dan wasabi ini," komentar Ken panjang lebar.
"Yeeeaahh!! Kita berhasil! Ini benar-benar lezat," Suzy merasa senang.
Ken mencatat di dalam buku catatannya. Sedetile mungkin apa yang ia lakukan dengan mie udonnya hingga bisa dikatakan berhasil.
Cukup lama mereka berkontribusi dalam misi pengembangan menu restoran. Dengan kerja keras yang serius dan penuh kegigihan, mereka berharap mampu mewujudkan apa yang mereka inginkan untuk kemajuan restoran.
Suzy menguap.
"Kau mengantuk?"
"Sedikit," jawabnya lesu.
"Tidurlah sebentar. Sementara aku akan membersihkan peralatan masak."
"Eh? Tidak. Kita bersihkan bersama-sama saja," jawabnya langsung berdiri.
Ken menekan pundak Suzy agar duduk kembali. Ia tidak ingin wanita itu kelelahan.
"Tidak perlu. Biar aku yang melakukannya. Kau tidurlah sebentar. Selesai beberes nanti, aku akan membangunkanmu," kata Ken sambil mengenakan sarung tangan karetnya.
"Baiklah."
Suzy mengakui bahwa dirinya sangat lelah dan mengantuk. Aah. Pria ini benar-benar tahu bagaimana caranya memanjakan seorang wanita. Suzy pun tersenyum dan mulai menyandarkan kepala di atas meja.
•••••••
Ken sudah selesai beberes. Ia duduk di samping Suzy sambil memperhatikan wajah lelah wanita itu. Semakin dekat, semakin ia perhatikan.
Ken mengangkat kepala Suzy dan menemukan bahwa Suzy rupanya ngiler. Ada air liur yang menetes dari celah bibirnya.
"Akhh. Astaga? Dia tidak berubah sedikitpun dari waktu ke waktu," gumam Ken geli.
Meski Suzy tampak menggelikan seperti itu, Ken justru menyukainya. Wanita itu masih tetap apa adanya. Sederhana dan tidak menyembunyikan apa-apa darinya.
Diraihnya tisue dari kotak yang ada di atas meja. Kemudian dengan lembut ia mengusap air liur yang menetes ke pipi Suzy.
Bagaimana dengan Suzy sendiri?
Ia hanya bergerak sedikit untuk menggaruk pipi begitu Ken selesai mengelap ilernya. Bahkan, mulutnya yang mungil itu kecap-kecap seakan sedang mengunyah makanan.
Aiih...
Dasar Suzy. Ia tidak tahu bahwa dirinya gagal menampakkan diri sebagai wanita anggun dan manis di hadapan Ken.
Tapi siapa peduli?
Ken tidak melihat hal itu sebagai kekurangan Suzy. Bahkan ia menganggap bahwa tidak banyak wanita yang berani menjatuhkan harga dirinya seperti itu di hadapan seorang pria. Meski wanita itu melakukannya saat tidak sadar.
Ken ikut-ikutan menyandarkan kepalanya di atas meja. Dengan lengan kanannya sebagai bantalan. Tanpa terasa, sudah beberapa menit berjalan saat ia memutuskan mengikuti Suzy tidur, namun yang terjadi ia justru terus memperhatikan Suzy.
Senyum simpul kembali tersungging di bibirnya. Dengan tangan kirinya, ia merapikan rambut Suzy yang menutupi wajahnya.
"Hey, bayi kecil? Sudah malam, sampai kapan kau akan tidur?" Ken berbisik.
Namun Suzy tetap tidur. Akhirnya, Ken memutuskan untuk menggendong Suzy pulang.
Dan,,,
Bisa-bisanya dia tidak bangun?
Ck Ck Ck...
Pukul 00.45.
Ken berjalan pelan sambil menggendong Suzy di punggungnya. Langkah demi langkah begitu berarti baginya.
"Kau berat juga, ya? Pasti makanmu banyak?"
"Kau pasti stress, kan? Saat aku dipenjara?"
Ken bicara dan tertawa sendiri.
"Tapi, aku senang. Kau masih sama seperti dulu. Tidak pernah melakukan apapun yang sengaja dibuat-buat."
"Kalau boleh jujur. Aku juga selalu senang dan terhibur saat bersamamu."
Ken mengobrol dengan dirinya sendiri di sepanjang perjalanan. Sesekali ia menguap dan mengeluarkan air mata kantuk. Hingga akhirnya sampailah ia di rumah Suzy.
Kebetulan, Akiyama baru pulang dari toserba. Ia melihat Ken sedang menggendong adiknya pulang.
"Hey? Dia tidur?"
Ken mengangguk.
"Kau menggendong dia dari restoran? Apa kau serius?" tanyanya heran.
Ken mengangguk lagi. Namun pelan karena mulai menahan kantuk.
"Astaga! Dasar anak nakal. Gemar sekali menyusahkan orang!" Akiyama hendak memukul pantat Suzy. Namun Ken melarangnya.
Akhirnya, ia membukakan gerbang dan pintu rumah.
Begitu Ken masuk ke rumah dengan Suzy di dalam gendongannya, bibi Tamako dan paman Akihiro pun seperti mendapat kejutan.
Mereka segera mempersilahkan Ken pergi ke kamar Suzy untuk meletakkan putri mereka di kamarnya. Mereka pun mengikuti dengan mengendap-endap di belakang Ken.
Ketika sampai di kamar Suzy, Ken dengan pelan merebahkan Suzy di atas ranjangnya. Setelah melepaskan kaos kaki dan menyelimutinya, Ken kembali menguap.
Dalam kantuknya, Ken mulai memejamkan mata yang sudah satu jaman ia tahan selama perjalanan menuju rumah Suzy.
Sesekali ia terbangun dan membuka matanya. Namun, rasa kantuk tetap menyerang otaknya. Tanpa ia sadari, bibi Tamako dan paman Akihiro tersenyum senang melihat perkembangan kedekatan diantara mereka.
"Sayang, bukankah mereka belum menikah. Mengapa kita biarkan dia tidur di dalam juga?" paman Akihiro protes.
"Kau ini. Berpikirlah sedikit. Biarkan mereka mengurus diri mereka. Jika terjadi sesuatu malam ini, bukankah kita yang mendapat keuntungan?"
"Aah.. Benar. Benar. Maka kita akan menikahkan mereka tanpa ada penolakan."
"Pintar!"
Mereka pun tersenyum senang. Begitu melihat Ken tidur lelap, mereka pun menutup pintu kamar putrinya perlahan dan kembali ke bawah.
.
.
.
Bersambung ke Episode 33