RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
HARI AYAH PENUH HARU



EPISODE 88


Sejak mendaftar kerja di bengkel mobil milik tuan Tanaka, Ken sedikit melupakan kesedihannya. Sebab, hari-hari baru membuatnya sibuk mendongkrak mobil dan mengganti mesin yang rusak.


Jika pulang bekerja, Ken mampir ke panti asuhan dan membantu pekerjaan di sana. Anak-anak pun mengatakan rindu dan sudah menunggunya sejak pagi.


"Paman, apa sekarang paman tidak bisa datang lagi setiap hari?"


"Memangnya kenapa, Masao?" tanya Ken.


"Aku ingin memamerkan paman pada teman-teman sekolahku," kata Masao polos.


"Ahaha, kau bisa saja. Bukankah ada suster Teri yang bisa kau banggakan?" Ken tergelak.


"Suster Teri itu perempuan yang lembut. Dia ibu bagi kami. Aku ingin memamerkan kalau aku juga punya ayah hebat seperti paman," jawab Masao sedih.


"Ayah?"


"Iya. Dua hari lagi hari ayah. Kelas kami akan membawa ayah mereka masing-masing untuk maju ke podium dan melakukan pertunjukkan seni," ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tangan Ken.


"Aaah,, begitu rupanya,,," jawab Ken menyimak dengan baik.


"Tidak. Paman akan datang bersamaku dan menyanyi bersama," seru Guchi.


"Denganku dulu,,,"


"Tidak, paman akan datang bersamaku!"


Pada saat anak-anak sedang ribut memperebutkan Ken, nona Nanao dan nona Teri datang dan memberi mereka pengertian.


"Anak-anak, paman Ken harus bekerja di pagi hari. Kalian tidak boleh memaksanya datang," nona Nanao menimbrung.


Begitu nona Teri dan Nanao datang, anak-anak pun diam tidak merengek lagi. Bibir mereka tampak dimonyongkan karena cemberut.


Ken tersenyum melihat tingkah mereka. Kemudian ia menawarkan sesuatu sehingga anak-anak merasa senang.


"Bagaimana kalau kita semua menyanyi bersama?" tanyanya pada anak-anak.


"Menyanyi bersama?"


"Paman akan memainkan gitar mengiringi nyanyian kalian."


Semua anak yang ada di sekolah yang sama pun mengangguk setuju. Mereka amat bersemangat menentukan lagu yang akan mereka nyanyikan nanti.


Maka, mulai hari itu mereka berlatih menyanyi dengan iringan musik gitar. Untungnya, saat muda dulu Ken pandai memainkan jenis musik tersebut. Sehingga ia tidak perlu membuat kecewa anak-anak.


•••••••


Di sebuah rumah basemant, Suya baru selesai mencuci piring bekas makan malamnya. Ia selalu mengerjakan pekerjaan itu sendiri tanpa merepotkan neneknya.


Usai mengerjakan semuanya, Suya duduk merenung di tengah pintu sambil menerawang langit.


"Kau sedang memikirkan apa?"


"Eh? Nenek.."


"Mengapa melamun malam-malam begini?" nenek Tama mengusap kepala cucunya sambil duduk menemani.


"Dua hari lagi, di sekolahku akan ada pentas untuk hari ayah."


DEG


Jantung nenek Tama berdegup kencang. Ia merasa kasihan pada cucunya.


"Kau merasa sedih?"


"Tidak. Aku tidak sedih," Suya berbohong.


"Baguslah, Suya. Lekas tidur, besok kau harus sekolah, bukan?" nenek Tama menepuk-nepuk punggung sang cucu kemudian pergi ke dalam untuk membantu kakek Hiro menyalakan tungku penghangat.


Suya mengangguk, "Baik, nek. Sebentar lagi."


Malam itu, Suya mengobrol dan berdoa pada bintang. Bahwa ia ingin ada seorang ayah yang datang padanya dan menemaninya bernyanyi di panggung.


"Seandainya ada ayah yang tidak mempunyai anak di luar sana, bisakah kau mengirimnya padaku, Bintang? Teman-temanku selalu memamerkan kehebatan ayah mereka. Mereka bilang, ayah mereka super Hero di dunia nyata."


Suya menghembuskan nafas pelan dan melanjutkan ucapannya, "Mungkin hanya aku yang tidak membawa ayah di hari pentas besok."


SRET


Suya berdiri dan menutup pintu dengan sangat pelan. Ia tidak mau mengganggu tidur kakek dan neneknya. Setelah itu, ia berjalan ke kamarnya dan pergi tidur.


Dua hari telah berlalu....


Acara pentas seni di sekolah anak-anak panti pun diselenggarakan dengan meriah. Panggung yang berhias balon dan bunga-bunga itu membuat penonton merasa bangga. Sebab, itu hasil kerja keras anak-anak mereka demi kelancaran acara.


Tibalah giliran anak-anak panti tampil di atas panggung. Mereka membawakan lagu dari Fujito Aiko dengan judul lagu Tegami Aisuru Anata E.


Lagu yang menceritakan tentang orang tua dan ucapan berterima kasih sang anak untuk mereka.


###


Ayah Ibu......


Aku mencintaimu


Terima kasih telah dilahirkan


Terima kasih sudah berharap


Terima kasih sudah dimarahi


Terima kasih telah percaya


Terima kasih telah mencintaiku


Orang berhargaku selamanya.....


###


Penampilan anak-anak panti disambut tepuk tangan riuh penonton. Lagu yang dibawakan mereka membuat para orang tua merasa bahagia mendapat ucapan terima kasih secara tidak langsung.


Begitu turun panggung, Ken pergi ke toilet sekolah. Ia membasuh mukanya dan berterima kasih pada Suzy karena memberinya hari yang sukses.


Ketika ia hendak kembali ke tempat anak-anak berada, ia melihat seorang anak laki-laki yang tengah duduk menyendiri di pojok tangga.


Tanpa pikir panjang, ia pun menghampirinya dan bertanya meski ia tidak melihat siapakah gerangan anak itu, "Kau tidak menampilkan pertunjukkan?"


"Tidak."


"Kenapa? Apa ayahmu tidak bisa datang?" tanya Ken menundukkan kepalanya berusaha melihat wajah si anak.


"Aku tidak mempunyai ayah seperti teman-temanku. Jadi aku tidak bisa menampilkan apapun di atas panggung."


Ketika anak itu menoleh padanya, jantung Ken benar-benar seakan berhenti. Itu Tatsuya! Putranya.


"K kau anak itu?" Ken tergagap.


"Eh, paman yang membeli ubi manis nenek, kan?" Suya amat gembira karena bertemu kembali dengan Ken.


"Ya. Itu aku," Ken mengangguk seraya tetap menatap putranya yang langsung memeluk dirinya karena amat senangnya.


Saat putranya memeluk dirinya begitu saja, Ken merasa amat terharu. Dengan susah payah ia menahan air matanya agar tidak jatuh menetes ke pipi.


"Itu gitar paman? Waah,, keren sekali."


"Benarkah?"


"Apa paman baru saja menemani putra paman tampil?"


"T tidak, bukan. Aku mengiringi musik anak-anak panti. Gitar ini milik mereka."


"Ooohhh...." Suya kembali menunduk lesu.


"Apa kau ingin tampil?"


"Sepertinya aku tidak akan tampil," jawab Suya sedih.


"Mengapa?"


"Tidak ada ayah yang menemaniku naik panggung."


Ken mengerjapkan matanya beberapa kali saat ia berusaha mengatakan sesuatu namun terasa sulit diucapkan.


"Bagaimana kalau paman menemanimu tampil di panggung? Anggap saja paman ini ayahmu. Ayah yang datang untuk menemani putranya," Ken mengucapkan itu dengan tulus dan terbata-bata.


"Apa paman yakin?" mata Suya langsung berbinar.


"Hmm.. Sekarang katakan, kau ingin menampilkan lagu apa? Mari berlatih sebentar," Ken tersenyum untuk menyemangati putranya.


"Doraemon. Himawari No Yakusoku."


"Ah, lagu itu? Baiklah kalau begitu. Mari kita nyanyikan," Ken mulai memetik gitarnya.


Beberapa menit berlatih, Suya merasa sanggup untuk tampil di atas panggung. Maka dari itu, Ken dan Suya berlari menghampiri ibu guru pengarah acara dan memberitahukan bahwa mereka akan tampil membawakan sebuah lagu.


"Benarkah? Wah, Untung saja ibu belum mengakhiri acaranya. Kalau begitu lekaslah naik ke panggung, ibu akan beri tahu para tamu undangan bahwa masih ada sebuah lagu lagi yang akan ditampilkan."


Ken dan Suya mengangguk seraya menunggu ibu guru tersebut mengumumkan keinginannya.


Begitu selesai diumumkan, mereka pun naik ke atas panggung dan memberi salam hormat. Kemudian, Ken mulai memainkan gitarnya disusul nyanyian dari Suya.


"Ya. Begitulah putraku. Kau tidak boleh bersedih. Berbahagialah! Meski ayah tidak dapat menemani hari-harimu. Ayah akan membuatmu mengenang moment ini untuk selamanya."


Ken bicara dalam hati dengan penuh keharuan.


Di tengah lagu, Ken ikut menyanyi mengiringi suara Suya. Mungkin, pertunjukkan terakhir merekalah yang paling menyentuh dan mewakili kebersamaan seorang ayah dan anak di seluruh dunia.


###


Himawari no youna


Massugu na sono yasashisa wo


Nukumori wo zenbu


Kae shita ikeredo


Kimi no koto dakara


(lagu Ost Doraemon : Stand by me)


###


Tepuk tangan riuh terdengar ketika mereka selesai menyanyikannya. Anak-anak panti berhamburan mendatangi Ken dan memeluknya di atas panggung.


Wah, wah, wah,,, Sepertinya Ken sukses menjadi ayah dari sebagian anak sekolah itu. Mereka amat senang dan berterima kasih atas waktu yang diluangkan Ken untuk mereka.


***


KRUYUK KRUYUK


Terdengar suara perut keroncongan dari Suya. Ketika Ken menoleh padanya, anak itu tertawa malu.


"Apa kau lapar?"


"Hihihi,, Iyya. Perutku lapar sekali."


"Kalau begitu kita makan siang dulu."


"Eh? Makan siang?"


"Hmm. Kau mau makan ayam goreng?"


"Ayam goreng?" Suya terlihat senang.


Ken mengangguk. Tepat saat itu, anak-anak panti bersiap pulang.


"Anak-anak, kalian pulanglah lebih dulu. Paman ada urusan sebentar dengan Suya."


"Baik, paman. Sampai jumpa besok," anak-anak panti itu amat manis dan penurut. Mereka melambaikan tangan sebelum meninggalkan Ken dan Suya.


Begitu mereka ditinggalkan anak-anak, Ken meminta Suya mengikutinya.


"Ikuti paman!"


Siang itu, Ken dan Suya berbelanja bersama. Mereka membeli beberapa kilo daging ayam dan tepung.


"Paman mau masak sendiri?"


"Ya."


"Memangnya paman bisa masak?"


"Tentu saja. Kau belum melihat kemampuan paman yang lain, bukan?"


"Memasak? Sungguh?" Suya merasa bahwa paman yang bersamanya itu sangat keren.


Sepanjang perjalanan pulang menuju panti asuhan, Suya terus saja memandangi wajah Ken. Ia berpikir, seandainya paman itu adalah ayahnya. Betapa bahagianya ia.


SRET


Di panti Takaoka...


Ken menampilkan kepiawaiannya dalam memasak. Ia membuat ayam tepung atau chicken Katsu untuk dua puluh anak yang siang itu sudah pulang sekolah dan kembali ke panti.


Anak-anak membantu menepungi ayam-ayam yang sudah diberi bumbu oleh Ken. Sedangkan para pengasuh lain, menonton kegiatan itu dengan senang dan penuh senyuman.


Meski dalam memasak itu mereka melakukannya sambil bermain dan bercanda, chicken katsu buatan Ken pun akhirnya jadi juga.


Sore itu, mereka menghabiskan waktu untuk makan-makan bersama orang yang spesial. Kedekatan yang dirasakan oleh Ken, Suya, maupun anak-anak panti yang lain sangatlah indah dan tidak mudah dilupakan.


Pukul 18.32


Nenek Tama berjalan mondar-mandir di depan rumah karena Suya belum juga pulang. Ia sudah menelepon pihak sekolah dan mendengar bahwa cucunya itu sudah pulang dari tadi siang.


Lalu, sedang di mana dia?


Ketika dilihatnya dari jauh Suya berjalan mendekatinya bersama seseorang, nenek Tama sangat terkejut.


"A apa yang dia lakukan di sini?" gumamnya penuh kecemasan.


BERSAMBUNG.....