
EPISODE 84
Begitu keluar dari gerbang utama, Ken disambut banyak reporter. Jepretan kamera pun menyilaukan matanya yang baru saja menyesuaikan diri dengan cahaya luar.
"Pak Kenzhi! Bagaimana perasaan anda setelah bebas dari penjara???"
"Apa selama ini anda tahu soal rekayasa pembunuhan yang menyeret nama anda??"
"Saya rasa, anda bisa tenang sekarang. Lalu, apakah anda akan menuntut hukuman yang pantas untuk tersangka Y???"
"Pak Kenzhi!!"
"Pak Kenzhi!! Tolong katakan sesuatu!"
Begitulah para reporter bekerja. Mereka bergantian mengajukan pertanyaan pada Ken. Selama wawancara itu juga, mereka mendesak dan sedikit memaksa untuk mendapatkan jawaban yang mereka inginkan.
Ken merasa sangat tidak nyaman dibuatnya. Berulang kali, ia berusaha menghindari kamera reporter dengan penuh usaha.
Ketika ia kesulitan untuk pergi, sebuah mobil datang dan berhenti cukup dekat dengannya.
"Mr. K! Ayo masuk!" sebuah panggilan dari dalam mobil terdengar.
Ken yang memang kesulitan mengambil langkah itu pun seakan mendapat jalan untuk melarikan diri. Dengan cepat ia pun masuk ke dalam mobil tersebut.
Di dalam mobil......
Ayumi dengan santainya menikmati kue mochinya. Saat mengunyah pun ia mencoba melirik Ken yang duduk di bangku belakang dari kaca depan.
"Apa kau ingat ini?"
"Kue?"
"Ya."
Ken ingat pertemuannya pertama kali dengan Ayumi. Ia memberikan kue mochi, namun asisten rumah tangga mereka melarangnya sembarangan memberikan makanan.
"Ah, itu. Aku ingat."
"Waktu itu, sama seperti hari ini. Benar, bukan?"
"Apa?"
"Kebebasan," Ayumi menoleh ke belakang.
Ken mengatupkan bibirnya membentuk senyuman yang tertahan. Sambil pandangannya mengarah ke luar jendela.
"Tunggu sebentar. Bisa kau turunkan aku di sini?"
"kenapa turun di sini?"
"Aku harus mencari Suzy."
DEG!
"Bagaimana ini? Apakah aku harus memberitahu semua kenyataan yang terjadi?"
Ayumi tahu bahwa Suzy telah tiada. Akibat kecelakaan tragis itu, berita kematiannya tersiar di beberapa saluran televisi. Namun bibirnya tak sanggup mengatakan semuanya pada Ken.
"T tidakkah kau ingin bertemu ibu terlebih dahulu?"
"Aku akan menemuinya setelah menemukan Suzy," jawabnya.
"Baiklah," Ayumi menelan ludah.
Mau tidak mau, Ayumi menyuruh supir untuk menghentikan laju mobil mereka dan menepi. Ia berpisah dengan Ken di pinggir jalan kota. Keinginan kakaknya untuk menemui kekasih hatinya begitu kuat, bagaimana mungkin ia menghentikannya?
Aih, alangkah terpukulnya nanti jika kakaknya itu mengetahui kenyataan pahit yang menimpa istrinya. Apalagi, ia melihat wajah Ken saat ini yang tampak bahagia dan penuh harapan, ia yakin bahwa nanti akan ada hati yang terluka.
BRUMM
Ken menghirup udara pagi dengan perlahan setelah mobil Ayumi berlalu dari hadapannya. Ia tidak tahu tempat tinggal keluarga Suzy sekarang, namun ia tahu dan sangat hafal di mana alamat toko Akiyama.
Sebab itulah ia meminta Ayumi menurunkannya di sana. Letak toko Akiyama rupanya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Maka, ia pun pergi ke sana tanpa berpikir apapun. Jika bertemu Akiyama nanti, setidaknya ia bisa bertanya mengenai rumah tinggal mereka.
Setelah berjalan beberapa meter, Ken sampai juga di depan toko Akiyama. Toko tersebut masih sama seperti yang ia ingat beberapa tahun yang lalu. Kebetulan, ada beberapa pelanggan yang sedang membeli barang di sana. Ia pun bersemangat menemui Akiyama, karena ia pikir, toko tersebut masih bertahan.
Perlahan, ia memasuki toko dan mencari-cari keberadaan iparnya. Namun, mengapa ia tidak melihat Akiyama di meja kasir?
Ken berlagak sedang mencari barang di rak penjualan. Sesekali matanya melirik ke arah kasir, berharap Akiyama muncul dari dalam gudang.
Dan benar juga, seseorang muncul dari sana dan tampak sedang sibuk memindahkan kardus berisi stok barang ke dalam gudang. Namun, bukan Akiyama yang ia lihat melainkan ayah mertuanya!
"Ayah?"
Suara Ken yang berat itu terdengar ke telinga kakek Hiro. Pria tua itu pun menoleh dan terkejut melihat menantunya yang berdiri tepat di seberangnya.
"Ken?"
Kakek Hiro sudah melihat berita yang ramai memperbincangkan soal rekayasa pembunuhan yang dilakukan Yoshi terhadap menantunya. Saat ia tahu, ia merasa bersalah dan menyesali sikap kasar mereka pada Ken. Apalagi selama ini, ia juga tidak terlalu membenci sang menantu seperti yang ibu Suzy lakukan.
Ken melangkah mendekati ayah mertuanya. Ia merasa senang bertemu orang tua itu di sana.
"Bagaimana kabar ayah? Apakah punggung ayah masih sering sakit?" tanya Ken karena dulu sering memijat punggung mertuanya itu.
"Ya. Ayah rasa semakin sakit rasanya," jawab kakek Hiro.
"Ngomong-ngomong, ke mana Akiyama? Mengapa ia membiarkan orang tua melakukan tugas berat seperti ini? Haiss,, keterlaluan sekali dia,," Ken meraih tumpukan kardus barang yang berat dan memindahkannya ke dalam gudang.
"Mereka tidak lagi hidup di tempat ini," suara kakek Hiro menjadi sedih.
DEG!
Ken menghentikan pekerjaannya dan menoleh pada ayah mertua. Ia dengan jelas mendengar ucapan pria tua itu. Namun apa maksudnya?
"Mereka tewas dalam kecelakaan."
Ken terkejut mendengar ucapan ayahnya. Mereka tewas? Siapa yang tewas?
"S siapa yang ayah maksud? Akiyama?" Ken berjalan mendekati ayah mertuanya.
Dilihatnya ada tangis sedih di mata sang ayah mertua.
"Ayah, katakan padaku. Siapa mereka yang ayah maksud?" ia memegangi lengan sang mertua karena ingin tahu.
"Yama dan istrimu, Suzy," ucap sang ayah mertua dengan berat hati.
DHUAARRR!!!!
Bagai tersambar petir, Ken terkejut bukan main. Jawaban yang ia dapat tidak seperti yang ia pikirkan. Perlahan, tangan yang semula memegangi lengan kakek Hiro itu pun ia lepaskan dengan lesu.
"S Suzy?? Benarkah itu? Ayah pasti berbohong untuk menjauhkanku dengan Suzy, kan?" Ken mematung dengan pandangan kosong yang sedih.
Kakek Hiro mengambil koran yang ada di meja kasir dan memberikannya pada Ken sebagai bukti ucapannya.
"Ini, bacalah."
Ken menerima koran yang diulurkan dengan tangan gemetaran. Tak lama setelah ia membaca laporan berita yang ada di sana, ia menjadi percaya akan ucapan ayah mertuanya.
Matanya berkaca-kaca dengan air mata yang siap ditumpahkan. Luapan air mata yang tak tertahankan itu pun akhirnya jatuh berderai mengalir membasahi pipinya yang tirus.
Ken sangat sedih. Ia benar-benar sedih!
"S Su Suzy, apa benar dia tewas dengan cara seperti ini?" suara Ken terbata-bata.
"Benar..."
Setelah mengedipkan mata berulang kali agar air matanya berhenti, Ken yang tengah syok tiba-tiba merasakan tubuhnya lemas seperti tanpa tulang. Ia bersimpuh di lantai dan membungkuk-bungkuk menangisi kepergian istri tercintanya.
"Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!" Ken membuka mulut lebar-lebar dan menangis dengan teriakan yang menyayat hati. Siapapun yang mendengar tangisannya pasti dapat merasakan kesedihannya.
"Hhhh! Hhggg!! Tidak! Tidak mungkin! Suzy...." suaranya semakin bergetar.
"Suuuuzzzzyyyyyy!!!"
Teriakan dan tangis pilu Ken di sana, membuat pengunjung yang datang menontonnya sambil ikut bersedih. Awal mulanya mereka tidak tahu apa yang terjadi pada pria itu. Namun setelah melihat koran yang ada di lantai, mereka pun mengerti apa yang menjadi sebab kesedihan itu.
Cukup lama, Ken menangisi Suzy dengan hatinya yang penuh luka. Jiwanya dipenuhi perasaan duka yang mendalam dan menyiksanya.
Ya Tuhan, benar-benar pria yang malang.
Kebetulan, seorang reporter yang saat itu datang untuk membeli sesuatu di toko mereka, melihat Ken yang sedang menangis histeris. Tentu saja kejadian itu menjadi liputan menarik baginya. Maka dengan gesit, reporter itu segera merekamnya.
Berita mengenai Ken yang dibebaskan membuat siaran televisi maupun internet ramai. Terlebih, saat sebuah saluran siaran televisi menayangkan tangisan Ken di sebuah toko. Berita itu diiringi dengan beberapa unggahan dari masyarakat yang menampilkan pemandangan serupa di media manapun.
Duka menyapanya setelah bebas dari bui. Balasan atau ujian? Nasib yang menyedihkan. Begitulah beberapa judul yang tersebar di jejaring internet.
Sementara itu di penjara, kawan-kawan yang ditinggalkan Ken tengah menonton berita bersama-sama. Mereka ikut menangis dan merasakan kesedihannya. Bagaimana tidak? Mereka akhirnya tahu, bahwa Ken yang malang kehilangan istrinya saat berada di dalam penjara.
Lebih menyedihkannya lagi, kawannya itu tidak tahu apa-apa soal kematian sang istri hingga hari kebebasannya.
Kalau begitu, siapa yang pantas bertanggung jawab atas kejadian ini?
Para penghuni rutan menyebutkan bahwa Yoshilah yang pantas bertanggung jawab!
Ketika tayangan tentang teriakan menyayat Ken disiarkan setiap hari, setiap hari itu pula mereka membuat perhitungan pada Yoshi. Mereka tidak membiarkan Yoshi bersantai meski dalam satu menit.
•••••••
Malam itu, Ken pergi ke pemakaman Suzy dan Akiyama untuk pertama kalinya. Di sana, ia tidak berhenti menangis di depan pusara istrinya. Bahkan ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak dapat membahagiakan Suzy.
Hampir dua jam lamanya, Ken bersimpuh di dekat makam Suzy. Ia benar-benar merasa kehilangan tujuan hidupnya.
Begitu ia merasa cukup kuat untuk melanjutkan hidup, perlahan ia mengucapkan salam perpisahan untuk Suzy. Kemudian ia pun bangun dan pergi dengan berbesar hati.
Setelah sempat naik bus, ia turun di jalan dekat rumah keluarga Suzy yang telah ditinggalkan. Kondisinya porak poranda dengan barang-barang yang berserakan. Listrik yang padam membuat suasana rumah itu muram dan kelam.
Ken melihat rak dengan piring-piring yang pecah berkeping-keping. Mungkin, keluarga Suzy pergi dengan terburu-buru hingga tidak sempat membawa semua barang mereka.
Begitu pikirnya.
Ken membuka pintu kamar yang ia miliki bersama Suzy dulu dengan pelan. Kondisi pintu tersebut pun hampir saja lepas dari engselnya. Kemudian, beberapa menit menyapukan pandangannya ke seluruh kamar, matanya menangkap sebuah tempat yang membuatnya bersatu dengan Suzy.
Sebuah ranjang!
Ya. Di atas ranjang itulah ia menikmati hubungan suami istri untuk pertama kalinya setelah beberapa bulan menikah.
Dan ranjang itu masih sama seperti terakhir kali ia lihat. Dengan langkah kaki berat, Ken mendekati ranjang kenangan itu. Seprei putih dengan bantal yang juga putih itu kini berselimut debu.
Secara perlahan, ia menjatuhkan pantatnya di ranjang tersebut. Kemudian diusapnya bagian yang digunakan Suzy untuk tidur setiap harinya.
SRET
Ken merebahkan tubuhnya pelan di atas ranjang kenangannya. Ia juga terus menatap tempat Suzy dan mengusap bagian tersebut begitu lama. Tidak terasa, ia pun mulai mengantuk. Sesekali ia juga menguap kelelahan.
Matanya hampir saja terpejam ketika tiba-tiba saja melihat sesuatu di depannya.
Ada apa??
Astaga!
Ia melihat Suzy tidur di sampingnya sambil tersenyum amat manis. Apakah ini nyata? Atau hanya perasaan alam bawah sadarnya?
BERSAMBUNG.....