RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
NASI PERA



Hallo semuaaa...


Gimana kabarnya,, pada sehat kan??


Semoga sehat slalu yaa,,,


Nah,, udah masuk bab 107 nih pembaca setiaku,,,


Terima kasih banyak ya,, sudah mendampingi Ringu Enshu'' sampai di sini,,


Selesai baca, jangan lupa kasih likenya πŸ‘πŸ» votenya juga sangat ditunggu,,,😘


Yuk! Dukung terus karyaku 😘❀️


...----------------...


EPISODE 107


Ken duduk tenang ketika dokter datang untuk memeriksa matanya. Perban yang menutupi matanya itu pun perlahan dibuka.


"Bagaimana, apa kau dapat melihat jari tanganku, tuan?" dokter mengacungkan dua jarinya di depan mata Ken.


"Itu dua."


Dokter mengangguk. Lalu mengacungkan empat jarinya.


"Empat."


Dokter mengangguk lagi, "Syukurlah. Mata Anda tampaknya baik-baik saja."


"Apa aku sudah bisa pulang dan melepas perban, dokter?" tanya Ken.


Yuna yang berdiri di dekat dokter memperhatikan kedua lingkar mata Ken yang semula bengkak masih sedikit berwarna merah keunguan.


"Maafkan aku tuan. Anda memang sudah diperbolehkan pulang, akan tetapi untuk perawatan yang maksimal, anda masih harus mengenakan perban untuk dua hari ke depan."


"Jadi begitu, ya?"


"Benar. Karena itu, sebaiknya anda pulang setelah sehat betul."


"Aku akan pulang. Berdiam diri di ranjang seperti ini membuatku bosan, dokter."


"Tapi,-"


"Tidak apa-apa, dokter. Aku akan merawat dia selama di rumah," sela Yuna cepat.


"Ah, benarkah? Baiklah, kalau begitu anda boleh pulang ke rumah sore ini jika anda mau."


Setelah selesai memeriksa Ken, dokter pun pergi.


"Bagaimana dengan ayahmu? Apa dia curiga?" tanya Ken.


"Tidak. Dia percaya bahwa kau sedang ada perlu dengan keluarga."


Rupanya, Ken, Yuna, Ichigo dan Kurosaki sengaja menyembunyikan kejadian yang menimpa mereka kemarin dari tuan Tanaka.


Ichigo yang bertugas menyampaikan pesan dari Ken untuk tuan Tanaka mengatakan bahwa Ken ada urusan penting dengan keluarganya. Maka dari itu, baik Ichigo maupun Kurosaki tetap datang bekerja untuk menghindari kecurigaan bos mereka itu.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Sore itu, Ken benar-benar pulang ke rumah. Ia membonceng Yuna dengan motor miliknya. Untung saja, wanita itu sudah pernah mengendarai motor sejenis itu ketika bersama Arai. Jadi tidak ada masalah apapun selama perjalanan.


Hanya saja.....


"Apa sudah sampai?"


"Ya Kita sudah sampai di depan rumahmu," Yuna tersenyum.


"Kalau begitu, bisakah kau melepas ikatan ini?"


NGEEKK???


Rupanya, Yuna mengikat tubuh Ken dan dirinya dengan tali sehingga terikat kuat. Wanita itu merasa harus melakukannya untuk mengantisipasi jatuhnya Ken di jalan.


"Iya, tunggu sebentar. Mari kita turun dari motor terlebih dahulu."


Keduanya turun dari motor perlahan-lahan dengan tali yang masih melingkar di perut mereka. Begitu memasuki gerbang rumah, mereka pun berjalan dengan cara miring.


"Nah, berjalanlah ke kiri sepuluh langkah. Kita akan duduk di teras untuk melepas ikatannya," Yuna memberi aba-aba.


"Kenapa harus miring?"


"Sudah, lakukan saja. Satu, dua, tiga, empat,-"


"Hey!!"


Tiba-tiba saja, kaki Ken tidak selaras dengan langkah Yuna. Maka jatuhlah mereka berdua dengan posisi duduk. Sialnya, Yuna jatuh menduduki bagian anunya Ken.


"Aaaa'aaa'aaah..." Ken merasa bahwa telurnya sudah pecah.


"Aauuuhh.."


Begitu Yuna menyadari posisi dirinya yang menimpa sarang burung Kenzhi, maka ia pun segera menyingkir.


"Wooohh??? Maaf, maaf," Yuna berusaha melepas ikatan tali di antara mereka dan berhasil.


SRET


"Sejak di rumah sakit, aku sudah merasa idemu ini buruk," kata Ken sambil meraba tanah tempat ia jatuh untuk berdiri.


"Tapi nyatanya sukses, kan? Buktinya kau tidak jatuh dan tetap menempel di punggungku," jawab Yuna cekikikan.


"Menempel apanya? Kau mengikatku!" Ken merasa sebal dan melangkah ke depan.


Memasuki rumah, Yuna meletakkan tas milik Ken yang sudah diambilnya dari loker yang ada di bengkel, ke atas meja. Perlengkapan perban, obat dan salep yang ia bawa dari rumah sakit semuanya ada di dalam.


"Eh, kau mau ke mana?"


"Aku mau ke atas."


"Atas?"


Yuna langsung menengokkan kepala ke arah tangga rumah yang menuju lantai atas.


"Eh, t tunggu dulu!" Yuna meraih tas yang baru saja ia letakkan dan mengejar Ken dengan cepat.


Saat Yuna memegangi tangannya, Ken bertanya, "Ada apa? Mengapa buru-buru kemari?"


"Kau mengejutkanku. Berbahaya jika menapaki tangga sendirian dengan mata tertutup."


"Tidak perlu khawatir. Aku sudah hafal letak semua benda di rumah ini. Jadi aku bisa melewatinya dengan mudah," jawab Ken.


"Benarkah? Tapi tetap saja itu berbahaya.." gumam Yuna tidak percaya.


Namun ternyata, apa yang dikatakan Ken benar adanya. Ia tampak lancar-lancar saja melangkah melewati tangga menuju lantai atas. Bahkan Yuna juga melihat bahwa Ken tahu betul kapan saat berbelok dan berhenti.


"Kita sudah sampai di kamarku. Kau harus ingat, keberadaanmu di sini hanya untuk merawat mataku. Tidak lebih. Jadi jangan berani berpikir macam-macam," kata Ken.


"Hmm.. Aku sudah tahu. Siapa pula yang mau macam-macam dengan orang tua sepertimu," Yuna berkata sambil ngeloyor masuk ke kamar Ken terlebih dahulu.


Tapi, memang benar juga apa yang dikatakan Yuna. Ia juga sempat mengatakannya waktu di kamar mandi rumah sakit bahwa dia memang seorang orang tua.


β€’β€’β€’β€’β€’β€’β€’


Hari pertama di rumah bersama seorang wanita muda seperti Yuna, Ken dibuat kewalahan.


Bagaimana tidak? Memasak nasi saja ia tidak bisa. Bahkan, saat membuat mie instan rebus, Yuna membuatnya terlalu lembek.


"Sebenarnya, kau ini membuat mie apa membuat adonan kue? Mengapa lembek sekali?" tanya Ken sambil mengangkat tinggi-tinggi sumpit yang menjepit mie.


"Itu mie," jawab Yuna datar.


"Lalu, ini apa? Kau tidak memberi air saat memasaknya?" Ken mengomentari nasi yang belum jadi.


"Itu nasi. Jadi bagaimana? Apa kau tetap mau makan? Kalau tidak, sini biar aku buang saja," Yuna sedikit kesal.


SRET


Ken menahan tangan Yuna, "Tidak apa. Bawa sini, aku akan menghabiskannya."


Yuna langsung sumringah.


"Jadi, apa selama ini kau tidak pernah pergi ke dapur?" tanya Ken sambil menyuapkan nasi pera ke dalam mulutnya.


"Ya. Tidak pernah sekalipun."


"Lalu, apa selama ini kau makan di restoran?"


"Tidak juga. Arai sering memesan paket makanan untuk dikirim ke apartemen."


"Ah, seperti itu rupanya Dia juga tidak bisa memasak."


Yuna memperhatikan Ken, "Kenapa dari tadi kau mengomentari soal makanan dan masakan? Memangnya kau sendiri bisa membuat makanan?" ejek Yuna.


"Tentu saja."


"Aku tidak percaya. Mana bisa kau menyiapkan makananmu sendiri?"


Ken tersenyum simpul, "Apa kau mau bukti?"


"Hmm.. Kalau ada."


Ken menghabiskan nasi terakhirnya kemudian minum air putih dalam gelas.


"Baiklah, ayo ikuti aku."


"Eh? Ke mana?"


Ken berjalan menuju depan kulkas dan meminta Yuna mengeluarkan bahan masakan yang ada di dalam kulkas tersebut.


"Ada apa saja di dalam?" tanyanya.


"Ada daging, daun bawang, bawang Bombay, bawang putih, tomat, jahe dan juga telur. Hanya itu aku rasa," jawab Yuna.


Ken ingat. Benar, ia hanya memiliki daging sebagai bahan masakan.


"Baiklah. Kau bisa keluarkan itu semua dan letakkan di meja."


"Memangnya kau mau apa? Masak? Yang benar saja," Yuna tertawa geli.


Kau cuci dagingnya dan berikan padaku," kata Ken sembari menyiapkan diri dengan bahan lain.


Saat Yuna mencuci daging, Ken mengupas bawang Bombay, bawang putih, jahe dan membuang akar pada daun bawang. Lalu mencuci semua bahan dan lanjut mengiris tipis bahan-bahan tersebut.


Yuna yang sedari tadi memperhatikan Ken sambil mencuci daging, menjadi terpana begitu mengetahui keahlian Ken.


"Tolong cucikan beras untukku," kata Ken.


Yuna mengangguk dan segera melakukannya.


"Apakah dua genggam cukup?"


"Ya."


Karena Ken sudah hafal tempat barang-barang, ia pun mengambil wajan dan menyalakan kompor seperti biasanya. Sambil menunggu minyak panas, ia memotong daging tipis-tipis.


Ken mulai menumis bawang-bawangan dan menambahkan kecap asin, bubuk kaldu jamur, irisan jahe serta bumbu lainnya yang tersedia di atas meja masak.


"Ini berasnya."


"Kau tambahkan satu gelas air dan masaklah."


"Baik."


Begitu selesai dengan urusan beras, Yuna segera menonton aksi Ken. Waah, ia benar-benar tidak percaya bahwa Ken bisa memasak. Apalagi dengan mata yang tertutup.


Begitu selesai dengan masakan Gyudon' nya, Ken menghidangkannya di sebuah mangkuk bersama nasi yang Yuna masak bersamaan saat itu juga. Tidak lupa, ketika nasi dan daging masih panas-panas seperti itu, Ken memecahkan telur di atasnya hingga telur tersebut matang dengan sendirinya.


"Cobalah," kata Ken menawarkan makanan tersebut pada Yuna.



"Waah,, kelihatannya lezat!"


"Benar, bukan?"


"Em, tapi kau belajar masak dari mana? Apa kau hanya ingin pamer saja padaku karena mie instan buatanku terlalu lembek?"


"Tidak. Aku tulus membuatkan ini untukmu."


"Benarkah? Kalau begitu aku akan menyantapnya."


Beberapa detik kemudian, mulut Yuna menganga lebar, "Waaah!! Bravo, luar biasa! Ini lezat sekali. Sungguh, aku ingin tahu dari mana kau belajar masak?"


Ken diam tidak menjawab.


"Dari mana? Ayo katakan padaku," Yuna senyum-senyum sambil menyenggol lengan Ken.


"Dari istriku."


DEG


Yuna menjadi berhenti makan, ia merasa tidak enak pada Ken karena mendesaknya menjawab pertanyaan.


"istrimu, ya?"


"Yah. Dia ibunya Suya. Dan, dia meninggal saat aku ada di dalam penjara."


"Jadi begitu?" Yuna memperhatikan Ken. "Apa penyesalanmu ada hubungannya dengan dia?" lanjutnya.


"Hmmm. Satu-satunya hal yang membuatku menyesal adalah kehilangan dia."


Entah mengapa, Yuna tiba-tiba merasakan bahwa suasana hatinya menjadi kelam dan mendung. Ia menjadi sedih dan merasa kasihan.


Pada Ken.


BERSAMBUNG......