RINGU ENSHU

RINGU ENSHU
BERBAIKAN DENGAN IBU



EPISODE 35


Ken membuka hadiah dari Suzy karena Suzy memintanya untuk dibuka saat itu juga. Begitu ia melihat isi dari kotak hadiah itu, Ken terkejut. Sebab ia merasa hadiah itu sangat mahal untuknya.


Hadiah apa itu?


Sebuah ponsel berwarna hitam!


"I ini tidak salah?" tanyanya gugup.


"Ya. Itu untukmu. Lihat, aku sudah menyimpan nomorku ke dalamnya," kata Suzy sambil membuat panggilan ke ponsel baru Ken.


Seketika ponsel itu menyala dan sebuah laporan bahwa Suzy Cute sedang memanggil.


"Suzy Cute?" Ken bertanya geli.


Tapi ia segera menelan pertanyaannya itu dan mengucapkan terima kasih kembali.


"Nah, kalau begitu, simpan nomor kami juga, kak," kata Daisuki.


"Benar, kami juga akan menghubungimu jika ada hal mendadak yang perlu dikatakan," sambung Gorou.


Maka, anak-anak muda itu langsung mengelilingi Ken untuk membantunya menyimpan nomor mereka. Suzy mengamati kesibukan mereka sambil tersenyum. Ia melihat Ken benar-benar bahagia setelah kelulusannya.


SIING!


Lain hari, tepat pada perayaan hari orang tua. Ken kembali datang ke rumah Kenie.


Pukul 16.17 sore,


Ia datang membawa buket cantik dengan isian bunga anyelir pink yang dibungkus dengan kertas berwarna putih dan merah muda yang senada dengan warna bunganya.


Ken menghela nafas pelan.


Ia berdiri di depan pintu gerbang rumah Kenie selama setengah jam. Selama itu pula ia tidak berani menekan bel yang ada di hadapannya. Sebab, ia masih saja takut jika merusak kehidupan bahagia ibunya dengan kemunculannya.


Begitu ia memutuskan meletakkan buket bunganya di depan pintu gerbang dan pergi meninggalkan tempat tersebut, secara kebetulan sebuah mobil berhenti di belakangnya. Lalu sebuah suara gadis muda memanggil dirinya.


"Mr. K!!" panggil Ayumi yang buru-buru keluar dari dalam mobil.


Ken yang sedang melangkah menjauhi rumah Kenie pun berbalik dan menoleh pelan. Kedua tangannya masih utuh di dalam saku celana ketika gadis kecil itu berlari mendekat dan memeluknya tiba-tiba.


GLEK!


Ken menunduk heran dengan gadis kecil yang menubruk dirinya itu. Apa dia benar-benar menantikan kehadirannya??


Kemudian saat Ken mengangkat wajahnya lurus ke depan, seketika itu pula tubuhnya menjadi kaku. Di depan sana, dilihatnya seorang wanita yang ikut keluar dari mobil. Bermantel merah dan berkacamata hitam dengan rambut yang digulung ke atas.


Itu Kenie!


Wanita itu berdiri mematung dan menatap Ken dengan haru dari jauh. Ia menoleh sejenak pada buket bunga yang tersandar di pintu gerbang. Kemudian kembali menatap putranya yang kini nampak berbeda dari saat ia remaja.


"Mr. K, kenapa kau lama sekali menemuiku? Aku bilang, kau harus bawa kue mochi saat datang kembali kemari. Apa kau membawanya? Ah. Apa sekarang kau bersedia menjadi pacarku?" Ayumi banyak bertanya sambil mendongak memperhatikan wajah Ken.


"M maaf, aku lupa soal itu," Ken tertawa lembut.


Ayumi merengut.


"Nona. Aku rasa, aku juga tidak bisa menjadi pacarmu. Mungkin, lebih cocok jika kita berteman saja," Ken melirik Kenie.


"Hanya teman? Aku mengerti. Kau pasti malu jika harus berpacaran dengan gadis kecil sepertiku, bukan? Maka aku akan tumbuh menjadi wanita dewasa dengan cepat, agar kelak aku bisa berdiri menyamaimu dan pantas menjadi pacarmu."


Ken tersenyum miring sambil menunduk. Saat itu juga, sebenarnya Ayumi merasa amat kecewa karena pria idamannya itu menolaknya dengan jelas.


"Karena sekarang kau adalah temanku, akan ku kenalkan kau pada ibuku," Ayumi menggandeng tangan Ken dan membawanya mendekati Kenie.


"Ibu, aku mau mengenalkanmu pada temanku," seru Ayumi.


Kenie yang semula melamun, menjadi terkejut mendengar seruan putrinya.


"Aah? Siapa temanmu, sayang?"


"Namanya Mr.K. Dia tampan, bukan?" Ayumi begitu bangga memperkenalkan temannya.


Kenie mengangguk dengan kaku sambil memperhatikan wajah putranya yang juga tengah menatapnya.


••••••••


Ayumi tidak tahu bahwa ada sesuatu yang disembunyikan antara ibunya dan Mr.K. Bahkan ia tidak pernah mengira bahwa ia dan Mr.K adalah satu keluarga meski berbeda ayah.


"Silahkan diminum tehnya," kata Ayumi mempersilahkan Ken minum.


Ken mengangguk dan meraih tehnya. Ia tersenyum sebelum meneguk habis minuman yang disuguhkan kepadanya. Gadis kecil itu benar-benar perhatian dan selalu mengaguminya. Terbukti dengan caranya saat menjamu Ken.


Tiba-tiba, Ayumi pamit ke toilet sebentar. Tentu saja hal itu memberi kesempatan bagi Ken dan Kenie untuk saling menyapa.


"Kau sudah keluar penjara?" suara Kenie bergetar menahan kesedihan.


"Ya. Sebulan yang lalu."


"Jadi, kau sering datang diam-diam tanpa menemui ibu?" Kenie mulai tidak mampu membendung air matanya.


Ken menunduk dan meremas celana di bagian lututnya. Ia berusaha menahan perasaan yang selama ini bergejolak di hatinya.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Ken gagap.


"Sebenarnya, sudah sejak lama ibu ingin menanyakan hal itu padamu. Tapi, setelah melihatmu tumbuh menjadi pemuda yang sehat dan cakap seperti sekarang ini, ibu menjadi tidak perlu mendengar jawaban lagi."


Kenie meraih tangan Ken, lalu menggenggamnya karena merasa bersyukur bahwa putranya mampu bertahan mengatasi kesulitan hidupnya.


"Apa dia adikku?" tanya Ken dengan suara sedikit bergetar.


"Kau pasti hidup bahagia sekarang? Mungkin sebaiknya, akan lebih baik jika aku tidak pernah muncul di sini," Ken menunduk.


Kenie merasa bersalah pada putranya. Maka dengan cepat ia meraih tubuh Ken dan memeluknya erat. Air matanya berlinang, jantungnya naik turun karena begitu pedih dan menyesakkan dada.


Oiih,,


Perasaan ibu kepada anak tidak akan pernah berubah meski waktu memisahkan mereka. Seribu kesalahan, dapat diperbaiki dengan sebuah kebaikan yang tulus dan murni.


Maka,,,


"Oh sayang. Maafkan ibu. Saat terakhir kau datang, ibu justru memarahi dan menyalahkanmu," Kenie menangis.


Ken juga menangis dalam hati. Hatinya yang terluka seakan mendapat penyembuhan saat itu juga.


Hanya ucapan maaf yang ia butuhkan. Benar. Hanya ucapan maaf sederhana dari bibir ibunya yang mampu meluluhkan rasa sakit di dalam hatinya.


"Sejak saat itu, ibu menyadari kesalahan terbesar yang ibu lakukan. Dengan menyerahkanmu pada tuan Kido, tanpa sengaja ibu justru membuatmu terbuang dan tidak dihargai," ucapnya seraya mengusap-usap punggung Ken.


"Itu semua, hanya masa lalu. Aku juga ingin meminta maaf kepadamu, ibu. Aku tahu aku tidak bisa membuatmu bangga dengan nilai-nilai sekolah yang tinggi. Bahkan aku hanya bisa membuatmu malu dengan masuk penjara sebagai seorang pembunuh," kata Ken.


Kenie menggelengkan kepala.


"Ibu yang bersalah kepadamu, Kenzhi. Jika saat itu ibu bersabar kepadamu, mungkin kau tidak akan menjalani hidup seperti ini."


Ken tersenyum bersandar pada bahu ibunya.


"Sekarang, ibu tidak perlu menangisi atau mengkhawatirkanku. Hiduplah dengan baik bersama suamimu. Kau juga tidak perlu mengakuiku sebagai putramu di hadapannya. Melihatmu hidup dengan sehat saja sudah cukup bagiku. Baik-baiklah dan jaga dirimu. Aku akan datang sesekali untuk menemuimu."


Kenie melepas pelukannya. Kemudian ia mengusap kepala Ken dan menatapnya sedih.


"Jika ibu boleh tahu, selama ini kau tinggal di mana? Jika kau butuh uang, katakan saja pada ibu," Kenie mengkhawatirkan putranya.


Ken tersenyum simpul.


"Aku bekerja sebagai koki bantu di sebuah restoran ayam milik temanku di kawasan Ameya Yokocho. Jadi selama itu, aku memiliki uang dari gajianku."


"Benarkah?"


"Ya. Beberapa hari yang lalu, aku juga berhasil lulus ujian memasak dan memiliki sertifikat resmiku. Jika beruntung, aku akan membuka restoranku sendiri," lanjutnya.


Kenie tidak percaya pada apa yang didengarnya. Putranya Ken, tidak menyerah begitu saja pada statusnya yang sebagai mantan narapidana. Maka ditatapnya Ken dengan perasaan bangga.


"Baiklah. Lakukan apa saja yang kau inginkan. Ibu akan berusaha untuk mendukungmu apapun itu," Kenie tersenyum.


Ia bersyukur karena Tuhan memberi kesempatan bagi mereka untuk memperbaiki hubungan yang beberapa tahun lalu telah rusak.


"Kalau begitu, aku akan pergi sekarang. Restoran akan terlalu sibuk tanpaku."


Ken berdiri dan meletakkan buket bunga yang sempat ia ambil dari pagar itu ke hadapan Kenie.


"Bunga anyelir merah muda. Melambangkan kasih sayang seorang anak untuk ibunya. Benar bukan?" Kenie menatap bunga itu lalu menoleh pada Ken.


"Ya. Benar. Dan itu untukmu."


"Bunga yang indah. Kau ingat bahwa hari ini adalah hari orang tua?"


"Hmm. Semoga kau suka."


"Tentu saja. Ibu sangat menyukainya," Kenie memeluk buket bunga pemberian Ken.


Ken membungkukkan badan memberi salam hormatnya pada sang ibu. Kemudian ia berbalik dan melangkah pergi.


Tepat ketika Ken pergi, Ayumi datang membawa toples cemilan.


"Loh? Kemana Mr.K??"


"Oh. Dia sudah pergi, sayang. Dia ada urusan mendadak, jadi dia hanya berpamitan pada ibu," Kenie menatap arah kepergian Ken.


•••••••


Suzy dan Suri sedang duduk di dapur sambil membersihkan bawang putih yang baru datang pagi tadi. Ya. Ia biasa mendapatkan rempah dan sayuran segar dari pasar. Keiko yang bertugas mengatur stok belanja bumbu dan sayur mayur untuk restorannya.


Ken datang dan langsung meletakkan tasnya ke dalam loker. Kemudian ia menghampiri Suzy dan Suri yang sibuk membersihkan kulit luar bawang putih dan mengepak beberapa bumbu ke dalam wadah.


"Kalian belum menutup restoran?" tanyanya sambil duduk di bangku kosong sebelah Suzy.


"Hmm. Sebentar lagi. Kau sudah bertemu dengan ibumu?" tanya Suzy.


"Ya. Aku bertemu dengannya."


Sebelum pergi ke rumah Kenie, Ken meminta ijin dulu pada Suzy. Itulah mengapa wanita itu tahu soal kesibukan Ken sore itu.


"Kalian sudah berbaikan?"


"Hmm. Kami sudah berbaikan. Dia juga menyukai bunga yang kau rekomendasikan," kata Ken.


"Syukurlah."


Suzy melirik ke arah Ken. Ditilik dari wajahnya, pria itu tampak sedikit lebih baik dari biasanya. Pasti karena hubungan dengan ibunya sudah kembali sebagaimana mestinya.


.


.


.


.


Bersambung ke Episode 36