
EPISODE 141
Setelah bekerja seharian di kantor dan menghadiri beberapa rapat penting, Ken pulang ke rumah dengan pikiran yang sangat lelah.
Ia masuk ke kamarnya seraya melonggarkan dasi.
"Kau baru pulang?" tanyanya ketika melihat Yuna mengenakan handuk mandi.
"Ya."
Kemudian, Ken yang sedang lelah langsung merebahkan diri di atas ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah.
"Aaahhh nikmatnya bisa tiduran di rumah...." ucapnya.
"Apa hari ini Suya akan datang?"
"Dia tidak bisa datang karena sedang ada ujian di sekolahnya."
"Oh. Dia meneleponmu langsung?"
"Hmm. Semalam."
Ken menoleh pada Yuna, "Bagaimana di salon? Apa semuanya berjalan dengan baik?"
"Cukup baik."
"Syukurlah."
Setengah jam berkutat pada urusan wajahnya, Yuna berdiri dan mendekati suaminya yang ternyata sudah terlelap. Seraya tersenyum, ia pun berdiri di antara kedua kaki Ken dan mencondongkan tubuhnya.
Karena Yuna berada di atasnya sembari mengendus lehernya, Ken pun terbangun.
"Kau membuatku kaget," katanya lega.
"Sayang, setelah beberapa tahun kita melakukan hubungan badan, kau pasti menginginkan seorang bayi dariku. Tapi sampai saat ini, aku belum juga memberikan bayi untukmu. Jadi, apa kau menyesal bertemu denganku?" ucap Yuna sambil tetap mengendus dan menciumi leher Ken.
"Apa yang kau bicarakan?" Ken terkejut mendengar asumsi Yuna.
"Tadi siang, aku mendengar seseorang mengobrol dengan temannya. Dia bilang, wanita yang sering bercinta namun tidak dapat mengandung bayi adalah wanita yang paling buruk di dunia. Pria manapun tidak akan betah hidup dengan wanita mandul seperti itu. Apakah menurutmu aku salah satunya?"
Ken langsung duduk dan memangku Yuna, "Apa yang kau bicarakan? Jangan pernah mengatakan hal seperti itu lagi. Hmm? Bagaimanapun, kau adalah wanita teristimewa bagiku. Satu-satunya wanita yang kini ada di hidupku."
Yuna menunduk sedih, "Lalu mengapa dua bulan ini kau tidak memandang padaku?"
GLEK
"Apa sudah dua bulan?" Ken sedikit terkejut mendengar penjelasan Yuna.
Memang betul, dua bulan ini dirinya begitu sibuk mengurusi perusahaan. Selain harus mengikuti rapat dan mengurus berkas penting, Ken selalu kelelahan saat tiba di rumah.
Ia sedikit mengesampingkan urusan ranjangnya bersama Yuna. Sebab ia pikir, Yuna juga sedang sibuk dan letih mengurus bisnis barunya.
"Kau berpikir terlalu jauh, sayang. Aku hanya kelelahan setiap pulang bekerja. Dan aku lihat, kau juga sudah sangat sibuk dengan kegiatan di salon. Aku hanya tidak mau membuatmu lelah."
"Benarkah? Sungguh bukan karena kau sudah bosan pada,-"
CUP
Ken menghentikan ucapan Yuna dengan ciuman dari bibirnya.
"Aku tidak pernah bosan denganmu. Kau harus tahu itu."
Yuna mengerjap menatap lurus pada mata Ken yang jujur. Belum sempat ia menjawab sesuatu, Ken kembali memagut bibirnya.
Karena selama dua bulan tidak beraktifitas mesra seperti itu, Yuna merasa amat sangat terangsang. Ia buru-buru melepas dasi dan kemeja yang dikenakan Ken, lalu berlanjut melepas handuk bajunya sendiri hingga terpampanglah dengan jelas dua dara kembarnya.
Berkat itu, Ken membalik posisi Yuna agar berbaring di ranjang. Setelah dengan cepat ia melepas pakaian yang tersisa, Ken kembali menyesap setiap lekuk tubuh wanitanya.
Dari leher kemudian turun ke perut dan akhirnya berkutat cukup lama pada liang kenikmatan milik Yuna.
Mendapat permainan seperti itu dari sang suami, Yuna berulang kali melenguh dan memejamkan mata saat merasakan setruman cinta yang maha dahsyat. Bahkan hanya dengan stimulasi yang Ken berikan padanya di bagian itunya, ia telah mencapai puncak org*smenya.
Tidak mau berlama-lama melakukan pemanasan, Ken segera menindih tubuh Yuna yang sudah basah oleh keringat. Dengan posisi kaki Yuna yang terbuka dan sedikit terangkat ke atas, Ken dengan mudah memasukkan tongkatnya dan mendorongnya dengan awalan yang pelan.
Permainan cinta yang Ken dan Yuna lakukan di malam itu, rupanya disaksikan oleh Ayumi dari layar laptopnya. Gadis itu duduk di kursi dengan kaki yang terangkat naik.
Jarinya bermain-main di dalam celah sempit berwarna merah muda miliknya.
"Aaah!! Kennnn,, tidak bisakah kau lakukan itu untukku??" des*ah Ayumi sembari menggigit bibirnya menahan rasa yang meletup-letup di dalam hatinya.
Orang yang disebut tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mengawasi kegiatan bercintanya dari kamera tersembunyi.
Bahkan kini Ken sudah mengganti posisinya dengan menggoyangnya dari belakang seraya merengkuh tubuh Yuna dengan sangat mesra. Rasa lelah dan kantuk yang tadi ia bawa dari kantor pun sirna seketika.
•••••••
Pagi harinya, saat Ken baru saja selesai mandi dan masih mengenakan handuk. Ia duduk di kursi rias sambil mengoleskan hand body ke tubuhnya. Tanpa sengaja ia melihat ke arah vas bunga dekat jendela yang sedikit terlihat aneh.
Didekatinya vas bunga itu dan ia pun menemukan kamera kecil tersembunyi di celah bunga-bunga hiasnya.
"Kamera?" gumamnya heran.
Saat sedang berpikir soal kamera kecil yang baru saja ia temukan, lagi-lagi Ken melihat benda yang sama terpasang di bingkai foto yang menempel di dinding.
Maka dengan cemas, Ken pun berusaha mencari benda yang sama barangkali masih ada di tempat tersembunyi lain di dalam kamarnya.
Benar saja! Ia kembali menemukan di bawah meja rias dan sandaran tempat tidurnya. Siapa yang tidak akan terkejut melihat ada banyak kamera tersembunyi yang tersimpan di dalam kamarnya.
GLEK
"Sejak kapan kamera-kamera ini ada di kamarku? Dan siapa pula yang melakukan hal gila semacam ini?" Ken gelisah bukan main.
Tiba-tiba saja satu nama terpikirkan olehnya. Dialah Ayumi.
"Apakah Ayumi? Lalu untuk apa dia melakukan ini?"
Maka, Ken segera berpakaian lalu bergegas keluar dan menghampiri Ayumi di kamarnya. Namun ternyata, Ayumi sedang membantu Kenie di dapur sehingga kamar itu kosong.
Ken berpikir sejenak. Apakah tidak apa-apa ia menggeledah kamar adiknya saat gadis itu sedang tidak ada di kamar?
Namun rasa penasarannya mengalahkan segalanya. Dengan tekad bulat, ia pun masuk dan mencari sesuatu yang sekiranya cocok dan berkaitan dengan kamera kecil yang ia temukan.
Digeledahnya bawahan kasur, lemari pakaian, laci yang ada di lemari, sampai kamar mandi milik Ayumi. Namun ia tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Hingga akhirnya saat ia tidak sengaja duduk di meja belajar Ayumi, ia melihat disk yang sedang terpasang ke sebuah laptop.
Dengan ragu, Ken menyalakan laptop tersebut dan langsung dihadapkan pada beberapa folder simpanan rahasia milik Ayumi.
"Burung besar? Selimut? Handuk putih?" Ken melihat beberapa folder khusus yang diberi judul aneh.
Maka di kliknya sebuah folder simpanan dan muncullah video di mana dirinya sedang berada di kamar mandi.
DEG
"A apa ini?" Ken terkejut melihat dirinya yang telanjang bulat ada di dalam sebuah rekaman video.
Kemudian dengan hati yang mendidih, Ken mengecek beberapa video lain yang ada di dalam folder simpanan Ayumi. Hampir semuanya menyimpan dengan jelas adegan panasnya dengan Yuna. Sedang yang lain adalah rekaman tentang dirinya.
"K kenapa ini semua bisa ada di laptop Ayumi? Apakah itu artinya dia yang meletakkan kamera-kamera kecil itu di beberapa lokasi kamarku?"
Mata Ken mendelik dan bergerak kesana kemari, menandakan bahwa pemiliknya sedang tertekan dan terlihat amat cemas.
CEKREK
Suara pintu yang dibuka.
Ayumi yang baru saja kembali dari dapur itu pun amat terkejut melihat Ken duduk di depan laptopnya dengan mata yang kemerahan dan berair. Ia langsung gemetaran dan tergagap memanggil nama Ken.
"K Ken??!!!"
Saat Ayumi menyebut namanya, Ken tetap duduk menatap layar laptop dan tidak menoleh sedikitpun padanya.
"Katakan padaku, Ayumi. Kenapa kau memiliki rekaman videoku yang seperti ini."
"I itu,,," Ayumi jadi gelagapan.
Selain itu, ia merasa hidupnya telah berakhir karena Ken yang ia cintai secara diam-diam, telah mengetahui apa yang ia sembunyikan.
GREK
Ken berdiri dan menatap tajam Ayumi, ia bertanya sekali lagi dengan nada marah namun berusaha ia tahan, "Jelaskan padaku. Apa yang kau lakukan dengan semua video ini!"
"Aku..."
"Apa kau memata-matai setiap apa yang aku lakukan di kamar? Sampai ketika aku bercinta dengan Yuna pun kau sengaja menontonnya?!"
Ayumi diam tak berkutik. Ia mengakui bahwa dirinya memang bersalah. Keringatnya pun bercucuran di seluruh tubuhnya.
"Bukankah itu artinya kau dengan sengaja mencampuri urusan pribadiku? Kenapa kau lakukan itu, Ayumi? Apa alasanmu!"
Ayumi takut menatap mata Ken, "Aku minta maaf, Ken. Sungguh! Aku minta maaf soal itu. Aku hanya,,,,"
Ken mendekati Ayumi yang terpojok di pintu. Ia menatap tajam wajah saudara satu ibunya itu.
"Itu karena aku mencintaimu!" teriak Ayumi hampir menangis.
"Apa?"
Ayumi meraih tangan Ken dan berusaha menyampaikan perasaannya, "Aku mencintaimu, Ken... Sejak kita pertama bertemu di depan rumah, aku benar-benar langsung jatuh hati padamu. Tapi apa yang bisa ku lakukan saat aku tahu kau adalah kakakku?"
Ken memejamkan mata karena emosinya bercampur aduk. Ia tidak pernah menyangka bahwa Ayumi akan bertindak sejauh itu hanya karena dia menyimpan perasaan padanya.
"Apapun alasanmu, Ayumi, aku tidak bisa menerimanya. Hufft! Bagaimana bisa kau menonton seseorang yang sedang berhubungan badan dengan mudahnya. Bahkan semua itu kau lakukan sejak lama? Jadi, berapa adegan yang sudah kau lihat? Khuh! Bagus! Aku merasa, kau menelanjangiku dengan sengaja."
Ken menyampaikan semua ucapannya dengan mata yang terus mengerjap menahan air mata. Sesekali ia juga membuang muka karena tidak dapat melampiaskan kemarahannya di hadapan orang yang membuatnya marah.
Begitu selesai bicara dengan Ayumi, ia beranjak pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi.
"Ken! Tunggu!" Ayumi berusaha menahan tangan Ken.
"Hentikan. Aku sudah cukup tahu seperti apa dirimu. Tidak perlu menjelaskannya lagi padaku. Jika kau mau, kau bisa lakukan apapun dengan rekaman itu. Aku tidak peduli lagi."
"Ken!!!"
"Apa!"
"Tidak bisakah kau memaafkan aku sekali ini saja? Aku masih saudaramu."
"Justru itu! Karena kau adikku, saudaraku, aku masih tidak habis pikir. Mengapa kau bisa melakukan semua itu padaku."
BRAK
Ken pergi dengan membanting pintu kamar Ayumi.
.
.
.
.
BERSAMBUNG....