
EPISODE 63
Mata Ken terpejam. Diusapnya pundak Suzy yang terasa halus dan lembut dengan sensual. Sentuhannya pun turun ke buah dada dan pinggang istrinya yang masih terlihat malu-malu.
Ken menyudahi ciumannya dan bersandar di dada Suzy dengan tenang. Kedua tangannya melingkar dan memeluk tubuh Suzy.
"Terima kasih, sayang. Karena, kau bersedia hidup dengan pria sepertiku. Kau tahu. Aku hanya seorang sampah masyarakat yang mendekam di penjara delapan belas tahun lamanya."
Suzy mengangguk dan tersenyum. Diusapnya kepala Ken yang berambut panjang dan lebat. Lalu diletakkan pula dagu bulat nan runcing itu di atasnya kepala suaminya.
Ia membiarkan suaminya tersebut bersandar pada dirinya seperti seorang anak kecil pada ibunya. Bahkan sejujurnya, ia masih tidak ingin turun dari posisinya yang berada di pangkuan Ken.
Perlahan namun pasti, Suzy memberanikan diri mengangkat kepala dan mengusap pipi suaminya.
"Tidak perlu berterima kasih padaku secara berlebihan, Ken. Bagiku, kau bukan sampah seperti yang orang lain pikirkan," Suzy bicara di depan muka Ken.
"Tapi tetap saja. Aku merasa sangat bersyukur,,," Ken menundukkan kepala.
Mata Suzy berlinangan air mata. Ia merasa amat bahagia bersuamikan Ken. Di momen ini, ia benar-benar merasa sangat dekat dengan suaminya. Bermaksud menenangkan perasaan suaminya, dipeluknya kembali kepala Ken sampai ia sendiri bisa merasakan nafas yang berhembus di lehernya.
Akibat sentuhan wajah Ken yang tanpa sengaja menggelitik lehernya, hal itu tiba-tiba saja membuat hormonnya naik. Seperti wanita yang sedang terhipnotis, Suzy mengangkat kepala Ken lalu mereguk bibirnya tanpa ragu.
Ken terhenyak dan hanya sanggup berdiam diri. Ia menikmati sensasi hangat manakala bibir Suzy yang bulat kecil menyapu basah bibirnya. Kedua tangannya yang sedikit gemetaran perlahan meraba pinggang sang istri, lalu dipejamkan pula matanya untuk menikmati permainan tersebut.
Semakin lama, Suzy semakin berani. Sambil terus menyesap bibir Ken, tangan kanannya melepas underwear yang dipakainya sehingga nampaklah bagian polos dari tubuh bawahnya.
Dengan pemanasan yang cukup singkat, Suzy berhasil membuat Ken tegang. Bahkan saat wanita itu membenamkan semuanya ke dalam, Ken dibuat melenguh berkali-kali dan membalas ciuman Suzy dengan penuh kehausan.
Maklum saja. Sejak hubungan suami istri pertama kali yang mereka lakukan bulan lalu, belum pernah ada lagi hubungan badan di antara mereka.
Maka, ketika Suzy menjadi lebih aktif seperti malam ini, tubuh Ken seakan menjadi lemas. Ia benar-benar kewalahan dibuatnya. Ia bahkan berulang kali mengatur nafasnya yang pendek disaat Suzy berkuda di atasnya dengan penuh sensualitas.
"Hosh Hosh Hosh,,, Sayang, bisakah lebih pelan sedikit?" Ken bersusah payah mengimbangi goyangan istrinya.
"Oouugh,, Ken,,,"
Seperti yang sebelumnya, Suzy mengalami berkali-kali orgasme. Setiap melewati puncaknya, Suzy menjambak rambut Ken kuat-kuat atau bahkan mencengkeram erat pundak serta lengan Ken sehingga meninggalkan lecet-lecet dan bekas merah yang berdarah di leher, pundak dan punggung.
•••••••
SRET
Ken duduk lemas lunglai dengan tangan yang melingkari pinggang Suzy. Seluruh tenaganya terkuras habis setelah di akhir senggama ia menukar posisinya dan bertarung habis-habisan.
"Apa menurutmu itu akan baik-baik saja?" tanyanya khawatir soal kandungan Suzy.
"Apanya?"
"Kandunganmu. Bayi kita," suara Ken parau.
"Eh? Apa itu berpengaruh?" Suzy menoleh ke belakang dengan ekspresi sedikit panik.
"Entahlah. Aku dengar, kehamilan pertama masih sangat lemah."
"Benarkah? Lalu mengapa tadi kau mengguncangku dengan begitu hebat?!" Suzy bangkit menjauh dengan nada bicaranya yang sedikit menyalahkan Ken.
"Apakah sekarang kau menyalahkanku soal itu?" Ken menekuk kedua kakinya. Ia tidak percaya bahwa ia akan disalahkan.
"Tentu saja. Jika kau tahu, seharusnya kau lebih berhati-hati saat melakukannya! Mengapa kau justru mengganti posisi dan sangat bernafsu?" Suzy memukul tongkat Ken yang masih keras.
"A' argggh.." Ken terkejut dan langsung menutupi bagian anunya yang terasa sakit.
Pada saat merasakan linu seperti itu, Ken mencoba bersabar. Ia memejamkan mata, mengusap wajahnya kemudian memegangi kepalanya dan mendesis.
"Kalau begitu, siapa tadi yang terus memancingku dengan ciuman panas?" suara Ken kini sedikit tercekat.
"Hah? Memancing? Apa itu tidak salah?? Bukankah kau yang memancingku lebih dulu tadi? Jangan memutar fakta, ya," Suzy tertawa terbahak.
Ia tidak mau mengakui bahwa ialah yang memulai lebih dahulu. Sebab, ia merasa bahwa Ken yang memulai menciumnya. Bahkan ia tidak sedikitpun menyesali perbuatannya yang memukul tongkat suaminya.
"Kau?!" Ken menoleh heran.
Beberapa saat yang lalu, ia yakin bahwa Suzy yang lebih dulu memulai bercinta. Bahkan jika ia ingin, ia bisa saja melanjutkan perdebatan seru tersebut dengan Suzy.
Akan tetapi, Ken cukup bijaksana. Ia tidak ingin memperpanjang debat soal persenggamaan yang baru saja mereka nikmati. Ia tidak ingin merusak suasana dengan pertengkaran semacam itu.
"Baiklah. Maafkan aku, aku yang salah. Aku memang lebih dahulu menginginkannya," Ken mencoba berkata lembut.
"Sudah jelas,,," Suzy merajuk.
Ken menghela nafas lalu menyentuh tangan Suzy.
"Maafkan aku. Aku lupa bahwa kau sedang hamil. Tapi untuk saat ini, kita hanya bisa berharap agar tidak terjadi apa-apa pada kandunganmu. Itu saja."
Suzy bangkit dan menyingkirkan tangan Ken. Ia buru-buru mengenakan pakaiannya kembali.
"Jadi, apa secara tidak langsung kau hendak mengatakan bahwa aku ingat soal kehamilanku namun aku tetap melakukannya denganmu, begitu?"
"Tidak, bukan begitu maksudku."
"Aku tidak percaya. Kau picik sekali."
"Apa?"
"Mulai besok, kau tidak boleh menyentuhku. Setelah malam ini, jangan berpikir untuk melakukan itu denganku," Suzy tampak serius.
"A apa yang kau katakan??"
"Tidak boleh ada hubungan suami istri."
"Tapi,,, bagaimana jika aku menginginkannya?" tanya Ken spontan.
"Lakukan pada wanita mana saja jika kau mau!" jawab Suzy seraya kembali tidur dan menyelimuti dirinya.
"Apa? Bagaimana bisa aku melakukan hal seperti itu pada wanita lain sedangkan aku sudah memilikimu?"
"Terserah kau!"
"Sayang,,, Soal itu, satu bulan saja ya? Ah tidak, tidak. Dua bulan mungkin? Aku akan berusaha menahan selama itu. Tapi jika yang kau maksud selamanya, aku tidak bisa. Lalu apa gunanya kita menikah?" Ken terdengar seperti sedang merengek.
"Entahlah! Masa bodoh dengan itu," Suzy menutupi kepalanya dengan selimut.
Melihat Suzy sedang mengambek, Ken mencoba memeluknya dari belakang. Namun siapa sangka, Suzy justru menyikut perut Ken dengan kencang.
Akhirnya Ken diam. Ia tidak ingin menggangu Suzy lebih jauh lagi. Mungkin dengan membiarkan istrinya itu sendiri dan tidur nyenyak, akan sedikit membuka hatinya di keesokan harinya.
WUUZZZ
Angin malam yang berhembus cukup kencang di teras rumah itu rupanya mampu membuat semua bulu roma Ken meremang. Sesekali, Ken nampak menggosok-gosok tangannya untuk menciptakan kehangatan.
Dalam kesunyian malam itu, ia duduk sendiri menatap langit yang dipenuhi bintang sampai tidak menyadari bahwa seseorang datang mendekatinya.
"Kau belum tidur, Mr. K?"
Ken menoleh, "Ah, kau?"
"Apa istrimu sudah tidur?"
"Ya."
"Apa dia wanita yang aku lihat di taman waktu itu?" tanya Ayumi seraya duduk di kursi sebelah Ken.
"Hmm. Itu dia."
"Apa waktu itu kalian sudah menikah?"
"Hmm. Ya. Kami sudah."
"Jahat sekali! Lalu mengapa kau tidak mengatakannya padaku saat itu juga?"
Ken tersenyum, "Itu karena aku sedikit tidak percaya diri."
"Kenapa tidak?"
"Aku tidak bisa mengatakannya."
Mereka diam.
"Bagaimana sekolahmu?"
"Aku?"
"Ya. Kau. Apa kau mengalami kesulitan?"
"Hmm. Tidak. Bulan ini, aku justru masuk sepuluh besar siswa terpandai di satu sekolah."
"Benarkah? Waah. Itu keren sekali," Ken mencoba bersemangat.
"Apa seperti itu?"
"Tentu saja. Saat aku sekolah dulu, aku bahkan tidak lulus ujian harian," kata Ken.
"Astaga! Apa itu benar? Apa kau sebodoh itu?" Ayumi penasaran sambil mengamati wajah Ken.
"Hmm, tidak juga. Sebenarnya aku memiliki banyak kasus, diantaranya membolos dan memukuli beberapa teman."
"Sudah ku duga. Kau tidak akan sebodoh itu, haha," Ayumi tertawa.
Ken menoleh dan ikut tertawa. Kemudian ia kembali menatap langit.
"Belajarlah yang rajin. Jadi anak yang baik untuk ayah dan ibumu, hmm?"
"Iya baiklah. Aku juga akan menjadi adik yang patuh,,,," lagi-lagi Ayumi tertawa ringan.
Hening.
"Mr. K?"
"Hmm?" Ken menoleh lagi.
"Aku dengar, kau sempat masuk penjara. Apa itu benar? Emm, kalau boleh tahu, apa kasusmu?"
Ken diam.
"Apa ibu memberitahumu?"
"Tidak. Aku mendengar semuanya dari seorang wanita yang saat itu kami makan malam di rumahnya,"
"Siapa?"
"Ibu bilang, tuan rumah itu ayahmu," Ayumi menatap wajah kakak tirinya.
"Aahh.. Jadi dia?" gumam Ken.
"Siapa? Apa kau mengenalnya?"
EHEMM!
Ken berdehem sebentar. Lalu......
"Ya. Wanita itu ibu tiriku. Dan benar, suami wanita itu adalah ayahku."
"Jadi?"
"Aku sempat masuk penjara remaja pada mulanya. Karena saat itu aku terlalu baik pada seseorang dan justru dijebak oleh orang tersebut."
"Apa itu temanmu? Lalu, lalu? Bagaimana selanjutnya?"
"Kemudian aku juga masuk penjara umum karena membunuh seseorang. Lalu menjalani masa hukuman delapan belas tahun lamanya."
GLEK
Ayumi meneguk ludah. Ia sedikit terkejut soal itu. Pembunuhan?
Melihat adik tirinya itu diam, Ken menoleh padanya.
"Apa sekarang kau takut padaku?"
"Eh? T ti tidak. Aku hanya penasaran, orang yang kau bunuh itu siapa?"
"Dia,, Seseorang yang merampok rumah istriku."
"Perampok?"
"Ya. Aku membunuh salah satu dari dua perampok yang menyatroni rumah Suzy kala itu. Meski aku menyelamatkan keluarganya, tetap saja. Membunuh adalah perbuatan yang melanggar hukum. Itulah mengapa aku akhirnya dipenjara dalam waktu panjang."
Ayumi tidak menyangka bahwa kehidupan saudara tirinya cukup rumit. Pasti berat dan membutuhkan waktu panjang baginya untuk bisa mencapai kondisi seperti sekarang ini. Diam-diam Ayumi pun menyimpan rasa kagum pada Ken.
Next Episode 6**4**....