
EPISODE 116
Setelah bermain di pantai, Ken mengajak putranya itu ke toko pakaian. Ia ingin membelikan pakaian baru untuk Suya.
"Kau boleh memilih yang kau suka," kata Ken.
"Benarkah, paman?"
"Ya. Ambil saja yang kau mau."
Walaupun Ken sudah menawari Suya untuk memilih apa saja yang ia mau, namun anak itu tahu diri. Ia tidak lantas memilih pakaian yang ia mau seperti yang ditawarkan ayahnya.
"Emmmm...."
"Lihat, ini sepertinya cocok untukmu. Paman ambil ini, ya."
Suya hanya mengangguk malu saat Ken mengambil beberapa lembar baju.
"Tapi paman, aku takut nenek akan membuang semua baju yang dibelikan paman untukku, nanti," katanya.
"Benarkah? Ah, begitu ya."
Ken berpikir. Sebenarnya ia ingin membeli banyak untuk Suya. Namun kata anak itu ada benarnya juga.
"Baiklah. Paman akan membelikan dua pasang saja untuk saat ini. Kau bisa mengatakan bahwa kakek yang membelikanmu baju itu."
"Iya baiklah."
Dan karena baju yang dipakai Suya tadi basah, Ken meminta Suya untuk mengganti baju dengan salah satu baju yang baru saja mereka beli.
GYUUUTT
Ketika berjalan keluar pertokoan, Ken mengajak Suya untuk mampir mencari makan.
"Ayo makan dulu di sana," katanya seraya menggiring Suya agar berjalan seiring dengan langkahnya.
"Baik."
•••••
TRAK
"Silahkan," kata pelayan restoran meletakkan tungku bakar dan piring berisi irisan daging, nasi kepal, serta beberapa makanan pelengkapnya.
"Terima kasih."
Ken meraih sumpit dan mulai memanggang daging satu persatu. Begitu daging matang, ia meletakkan beberapa potong di piring makan Suya.
"Makanlah selagi hangat," ucapnya seraya mencicipi daging yang lain.
"Iya, baiklah."
Suya mengambil sumpitnya dan mulai menikmati makanan yang terhidang di hadapannya. Lezat sekali! Pekiknya dalam hati.
"Cicipi juga nasi kepal ini. Kau akan merasakan kelembutan di setiap butir nasinya."
Mendapat tawaran dari ayahnya, Suya pun meletakkan sumpitnya ke sebelah piring dan menerima nasi kepal yang diulurkan padanya.
"Waaah,, paman benar. Nasi kepal ini lembut sekali," pekik Suya begitu melahapnya.
Ken tersenyum.
Acara makan siang mereka berjalan dengan lancar. Semua makanan yang Ken pesan habis tak tersisa. Pada saat mereka berjalan kembali ke depan, Suya meraih sesuatu dari dalam tasnya.
"Apa paman yang membawa ini kemarin?" tanyanya.
Ken melihat buah apel yang diulurkan Suya. Ia segera mengangguk dan tersenyum kepadanya.
"Hmm. Apa kau menikmatinya?"
"Tentu saja. Apel yang paman beri rasanya manis sekali. Terima kasih paman," jawab Suya.
"Apa nenekmu tidak membuang barang yang paman kirim?"
"Nenek tidak melihatnya karena aku segera menyembunyikannya di kamarku."
"Benarkah? Jadi, kau tidak mau membaginya pada kakek dan nenekmu?" Ken berlagak cemberut.
"Iya, tidak," Suya merasa bersalah.
"Tidak apa. Karena nenek tidak menyukai paman, kau boleh memiliki semuanya," Ken mengusap punggung putranya lembut.
"Benarkah boleh?"
"Ya."
••••••
18.23
Malam itu, Ken mengantar Suya di toko kakek Hiro. Ia tidak bisa mengantarkannya langsung ke rumahnya.
"Suya?"
"Kakek! Paman Ken tadi mengajakku ke pantai!" seru Suya bahagia.
"Maaf ayah, hari ini aku membawa Suya jalan-jalan sepulang sekolah. Apa ibu mencarinya?" ungkap Ken saat membawa Suya masuk.
"Ya. Ia baru saja dari sini."
"Maaf karena tidak meminta ijin terlebih dahulu," Ken membungkuk minta maaf.
Ayah mertuanya yang sedang mengelap meja itu pun mengusap lengan Ken. Mau bagaimana lagi? Menantunya itu tidak bisa ia salahkan begitu saja.
"Tidak apa. Lain kali kau bisa memberitahuku lewat pesan sebelum membawanya pergi. Jadi, ayah bisa memberi alasan untuk ibu," katanya bijak.
"Iya. Maaf ayah."
Kakek Hiro mengangguk dan berganti bicara pada Suya.
"Apa kau senang pergi ke pantai bersama paman Ken?"
"Benarkah? Wah, pasti seru sekali?"
"Iya. Itu seru sekali, kek!"
Ken dan kakek Hiro saling bertatapan dengan senyuman tersungging di bibir mereka. Untungnya, Ken memiliki ayah mertua seperti kakek Hiro yang tidak membenci dirinya setelah apa yang ia lakukan pada keluarganya.
Dirasa cukup untuk pertemuan hari itu, Ken pulang setelah malam semakin petang. Sebelumnya, ia menemani kakek Hiro untuk menutup tokonya terlebih dahulu.
Begitu orang tua dan cucunya itu berjalan meninggalkannya, barulah ia beranjak pergi.
GREK
Pagar kayu itu ia buka setengah bagian hanya cukup untuk memasukkan motornya. Begitu menutupnya kembali, Ken menyimpan motornya di halaman samping rumah.
Tanpa sengaja, ia melihat sebuah sepatu hak tinggi yang ada di anak tangga luar. Ken langsung berpikir siapa gerangan yang datang. Jika melihat siapa orang yang suka mengenakan sepatu hak tinggi seperti itu, hanya Linzhi yang pantas dicurigai.
Tanpa berpikir panjang, Ken langsung masuk ke dalam rumahnya. Ia tidak menemukan siapapun di lantai satu dapur dan ruang makan.
Begitu ia naik ke lantai atas dan memasuki kamarnya, barulah ia melihat seseorang yang tengah tidur dengan santainya di atas ranjangnya dengan busana tang topnya.
"Akhirnya kau pulang juga," ucap Linzhi sumringah.
"Sedang apa kau di sini?" Ken bertanya seraya melepas jaket dan menurunkan tasnya.
"Menunggumu...." Linzhi bangkit dan mendekati Ken.
"Meski aku tidak mengunci rumah, bukan berarti kau bisa masuk seenaknya kemari," Ken merasa tidak nyaman dengan kehadiran Linzhi di sana.
"Awalnya begitu, tapi bayi kita menginginkan hal lain. Jadi aku harus bagaimana?" Linzhi memeluk Ken dari belakang.
Ken mendengus karena merasa sangat letih. Ia mendongakkan kepalanya sejenak sambil memejamkan mata, lalu menoleh ke belakang dan bicara terus terang pada wanita itu.
"Aku sangat lelah. Sebaiknya kau pulang saja. Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu," ucap Ken seraya menyingkirkan tangan Linzhi dari perutnya.
"Apa hubunganmu dengan gadis muda itu?" tanya Linzhi membahas Yuna.
"Siapa?"
"Gadis yang menyusulmu malam itu. Saat kau mabuk berat. Mengapa dia bisa tahu kalau kau sedang berada di sana?"
"Aah, maksudmu Yuna?"
"Ya. Entahlah siapapun itu namanya. Apa hubungannya denganmu? Apa kau mulai menggantikan Suzy dengan dirinya?"
Ken diam saja.
"Kau tidak berpikir untuk menjalin hubungan dengannya, bukan? Dia anak kemarin sore!"
Ken masih diam.
"Kenapa tidak menjawab? Apa semua yang ku katakan itu benar?"
"Ya. Itu memang benar."
"Apa?"
"Bukankah itu jawaban yang ingin kau dengar?"
"K kau benar-benar mempunyai perasaan untuknya? hahh," Linzhi merasa tidak percaya.
"Jika benar, apa yang ingin kau lakukan? Apakah kau akan membuat masalah lagi?" Ken berbalik menghadap Linzhi.
"Apakah kau tidak bisa memberiku kesempatan sekali ini saja?" Linzhi merasa sedih dan menatap ke sisi kiri Ken.
"Bahkan, meski kini aku mengandung bayimu, apakah tidak sekalipun terpikir di benakmu untuk menikahiku?"
"Sudah ku katakan. Aku akan membesarkan bayi itu bersamamu. Tapi maaf, aku tidak bisa menjanjikan sesuatu tentang pernikahan kepadamu, Linzhi," jawab Ken.
"Apa kau tahu bahwa aku masih mencintaimu?" tangan Linzhi meremas kuat pakaiannya.
"Seingatku, itu sudah kita selesaikan.. lima belas tahun yang lalu. Jadi aku tidak ingin mendengarmu merengek untuk kembali padaku," Ken beranjak pergi ke kamar mandi.
"Sekali lagi aku bertanya padamu, Ken. Apakah kau benar-benar tidak ingin memberiku kesempatan?"
Linzhi mencegat Ken yang hendak masuk ke kamar mandi. Ia bertanya sambil menahan air mata.
"Maaf, Linzhi. Jawabanku masih sama. Aku tidak bisa mencintaimu lagi karena perasaanku padamu yang dulu menggebu, kini sudah sepenuhnya padam."
Ken berkata seraya menatap lurus ke dalam mata wanita yang dulu pernah menjalin hubungan dengannya itu. Kemudian setelah itu, ia menutup pintu kamar mandi dengan cepat.
"Aku mandi dulu."
Hening.
Tidak lama kemudian, Ken keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuknya. Di kamarnya tersebut, tidak lagi ia lihat keberadaan Linzhi. Sepertinya, wanita itu sudah pergi sejak tadi.
"Dia sudah pergi? Baguslah kalau begitu,,," gumam Ken.
Udara malam yang dingin membuat Ken ingin segera pergi tidur. Apalagi seharian penuh ini ia bermain dengan Suya dan membuat tubuhnya merasakan letih.
Dimatikannya lampu kamar dan segera melompat ke tempat tidur.
"Aaaahh... Akhirnya bisa istirahat juga,," ucap Ken seraya meraih selimut dan mulai memejamkan mata.
"Selamat tidur, Suya...."
.
.
.
.
BERSAMBUNG.....