
EPISODE 83
Linzhi nampak melamun di depan cermin kamar mandi. Ia terus saja menatap bibirnya yang basah karena air. Tiba-tiba saja ia teringat pada sentuhan bibir Ken yang hangat.
Diusapnya bibir merah penuh miliknya sambil ia membuka mulut pelan-pelan. Kemudian jari jemarinya mengusap turun ke bagian leher dan melewati gundukan kembarnya. Ahh! Linzhi menengadahkan kepalanya mengingat kebersamaannya dengan Ken.
Sebagai wanita kesepian, tubuhnya gemetaran merasakan kerinduan akan sentuhan pria yang mendekam di penjara itu. Lebih-lebih, sudah sangat lama Yoshi tidak mendatanginya sebagai istri. Maka kerinduannya pada Ken membuatnya berkhayal.
Ia duduk di atas kloset dengan satu kaki ditekuk ke atas. Kemudian dengan nafas memburu, ia melakukan masturbasi sambil memejamkan mata membayangkan wajah Ken yang tegas dan tampan.
KLIP!
Benar! Linzhi berseru dalam hati. Seakan mendapatkan kembali energinya, ia memutuskan untuk datang membawa pengakuan mengenai kasus Ken.
Ia tidak peduli lagi apa yang akan terjadi. Ia tidak bisa melihat pria itu menderita di balik jeruji besi.
Maka dengan percaya diri, Linzhi bergegas bersiap untuk mendatangi kantor polisi. Karena selama ini ia ditawan suaminya sendiri di dalam rumahnya, maka ia bergerak dengan sangat hati-hati.
Yoshi membuatnya terkurung di dalam rumah dengan pengawal yang berjaga di setiap pintu-pintu utama. Tentu saja hal itu membuat pergerakannya sangat terbatas.
CEKREK
Linzhi membuka pintu kamar dan berniat keluar, namun seperti biasanya dua pengawal yang berjaga di depan kamarnya menoleh dan melarangnya keluar.
"Maaf nyonya, anda tidak diperbolehkan keluar dari kamar sebelum tuan datang."
"Haiss! Menyebalkan!" Linzhi masuk kembali sambil membanting pintu.
Ia berdiri cukup lama di balik pintu. Kemudian, ia mendapatkan sebuah pencerahan. Dengan cepat, ia mengunci pintu dan mengganjalnya dengan meja rias.
Lalu, ia mengendap-endap pelan sambil menurunkan kain yang ia sambung dan kaitkan hingga menjadi tali panjang untuk keluar tanpa ketahuan dari jendela kamarnya.
Ia tahu. Bahwa halaman samping rumah di bawah jendela kamarnya itu tidak ada seorang penjaga pun.
KRUSUK!
Linzhi turun tepat di atas semak-semak bunga. Ia berdiam diri di sana beberapa menit sambil mengawasi situasi. Seraya menepuk tas kulit hitam yang ia kenakan, ia pun bersiap menyelinap keluar gerbang.
"Baiklah, ayo pergi menunjukkan kalian pada polisi! Seharusnya kita lakukan ini sejak awal untuk mengembalikan nama baik Ken," bisik Linzhi pada file yang ia simpan di dalam tasnya.
Begitu ada kesempatan gemilang, ia berlari menghambur keluar tanpa berhenti sekalipun. Dicegatnya sebuah taksi dan memintanya pergi ke kantor polisi pusat.
Di kantor polisi, ia membuat pernyataan mengejutkan. Ia datang tanpa pengaruh siapapun dan memberikan kesaksian murni dengan beberapa bukti nyata.
Setelah menerima semua bukti dari Linzhi, detektif yang menangani kasus kejahatan dan kekerasan langsung memeriksa file yang ada dengan cermat.
Semua bukti itu asli tanpa direkayasa!
Maka, detektif dan polisi bergerak cepat untuk menangkap Yoshi sebagai dalang dari kasus pembunuhan lima tahun lalu. Dengan sebuah surat perintah penangkapan, mereka menggerebek perusahaan Deido dan menangkap Yoshi atas kasus rekayasa pembunuhan.
"Haiss.. Dasar wanita ular," umpat Yoshi lirih.
Segera setelah penangkapan Yoshi, para wartawan yang penasaran ramai-ramai mendatangi perusahaan Deido dan kantor polisi pusat.
Mereka mencari kabar pasti apa yang sebenarnya terjadi. Suasana sangat kacau saat itu. Banyak yang tidak percaya atas apa yang mereka lihat dan dengar di berita.
Sementara itu di ruang interogasi kantor polisi, Yoshi duduk dengan santai sambil mendengarkan ocehan detektif yang sedang memeriksanya.
Meski polisi memiliki bukti nyata, ia menganggap enteng kasus yang ia rekayasa tersebut. Sehingga, ekspresinya yang sengaja mengejek dan tidak mau bekerja sama saat ditanyai tentang kebenaran kasus pembunuhan yang ia rekayasa membuat para detektif kesal dan ingin menghajarnya.
••••••
Ken duduk di kantin sambil menonton televisi yang terpasang di atas dinding. Dalam berita, mereka mempertontonkan penangkapan Yoshi yang dihalang-halangi oleh pengikutnya. Para reporter juga menyinggung soal pemilik saham utama yang ada di Deido.
Dan semua berita yang muncul menyebutkan bahwa Yoshi sengaja melakukan rekayasa pembunuhan untuk menghalangi posisi penting yang seharusnya diterima oleh tersangka sebelumnya yaitu Kenzhi, dalam rapat pengesahan pemegang saham utama beberapa tahun yang lalu.
Ken tidak tahu apa yang sedang terjadi. Apakah Linzhi membongkar semuanya sekarang?
"Hey, lihatlah! Bukankah itu kasusmu?" Kazuki datang dan langsung menepuk bahu Ken.
Ken menoleh dan mengangguk.
"Whoaa! Kau pemegang saham utama di Deido?" pria lain ikut berkomentar dan duduk di dekat Ken.
Ken hanya tersenyum.
"Sudah ku duga! Kau tampak bersinar saat datang. Benar kan?"
"Ya. Benar sekali," kata kawan-kawannya ikut unjuk gigi dengan riuh.
Mereka diam sebentar menyimak kata-kata dari seorang wartawati yang cukup berani memberikan pendapatnya.
"Sudah pasti itu sebuah kejahatan berlipat ganda! Mereka menjebakmu dan menghalangi posisimu di sana," yang lain juga ikut bersuara.
Kazuki menyenggol lengan Ken, "Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"
"Tidak ada."
"Apa?"
Ken menghembuskan nafas, "Tidak ada yang ingin ku lakukan."
BLETAK!
"Bodoh! Kau bisa ambil kembali surat kepemilikan saham itu!" Kazuki memukul kepala Ken.
"Ggrrr!" Ken memegangi kepalanya dan memelototi Kazuki.
"Huuf,, Kalau kau mau, kau saja yang menggantikanku di sana," jawab Ken sambil meraih buah pisang yang ada di atas nampan makannya.
"Heh???"
"Apa!" balas Ken.
Sambil mengunyah buah pisang, Ken berdiri dan berjalan meninggalkan kantin. Ia berhenti sejenak dan mengingat kembali berita yang baru saja ia dengar.
Yoshi ditangkap? Ken tersenyum simpul. Akhirnya, pria itu memetik hasil dari semua perbuatannya.
••••
Tertangkapnya Yoshi, tidak serta Merta membuat Ken dibebaskan. Ia harus menunggu prosedur dari kepolisian untuk memenjarakan saudara tirinya. Bahkan mereka juga memutuskan sesuatu dari pendapat publik.
Masyarakat umum meminta tersangka sebelumnya yang sudah mendekam di penjara selama bertahun-tahun agar dibebaskan. Menyusul perkara rekayasa pembunuhan yang menyeret nama Ryu Kenzhi, mereka menganggap bahwa kinerja pihak kepolisian tidak terlalu bagus.
Jika saja mereka bekerja dengan serius dan meneliti lebih dalam lagi, maka tidak akan ada seseorang yang disalahkan atas perbuatan orang lain.
Ramailah khalayak publik dengan unjuk rasa mereka yang meminta Ken dibebaskan. Mereka juga menuntut hak asasi yang seharusnya diberikan pada Ken.
Hingga akhirnya keputusan pembebasan Ken dilakukan, para reporter yang haus berita pun beramai-ramai menunggunya di depan penjara.
KLANG!
Seorang sipir meminta Ken keluar dari sel dan menepuk pundaknya.
"Selamat, kau dibebaskan mulai hari ini," ucapnya.
Ken mengangguk dan tersenyum. Kemudian ia menoleh pada Kazuki, "Aku pergi dulu."
"Hmm. Sampai jumpa lagi di luar dua tahun mendatang," jawab Kazuki manggut-manggut.
"Ya. Sampai hari itu, jadilah warga binaan yang baik," katanya tenang.
"Tidak. Aku berpikir, aku dan yang lainnya akan memberi hari-hari yang sulit untuk orang yang membuatmu menginap di sini," jawab Kazuki cengar-cengir.
Mata Ken melebar. Lalu ia menunduk dan tersenyum senang, "Baiklah. Lakukan seperti apa yang kau mau. Jangan lupa, titipkan pula salamku padanya."
"Tentu saja!" Kazuki bersemangat karena Ken mendukung keinginannya.
"Baiklah. Sampai jumpa!"
Ia pun meninggalkan selnya dengan iringan mata dan lambaian tangan dari tahanan yang lain. Mereka menyempatkan diri mengintip dari celah jeruji dan mengucapkan salam perpisahan dengan seruan yang penuh semangat.
"Al ba tros!"
"Al ba tros!"
"Al ba tros!"
Ken tersenyum saat melewati mereka semua. Bagaimanapun, para tahanan di sini adalah keluarga.
•••••
Sebelum pergi, Ken mampir terlebih dahulu ke ruang pemandian. Ia mencuci mukanya dengan air keran yang sejuk. Sambil bercermin, ia bertekad untuk meninggalkan semua kenangan buruk dan beban pikirannya di sana.
Di ruangan terakhir, Ken mendapatkan kembali tasnya. Ia juga mengganti seragam tahanannya dengan kemejanya sendiri.
"Berjanjilah Ken, ini yang terakhir bagimu menginap di sini," begitu selesai melipat seragamnya, Ken menepuknya dengan pasti.
SRET
Ken keluar dari kamar ganti dan berjalan di lorong panjang. Ketika ia berjalan itu, ia berpapasan dengan beberapa sipir yang membawa Yoshi menuju sel tahanannya.
Ken berpapasan dengan Yoshi, namun ia tetap berjalan tanpa menoleh sedikitpun.
Siapa sangka, Yoshi merasa terganggu melihat ketenangan yang ada pada diri Ken. Maka, ia berhenti dan berbalik.
"Apa kau senang karena wanita ****** itu membebaskanmu? Aku berpikir, apa yang sama dari kalian berdua," ucap Yoshi menghalangi langkah Ken.
Ken hanya diam dan berdiri tenang membalas tatapan Yoshi. Kali ini, ia akan membiarkan anjing yang sudah terjebak dalam lubang kesialan itu menggonggong di hadapannya.
"Aah,, rupanya kalian sama saja. Sama-sama diciptakan dari kotoran! Hina dan menjijikkan!" Yoshi berkata dengan berapi-api di depan muka Ken.
Namun ternyata, Ken hanya tersenyum miring sebentar lalu berbalik pergi. Hal itu tentu saja sangat berbeda dari perkiraan Yoshi.
"Apa-apaan ini? Hei! Apa kau dengar ucapanku!!" serunya penuh kebencian.
Ken berhenti sejenak. Lalu menoleh pada pria yang menyedihkan itu.
"Semoga kau kerasan menginap di hotel yang tidak semua orang mampu memesan kamarnya."
Ken melirikkan matanya dengan penuh arti ke arah Yoshi. Kemudian ia berlalu tanpa peduli lagi.
Melihat Ken pergi, Yoshi mengumpat dan mengutuknya cukup lama. Ia benar-benar marah dan benci pada putra Kenie. Lebih benci lagi karena Ken menang atas dirinya.
Maka, ia pun berteriak kencang untuk meluapkan kekesalannya.
"Aaaaaaaaaaaarrrhhgggg!!!!"
Bersambung......