
EPISODE 115
Tuan Tanaka menunggu putrinya masuk ke dalam rumah. Ia berpura-pura membaca koran dan berlagak tidak melihat saat mereka datang.
KLING
KLING
Suara pintu dibuka oleh Yuna.
"Eh, ayah belum tidur?"
"Kau sudah pulang, sayang? Sepertinya kau sedang bahagia?"
"Hmm. Ayah mau tahu saja."
"Apakah karena pria yang kau ceritakan waktu itu lagi?"
"Eh??"
Yuna merasa heran saat ayahnya membahas pria yang ia ceritakan waktu itu.
"Waktu itu kau bilang pada pada ayah, bahwa ada seorang pria yang kau pikirkan. Apa kau baru saja bertemu dengannya?"
Yuna tersipu malu, "Apakah begitu jelas, ayah?"
"Ya. Apa kau jatuh cinta padanya?"
"Hmmm. Sepertinya begitu," Yuna tersenyum merekah.
"Boleh ayah tahu siapa dia?"
"Emm, nanti saja. Ayah pasti terkejut saat mengetahuinya," Yuna berdiri seraya menggerakkan badannya ke kanan dan kiri.
"Hmm. Baiklah, ayah akan menunggu kau mengenalkannya pada ayah."
"Tentu saja, ayah. Kalau begitu, aku langsung ke kamar ya. Aku mau istirahat. Selamat malam, ayah."
Yuna berlari ke kamarnya dan tidak sempat melihat ekspresi wajah ayahnya yang langsung berubah.
••••••
Huff....
Suatu hari, cuaca sedikit mendung. Namun tidak mengurangi niat Ken untuk lari pagi. Di sepanjang jalan taman Ueno, ia berlari sambil menghirup udara segar yang sedikit berembun.
Cukup lama ia mengolah tubuhnya dengan senam jasmani ketika seseorang memanggilnya.
"Senior Ken!"
Ken menoleh cepat. Dari kejauhan, dilihatnya Gorou yang tampak sedang berolahraga seperti dirinya.
"Gorou?"
Dengan bersemangat, anak muda itu menghampiri mantan bosnya.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ken.
"Baik, senior. Kau sendiri?"
"Hmm.." Ken mengangguk.
Mereka pun duduk di kursi taman dan mengobrol tentang banyak hal.
"Ya. Kau benar. Seandainya waktu dapat diputar kembali, aku ingin menghindari jalan suram itu. Dengan begitu, semua akan tetap berada di tempatnya."
"Hmm, sekarang kau bekerja di mana?" lanjut Ken.
"Sejak kejadian restoran kita, aku berhenti bekerja karena ayahku memintaku untuk melanjutkan kuliah. Mau tidak mau, aku akhirnya menurutinya," jawab Gorou.
"Wah, kabar yang bagus. Jurusan apa yang kau ambil?"
"Hukum. Aku ingin menjadi pengacara hebat yang dapat membantu orang-orang dengan kasus sepertimu."
"Waah! Bagus kalau begitu. Fokuslah belajar dan jadilah pengacara yang baik dan jujur. Selalu adil dan tidak mudah terintimidasi oleh tekanan orang lain. Kuat dan yakinlah bahwa kau mewakili seluruh hati masyarakat. Dengan begitu kau tidak akan mengalami hidup yang sulit sepertiku."
"Hmm. Terima kasih senior."
Ken menepuk-nepuk pundak Gorou. Anak itu sudah dewasa. Keinginannya menjadi pengacara hebat benar-benar menyentuh hatinya.
KLIP
Gorou melirik jam tangannya, "Em, senior. Sepertinya aku harus pergi sekarang. Oh ya, apa nomormu masih aktif?"
"Aku menggantinya."
"Kalau begitu pinjam ponselmu. Aku akan menyimpan nomormu."
Ken menyerahkan ponselnya pada Gorou. Dengan cekatan anak muda itu memanggil nomornya.
"Baiklah. Sudah tersimpan. Kapan-kapan boleh aku bertemu denganmu lagi?"
"Tentu saja. Kapanpun kau mau."
"Terima kasih. Aku pergi dulu, senior Ken!" Gorou membungkuk memberi salam dan berlalu pergi sambil berlari.
Ken tersenyum menatap kepergian Gorou. Setelah bertemu dengan anak itu, ia jadi ingat masa-masa sibuk mereka di restoran.
Maka, ia beranjak dari taman dan berjalan menuju rumah Suya. Di tengah jalan ia berhenti saat melihat pedagang buah-buahanan. Maka dibelinya apel dan anggur untuk ia berikan pada Suya.
SRET
Ia berhenti di kejauhan seraya memperhatikan tempat tinggal Suya yang tampak lengang dan sepi.
Karena penasaran, Ken berjalan mendekati rumah tersebut. Sepertinya sedang tidak ada orang? Perlahan, Ken memasuki halaman rumah dan menoleh ke kanan kiri.
Diletakkannya keranjang buah yang ia bawa ke atas lantai kayu rumah tersebut.
"Apa mereka sedang keluar?" gumam Ken.
Ketika Suya tidak juga muncul, ia pun memutuskan pergi dan meninggalkan keranjang itu begitu saja. Sayangnya, nenek Tama muncul dari dalam dan membawa ember berisi air cucian ikan yang hendak dibuang.
Mereka berdua pun berpapasan.
"Sedang apa kau di sini!"
"Anu, ibu. Apakah Suya sudah berangkat sekolah?" Ken bertanya baik-baik.
"Bukan urusanmu. Segeralah pergi sebelum Suya melihatmu datang kemari!" hardik nenek Tama.
"T tidak bisakah ibu mengijinkanku bertemu dengan Suya sebentar saja?"
"Ibu mertua..."
"Pergi! Jangan memanggilku dengan sebutan itu karena kau bukan lagi menantuku!"
"Tapi Ibu,-"
BYURRR
Nenek Tama menyiramkan air cucian ikan ke tubuh Ken dengan kasar hingga membuatnya basah kuyup dari kepala hingga kakinya.
Karena siraman itu mengenai wajahnya, Ken menundukkan kepalanya sambil mengusap wajahnya pelan. Pada saat itu, rupanya Suya tengah berdiri menyaksikan keributan yang terjadi di rumahnya. Ia sudah lama kembali dari pasar untuk membeli jahe dan sayuran sesuai permintaan nenek.
Namun saat ia kembali, dilihatnya paman Ken yang tengah mencarinya dihadang oleh nenek.
"Pergi!"
"B baiklah. Aku akan pergi," jawab Ken benar-benar putus asa.
Ken berbalik dan berjalan keluar dari rumah Suya dengan kesedihan. Sudah hampir tiga tahun berlalu, namun ibu mertuanya belum juga memberinya maaf.
Saat Ken melewati Suya tanpa sadar. Anak itu pun menoleh sedih saat Ken melewatinya. Ia merasa sulit sekali memahami permasalahan antara nenek dan paman Ken atau ayahnya itu.
"Ayaaah...." panggil Suya dalam hati.
Ketika Ken melangkah cukup jauh dari rumah mertuanya, ia menoleh sedih ke belakang. Sayangnya, Suya sudah tidak lagi berdiri di tempat semula sebab nenek Tama menemukannya berdiri di sana dan menyuruhnya masuk.
Untungnya, nenek Tama langsung membawa sayuran yang dibeli Suya ke dapur samping. Sehingga ia tidak melihat keranjang buah yang dibawa Ken.
Ketika Suya melihatnya, anak itu segera meraih dan membawanya ke dalam. Di kamarnya yang kecil, disembunyikannya keranjang buah yang dibawa Ken untuknya tersebut ke dalam lemari bukunya.
Suya mengunci pintu kamarnya dan mengambil sebuah apel dari persembunyian. Sambil menangis sedih, anak itu menikmati buah yang belum pernah dibeli oleh nenek ataupun kakeknya.
"Manis sekali..."
Hik Hik Hik...
••••••
Hari berikutnya, Ken datang ke sekolah Suya. Ia berniat mencegat Suya dari sana untuk sekedar bertemu. Begitu ia melihat Suya keluar dari sekolah, Ken langsung memanggilnya.
"Suya!"
Anak yang dipanggil pun menoleh, "Ay,, Ah, paman?"
Ken menghampirinya, "Bagaimana hari ini di sekolah? Apakah menyenangkan?"
Suya terus saja menatap Ken dengan mata yang sesekali mengerjap.
"Kenapa? Apa ada masalah di sekolah?"
Suya menggelengkan kepala.
"Lalu kenapa kau diam saja?" Ken merasa khawatir.
"Aku senang bertemu paman di sini. Apa paman kebetulan lewat?"
"Tidak. Paman sengaja menjemputmu kemari. Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan sebentar?"
"Jalan-jalan?"
"Hmm. Apa kau mau menemani paman?" Ken tersenyum mengharapkan sebuah anggukan dari Suya.
"Tentu saja."
Setelah Suya setuju, Ken mengajaknya pergi ke pantai dengan mengendarai motor.
WUUUUUZZZZ
Suasana pantai yang berangin segar membuat keduanya begitu menikmati kebersamaan saat itu.
Dengan berlarian di tepi pantainya, Ken dan Suya tergelak saling berkejaran.
"Paman, ini menyenangkan sekali!" seru Suya.
"Benarkah?"
"Yaah!"
Suya menunduk dan meraih air laut dengan kedua telapak tangannya, kemudian ia siramkan air yang ia tampung tersebut ke tubuh Ken.
"Hey?? Apa kau ingin bertarung air dengan paman?" Ken berusaha menyingkir.
Karena Suya terus saja menyiramkan air padanya, maka Ken pun meladeni candaan Suya. Dilemparkannya air berkali-kali kepada putranya tersebut seraya tertawa bahagia.
Ketika Suya melempar pasir padanya, Ken segera mengejarnya dan menubruk tubuh Suya dengan gelak tawa keseruan.
"Kau tertangkap!" Ken merengkuh Suya dan menggelitiknya.
"Ahahaha. Iya paman. Aku menyerah, aku menyerah," pekik Suya kegelian.
Keduanya duduk di atas pasir sambil tertawa. Pada saat itu, Ken memperhatikan Suya yang tampak sangat senang. Ia pun tersenyum dengan penuh keharuan.
"Suya."
"Ya?"
"Bolehkah paman memelukmu?"
Suya tertegun sesaat, namun ia segera memberi jawaban, "I iya, boleh paman."
Saat itu juga ia memeluk putranya itu dengan penuh kasih sayang. Diusapnya kepala bagian belakang Suya dengan tangan kanannya. Tidak jauh dari mereka, Ken melihat Suzy berdiri dengan senyuman merekah. Wanita itu tampak bahagia menyaksikan kebersamaan ayah dan anak tersebut.
Ken tersenyum menatap Suzy seraya mempererat pelukannya. Begitu pun Suya. Anak itu balas memeluk Ken dengan penuh kehangatan dan rasa syukur yang banyak.
Ia merasa bersyukur bahwa ternyata dirinya masih memiliki ayah. Apalagi ayah itu adalah paman Ken.
Akankah mereka bersatu kembali sebagai ayah dan anak?
Baca terus lanjutannya ya.....😘
.
.
.
.
BERSAMBUNG......