
EPISODE 109
Ken masih berjalan di depan Yuna tanpa banyak bicara. Menerawang ke atas langit memandangi bintang-bintang.
Ia menoleh pada Yuna sesaat, kemudian bicara sambil menarik nafas dalam-dalam,
"Kau ingin tahu siapa wanita yang barusan?"
"Eh??"
"Dulu sekali, kami pernah menjalin sebuah hubungan. Tapi setelah beberapa waktu menjalin cinta, dia memilih untuk menikahi pria lain. Dan ketika Suzy tiada, dia menginginkanku kembali bersamanya."
Ken duduk di sebuah trotoar. Kemudian menopangkan kedua sikunya di atas lutut kaki.
"Saat keluar dari penjara dua tahun lalu, aku mengalami masa terpuruk karena kematian istriku. Bahkan aku sering melihatnya muncul di hadapanku setiap kali aku mengingatnya."
Yuna kini tahu. Bahwa Ken belum terlalu lama kehilangan istrinya.
"Sebab itulah, aku melakukan kesalahan terbesarku. Saat aku mabuk dan terpuruk mengingat Suzy pada malam itu, dia datang dan menemuiku. Sehingga tanpa sengaja aku melakukan itu dengannya dan akhirnya memiliki bayi."
Yuna yang sejak tadi hanya berdiri itu pun menghampiri Ken dan duduk di sisinya.
"Aku tahu perasaanmu," Yuna meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri Ken.
Ken pun menoleh menatap mata Yuna.
"Apa ini artinya kau sedang meyakinkanku soal wanita itu?"
"Apa?"
"Kenapa menceritakan semua itu padaku? Kau bisa saja menutupi semuanya. Kenapa justru memberitahuku tentang masalah ini?" tanya Yuna sambil tersenyum.
"I itu.."
"Baiklah, aku paham. Tidak apa-apa, Ken. Walaupun aku tidak mengenalmu di masa lalu, tapi aku rasa aku mengenalmu di masa sekarang."
Ken menundukkan kepala karena merasa malu telah menceritakan semuanya pada Yuna. Dia sendiri juga tidak mengerti mengapa dia harus menjelaskan keadaannya pada gadis muda itu.
"Maafkan aku. Tidak seharusnya,-"
"Tidak apa. Sudah aku bilang, bukan?" Yuna tertawa.
Tiba-tiba saja Yuna menjitak kepalanya cukup kencang dan berlari menjauh meninggalkannya.
BLETAK!
"Arrh!" pekik Ken.
"Itu untuk sentilan di dahiku tadi," serunya sambil tertawa.
"Hey.. Apa kau serius membalasnya dengan ini?" tanya Ken mengusap-usap kepalanya.
"Kenapa? Kau mau membalasku lagi?" Yuna meledek Ken dengan gerakan tubuhnya.
"Dasar anak nakal..." mata Ken melotot.
Setelah membuang muka ke arah lain lebih dahulu sambil tertawa, ia bangkit dan mengejar Yuna dengan cepat.
"Aaaahh!" jerit Yuna seraya berlari menyingkir dari tangkapan Ken.
"Hey, berhenti! Kemari kau, anak nakal!" Ken mengejar Yuna sambil tertawa.
Ketika keduanya bercanda dan saling kejar mengejar, kebetulan nenek Tama lewat mendorong gerobaknya. Ibu mertuanya itu merasa cemburu melihat canda tawa di antara keduanya.
"I ibu?" Ken berhenti mendadak saat dirinya hampir menubruk gerobak milik mertuanya itu.
Nenek Tama menatap Ken dengan pandangan kebencian. Ia merasa bahwa menantunya itu telah mengkhianati putrinya.
"Rupanya kau sudah mendapatkan wanita pengganti putriku," kata nenek Tama ketus.
"M maafkan aku, ibu. Dia hanya,-"
"Aku tidak peduli! Lagipula, kau bukan menantuku lagi! Jadi jangan pernah muncul di hadapanku ataupun Suya, apalagi saat sedang bersama wanita itu!" nenek Tama menyela tanpa menunggu penjelasan Ken.
DEG
Ken berdiri mematung begitu mendengar ucapan ibu mertuanya. Ia hanya bisa menatap kepergian wanita yang membawa kebencian di dalam hati itu. Begitupun Yuna! Wanita itu benar-benar tidak mengerti, mengapa wanita tua yang dipanggil ibu mertua itu begitu membenci Ken.
"Maaf, Ken," ucap Yuna.
Ken menoleh ke belakang, "Kenapa?"
"Aku rasa, dia membencimu karena aku," Yuna merasa bersalah.
Ken tersenyum pahit, "Tidak. Bukan karenamu."
"Bukan? Lalu, mengapa dalam penglihatanku sepertinya dia begitu membencimu?"
"Aku memang pantas dia benci. Sebab dirikulah, putrinya mengalami kehidupan yang pahit dan sulit."
Oh, ya Tuhan. Yuna melihat masa lalu yang kelam di mata Ken. Ia menaruh rasa simpati yang besar kepadanya.
"Apa kau merasa sedih?"
"Sedikit."
"Kalau kau ingin menangis, menangislah. Kau bisa bersandar di pundakku," kata Yuna sambil menepuk-nepuk pundaknya.
"Tidak. Aku tidak mau kau melihatku menangis."
"Hihihi, jangan katakan kalau kau malu karena akan keluar ingusnya jika menangis?"
"Apa? Whoaah! Ingusan katamu?" Ken melotot.
Yuna mendekati Ken.
"Ada apa lagi? Mengapa kau menatapku seperti itu?" Ken merasa gugup saat Yuna mendekatkan wajahnya dan menatapnya tajam.
"Eh, tunggu sebentar. Lihat itu, rambut hidungmu yang panjang mencuat keluar," Yuna berlagak memperhatikan bulu hidung milik Ken.
"Apa? Benarkah?" Ken merasa risih dan menghadap ke arah lain sambil menutupi hidungnya.
Saat tangan kanan Ken mulai menyentuh hidungnya, Yuna berseru bahwa ia berbohong mengenai bulu hidung itu.
"Aku berbohong! Hihihi," Yuna sengaja mengerjai Ken.
"Hey! Jadi kau mengerjaiku?"
"Iya!"
•••••••••
TRAK
Ken meletakkan ponselnya di atas nakas sebelum ia beranjak tidur. Dari jarak dua meter darinya, Yuna duduk di kursi rias dan tampak tengah sibuk menggenakan serum wajah.
"Kau belum tidur?"
"Ya. Aku sedang menggunakan serum wajah. Apa kau mau mencobanya?"
"Tidak. Itu vitamin untuk wanita."
"Kata siapa? Ini bisa digunakan siapapapun. Jadi, kau juga bisa memakainya."
Wanita itu mendekati Ken dan langsung naik ke atas ranjang. Ia mengulurkan kedua tangannya dan menepuk-bepuk pipi Ken yang baru saja ia beri serum.
"Bagaimana rasanya?"
NGEK
Ken melirik Yuna.
"B bisa singkirkan tanganmu?"
"Apa? Baiklah."
Begitu Yuna menyingkirkan tangannya, Ken meraih selimut dan menariknya ke atas. Ia merasa merinding sebab kata-kata Yuna tentang serum wajah itu mengingatkannya pada Suzy. Benar-benar ucapan dan situasi yang mirip.
Yuna memperhatikan tingkah Ken yang aneh. Mengapa pria itu seperti menghindarinya?
"Kau kenapa?"
"Tidak apa. Sebaiknya kau tidurlah, sekarang sudah larut malam. Besok aku akan mengantarmu pulang."
"Ah? I iya baik."
Yuna menyingkir dari sisi Ken dan turun menuju kasur lipatnya. Perlahan ia duduk dan mulai merebahkan badannya ke atas kasur.
"Apa aku membuatnya terganggu? Kenapa dia tampak tidak nyaman seperti itu?" pikir Yuna.
Diraihnya selimut kain tebal yang ada di kakinya dengan cepat. Ia pun menutupi tubuhnya hingga ke batas dagu dan hanya kepalanya saja yang terlihat. Sedikit demi sedikit, matanya pun mulai terpejam.
Malam itu, hujan turun hingga udara menjadi sangat dingin. Anginnya pun bertiup lembut menggelitik bulu roma setiap insan. Membuat gigi-gigi mereka bergemeretak karena kedinginan.
Dan, ketika waktu sudah menunjuk pukul satu malam, Ken masih saja terjaga. Sejak tadi, ia memperhatikan tempat Yuna berada. Sepertinya, wanita itu tidur dengan nyenyak walau udara sedingin kutub Utara.
Ken menyibak selimutnya dan turun mendekati Yuna. Ia memeriksa apakah wanita muda itu kedinginan ataukah tidak. Ketika Ken menyentuhnya, ternyata tubuh Yuna terasa sangat dingin.
"Ah?"
Tanpa membangunkan Yuna, Ken menggendongnya dan memindahkannya segera ke atas tempat tidur. Begitu dia meletakkannya di sana, halusinasi Ken tentang Suzy muncul kembali.
"Suzy? Apa kabar? Sudah lama kau tidak menemuiku?" ucap Ken seraya menyelimuti Yuna.
Suzy tidak bersuara. Dia hanya menatap Yuna dan terlihat tenang.
"Ah, dia? Aku hanya tidak ingin dia mati kedinginan karena tidur di lantai. Itu sebabnya aku memindahkannya ke sini," kata Ken.
"Apa kau mulai mengisi hatimu dengan sosok gadis itu?" tanya Suzy tiba-tiba.
Ken terkejut dengan pertanyaan itu dan menundukkan kepala, tenggelam dalam pikirannya. Benarkah ia mulai mengisi hatinya yang kosong dengan kehadiran Yuna? Apakah itu artinya Yuna berhasil menyembuhkan luka di hatinya?
Ken mengangkat kepalanya dan menatap Suzy sedih.
"Sayang, kaulah pemilik hatiku seutuhnya. Sampai kapanpun itu, kau memiliki ruang khusus di dalamnya. Namun, jika akhir-akhir ini aku merasakan sesuatu dari wanita ini, apakah kau akan membenciku?"
Suzy menyentuh pipi Ken, "Jika itu yang kini kau rasakan, aku akan menghilang dari hadapanmu selamanya."
"T tidak, Suzy. Jangan lakukan itu. Maafkan aku bila kata-kataku membuatmu marah."
"Tidak, Ken. Sudah waktunya kau membebaskan dirimu dari penyesalan. Jangan terlalu lama larut dalam keterpurukan seperti ini. Kau berhak mencintai seseorang dan hidup bahagia bersamanya. Aku akan merestuinya. Sungguh."
Ken bersimpuh di depan kaki Suzy dan memeluk pangkuan sang istri yang tengah duduk di tepi ranjang itu dengan penuh perasaan.
Ia benar-benar tidak berniat membuang ingatan tentang wanita itu selamanya. Sebab, ia memiliki terlalu banyak kenangan yang tidak mudah ia lupakan di dalam hatinya.
.
.
.
BERSAMBUNG.....